My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Epilog : Kenangan di Ratahan Telu


__ADS_3

Mereka sekeluarga mendarat di Manado setelah tengah hari. Mereka langsung menuju resort untuk beristrahat.


Rara keluar menuju balkon kamarnya, dari sana terlihat pantai manado yang terlihat indah, ditambah pepohonan kelapa yang membuat pantai tersebut tampak begitu asri.


Dari balkon kamar ini juga tampak pulau Manado Tua, dengan gunungnya yang menjulang tinggi, sungguh pemandangan yang luar biasa.


"Beristirahatlah, My Cherry. Kita masih punya beberapa hari untuk bernostalgia di sini. Sebentar, aku akan menyiapkan air untuk mandimu," ujar Sean lalu menghilang di balik bathroom.


Rara pun kembali ke kamarnya, menunggu Sean selesai menyiapkan air untuk mandi.


Setelah Sean datang, Rara pun pergi berendam untuk melepas penatnya. Setelah itu Rara pun beristirahat, sambil mengasuh putri kecilnya.


***


Pagi harinya Rara pergi berziarah dengan ditemani ibu Lidya. Tampak makam Mamanya masih begitu terawat, karena Rara memang membayar orang untuk mengurus makam Mamanya itu.


Rara bersimpuh di pusara Mamanya, air matanya mengalir sering do'a yang ia panjatkan untuk sang Ibunda tercinta.


"Mama, Rara rindu, tapi Mama jangan khawatir. Rara baik-baik saja di sini, ada Ibu Lidya yang jagain Rara. Mama yang tenang di sana, Papa sama Tante Maya juga sudah mendapat hukuman atas pebuatannya. Mama sekarang sudah memiliki 2-cucu, cucu Mama yang ganteng namanya Rio, dan satu cucu Mama yang cantik bernama Caca. Semoga Mama di sana juga mendapat kebahagiaan di sisi'Nya," lirih Rara.


"Maira, kamu yang tenang di sana, ya. Kamu tahu? Sekarang obrolan kita dulu sudah dikabulkan Tuhan. Aku akan menjaga Rara seperti aku menjaga anak kandungku sendiri," ucap Lidya lalu merangkul bahu menantunya.


Rara dan ibu Lidya menyirami makam Mama Maira dengan air mawar.


Rara menghela napas dalam. "Mama, Rara pamit dulu, kalau umur panjang, Rara janji akan sering-sering datang untuk jenguk Mama."


Setelah itu Rara dan ibu Lidya pun pergi meninggalkan area pemakaman.


"Ra, apa kau tadi sudah meninggalkan ASI untuk Caca?" tanya Ibu Lidya.


"Iya, Bu. Aku rasa akan cukup sampai sore," sahut Rara.


"Kalau begitu kita jalan-jalan sebentar, ibu akan mengajakmu ke tempat yang sangat ibu rindukan, dulu ibu sering ke sana bersama mamamu," ujar ibu Lidya.


Rara mengangguk setuju, ibu Lidya memerintahkan supir untuk membawa mereka ke Desa Kali, Kecamatan Pineleng.

__ADS_1


Ibu Lidya singgah sebentar untuk mengunjungi makam orang tuanya, lalu perjalanan mereka di lanjutkan menuju air terjun Ratahan telu.


Setelah tiba di depan gerbang air terjun, mereka pun harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Yang dilanjutkan dengan menuruni 200 anak tangga yang terbuat dari beton, medannya yang licin akibat ditumbuhi lumut, membuat Rara dan Ibu Lidya harus ekstra hati-hati.


Setimpal, perjuangan mereka melewati jalan setapak licin, kini terbayarkan dengan pemandangan indah air terjunnya.


Mereka sampai di jembatan kecil yang sudah berumur cukup tua. Jembatan ini adalah spot terbaik untuk menikmati pemandang air terjun Ratahan Telu.


Dinamakan Ratahan Telu, karena air terjun ini memiliki 3-tahapan air terjun. Namun, yang terlihat dari jembatan ini hanya tahapan yang terakhir atau air terjun yang ketiga.


Air terjun dengan ketinggian sekitar 60-meter ini membentuk air terjun kembar, ditambah cahaya matahari menghadirkan warna-warna pelangi, yang sangat memanjakan mata.


Dari jembatan ini pengunjung dapat menikmati gemercik air terjunnya yang begitu sejuk. Tanpa terasa pakaian yang dikenakan Rara dan Ibu Lidya mulai basah, akibat gemercik airnya.


"Kau tahu, Ra. Di sini 'lah tempat pelarian Ibu dan Mamamu saat kami sedang sedih, kami merasa semua beban hidup yang berat akan hilang, saat kami berteriak-teriak sepuasnya di sini," ujar Ibu Lidya setengah berteriak.


Suara gemercik air yang bising di sini memang memaksa pengunjungnya, untuk berbicara dengan sedikit menggunakan urat leher.


"Di sini juga Mamamu berandai-andai. Dia bilang 'Lid, kalau nanti kita sudah menikah dan memiliki anak, aku ingin menjodohkan anak-anak kita. Agar kita dapat sering mengunjungi satu sama lain.' Begitu katanya," ujar Ibu Lidya menirukan ucapan Mama Maira dulu.


Rara mengkerutkan dahi. "Mengapa seperti itu, Bu?"


Ibu Lidya tertawa hambar. "Saat Maira mengatakan itu, ibu sedang berada dalam fase terburuk dalam hidup, karena seorang pria merengut kesucian ibu dengan paksa. Ibu merasa tidak punya masa depan, ibu bahkan tidak yakin akan menikah dan memiliki suami, bagaimana bisa memiliki anak," kenang ibu Lidya.


"Lalu Ayah datang ke hidup Ibu, dan Ayah menerima segala kekurangan Ibu," sambung Rara.


Ibu Lidya menggelengkan kepala. "Tidak, karena Ayahmu adalah pelakunya."


Ibu Lidya merangkul Rara, dan mereka pun tertawa lepas, terkadang dalam hidup ini kita memang akan melewati fase terburuk, sebelum mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Itulah mengapa kita tidak boleh putus asa, walau seburuk apa pun hidup yang sedang kita jalani, benar begitu, 'kan, Bu." Rara seolah membayangkan betapa terpuruk dirinya dulu, tapi Rara tidak pernah putus asa.


"Benar, percayalah akan ada pelangi setelah badai."


Setelah beberapa lama menikmati pemandangan air terjun, Rara dan Ibu Lidya sepakat untuk pulang, karena merasa mulai kedinginan, apalagi mereka tidak membawa pakaian ganti.

__ADS_1


Saat tiba di resort, mereka langsung disambut tatapan membunuh dari 2-pasang mata beda usia.


"Cepat ganti pakaianmu yang basah itu, kau sengaja ingin memamerkan bentuk tubuhmu itu kepada semua orang, ya!"


Seru Sean dan Ayah Brian hampir bersamaan.


Rara dan Ibu Lidya menghela napas jengah, sambil merotasi bola matanya sebelum berlalu menuju kamar masing-masing, Rara dan Ibu Lidya malas meladeni 2-pria posesif itu berdebat.


END.


Dear My Beloved Readers, Reno ucapin terimakasih yang sebesar-besarnya, karena sudah menemani perjalanan Rara dan Sean sampai tamat di bab (111) ini yaaa.


Luff u AllπŸ˜πŸ€—πŸ€—


Jangan lupa mampir di karya aku yang lainnya ya😊


Cinta Untuk Luna (Noveltoon)


Jadi Janda Karena Berondong (Noveltoon)


Petaka Rahim Sewaan (Silakan cek ig @poel_story27 untuk infonya)


Bagi yang mau gabung grup chat dipersilakan, ya.


Isi pasword dengan menjawab pertanyaan di bawah ini


Apa nama perusahaan Rara?


Siapa nama belakang Giovanni?


Sampai jumpa di Novel Luna dan Gio, Ya.


Reno mau istirahat beberapa hari dulu, novel Luna dan Gio akan dimulai tanggal 1, bulan agustus, ya.


See u next story.

__ADS_1


Bye-bye ....


__ADS_2