My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Hukum Harus Dijalankan


__ADS_3

Rara memicingkan matanya menatap Sean. "Papa?"


Begitu juga dengan Rio yang menatap bingung, karena selama ini dia tidak memanggil Sean dengan sebutan Papa.


"Tentu saja papa! Memangnya Rio harus memanggilku dengan sebutan apa? Kau mau anakku tidak mengakui papanya, ya?"


"Tidak, bukan itu. Aku pikir seumur hidupmu kau tidak akan peka, padahal anakmu sudah berbulan-bulan bersamamu," cibir Rara ketus.


"Ya, dia memang tidak akan peka. Bahkan di saat Rio sedang kritis, dia masih bisa berpikiran konyol," celutuk Rania membenarkan pertakaan Rara.


"Maaf," ucap Rania karena seluruh keluarga langsung memelototinya dengan tajam, alih-alih menghentikan perdebatan itu, dia malah ikut ke dalamnya.


Sedangkan Rio masih menatap bingung papa dan mamanya.


Tidak ingin Sean kembali menyahuti perkataan kakak dan istrinya, dokter Alya langsung menghampiri Sean, dan memintanya keluar untuk menghentikan perdebatan konyol itu, apalagi di depan Rio yang belum sepenuhnya membaik.


Lidya pun menghampiri Rara, lalu membawanya keluar ruangan dibantu oleh Rania.


"Sayang, kau itu baru siuman. Mengapa malah meladeni suamimu berdebat?" ujar Lidya sambil menggelengkan kepala.


"Maaf, Bu," sahut Rara pelan.


Mereka duduk di kursi tunggu, sementara perawat bersiap memindahkan Rio ke ruang perawatan. Rio memang masih memerlukan perawatan lanjutan sebelum di perbolehkan pulang.

__ADS_1


"Maafkan ibu, Nak. Kami gagal menjagamu dengan baik. Tapi mulai saat ini, dengan persutujuanmu atau tidak, kami akan menempatkan pengawal di dekatmu, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi," ucap Lidya penuh sesal.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku bahkan sangat bersukur memiliki keluarga seperti. Tidak ada yang perlu ibu sesali, bukankah sekarang semuanya sudah baik-baik saja." Rara langsung memeluk ibu mertuanya.


Lidya melepas pelukan, agar dia bisa menatap menantunya itu. "Padahal saat itu ibu ingin memberimu kabar bahagia. Jefry sudah berhasil mengumpulkan bukti pembunuhan Maira, sekarang mereka akan mendapat hukuman atas pebuatannya."


Lidya menceritakan detail bagaimana Maya yang menghabisi kakaknya secara perhalan. Dan kini Maya dan Dion sedang disekap, sebelum dibawa ke pihak berwajib.


Seperti terusuk Rara langsung terisak, hatinya sakit sekali membayangkan perlakuan Maya kepada mamanya. Dia bahkan tidak menyangka mamanya menjalani hidup sebagai pesakitan selama itu, apalagi karena ulah adik kandungnya sendiri.


"Ayah, tolong berikan hukuman seberat-beratnya pada mereka, mereka bahkan tega menyiksa mama selama itu," isak Rara pilu.


Brian menganggukkan kepala, dia mengeluarkan ponsel dari saku celana, untuk menghubungi asistennya.


"Baik, Tuan. Segera dilaksanakan," sahut Jefry.


"Bagaimana keadaan Vita?"


"Dokter kita sudah memberikan perawatan, dan dia juga sadar, Tuan."


"Bagus, bawa dia sekalian, dan tuntut dengan pasal apa pun yang memberatkan."


"Baik, Tuan," sahut Jefry sebelum Brian memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Rara menatap penuh tanya pada ibu dan ayah mertuanya. "Vita, mengapa Vita ikut ditangkap? Dia tidak ada sangkutannya dengan masalah ini."


"Vita adalah penyebab kecelakaan yang kamu alami, Nak," jawab Lidya.


Rara menatap kosong, bayangan masa kecil bersama Vita kembali menghiasi pikirannya, dulu mereka sangat akur, meski Rara lebih sering mengalah, karena Vita sering merebut apa pun yang disukainya.


Tapi rasa benci yang Rara rasakan, tidak lebih kuat dari rasa sayangnya, meski dengan semua yang dilakukan Vita, Rara masih berharap saudaranya itu dapat berubah suatu saat nanti.


Rara menatap mertuanya, memohon belas kasihan. "Bu, tolong maafkan Vita, walau bagaimanapun dia tetap adikku, Bu. Darah dangingku. Aku mohon ibu jangan menghukumnya. Dia masih muda dan labil. Kasihan dia kalau harus dipenjara, Bu."


Lidya dengan menghela napas, tidak habis pikir dengan jalan pikiran menantunya. "Nak, coba pikir. Apa yang membuatmu masih mengkhawatirkan Vita. Dia bahkan berniat merengut nyawamu, nyawa Rio juga. Tidak, Vita tetap harus mendapat hukumannya."


"Iya, Bu. Tapi aku dan Rio masih hidup. Ini berbeda dengan kasus tante Maya, dia pantas dihukum karena sudah membunuh. Tapi Vita, tidak berhasil melakukannya, dan aku sudah memaafkannya, tolong ampuni dia, Bu," mohon Rara.


"Mungkin kau sudah memaafkannya, tapi bukan berati dia bisa bebas begitu saja. Hukum tetap harus dijalankan, sesuai dengan perbuatannya!" tegas Brian seraya pergi meninggalkan istri dan menantunya. Dia menyusul Rio ke ruang rawat.


"Lihatlah, ibu tidak berani membantah ayahmu. Menyayangi seseorang bukan berarti kita harus menutupi kesahalannya, bukan. Biarkan dia menanggung akibat dari perbuatannya, jika memang ada kebaikan di hatinya, dia pasti menyesal dan menjadikan kesalahannya sebagai pelajaran. Mungkin dengan merasakan kerasnya hidup di penjara, bisa membukakan pintu hatinya," ucap Lidya sambil menatap Rara dengan intens.


Rara pun terdiam, dia tidak lagi dapat membantah. Dalam hatinya hanya bisa mendoakan agar Vita dapat memperbaiki diri, selama berada di tahanan nanti.


Bersambung.


Jangan lupa like, vote dan komen.

__ADS_1


__ADS_2