My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Mengantar Makanan Untuk Suami


__ADS_3

Lidya melepaskan pelukan Rara, ia menjauhkan Rara sepanjang tangan, sambil menatap teduh kepada menantunya itu. "Ada satu rahasia besar yang belum kau ketahui, Nak!"


"Apa itu, Bu?" tanya Rara yang tidak dapat menahan rasa penasaran dalam dirinya.


Ibu Lidya meraih tangan Rara lalu menggenggamnya dengan lembut, ia tahu apa yang ingin ia sampaikan ini, pasti akan membuat menantunya sangat terpukul. "Ini tentang Vita, Nak. Dia itu bukan sekedar sepupumu, melainkan dia adalah saudaramu satu ayah ...."


"Benarkah, Bu ...," lirih Rara terkejut, dan membuat air matanya tumpah tanpa bisa ia bendung lagi.


Lidya yang dapat merasakan kerapuhan itu, langsung menarik Rara ke pelukannya.


"Jadi papa sudah berselingkuh dengan tante Maya selama itu ...," isak Rara dengan hati teriris di dalam pelukan mertuanya.


Lidya mengusap punggung Rara lembut. "Bersabarlah, Nak. Tidak lama lagi kita akan membongkar semua kejahatan Maya, dan membuat dia menerima timbal balik dari kejahatannya."


"Apa yang membuat tante Maya setega itu sama mama, Bu. Padahal mama selalu baik padanya, mama sangat menyayanginya."


"Nak, jika pikiran kita kotor dan dipenuhi kebencian, maka kita tidak akan bisa melihat kebaikan yang diberikan oleh siapa pun. Itulah yang terjadi pada Maya, dia iri karena karena Maira lebih pintar, dan kakekmu lebih menyayangi Maira daripada dia. Puncaknya ada pada saat Maira menikah dengan papamu, yang merupakan pria yang digilai Maya. Ditambah kakekmu mempercayakan pengelolahan aset keluarga kepada Maira. Sejak saat itulah benih-benih kebencian, mulai ia tanam kepada wanita yang merupakan kakaknya sendiri, wanita yang menyayanginya. Sejak saat itu juga Maya mulai menyusun berbagai cara untuk menghancurkan kakaknya sendiri," ungkap Lidya.


Rara mencoba menghentikan tangisnya, hatinya terasa membeku mendengar penjelasan Lidya. Membayangkan kemalangan yang menimpa mamanya membuat batin Rara pilu.


"Jadi ibu harap kau akan memperjuangkan keluargamu, Nak. Jangan biarkan apa yang menimpa Maira kembali terulang kepadamu! Oh, ya, Nak. Ada sesuatu yang ingin ibu tanyakan. Apa di hatimu ada sedikit tempat untuk putraku?"

__ADS_1


Rara terdiam, tidak tahu harus menjawab apa, tentu saja Rara tidak mencintai Sean, mungkin belum mencintai lebih tepatnya.


Yang Rara rasakan saat ini adalah aman dan nyaman bersama keluarga ini, ditambah beberapa malam menghabiskan waktu bersama Sean, membuat Rara mulai merasa ada keterikatan dengan pria aneh itu.


Ibu Lidya menghela napasnya. "Mungkin awalnya rasa itu hanya sedikit, hingga kita bahkan tidak menyadari keberadaannya. Tapi percayalah, seiring berjalannya waktu, kalian akan merasa tidak ingin kehilangan, dan saling menyayangi. Ditambah lagi ada Rio dalam rumah tangga kalian."


"Mungkin ... semua yang Ibu katakan ini akan terjadi padaku. Tapi bagaimana dengan Sean? Dia mencintai Vita, yang lebih cantik dan tentu lebih muda dariku," lirih Rara.


Lidya tersenyum tulus. "Pernikahan kalian baru berjalan satu minggu, Nak. Dan ibu sudah dapat melihat perubahan dari sikap Sean kepadamu. Hingga pada akhirnya nanti, dia pasti bisa membedakan mana yang berlian, mana yang batu jalanan, yang keberadaannya hanya menjadi penyandung kehidupan."


"Apa Ibu tidak malu memiliki menantu sepertiku?" tanya Rara lirih.


"Menantu sepertimu? Apa maksudmu, Nak?" Lidya mengkerutkan dahinya.


"Sayang, kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita akan dilahirkan. Dan semua yang terjadi pada keluargamu, sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganmu. Ibu tidak mau menilai seseorang dari latar belakang keluarganya. Ibu melihatmu sebagai wanita baik, karena kepribadianmu sendiri, tidak juga karena ibu berteman baik dengan mamamu. Dan yang lebih penting kau sudah menjaga, dan membesarkan Rio cucu ibu dengan baik, selama kami belum menemukannya. Ibu percaya kau akan menjadi istri yang baik untuk Sean, berikut ibu yang baik untuk anakmu." Lidya menatap dalam pada menantunya, tatapan yang memberikan ketegaran pada Rara.


"Tapi ...."


"Sudah, jangan membahas sesuatu yang tidak penting! Apa kau mau membantu Ibu memasak?" Lidya turun dari tempat duduknya.


Rara menganggukkan kepala, mereka kembali menuju dapur, untuk melanjutkan pembuatan santap siang nanti.

__ADS_1


Duo mertua dan menantu itu kini mulai sibuk dengan menu masakannya.


"Apa Ibu selalu memasak makan siang seperti ini?" tanya Rara di sela-sela pekerjaannya.


"Ayahmu sangat menyukai masakan ibu, jadi ibu selalu berusaha menyenangkannya. Apa kau mau mengantarkan makan siang untuk Sean, Nak?" tanya Lidya menoleh ke arah menantunya.


Rara menggangguk, tidak ada salahnya ia datang membawakan makanan ke kantor Sean, lagipula ini bisa membuat hubungan mereka semakin maju. "Iya, Bu. Aku akan mengantarkan makanan untuknya."


Mereka selesai dengan masakannya, Rara mempersiapkan makanan untuk dibawa ke kantor Sean.


Rara kembali ke kamar, ia bersiap-siap untuk menemui Sean. Setelah sedikit berias dan mengganti pakaian, Rara pun berangkat menuju kantor Sean.


Rara tiba di kantor Sean, dia baru saja hendak masuk ke ruang kerja Sean ketika samar-samar mendengar desahan seorang wanita.


"Ahhkkk ... Sean, pelan-pelan."


Seketika hati Rara terasa hancur, kedatangannya ke sini malah disambut sesuatu yang tidak seharusnya ia dengar. Rara menempelkan kupingnya di pintu, dan kembali mendengar desahan tersebut dengan jelas.


"Sean ... Aahhh!" pekik wanita yang diyakini Rara adalah Vita, karena Rara hapal betul pemilik suara itu.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote dan komen.


__ADS_2