My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Ada Penguntit


__ADS_3

"Mau apa kau datang ke sini?" sergah Sean dengan nada yang tidak bersahabat.


Julie melangkah menghampiri Sean dengan langkah genitnya. "Kau tenang saja, aku tidak datang dengan niat buruk."


"Jadi untuk apa kau datang ke sini," sinis Sean dengan dingin.


"Aku masih mencintaimu Sean, aku kemari untuk memperbaiki hubungan kita," jawab Julie dengan nada penuh penyesalan.


Sean serasa ingin muntah mendengar penuturan Julie. Bukankah dia yang dulu meninggalkan Sean saat sedang sayang-sayangnya.


"Masih cinta? Ciih ... yang benar saja! Asal kau tahu wanita murahan, melihat wajahmu saja sudah membuatku jijik, pergi dari sini sekarang!" perintah Sean hendak melangkah meninggalkan Julie.


"Sean sebentar saja, izinkan aku ingin menjelaskan sekali!" mohon Julie sambil menahan langkah Sean hingga laki-laki itu mengehentikan niatnya.


"Sean, kau tahu sendiri kejadian waktu hanyalah kekhilafan, aku sama sekali tidak berniat untuk mengkhianatimu. Dulu pun aku sudah menjelaskan semuanya padamu, tapi kau tidak pernah mau mendengarku."


Julie menghela napas sebelum melanjutkan. "Ya, aku memang salah, karena itulah aku membiarkanmu bebas bermain-main dengan wanita barumu, agar kau puas melampiaskan sakit hatimu. Dan sekarang aku yakin kau sudah lelah dengan semua kepalsuan itu, jadi kembalilah, kita buka lembaran baru lagi, kita bangun hubungan kita pernah hancur, Sean," ucap Julie setengah memohon.


Semua yang dikatakan Julie seakan membawa Sean kembali ke masa lalu. Hari yang paling dia benci dalam hidupnya, saat di mana dia melihat sendiri wanita yang sangat dicintainya, sedang asik bercinta bersama pria yang menjadi selingkuhannya.


Sean menghela napas kasar, berusaha membuang jauh-jauh rasa sakit, yang seolah kembali untuk mencabik-cabik hatinya.


"Camkan baik-baik! Aku sudah membuang jauh-jauh perasaanku sejak hari itu, sampai tak tersisa sama sekali. Kau terlalu percaya diri jika berpikir aku berganti-ganti pasangan karena pelampiasan sakit hati." Sean mengangkat jari telunjuk tepat di wajah Juli.


Julie tersenyum hambar. "Apa segitu kecewanya kau padaku Sean, sampai kau tidak mau mengakui kenyataan?"


Sean langsung menyentakkan tangan Julie, begitu wanita itu mencoba menyentuhnya. "Jauhkan tangan kotormu itu, dan asal kau tahu. Aku sudah memiliki istri!"

__ADS_1


"Kau sudah menikah?" Bak tersambar petir, Julie begitu terkejut mendengarnya. Dia bahkan tidak dapat mempercayai pendengarannya sendiri.


"Ya, aku sudah menikah! Apa kau terkejut mendengarnya?" ujar Sean menegaskan kembali ucapannya barusan, sebelum berlalu begitu saja meninggalkan Julie.


"Sean ...."


Panggilan itu tak membuat Sean menghentikan langkahnya, dia segera masuk ke mobil, lalu cabut dari tempat tersebut.


Julie berdecak kesal, kakinya menghentak lantai melampiaskan kekesalannya. Julie masuk ke dalam mobil, dia tidak akan menyerah begitu saja, dia akan berjuang untuk mendapatkan Sean kembali. Tidak peduli meskipun pria yang menjadi mantan kekasihnya itu sudah memiliki seorang istri.


***


Sean tiba di kantor Rara, dia langsung menuju ruang kerja istrinya itu. Seulas senyum langsung mengembang dari wajah Sean, entah mengapa hanya dengan melihat wajah istrinya itu saja, sudah membuat Sean begitu bahagia.


"Kau mau apa? Ini belum waktunya pulang." Perkataan itu menyambut Sean yang baru saja tiba di ruangan istrinya.


"Ehmm ... mengapa kau tidak bilang dari tadi? Aku sudah janji untuk makan siang sama Luna," sahut Rara.


"Itu bukan masalah. Kita bisa mengajaknya makan siang bersama, mudah bukan." Sean menaikkan sebelah alis matanya.


"Tidak, aku tidak ikut. Enak saja kalian ingin menjadikanku pengawal orang yang sedang kasmaran," celutuk Luna yang meja kerjanya tak jauh dari Rara.


"Kamu benaran nggak mau ikut, Lun?" tanya Rara memastikan.


"Nggak, kalian pergi berdua saja. Lagi pula pekerjaanku masih menumpuk," sahut Luna.


Rara menghela napasnya, dia paham betul bagaimana Luna jika menyangkut pekerjaan. Rara segera merapikan meja kerjanya, setelah itu barulah mereka akan pergi untuk makan siang.

__ADS_1


"Betul kau tidak mau ikut? Apa mau kutelpon Gio untuk menemanimu! Sekalian kita makan siang ber-empat," tawar Sean lagi.


"Tidak," jawab Luna singkat, bahkan matanya tidak beralih dari pekerjaannya.


Setelah berpamitan pada Luna. Sean dan Rara keluar kantor, lalu dilanjutkan mencari restoran tempat makan yang mereka inginkan.


Sean membawa Rara ke sebuah restoran yang tampak sederhana, tapi memiliki daya tarik pemandangan yang sangat memanjakan mata. di sekeliling restoran ini ditumbuhi pohon-pohon yang membuat tempat ini terlihat begitu asri.


Restoran yang terletak di pinggir kota ini, dilindungi beberapa pohon kayu yang cukup besar di sekelilingnya, sehingga membuat udara di sekitar tempat ini masih terasa sejuk dan segar.


Kehidupan yang mereka jalani di tengah kota besar, memang dapat membuat hati merasa jengah. Suara hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang tanpa henti, semakin menambah polusi yang mencemari udara. Tentu saja tempat seperti ini adalah sebuah pelarian yang cukup bagus, bagi penduduk kota untuk sekedar melepas penat.


Berada di tempat yang masih asri seperti di sini, membuat Rara begitu tenang dan nyaman, apalagi dengan kondisinya yang tengah hamil muda.


"Apa kau menyukai tempat ini?" tanya Sean.


"Iya, di sini sangat menyenangkan," jawab Rara tersenyum manis. Sambil merentangkan tangannya lebar-lebar, memberikan akses bagi udara sejuk yang sangat memanjakan pernapasannya.


Setelah memesan makanan kepada pelayan Restoran, Sean dan Rara memilih sebuah anjungan kecil yang berada di bawah pohon, sebagai tempat santap siangnya.


Rara tidak banyak bicara, dia masih asik menikmati pemandangan dedaunan hijau yang melambai mesra tertiup angin. Suasana di restoran ini memang cukup untuk membuat siapa pun yang datang, merasa betah dan ingin berlama-lama di tempat ini.


Tanpa sepengetahuan Sean, Julie mengikutinya sejak tadi. Dia cukup terkejut saat mengetahui wanita yang dijemput Sean adalah Rara. Kini sepasang mata milik Julie sedang manatap mereka dengan penuh kebencian.


"Jadi istri yang dimaksud Sean adalah Rara, pantas saja dia diikuti pengawal saat di club malam itu. Tapi kebahagiaanmu tidak akan bertahan lebih lama lagi, Ra. Karena aku tidak akan membiarkan apa pun yang pernah menjadi milikku, dimiliki orang lain," gumam Julie sembari tersenyum miring.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komen.


__ADS_2