
"Bagaimana jika anak yang lahir itu laki-laki? Apa kau ingin anak itu menjadi bencong?" Suara tersebut terdengar begitu familiar di telinga Rara, suara siapa lagi kalau bukan suara suaminya.
Raut wajah Rara langsung berubah kesal. Dia bahkan tidak mau menoleh ke arah datangnya suara, Rara langsung melangkah cepat dengan maksud ingin menghindar.
Rara semakin kesal, karena dia tidak melihat keberadaan Wina. Rara tahu Wina menghilang pasti karena ulah Sean.
"Kau mau ke mana? Mengapa buru-buru sekali?" Sean mencoba berjalan sejajar dengan Rara.
"Pergilah sialan! Untuk apa kau mengikutiku! Aku benar-benar membencimu, sana pergi bersenang-senang dengan Juliemu itu!"
Sean menghela napasnya, dia menarik Rara lalu mendekap istrinya itu. Sean tidak melepaskannya meskipun Rara terus berontak sekuat tenaga.
"Apa yang kau lihat bukanlah kenyataan yang sebenarnya, Ra. kejadiannya tidak seperti yang kau lihat." Sean mencoba menenangkan Rara.
"Tidak seperti yang aku lihat? Apa kau pikir aku buta? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kau sedang bergumul dengan Julie," isak Rara histeris, bersamaan dengan air mata yang mulai meleleh.
Sean yang melihat Rara tidak lagi berontak, langsung melepaskan dekapannya, Sean menarik napas dalam-dalam sebelum berkata.
"Semua yang kau lihat itu memang nyata. Tapi itu bukan karena kemauanku. Julie menjebakku dengan mengirimkan video penculikanmu, dia mengancam akan membunuhmu dan calon anak kita, jika aku menolak untuk menemaninya minum, dan ternyata dia memasukkan obat perangsang ke dalam minuman itu untuk menjebakku."
Sean menghela napas lagi sebelum melanjutkan. "Aku maumenemaninya minum demi dirimu dan calon anak kita, Ra. Aku tidak ada niatan untuk mengkhianatimu, apalagi melakakukannya dengan Julie. Aku tahu kau tidak akan percaya begitu saja dengan omonganku, tapi kau bisa menanyakan kebenarannya pada Gerry, dan pada Sandy. Bahkan kau bisa membuktikan sendiri saat pulang ke Indonesia, dengan melihat langsung Julie yang sudah dalam kurungan."
"Saat itu aku benar-benar mencemaskan keselamatanmu dan calon anak kita, aku panik dan menyangka video yang dikirim Julie itu asli. Apalagi saat itu aku sudah menghubungimu berkali-kali, tapi kau tidak mau menjawab panggilan dariku, itu membuatku semakin yakin dengan jebakan Julie," pungkas Sean.
"Jadi kau menyalahkanku atas kejadian itu?" Rara menyolot, karena merasa saat ini Sean sedang melakukan pengalihan isu.
Sean menggaruk kepalanya, apa dia salah bicara lagi? Tapi Sean hanya sedang berusaha menjelaskan kenyataan.
"Ti-tidak, mana mungkin aku menyalahkanmu, itu memang sepenuh salahku, tapi aku tidak bermaksud untuk mengkhianatimu."
__ADS_1
Rara menghela napasnya, perjelasan Sean seakan menjadi penawar racun yang beberapa hari ini menyesaki dadanya. Tapi mengingat kembali saat Sean sedang bergumul dengan Julie, masih membuat Rara kesal terhadap Sean.
Apakah Rara marah karena cemburu? Tentu saja iya, tapi Rara menolak mentah-mentah perasaan itu. Dia tidak mau terlihat ketergantungan pada orang lain.
"Di mana kau sembunyikan Wina?" tanya Rara kesal, saat ini dia hanya ingin pulang ke hotel untuk menjauh dari Sean.
"Sekretarismu itu aman, saat ini dia sedang bersenang senang bersama Gerry," sahut Sean dengan cengiran jahil, yang membuat Rara bertambah dongkol.
"Jangan bilang temanmu itu sedang berbuat yang tidak-tidak pada Wina!" kesal Rara, dengan mata melotot.
"Hey, Gerry itu temanmu juga, apa kau sedang berpikir Gerry itu pria bejad! Saat ini Gerry hanya membawanya jalan-jalan."
"Ya, Gerry memang tidak bejad seperti dirimu, dia jauh lebih baik darimu!" ketus Rara lalu meninggalkan Sean dengan langkah cepat.
"Mungkin Gerry lebih baik dariku, tapi akulah yang berhasil mendapatkanmu!" Sean tersenyum bangga lalu kembali mengejar Rara.
Tapi Sean sedikit terlambat, Rara sudah mendapatkan taksi, dan langsung bergerak cepat untuk kembali ke hotel.
Malam harinya.
"Bagaimana? Apa Rara sudah memaafkanmu?" tanya Gerry.
2-pria itu kini sedang berada di sebuah bar, sambil menikmati anggur.
Sean menggeleng tidak semangat. "Belum, dia bahkan tidak mengizinkanku masuk ke kamarnya.
Gerry langsung tertawa keras.
"Kau harus bersabar, Kawan!" seru Gerry sambil menepuk pundak Sean.
__ADS_1
"Ah, iya. Kau bilang kedatangan Rara ke sini untuk mengambil alih grup ritel, namanya BC Grup, bukan? Kalau tidak salah aku pernah mendengar nama itu, maksudku nama pemiliknya, siapa namanya?"
"Fernando Perez," sahut Sean.
"Ehmm, benar. Aku benar-benar mengingatnya sekarang. Dia itu playboy paling terkenal di kampus kita dulu, hanya saja kita tidak mengenalnya karena beda jurusan." ujar Gerry.
Sean tiba-tiba tersedak oleh anggurnya. "Apa kau bilang?"
"Dia itu sangat gila perempuan, aku rasa itulah penyebab perusahannya hancur, dia rela memberikan apapun asalkan bisa mendapatkan perempuan itu," jelas Gerry.
Wajah tampak sedikit berubah, dia tidak senang dengan penjelasan Gerry.
"Kau kenapa, Bro? Apa ada yang salah? Aku bahkan kagum dengan kemampuan Rara dalam menangkap peluang untuk mengembangkan bisnisnya. Dia jeli untuk menyasar perusahaan yang sedang kolaps," ujar Gerry.
"Masalahnya bukan itu, besok istriku akan bertemu playboy sialan itu. Awas saja kalau dia berani menggoda istriku, aku akan mengirimnya ke neraka." Sean mengepalkan tangannya
Sean ketakutan sendiri, besok Rara akan melakukan pertemuan dengan pria itu. Sean yakin Rara tidak akan terpancing oleh harta.
Tapi Sean masih tetap khawatir, seorang playboy pastilah seorang perayu ulung, sementara kelemahan wanita ada pada pendengarannya. Apalagi hubungannya dengan Rara belum membaik, bisa saja Rara akan termakan rayuan Fernando, dan dia akan ditinggalkan oleh Rara.
Tidak, hanya dengan membayangkan itu terjadi saja, sudah membuat sean tidak bersemangat hidup.
'Tidak, aku tidak akan membiarkan Rara bertemu bajingan itu hanya dengan Wina. Biar aku sendiri yang akan menemani istriku,' tekad Sean dalam hati.
Sean turun dari bar stoolnya. "Aku ke kamar duluan, Bro."
"Mengapa buru-buru sekali." Gerry mengernyit heran.
"Aku harus bangun pagi-pagi sekali, agar bisa mendampingi Rara bertemu Fernando sialan itu," sahut Sean sebelum benar-benar pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan luka like, vote dan komen.