My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Penyelamatan Rio


__ADS_3

Pagi ini Rara terlihat sibuk, dia harus menghandle banyak laporan yang biasanya dikerjakan oleh Wina sekretarisnya. Tapi karena Wina sedang pergi mengikuti fashion show. Rara pun harus mengurus tugas itu seorang diri.


Rara juga harus memimpin rapat seorang sendiri. Kini Rara baru saja kembali ke ruang kerjanya setelah selesai memimpin rapat dengan bagian perencanaan. Rara melirik jam di tangannya, di buru-buru merapikan berkas-berkas penting di atas mejanya.


"Aku terlambat!" gumam Rara, lalu bergegas menuju sekolah putranya, dia tidak ingin Rio menunggu lebih lama.


Rara tiba di sekolah Rio.


"Mama ...," panggil Rio ketika melihat mamanya turun dari mobil.


Rara menoleh ke arah suara yang memanggilnya, Rara tersenyum melihat putranya itu sedang bersama Damar dan Diana temannya di seberang jalan. Dua anak itu terlihat sangat antusias memesan jajanan pinggir jalan.


Rara menyeberang jalan untuk menghampiri putranya.


"Mama Awas ...." Rio berteriak histeris saat melihat sebuah mobil melaju kencang, bersamaan dengan Rara yang akan menyeberang jalan.


Rara sempat menoleh ke suara mobil yang melaju cepat ke arahnya, ketika tiba-tiba Rio mendorong tubuhnya sekuat tenaga.


Braakk ...!


"Rio ...." Diana terpekik melihat temannya terkena tabrakan hingga terpental cukup jauh, dan kini tergeletak di aspal.


Rara yang selamat masih sempat melihat putranya itu tergeletak lemah di tengah jalan, dengan tubuh berlumuran darah. Sampai akhirnya Rara merasa pandangannya mulai kabur. Dia hampir ambruk ketika satu mobil lagi datang ke arahnya dengan kecepatan tinggi.


Braakk! Salah satu bodyguard yang menjaga Rara mengorbankan diri.


Kejadian yang sangat cepat, 2-bodyguard itu baru saja turun dari mobil, belum habis keterkejutan mereka karena mobil yang menabrak Rio. Satu mobil lagi datang di saat Rara hampir kehilangan kesadarannya. Satu dari bodygurad itu membantu melemparkan temannya, agar dapat menyambar Rara, na'as bodyguard itu harus menggantikan nonanya menjadi korban.


Rara yang hampir kehilangan kesadaran saat mendapat dorongan dari bodyguarnya, menjadi kehilangan keseimbangan, lalu jatuh ke trotoar. kini Rara menyusul Rio dan bodyguardnya kehilangan kesadaran, akibat benturan trotoar di kepalanya.


Para pengendara yang lewat berkerumun untuk menyaksikan kejadian. Damar yang panik langsung mengangkat Rio ke mobil. Sementara bodyguard yang masih selamat, mengangkat nona dan rekannya ke mobil. Dibantu orang-orang berada di tempat kejadian.

__ADS_1


Dengan keadaan yang serba mendesak, bodyguard itu memilih untuk menyelamatkan nyawa ketiga korban terlebih dulu, dengan mengantarkan ke rumah sakit, baru setelah itu memikirkan si pelaku tabrak lari. Dia juga mengirimkan pesan tentang kejadian ini pada Jefry atasannya.


Jefry saat ini sedang berada di apartemen Vita bersama bossnya, untuk menangkap Dion dan Maya, dan memberikan balasan atas perbuatan busuk yang dilakukan kedua orang itu.


"Jef, bawa mereka ke pihak berwajib, atur agar proses hukumnya dilimpahkan di pengadilan di sini. Dan pastikan kau mengawasi proses hukumnya!" perintah Brian.


"Tuntut mereka dengan pasal yang memberatkan, dan pastikan mereka akan menghabiskan sisa hidup mereka di penjara!" tambah Lidya.


Jefry baru saja akan menyahuti perintah sang boss, ketika ponselnya mendapat sebuah pesan masuk. Yang membuat wajahnya yang biasa dingin dan datar itu tiba-tiba menjadi pucat.


"Apa yang terjadi?" desak Brian yang dapat melihat perubahan pada raut wajah asistennya itu.


"Tuan muda Rio menjadi korban tabrak lari, karena menyelamatkan nona Rara dari tabrakan mobil, tapi akhirnya nona juga menjadi korban, termasuk satu bodyguard kita ...," ucap Jefry dengan suara terbata.


"Apa?"


Bugghh! Sebuah pukulan mentah mendarat di wajah Jefry.


Jefry hanya menunduk sambil mengelap darah yang mengalir dari bibirnya, dia tidak berani menyahuti ucapan bossnya.


Lidya langsung mengusap dada suaminya itu, mencoba meredakan emosi Brian.


"Sayang, sudahlah! Tidak ada gunanya kau mengamuk di sini. Lebih baik kita segera ke rumah sakit," bujuk Lidya


Sebenarnya dalam hati Lidya juga merasakan kecemasan, yang mungkin lebih besar daripada yang dirasakan Brian. Tapi Lidya mencoba lebih tenang dan menggunakan akal sehatnya.


Brian menghela napasnya, untuk menjernihkan pikirannya yang mulai kalut. Mereka pun beranjak meninggalkan tempat tersebut.


"Bawa dan kurung kedua orang ini. Nyawa kalian akan menjadi taruhannya jika sampai 2-bajingan ini melarikan diri," perintah Jefry pada anak buahnya.


"Siap boss. Kami pastikan mereka tidak akan kabur," jawab kepala bodyguard.

__ADS_1


Setelah mendengar kesanggupan anak buahnya, Jefry langsung menyusul tuan dan nyonya besarnya. Jefry melajukan mobil yang ditumpangi atasannya itu menuju rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit Brian langsung berjalan dengan sangat cepat, dia sudah tidak sabar ingin segera mengetahui kondisi cucunya.


Emosi Brian kembali memuncak, saat melihat bodyguard yang sudah lalai menjalankan tugasnya itu, bodyguard itu tertunduk, bersiap menerima amukan tuannya. Brian pun kembali meluapkan amarahnya.


Bugghh ...! Bodyguard itu menerima pukulan Brian, tuannya itu sudah seperti orang kesetanan.


"Bodoh! Mengapa kau sampai kecolongan?" raung Brian suara yang terdengar mengerikan. Ini adalah kali pertama bodyguard terbaiknya itu melakukan kesalahan.


"Maafkan kami, Tuan. Kami salah, kami hanya bekerja sesuai perintah Anda, untuk menjaga nona dari kejauhan. Kejadiannya sangat cepat sekali, bahkan kecelakaan itu terjadi saat kami baru saja turun dari mobil," jawab bodyguard itu dengan kepala tertunduk.


Brian menggelengkan kepala, bagaimanapun kejadian ini bukan sepenuhnya karena kalalaian bodyguard terbaiknya itu.


"Bagaimana keadaan cucuku?" desak Brian.


Bodyguard itu terdiam sebelum akhirnya menjawab. "Tuan muda mengalami luka yang cukup parah, kini sedang dirawat intensif di ICU, sedangkan nona belum sadarkan diri, dia mengalami benturan cukup keras. Dan rekanku sekarat."


"Arrgghh ...." Brian mengacak rambutnya dengan kasar.


"Cepat cari pelakunya! Jangan biarkan dia bisa menghirup udara segar!" seru Brian.


Bodyguard itu langsung mohon diri, untuk melaksanakan tugasnya. Dia tidak akan membiarkan si pembuat masalah lepas begitu saja, apalagi partner sehatinya juga sekarat karena kejadian ini.


Sejurus kemudian dokter Alya keluar dari ruang ICU, dia langsung menghampiri Brian.


"Brian, ayo ikut aku!" ajak dokter Alya dengan nada tergesa-gesa.


Bersambung.


Jangan lupa like, vote dan komen.

__ADS_1


__ADS_2