
Brian membawa cukup banyak bodyguardnya, mereka langsung menuju apartemen Vita.
Rombongan Brian tiba di lobi apartemen, tidak ada petugas keamanan apartemen yang berani menanyakan tujuan ataupun mencegah kedatangan mereka. Para petugas keamanan di sana tahu siapa Brian, meski sebagian dari mereka hanya pernah mendengar nama, tanpa pernah bertemu langsung dengan pebisnis yang sangat berkuasa itu.
Para bodyguard Brian langsung bergerak cepat, mereka mengepung setiap jalur akses keluar dari apartemen tersebut, beberapa orang berjaga di parkiran dan tangga darurat.
Sementara bodyguard yang tetep bersama Brian, kini sedang terlibat cekcok dengan pengawal Dion, saling baku hantam pun tak lagi terhindari di koridor apartemen.
Melihat tontonan menarik di depannya, Brian langsung menyingsingkan lengan kemejanya, darahnya seperti mendidih, dia ingin ikut bersenang-senang bersama para bodyguardnya.
"Tuan, Anda ingin ikut berolahraga ya," ujar Jefry sambil melirik sekilas ke arah bossnya yang sedang menyingsingkan lengan baju.
"Jangan! Kau itu sudah tua, para bodyguard itu bahkan tidak perlu bantuan," cegah Lidya dengan nada perintah.
Brian membuang napas, inilah mengapa dia tidak ingin mengajak Lidya tadi, istrinya itu pasti akan mencegahnya untuk bersenang-senang, padahal tangan Brian sudah gatal melihat bodyguradnya dan pengawal Dion yang sedang adu ketangkasan.
Sejurus kemudian pintu apartemen terbuka, Dion dan maya keluar dari apartemen, mungkin karena mendengar keributan yang terjadi di depan apartemennya. Tidak, bukan karena keributan. Dion dan Maya memang keluar karena ingin segera kabur, itu dapat dilihat tas besar yang mereka bawa, ditambah 2-pelayan yang tangannya juga dipenuhi dengan barang bawaan.
Dion terkejut bukan kepalang, Brian bergerak lebih cepat daripada perkiraannya. Dion terlihat mulai ketakutan. Apalagi tidak ada satu pun dari pengawalnya yang masih dalam keadaan sehat, para pengawal Dion dapat dilumpuhkan dengan mudah oleh bodyguard Brian.
__ADS_1
"Brian, apa maksud kedatanganmu? Mengapa para bodyguardmu menyerang bodyguardku?" Dion berusaha tenang, meski badai kecemasan kini sedang menerpanya.
Brian tersenyum miring. "Aku hanya ingin bertamu, tapi bodyguardmu itu menghalangi kami. Ngomong-ngomong sepertinya kau terlihat sedang buru-buru," sindir Brian.
"Cukup basa-basinya, cepat tangkap mereka!" perintah Lidya pada bodyguardnya, dan para bodyguard itu pun langsung bereaksi menuruti perintah nyonya meraka.
Maya gemetaran melihat bodyguard yang semakin mendekat, dia langsung memeluk erat Dion. Berharap mendapat perlindungan dari suaminya itu, tapi sayang Dion hanyalah kericil kecil bagi Brian.
"Pisahkan mereka!" perintah Lidya.
Maya langsung diseret lepas dari suaminya, percuma walaupun dia mencoba berontak sekuat tenaga, karena 2-bodyguard yang menahannya sama sekali tidak bergeming.
Lidya menghunuskan tatapan tajam pada Maya. "Iblis apa yang tega meracuni kakaknya sendiri, hanya demi keserakahan dan kebencian. Sekarang aku pastikan kau akan merasakan sakit yang jauh lebih buruk dari yang diderita Maira dulu, kau akan membusuk di penjara!"
Lidya berdecak. "Kau masih mengatakan Maira itu keluarga, dengan semua yang sudah kau lakukan padanya, huh? Seperti itukah yang disebut keluarga?"
"Brian, aku mohon lepaskan istriku! Dia tidak bersalah, aku lah dalang dari semua ini. Kalian boleh membawaku, tapi aku mohon lepaskan Maya," pinta Dion dengan suara meratap.
"Dion ...." Brian menggelengkan kepala.
__ADS_1
Meski di usianya yang sudah setengah baya, Brian tidak kehilangan kecepatannya. Kepalan tinju Brian tiba-tiba sudah menghantam ulu hati Dion, yang membuat pria itu langsung terbatuk parah.
Brian mencengkeram kerah kemeja Dion. "Kau rela berbohong demi menutupi kesalahan Maya, dengan mengakui kejahatannya sebagai ulahmu. Kau benar-benar buta Dion, kau membela Maya karena dia istrimu, huh! Lalu bagaimana dengan Maira, dia juga masih berstatus istrimu saat itu. Di mana hati nurani seorang suami yang tega membiarkan istrinya menelan racun demi racun setiap hari. Racun yang bahkan diberikan oleh adiknya sendiri."
Bugghh! Sebuah tinjuan keras kembali mendarat di pelipis Dion, yang meninggalkan luka sobek di sana.
"Lidya lepaskan kami! Aku sudah menyesali semua perbuatanku, aku mohon jangan hukum kami," ratap Maya mengiba.
Lidya mendekati Maya. "Benarkah? Kau sudah menyesali perbuatanmu? Lalu apakah ucapan penyesalan itu akan keluar dari mulutmu, jika semua kebusukanmu ini tidak terbongkar? Apakah semua dosamu akan terhapus begitu saja dengan ungkapan itu? Dan berharap dirimu akan terbebas dari hukaman?"
Lidya menggelengkan kepala, benar-benar tidak tahu malu. Dengan semua kekejiannya pada kakaknya dulu, Maya dengan entengnya mengatakan kalau dia menyesal, dan memohon agar Lidya melepaskannya.
Tidak, Lidya tidak akan membiarkan perempuan seperti Maya berkeliaran dengan bebas. Ini bukan semata demi membalas kematian temannya, melainkan untuk memastikan agar menantunya tidak menjadi korban selanjutnya dari kebusukan hati Maya.
"Jef, bawa mereka ke pihak berwajib, atur agar proses hukumnya dilimpahkan di pengadilan di sini. Dan pastikan kau mengawasi proses hukumnya!" perintah Brian.
"Tuntut mereka dengan pasal yang memberatkan, dan pastikan mereka akan menghabiskan sisa hidup mereka di penjara!" tambah Lidya.
Jefry baru saja akan menyahuti perintah sang boss, ketika ponselnya mendapat sebuah pesan masuk. Yang membuat wajahnya yang biasa dingin dan datar itu tiba-tiba menjadi pucat.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan komen.