My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Tidak Dianggap


__ADS_3

Luna terbaring di lantai. Seorang pengawal berwajah paling bringas, tidak ingin membuang kesempatan. Dia melompat dengan maksud menghantam dada Luna dengan tumitnya, yang tentu bisa mengakhiri nyawa gadis tersebut.


"Matilah kau gadis sialan!" teriak pria sangar itu dengan suara menggelegar.


"Luna ...." Rara terpekik histeris, ia tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu.


Bersamaan dengan Luna yang sudah pasrah pada nasibnya, tiba-tiba sebuah tangan menangkap kaki penjahat tersebut. Pria itu mengayunkan tubuh si penjahat hingga menghantam sebuah mobil.


"Ahhkk ...." Penjahat itu meraung kesakitan karena pungungnya terasa remuk.


Gio tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya. "Kau tidak apa-apa?"


"Aku tidak meminta bantuanmu!" seru Luna ketus sambil menepis tangan Gio.


"Tapi kau membutuhkan bantuan ini," sahut Gio.


Luna tidak bergeming, dengan wajah juteknya dia berdiri sendiri.


Gio menggelengkan kepala, bahkan di saat genting seperti ini, Luna masih bersikap tempramen kepadanya.


"Heii ... sialan! Siapa kau? Mengapa mencampuri urusan kami," bentak kepala anak buah Vita.


"Aku ...." Gio menunjuk diri sendiri. "Aku hanya pria malang yang tak pernah dianggap oleh wanita yang aku cintai sepenuh hati."


Luna sudah berdiri kembali, dia merasa ingin muntah mendengar perkataan Gio, yang menurut Luna sangat tidak berbobot itu.

__ADS_1


"Aku di sini ingin memberikan pelajaran pada sekelompok banci, yang hanya berani mengeroyok wanita," lanjut Gio dengan nada mengejek.


Pemimpin anak Vita buah menjadi sangat emosi mendengar ejekan Gio, dengan satu kode dari tangan, para anak buahnya langsung menyerang.


Gio terlihat tenang sambil tersenyum miring, dia bergerak ke samping menghidari pukulan lawan, lalu dengan cepat menendang punggung lawannya, pria itu terhuyung ke arah Luna, dan langsung disambut tinjuan keras Luna yang menghantam bibirnya. Belum habis erangan kesakitan dari mulut pria itu, lutut Luna kini sudah mendarat di dagunya.


"Mati saja sana! Dasar tidak berguna ...." Luna mendorong jatuh pria yang sudah tidak berdaya itu.


Luna tertarik dengan pemandangan di depannya, di mana Gio sedang menghadapi anak buah Vita seorang diri. Luna terjun ke kerumunan itu, membuat erangan dan rintihan kesakitan dari para anak buah Vita saling sahut-menyahut dengan cepat.


Tidak butuh lama anak buah Vita sudah bergelatakan di lantai, beberapa dari mereka sudah kembali berdiri, lalu ambil langkah seribu menyusul Nona mereka yang sudah kabur terlebih dulu.


Vita memang langsung pergi begitu saja, bahkan sebelum anak buahnya tumbang semuanya, dia seperti sudah yakin anak buahnya tidak akan mampu melawan Gio dan Luna bersamaan.


Luna membersihkan pakaian yang cukup kotor dengan kibasan tangan. Mata tajam Luna melirik Gio yang berdiri di sebelahnya dengan gaya sok cool.


"Menyedihkan sekali jika keberadaan kita tidak dianggap, padahal jika aku tidak datang, mungkin kau sudah ...."


"Sudah apa? Kau sedang menyumpahiku mati, ya?" potong Luna, tidak tahu apa alasannya, dia selalu emosian saat melihat wajah Gio.


Rara datang menghampiri mereka. "Gio, terimakasih bantuanmu."


"Tidak perlu berterimakasih padanya, ayo kita pulang!" tukas Luna.


"Ehmm ... tadi mertuaku mengirim pesan, dia menyuruh kami menyusul ke rumah kak Bastian, aku dan Rio duluan ya, Lun," pamit Rara.

__ADS_1


Luna terbelalak. "Aku pulangnya gimana? Mobilku masih di kantor, kita tadi berangkat satu mobil!"


Rara mencondongkan tubuhnya lalu berbisik di telinga Luna. "Sama Gio!"


Tubuh luna seketika menjadi kaku mendengar bisikan Rara.


Rara mengerlingkan pada Gio yang berdiri di belakang Luna.


"Terima kasih!" ucap Gio tanpa suara.


Rara langsung pergi membawa Rio mengarah ke mobilnya.


"Ra ...." Luna masih protes, tapi sahabatnya itu mempedulikannya.


"Aarrgghh ... sialan kamu Ra!" pekik Luna kesal.


Rasa kesal di hati Luna semakin bertambah, karena melihat Gio yang berdiri di sampingnya terus tersenyum penuh kemenangan.


Rara memacu mobilnya meninggal parkiran Mall. 2-bodyguard yang ditugaskan untuk berjaga mulai bergerak mengikuti ke mana Rara pergi, mereka selalu melakukan pengawalan tanpa diketahui oleh Rara.


Sebelumnya 2-bodyguard itu sudah bersiap untuk membantu Luna, pada saat terjadi pengeroyokan tadi. Tapi mereka urung memunculkan diri karena melihat keberadaan Gio.


Sambil mengikuti mobil Rara, bodyguard itu mengirimkan laporan kepada Jefry, tentang kejadian hari ini. Sebenarnya mereka bisa menahan Vita sebelum dia kabur tadi, tapi bodyguard itu tidak berani bertindak tanpa perintah.


Apalagi saat ini Jefry sedang di Manado, asisten pribadi Brian itu sudah berhasil mengumpulkan bukti kejahatan Maya. Dia langsung terbang ke Manado untuk menjemput orang-orang yang terlibat dalam kasus pembunuhan berencana itu, sebelum mengurus dalang pembunuhan itu di sini.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like, vote dan komen.


__ADS_2