
Maju atau tidaknya sebuah perusahaan, tergantung pada pemimpin yang menjalankannya. Di sinilah point utama yang membuat paradise fashion bisa mencapai titik sekarang. Sebagai pemimpin, Rara memiliki kemampuan interpersonal dan networking yang sangat baik. Turut melengkapi sisi lainnya, Rara juga memiliki self control yang sangat bagus.
Meski tergolong pemimpin muda, Rara tidak seperti pemimpin muda kebanyakan. Rara tidak pernah bersikap impulsif dan ceroboh dalam memimpin. Setiap tindakan yang akan diambil, selalu diproses dengan pertimbangan matang untuk meminimalisir kegagalan.
Dan itu kembali terlihat pada rapat kali ini, Rara mengumpulkan seluruh pemegang saham, untuk membahas rencana akuisisi sebuah grup ritel di Spanyol. Selain dapat memberikan ide-ide brilian, Rara juga memiliki kemampuan mendengarkan yang sangat baik. Dia akan bungkam ketika koleganya berbicara, dan mendengarkan setiap saran dan masukan dengan cermat. Yang membuat orang-orang di sekelilingnya merasa sangat dihargai, meski keberadaan mereka di sini hanyalah pemegang saham minoritas.
"Baiklah. Setelah kita mempertimbangkan dari segi keuntungan, berikut konsekuensi dan risiko, kita sepakat untuk mengakuisisi grup itu. Kita berharap langkah ini dapat membawa paradise fashion, ke jenjang yang lebih baik kedepannya. Dengan begitu rapat kali ini saya tutup," ujar Rara yang langsung disambut tepukan meriah dari para kolega dan karyawannya.
"Win, siapkan rekap hasil rapat hari ini, serahkan padaku," perintah Rara yang dijawab anggukan sekretarisnya itu.
Rara segera pergi meninggalkan ruang rapat, dengan langkah terburu-buru, karena Sean sudah menerornya dengan pesan singkat.
"Sungguh menyebalkan!" gerutu Rara kesal, dia keluar dari lift sambil membalas pesan suaminya.
Braakk! Rara menabrak seorang pria, yang menyebabkan ponsel milik pria tersebut terjatuh.
"Ah ... maaf!" Rara langsung memungut ponsel tersebut lalu menyerahkan pada pemiliknya.
"Rara ...." Sapaan Gerry terdengar dengan nada terkejut bercampur antusias saat melihat wanita yang ada di hadapannya.
Rara memicingkan mata, mencoba mengingat pria yang ternyata mengenalinya.
"Gerry ... kau kah ini!" seru Rara tak kalah sumringah.
"Astaga, Ra. Aku sangat merindukanmu! Kita tidak pernah bertukar kabar lagi setelah lulus SMA!" seru Gerry sambil merentangkan tangan, ingin memeluk Rara sekedar melepaskan kerinduan antar teman lama.
__ADS_1
Rara menjadi serba salah, sebagai seorang istri Rara tentu ingin menjaga kehormatan suaminya. Tapi di sisi dia juga tidak enak menolak Gerry, pria itu adalah teman lamanya, bahkan pernah menjadi pahlawan di hidup Rara.
Untung saja Sean datang tepat waktu, dia berlari dan langsung menghalangi maksud Gerry.
"Hey, ada apa ini mau main peluk-peluk! Dia itu istriku!" Sean langsung memberikan tatapan menghunus pada Gerry.
"Hah, jadi Rara ini istrimu? Yang kau ceritakan itu?"
"Iya, kenapa memangnya? Apa kalian sudah saling mengenal sejak lama?" sahut Sean kesal.
"Gerry teman SMAku," Rara ikut bicara.
"Minggirlah! Kau mengganggu orang reuni saja!" Gerry mendorong Sean ke samping.
"Jaga pandanganmu dari istriku, dan jangan ada kontak fisik!" seru Sean penuh penekanan, sebelum mengalihkan pandangannya pada Rara.
Raut wajah kesal mengiringi langkah Sean menuju parkiran, dia mencuri-curi lirikan ke arah Rara, entah mengapa dia selalu tidak terima saat melihat istrinya itu dekat dengan pria lain. Bahkan Sean pernah merasa sama terbakarnya, saat melihat Rara tertawa bersama Gio, yang notabene adalah sepupunya sendiri, di resepsi pernikahan mereka.
Sean membukakan pintu mobil untuk Rara, lalu mempersilahkan istrinya itu masuk. Rara duduk sendiri di kursi belakang, sementara Sean dan Gerry duduk di kursi depan.
"Aku tidak menyangka, Ra. 9-tahun tidak bertemu, kau sudah sesukses sekarang." Akhirnya kata-kata itu lolos juga dari mulut Gerry, sebenarnya Gerry ingin bercerita banyak dengan Rara. Tapi Gerry berusaha menahannya karena melihat raut wajah Sean yang tidak bersahabat.
"Terimakasih, Ger. Oh, iya, aku bahkan belum menanyakan kabarmu, kau sibuk apa sekarang?"
"Kabarku baik. Aku sedang menggeluti bisnis kuliner, dengan membuka restoran Khas Indonesia di N.Y. Yaah, meskipun tidak sesukses dirimu, tapi lumayanlah untuk menyambung hidup." sahut Gerry.
__ADS_1
Rara tertawa lepas. "Kau tidak berubah, Ger. Masih pintar memuji orang, dan merendahkan diri sendiri!"
Sean melirik kesal ke arah spion yang ada di atas kepalanya, memperhatikan gurat wajah Rara yang tampak ceria, seakan mengubur sisi galak Rara yang selama ini dia kenal.
"Itu artinya kau tinggal di N.Y, lalu kapan kau pulang ke sini?" tanya Rara lagi, dia tidak tahu bahwa suaminya sedang mati-matian menahan rasa cemburunya.
"Aku baru tiba kemarin," jawab Gerry singkat, karena melihat raut wajah pria yang ada di sampingnya semakin tidak bersahabat.
"Kau sudah menikah?" tanya Rara lagi, berbicara dengan teman lama, apalagi teman akrab, membuat jiwa kepo seorang wanitanya keluar begitu saja.
"Belum, harusnya aku bisa pulang untuk melamarmu, tapi sayangnya kau sudah menikah, dan sepertinya kau memiliki suami yang sangat cemburuan," sahut Gerry yang langsung mendapat pelototan tajam dari Sean.
"Kau mau kutendang keluar, ya?" geram Sean.
Rara melirik ke arah Sean, dia membungkam mulutnya karena dapat terlihat dari belakang, bahwa raut wajah suaminya itu sudah benar-benar masam.
Sementara itu Sean terus mengumpat dalam hati, saat ini dia merasa sedang dijadikan supir oleh 2-orang teman yang sedang bereuni itu. Bahkan Sean merasa perjalanan dari paradise fashion ke mansionnya terasa begitu lama. Padahal dia sudah melajukan mobil dengan cepat, melintasi jalanan yang cukup padat.
Setelah menempuh perjalanan bertahun lamanya bagi Sean, akhirnya mobil yang dia kendarai berhenti di halaman mansionnya, Sean segera turun lalu membukakan pintu untuk Rara. Lalu mengikuti istrinya itu masuk ke dalam mansion.
Melihat Sean hendak memasuki mansionnya, Gerry pun menurunkan kaca jendelanya. "Hey, kau mau ke mana? Kau belum mengantarku pulang!"
"Sebentar! Aku harus memastikan istriku selamat sampai ke kamarnya," sahut Sean yang membuat Gerry geleng-geleng kepala.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komen.