My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Ingin Hidup Mandiri


__ADS_3

'Somoga dia menyukainya,' gumam Rara harap-harap cemas.


Sean menghampiri Rara di atas tempat tidur, ia melepaskan handuknya begitu saja, hingga menampakkan cacing absurd di antara pangkal pahanya.


"Aaaaah ...." Rara terpekik histeris sambil menutup mata dengan kedua telapak tangan. "Apa yang kau lakukan, dasar gila ...."


Sean tergelak melihat reaksi itu, kali ini sukses mengerjai Rara.


"Ciihh ... Sok jual mahal! Aku tahu, sejak tadi kau menatap mesum melihat tubuhku yang gagah ini! Apa kau tidak ingin berterimakasih kapadaku? Karena aku sudah memberimu cuci mata gratis, dengan melihat pusakaku yang berharga ini. Tapi kau jangan besar kepala, aku hanya memberimu kesempatan untuk melihat saja, karena aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya," ujar Sean dengan sangat percaya diri.


Rara berdecak kesal, ia berdiri dari tempat duduknya, pria ini bukan hanya sakit jiwa, tapi juga over percaya diri. "Apa di sini ada karung?"


"Karung ...!" sahut Sean bingung.


"Ya, karung! mendengar ucapanmu yang terlalu percaya diri, ditambah musibah karena melihat cacing absurdmu itu, membuatku ingin memuntahkan seluruh isi perutku!" ketus Rara sambil melengos meninggalkan Sean.


"Hahaha ...." Sean tertawa keras. "Kau akan menyesal karena mengatai pusakaku cacing absurd, karena saat terbangun ia akan seperti menara pisa!" teriaknya


Mata Sean beralih ke atas tempat tidur, ia melihat 1-stel pakaian yang sudah dipersiapkan Rara untuknya. Sean bergumam sambil meraih pakaian tersebut. "Ternyata selera fashionnya bagus juga!"


"Ah ... Apa yang aku pikirkan! Mengapa aku malah memujinya untuk sesuatu yang lumrah. Dia pemilik brand fashion terkenal, tentu saja seleranya bagus!" Sean menggerutu sendiri sambil mengenakan pakaian yang disiapkan Rara.


Setelah selesai berpakaian, Sean melangkah meninggalkan kamar, ia melirik Rara yang sedang duduk menunggu di atas sofa.


"Kau ingin tetap di situ, atau ikut sarapan?" tanya sean dengan acuh.

__ADS_1


Rara berdecak kesal, ia tidak menyahut. Rara berdiri lalu mengikuti langkah Sean dari belakang.


kini mereka sudah tiba di restoran, sepertinya seluruh anggota keluarga besar, sudah dibuat menunggu cukup lama oleh pasangan pengantin baru ini.


"Apa semalam kau lembur sampai subuh, hingga kesiangan seperti ini," sindir Gio sambil tersenyum mengejek.


"Tentu saja kami melewati malam panjang, dan indah sebagai pengantin baru. Sebaiknya kau menikahlah, agar tahu enaknya pengantin baru," sahut Sean sambil mencibir Gio.


Sementara itu orang yang dicibirnya hanya nyengir kuda.


'Sialan! Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu, sementara tubuhku sakit-sakit semua, karena harus tidur di sofa.' Sean mengumpat kesal.


"Apa kak Sammy dan Kak Lia belum bangun?" tanya Sean seraya duduk di kursinya.


"Mereka sudah pulang dari semalam, Nak! Ada pekerjaan yang mendesak. Onty Karin pun ikut pulang bersama mereka," jawab Lidya.


"Di mana Rio?" tanya Rara, pada siapa saja yang ingin menjawab.


"Adik ipar tenang saja! Rio sudah sarapan, ia kini sedang bermain bersama Rachel dan nannynya," jawab Rania.


Kini para istri mulai mengambilkan makanan untuk suaminya masing-masing, mengerti apa yang ditangkap matanya, Rara pun berinisiatif mengambilkan makanan untuk Sean.


"Tidak perlu, aku terbiasa mengambilnya sendiri!" ketus Sean seraya memalingkan wajahnya ke samping.


Rara menghentikan niatnya, ia pun mengambilkan makanan untuknya sendiri.

__ADS_1


"Sean ... Bicaralah yang sopan kepada istrimu!" Lidya menatap tajam putranya.


"Memangnya bagian mana yang tidak sopan, Bu!" keluh Sean.


Lidya menggelengkan kepala. "Biarkan Rara mengambilkan makanan untukmu!"


Dengan berat hati Sean menyodorkan piringnya kepada Rara, istrinya itu segera menuangkan makanan untuk Sean.


"Ah ... malangnya nasibku, cuma aku yang menuangkan makanan sendiri," keluh Gio meratap.


"Makanya dengar apa yang mommy bilang, kau itu harus secepatnya menikah! Sekarang kau tinggal satu-satunya yang belum menikah di keluarga kita," sahut Delia pada putranya.


Gio tersenyum pelik, ia menyesali keluhan yang keluar dari mulutnya, karena itu malah membuat dirinya terpojok.


"Ayah, Ibu. Ada yang ingin aku bicarakan!" ujar Sean di sela-sela menyantap sarapannya.


"Apa itu, Nak?" tanya Lidya, ia menghentikan aktifitas makannya, karena penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Sean.


"Begini, Bu. Sekarang ini aku sudah menjadi kepala keluarga, Tadi malam, aku dan Rara sudah membicarakan tentang masalah ini. Dan kami sudah sepakat, bahwa kami akan tinggal di apartemen. Ya tentunya dengan tujuan agar kami bisa menjadi keluarga kecil yang mandiri, dan memiliki lebih banyak waktu untuk berdua saja," ucap Sean mengutarakan niatnya.


Rara langsung menoleh ke arah Sean, kapan ia dan Sean membicarakan hal ini, bahkan dalam mimpi pun ini tidak pernah terjadi.


'Apa lagi yang sedang direncanakan pria gila ini kepadaku,' batin Rara sambil menatap Sean penuh telisik, mencari jawaban dari pertanyaan yang ada di kepalanya.


Bersambung.

__ADS_1


Terima kasih


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komen!


__ADS_2