My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Penting Mengunjungi Calon Anak


__ADS_3

Sean dan Rara tiba di rumah sakit, Mereka langsung menuju ruangan yang sudah disediakan. Sebalum berangkat tadi, Sean memang sudah memerintahkan pegawai rumah sakit agar menyiapkan segala keperluan untuk memeriksa kondisi Rara.


Seorang dokter spesialis kandungan pun sudah disiagakan untuk menunggu kedatangan mereka. Rara langsung diminta rebahan di atas berankar, dan dokter langsung melakukan Pemeriksaan ultrasonografi (USG).


Dokter obgyn tersebut tersenyum sambil menatap Sean dan Rara bergantian, tangannya menunjuk ke arah layar monitor, di sana terpampang gambar 4D, yang memperlihat janin dalam kandungan Rara masih seukuran biji kacang.


"Selamat, Tuan. Nona Rara sedang mengandung, yang ada di monitor ini adalah gambaran dari calon anak yang sedang dikandung Nona," ujar dokter tersebut menjelaskan.


"Seperti dugaanku, kau hamil My Cherry." Sean begitu sumringah, dia seakan melupakan sakit yang menyiksanya tadi pagi, satu kecupan penuh kasih sayang pun dia daratkan di kening istrinya itu.


Kini mata Sean beralih ke layar monitor, dia mengekerutkan dahi karena sepengelihatannya janin tersebut sangat kecil.


"Dokter, mengapa anakku begitu kecil? Apa dia baik-baik saja?" tanya Sean, terlihat jelas raut kekhawatiran di wajahnya.


"Tuan tenang saja. Kondisi kandungan Nona sangat sehat, Memang untuk usia kehamilan yang masih berjalan 7-minggu penampakannya hanya sebesar itu," jawab dokter tersebut.


"7-minggu!" Sean mengulang ucapan dokter. "Jadi istriku sudah mengandung pada saat kelakaan itu?"


"Benar Tuan, proses pembuahannya sudah dimulai pada saat itu, sukurnya kecelakaan itu berakibat buruk pada janin yang kini nona kandung. Tidak ada yang perlu Tuan khawatirkan."


Sean menghela napas lega, kalau saja kejadian itu berakibat buruk sedikit saja pada calon anaknya. Sean tidak akan segan menyeret Vita keluar dari penjara, lalu menghabisi wanita iblis itu dengan tangannya sendiri.


"Sebentar, saya akan menyiapkan vitamin untuk di konsumsi nona." Dokter tersebut beranjak meninggalkan Rara dan Sean.


Sean menggenggam erat tangan Rara, sambil menatap istrinya itu penuh kasih. "Aku tidak dapat membayangkan apa yang aku lakukan pada Vita, jika terjadi hal buruk padamu dan calon anak kita, My Cherry," lirihnya.


Rara tersenyum sambil membalas genggaman Sean.

__ADS_1


"Aku sudah tidak apa-apa, dan calon anak kita juga baik-baik saja," ucap Rara dengan raut wajah yang tak kalah bahagia.


Tak lama kemudian dokter itu kembali dengan membawakan resep vitamin yang telah dipesiapkannya.


"Selain rutin mengkonsumsi vitamin, Nona juga harus menjalankan pola hidup sehat, perbanyak makan sayur dan buah. perbanyak juga minum air mineral, penting untuk menghindari stres, dan pastikan Anda memiliki waktu istirahat yang cukup," pesan dokter tersebut seraya menyerahkan bungkusan vitamin kepada Rara.


"Jangan lupa perbanyak mengkonsumsi ikan dengan kadar merkuri rendah. Kandungan protein dan asam lemak omega-3 yang ada pada ikan, sangat bagus bagi perkembangan saraf dan otak janin. Selain itu ikan sangat kaya akan zat besi dan vitamin B12, ini sangat baik untuk mencegah anemia, yang bisa berakibat cukup buruk bagi kesehatan ibu dan janin."


"Terimakasih, Dokter," sahut Rara.


"Dokter, apa jenis kelamin anakku?" tanya Sean.


Dokter itu tersenyum. "Tuan silahkan bawa nona kembali saat kandungannya berusia 18-minggu, karena di umur segitu jenis kelaminnya baru akan terlihat."


Sean menganggukkan kepalanya.


"Apa kami masih boleh beruhubungan suami istri, Dokter?" tanya Sean yang langsung mendapat tatapan membunuh Rara.


"Tidak ada larangan, Tuan. Hanya saja Tuan harus mengurangi frekuensinya. Juga jangan memaksakan pososi sulit dan harus melakukannya dengan perlahan, demi menghindari beberapa kondisi medis yang bisa terjadi akibat berhubungan suami istri," jelas dokter tersebut yang membuat Sean terlihat sumringah, tanpa mempedulikan Rara yang menatap kesal kepadanya.


Mereka pun meninggalkan rumah sakit setelah selesai melakukan pemeriksaan. Sebenarnya Sean ingin mengantar Rara pulang, tapi istrinya itu memaksa untuk diantar ke kantornya. Yang menghadirkan perdebatan cukup sengit, hingga akhirnya Sean pun mengalah, dengan catatan Rara tidak terlalu memforsir kerjanya.


"Mengapa kau masih diam, aku sudah mengalah untuk membiarkanmu bekerja." Sean melirik Rara yang masih terus menunjukkan raut kesalnya.


"Aku masih kesal padamu, kau membuatku malu saja," rutuk Rara ketus.


"Malu?"

__ADS_1


"Tentu saja malu, kau tidak bisa menjaga mulutmu! Mengapa kau harus melontarkan pertanyaan bodoh tadi pada dokter, aku sangat malu," sungut Rara.


"Ah, kau masih mempermasalahkan itu rupanya, itu sangat penting My Cherry. Agar aku dapat menemui calon anakku, dan agar dia dapat mengetahui keberadaan papanya," balas Sean sambil terkekeh jahil.


"Ciih ... dasar otak mesum!" Rara semakin kesal dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


"Kau selalu berkata seolah kau mampu menolaknya, My Cherry. Tapi pada saat permainan itu terjadi, kaulah yang menjerit paling keras dengan tatapanmu yang sangat mendamba itu," goda Sean yang berhasil membuat Rara memutar hadapnya, lalu memberikan pukulan gemas di lengan Sean.


Sean tersenyum lebar karena berhasil menggoda istrinya. Sean tahu istrinya itu sekarang sedang mati-matian menutupi raut wajahnya yang merona merah.


Tanpa terasa mereka sudah tiba di paradise fashion. Rara berpamitan tanpa lupa mencium punggung tangan suaminya, lalu segera turun dari mobil.


"Ingat jangan memaksakan diri hingga kelelahan," pesan Sean.


Rara menganggukkan kepala, lalu melangkah menuju kntornya. Sean menunggu sampai istrinya itu tak lagi terlihat oleh pandangan matanya, barulah ia meninggal parkiran tersebut.


***


Sean sedang berkutat dengan pekerjaan, dia terlihat sangat bersemangat hari ini, hingga tanpa ia sadari hari sudah menjelang jam makan siang.


Sean merapikan meja kerjanya, dia akan pergi ke kantor Rara, untuk mengajak istrinya itu makan siang bersama, Sean melangkah meninggalkan ruangan dengan penuh semangat.


Sean tiba di parkiran, matanya langsung melotot kesal saat melihat seorang gadis yang sedang menunggunya sambil tersenyum menggoda.


"Mau apa kau datang ke sini?" sergah Sean dengan nada yang tidak bersahabat.


Julie melangkah menghampiri Sean dengan langkah genitnya. "Kau tenang saja, aku tidak datang dengan niat buruk."

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa terus dukung author, tinggalkan jejak kalian dengan like, vote, dan komen ya.


__ADS_2