My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Kau Kah Pria Bayaran Itu


__ADS_3

"Sana pergi, jangan berharap lebih ...!" Rara mendorong tubuh Sean, tentu saja Rara tidak akan merendahkan harga dirinya, dengan meminta Sean melakukan lebih.


"Baiklah, jika itu maumu! Tapi jangan salahkan aku jika kau tidak bisa tidur, karena sedang mendamba!" ujar Sean cuek, ia sengaja menahan gejolaknya, demi menjaga harga diri di depan Rara.


Sean menjauhkan tubuhnya, ia mengambil posisi tidur membelakangi Rara. Sedangkan Rara terlihat kesal menahan gejolak yang tidak tuntas itu. Rara menarik selimutnya, ia memeluk tubuh sendiri, lalu memejamkan mata agar hasrat yang menyiksa itu dapat mereda.


'Kita lihat, sampai di mana kau mampu jual mahal, wajahmu yang sudah seperti udang rebus itu, sebentar lagi pasti akan memohon kepadaku,' gumam Sean sambil terus menanti reaksi Rara.


Hampir satu jam Sean menunggu, tapi apa yang ia harapkan tidak juga terjadi, Sean memutar tubuhnya, ia benar-benar kesal karena mendapati Rara sudah tertidur.


"Wanita sialan ini! Bisa-bisanya dia tidur setelah membuatku terbakar," Sean mengumpat pelan sembari turun dari tempat tidur.


Sean ingin menuju kamar mandi, sepertinya ia harus bermain solo lagi kali ini, Sean menggaruk kepalanya sambil melangkah menuju kamar mandi.


"Mengapa aku harus melakukannya! Ah ... persetan dengan harga diri sialan!" Sean memutar langkah, ia naik kembali ke atas tempat tidur.


Sean mulai melakukan aksinya, ia mulai melucuti pakaian Rara, tanpa mengulur waktu Sean langsung melahap bagian atas istrinya yang terlihat menantang itu. Sean menghisap puncak kemerahan itu dengan Rakus, sambil sesekali memberikan gigitan kecil di sana.


Sean terus bermain di sana, hingga puncak ranum itu mengeras sempurna. Sementara satu tangan Sean bermain di sisi sebelahnya. Kini serangan Sean perlahan turun ke bawah, lalu berlabuh di area lembab milik istrinya.


Rara mendesis saat Sean membenamkan kepalanya di sana. Antara sadar dan tidak, Rara menikmati setiap perbuatan Sean di area intimnya.


"Se-Sean! Apa yang kau lakukan!" Mata Rara sudah terbuka dengan sempurna, tubuhnya melemah akibat gelenyar-gelenyar panas yang kini membakar sarafnya, Rara hanya pasrah saat menerima perlakuan Sean di sana.


Sean terus saja dengan aksinya, ia tidak menghiraukan Rara yang terus meracau, dengan jahilnya Sean memberikan gigitan kecil di sana, yang membuat tubuh Rara mengelinjang liar.

__ADS_1


Sean tersenyum penuh kemenangan, ia melanjutkan kembali permainannya. Tanpa sadar Rara membenamkan kepala Sean lebih dalam, saat ia merasakan ada dorongan yang mendesak, disertai dengan getaran panas yang memabukkan di area pribadinya.


"Ehmm ... Se-Sean, aku ...." Rara meracau saat ia sampai pada pelepasan pertama, yang membuat dirinya melayang itu.


Sean naik mengkungkung Rara di bawah tubuh kekarnya, sambil menyringai jahil.


"Aku akan membuatmu begadang malam ini!" Sean menyeriangai sambil memposisikan diri untuk memasuki Rara.


"Sial ... mengapa susah sekali!" Sean terpeleset saat hendak memasuki Rara, Sean terheran karena pintu yang akan dimasukinya begitu sempit, padahal ia sudah melakukan pemanasan untuk mempermudah lajunya.


"Ah ... akhirnya aku kembali ke rumah!" Sean menggeram perlahan, setelah mencoba berkali-kali, akhirnya Sean berhasil memasuki Rara.


"Ehmm ... Sean!" Mata Rara terpejam saat suaminya itu memenuhi dirinya.


Di samping itu Sean memang masih ingin menikmati sensasinya, meresapi pijatan hangat yang memabukkan di sana. Sean benar-benar tidak menyangka, rasanya akan seperti ini, rasanya lebih nikmat saat ini.


Sean mulai bergerak perlahan, saat Rara mulai terlihat nyaman, gerakan itu semakin lama semakin cepat, diiringi rintihan indah yang mengalun memenuhi kamar tidur mereka.


"Sean ...." Rara kembali merasakan sensasi yang tadi, ia mengalungkan tangan dengan posesif di leher Sean.


Di saat yang sama Sean pun mengerang panjang, Sean menyusul istrinya mencapai puncak cintanya, diakhiri dengan ambruknya tubuh gagah itu di atas Rara.


Sean menggeser tubuhnya ke samping, sambil mengatur napasnya yang terengah, dengan satu tangan masih menempel di pinggang Rara, sementara tangan lain menyingkirkan rambut basah akibat keringat, yang menempel di pipi Rara.


"Kau ingin mengulangi Sayang!" goda Sean menyeringai.

__ADS_1


Rara tidak menjawab, ia melirik sekilas ke arah Sean lalu menunduk malu.


Sean menggunakan keahliannya untuk membangkitkan kembali gejolak di dalam diri Rara, mereka pun melakukannya kembali, seperti tak kenal lelah.


Hingga sampai menjelang pagi, akhirnya sepasang suami istri itu kelelahan dan tertidur, dengan tangan yang saling memeluk satu sama lain.


Pagi harinya Rara terbangun, sementara Sean masih tertidur pulas, Rara berjalan menuju kamar mandi dengan langkah terseret menahan perih, ia merasakan ada yang mengganjal di area pribadinya, meski ini tidak seperih yang ia rasakan sebelumnya.


Rara keluar dari kamar mandi, setelah selesai membersihkan diri, sedangkan Sean belum bangun juga. Rara mengenakan pakaian, lalu duduk di depan meja Rias, sebagai finishing dari ritual mandinya.


Rara berjalan ke arah tempat tidur, ia ingin membangunkan Sean dan pergi sarapan, Rara tidak ingin kejadian yang sama terulang dua kali, Rara tidak ingin dianggap wanita yang tidak bisa diajar oleh keluarga mertuanya, karena datang ke tempat sarapan sendirian lagi.


Menatap wajah Sean yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba membuat Rara seperti kembali ke masa 5-tahun yang lalu di Milan, Rara membayangkan wajah tampan pria bayaran yang bersamanya malam itu.


'Kau kah pria itu? Apa ini yang membuat orang tuamu sangat menyayangi Rio,' gumam Rara dalam hati.


Rara memang sudah lama merasakan keanehan dengan sikap mertuanya, ketulusan yang diberikan mertuanya cukup berlebihan. Meskipun Rara tahu ibu Lidya adalah teman karib mamanya, tapi Rara meyakini pasti ada sebab lain yang lebih kuat.


Tangan Rara mendekat ke arah Sean, ia ingin mencari bukti sahih dari firasatnya, bukti dari kecurigaannya saat ini.


"Hei ... apa yang ingin kau lakukan!" sentak Sean yang tiba-tiba terbangun, saat Rara ingin mengambil Rambutnya.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komen!

__ADS_1


__ADS_2