
Sean mengalihkan pandangan pada istrinya, seolah itu adalah tatapan yang lembut penuh kasih sayang, tapi sebenarnya itu adalah tatapan yang penuh intimidasi.
"Benar begitu kan, Sayang!" ujar Sean sambil menyeringai.
"Puppt ... Terdengar seperti dejavu!" seru Rania sambil menutup mulut menahan tawa. Yang membuat seluruh keluarga besar menatap dirinya, terutama Bastian.
"Apa maksudmu?" kesal Sean.
"Dulu kak Bastian juga mengatakan hal yang sama, saat ingin membawa kak Dini ke penthousenya," sahut Rania enteng, yang membuat Bastian semakin melotot kesal kepadanya.
"Tidak ada cerita tinggal di apartemen! Kau dan istrimu akan tetap tinggal mansion, bersama ibu dan ayah!" ujar Lidya dengan tegas.
"Bu ...." Sean memelas. "Jika Kak Bastian boleh pindah saat sudah menikah, mengapa aku tidak boleh," keluh Sean.
'Karena ibu tidak ingin ada menantu berikutnya, yang disiksa oleh anaknya,' sahut Rania dalam hati, sambil menatap Sean dengan cibiran.
"Karena kau anak bungsu, ibu dan ayah akan kesepian di mansion, jika kami hanya tinggal berdua saja, untuk itulah kau tetap tinggal di mansion bersama kami," jawab Lidya dengan Nada yang tidak ingin dibantah.
"Kalau Ibu dan ayah merasa kesepian. Mengapa bukan kak Bastian, atau Kak Rania saja yang ibu ajak tinggal mansion!" Sean masih ingin mendebat alasan ibunya.
"Tidak ada tawar menawar Sean, kau tetap tinggal di mansion!" tegas Brian, yang membuat Sean langsung tidak berkutik.
Sean menghabiskan sarapannya dengan cepat, setelah itu melengos meninggalkan meja makan, tanpa berpamitan. Yang membuat seluruh keluarga menggelengkan kepala.
"Gio! Daddy dan mommymu akan tinggal di sini dulu, mungkin untuk satu bulan ke depan! Kau boleh pulang duluan ke Italia, jika merasa bosan di sini," ujar Lucas pada putranya.
__ADS_1
"Tidak Dad. Aku senang tinggal di sini, mungkin setelah Daddy dan Mommy pulang nanti, aku masih akan tetap di sini," sahut Gio sambil tersenyum lebar.
"Kau pasti punya niat tersembunyi pada temannya Rara itu, kan!" celutuk Rania, kini semua keluarga menatap Gio penuh telisik.
"Kakak ... kau jangan mengada-ada!" elak Gio sambil tersenyum kecut.
Sementara itu Rara sudah menghabiskan sarapannya, ia pun berpamitan pada keluarga, lalu menyusul Sean yang sudah terlebih dulu kembali ke kamar.
Rara mendapati Sean sedang duduk di sofa, samar-samar terdengar umpatan dari mulut Sean saat Rara berjalan mendekatinya, Rara mendudukkan diri di samping Sean.
"Kapan kita membicarakan untuk pindah?" tanya Rara.
"Memang belum pernah, tapi bukankah lebih baik orang sudah berkeluarga tidak tinggal bersama keluarganya, agar bisa lebih mandiri," kilah Sean.
"Apa maksudmu?" Sean meninggikan nada Bicara.
"Jika kita tinggal di apartemen, kau bisa berbuat semaumu padaku. Tidak jika tinggal mansion, kau tidak bisa berbuat banyak, karena ayah dan ibu pasti akan membelaku, benar begitu Sean Richard," ujar Rara dengan sinis.
"Kau ...." Sean menggeram kesal. Wanita ini benar-benar menguji kesabarannya.
Rara pergi meninggalkan Sean, ia mengemasi barang-barangnya. Karena seperti yang disepakati saat sarapan tadi, hari ini seluruh keluarga akan pulang ke tempat tinggalnya masing-masing.
Setelah selesai berkemas, Rara dan Sean keluar dari kamarnya, wanita itu kelihatan kesusahan membawa barang-barang, sedangkan Sean melenggok dengan tangan kosong.
Ibu Lidya menatap kesal melihat kelakuan putranya. "Sean, bantu istrimu membawa barang-barangnya!"
__ADS_1
Sean mendesah berat. "Itu semua barang-barangnya, Bu. Mengapa harus aku yang repot."
"Sean ...."
Sean pun menyerah, karena mendapat tatapan tajam dari ibunya, dengan berat hati ia mengambil alih barang bawaan Rara.
Mereka keluar hotel, mobil mereka sudah menunggu tepat di depan hotel, Sean memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi, dan mereka pun tancap gas meninggalkan hotel.
Kini mereka sudah tiba di mansion keluarga Sean, di sinilah Rara akan menjalani sehari-harinya kedepan, mulai menjalani kehidupan baru, sebagai menantu keluarga Richard.
Para Pelayan yang sudah menunggu di depan mansion, mereka langsung mengeluarkan barang-barang majikannya, lalu membawa masuk.
"Sayang, kamar Rio ada di sebelah kamar kalian nantinya, ibu sudah mempersiapkan kamar untuknya," ujar Lidya, sembari mereka melangkah memasuki mansion.
"Terima kasih, Bu," ucap Rara terharu, ternyata mertuanya itu benar-benar peduli pada anaknya, padahal Rio bukan siapa-siapa mereka.
Lidya tersenyum tulus. "Pergilah istirahat, Nak! Kau pasti masih lelah, ada ayah, ibu dan juga nannynya mengurus Rio."
"Terima kasih, Bu!" ucap Rara sekali lagi.
Rara pamit, ia segera menyusul Sean yang sudah terlebih dulu pergi ke kamar.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komen!
__ADS_1