MY BOSS

MY BOSS
JATUH PADA LUBANG YANG SAMA


__ADS_3

Menginjak lantai saja rasanya kebas. Tidak ada tenaga sama sekali. Wajahnya pucat, dengan bibir membiru. Beberapa tubuhnya terdapat luka lebam, yang kini mulai berubah menjadi keunguan. Tubuhnya masih bugil dengan kondisi yang tidak karuan.


Rambut panjangnya dibuat kusut tidak terurus. Antara keringatnya dan keringat Abama, sudah bercampur menjadi satu. Aroma yang tidak jelas, bau ******. Amis.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Alexandra. Tidak tahu di mana keberadaan handphonenya. Jendela yang kemarin malam terbuka lebar, kini tertutup rapat.


Suasana kamar benar-benar gelap. Seakan tidak ada siang. Hanya ada malam yang terus menemani.


"Aku ada rapat. Tetap di sini, dan jangan kemana-mana." Tidak menjawab pertanyaan Alexandra. Abama malah memberikan sebuah perintah.


"Abama! Varel akan mencari ku. Belum lagi Bi Rumi yang pasti khawatir."


"Kondisi Varel baik-baik saja. Bi Rumi, dia sudah aku urus."


Bukan! Bukan itu yang Alexandra inginkan. Dia tidak mau di kurung dan menjadi budak nafsu Abama. Memang dia wanita apaan? Walau pun murahan, di diri Alexandra masih ada harga diri.


"Kau ingin mengurungku? Ingin menjadikan ku budak nafsu mu, Abama?" Tanya Alexandra menantang. Masih dengan posisi duduk, sebab kakinya terus bergetar. Tidak mampu menopang tubuhnya.


Abama sialan! Dia sama sekali tidak menggubris. Membuat kepala Alexandra ingin pecah. Di kunci begitu saja di dalam kamar yang gelap. Tanpa ponsel atau pun alat komunikasi lainya. Bahkan, hanya ada beberapa makanan. Jika ditanya mulut siapakah yang penuh dengan bisa, jawabannya adalah mulut Abama.


****


"Kakak di mana?" Tanya Varel, dengan nada marah. Di mana kakaknya? Semalam tidak terdengar pintu terbuka. Dan pagi-pagi seperti ini ada seorang berpakaian serba hitam yang menakutkan datang memberikan banyak sembako, dan uang.


"Maaf kalian ini siapa? Kami tidak bisa menerima ini semua." Tolak Bi Rumi. Takut.


"Kakak ku di mana?" Varel kembali bertanya. Anak itu sama sekali tidak takut, apalagi ini menyangkut kakaknya.


"Bukan ranah kami menjawab. Sebentar lagi, Tuan Besar akan datang."


"Siapa kalian? Jangan ganggu aku dan kakak. Jangan buat takut Bi Rumi." Merentangkan tangan kecilnya, seolah mampu melindungi.


Tidak lama setelah itu, mobil mewah berwarna putih berhenti di depan rumah mereka. Keluarlah Abama dengan setelan jas rapi licin berkelas.


"Tuan, selamat pagi." Serentak bawahan mereka menunduk, memberi hormat.


"Masuk dulu. Kita bicarakan di dalam." Suara berat Abama memberi instruksi mutlak.


Varel melihat Abama dengan wajah galak, sedangkan Bi Rumi sudah memegang ujung dasternya karena takut. Ditambah aroma uang tercium begitu ketara. Sudah dapat di pastikan mereka orang yang berkuasa.


"Saya Abama. Rekan bisnis Tuan George Lonen."


Wajah Varel berubah, nampak sedih serta antusias. "Paman kenal ayahku?" Tanya Varel, dijawab anggukan oleh Abama.


"Turut berduka atas kematian Tuan George Lonen. Dulu waktu hidup, ayah kamu berjasa sekali. Tidak akan saya yang sekarang tanpa bantuan ayah mu." Cerita Abama.


"Ayah memang keren!"


"Paman ke sini mau apa? Ayah sudah enggak ada. Varel sekarang sendirian, sama kakak."


"Saya di sini mempunyai tujuan. Ingin membantu kamu serta kakak kamu."


"Sungguh?" Tanya Varel dengan wajah gembira.


"Ya benar. Namamu Varelio Lonen? Dan kakak mu Alexandra Lonen?"


"Iya, paman!!"


"Ya Tuhan...Den, dulu ayahnya Den Varel orang kaya banget ya." Terkagum-kagum Bi Rumi sampai melongo.


"Iya Bi! Dulu ayahnya Varel itu hebat! Ibu Varel juga cantik banget!"


"Iya percaya, Den. Non Alex aja cantik banget."


"Atas rasa terima kasihnya. Saya sudah menyiapkan rumah untuk kalian tinggali."

__ADS_1


"Maaf Tuan. Tapi ini terlalu berlebihan. Terlebih, Non Alexandra belum pulang kerja."


"Alexandra sedang mengurus berkas lamarannya. Dia akan berkerja di kantor saya. Apakah dia belum menghubungi kalian?" Tanya Abama. Benar-benar pendrama terbaik tahun ini.


"Belum! Varel takut banget kalau sampai ada apa-apa sama kakak. Tapi Puji Tuhan, kakak baik-baik saja."


"Terima kasih banyak ya, paman!"


"Tidak perlu. Saya yang seharusnya berterima kasih. Tanpa tuan George tidak akan ada saya yang sekarang."


****


Tidak ada pakaian. Lemari itu kosong, hanya berisi lembaran kertas. Sepanjang hari Alexandra hanya menggulung selimut di tubuhnya. Berjalan tertatih menuju meja panjang hanya untuk mengambil makanan dan minuman.


Sesekali tangannya mencoba membuka jendela, karena dia ingin melihat cahaya! Ingin menatap lingkungan di sekitar sini. Namun sayang seribu sayang, semua akses terkunci.


Ruangan gelap tanpa ada cahaya, Alexandra merasa Abama telah menghukumnya. Tapi apa alasannya? Dia yang terlebih dulu mengusir Alexandra. Akan tetapi kenapa tindakannya seolah-olah dia adalah pelaku utama.


"Apakah ada orang di luar?" Teriak Alexandra, mengetuk pintu keras. Tidak mungkin jika dia harus di sini terus menerus.


Di luar memang ada beberapa orang yang membersihkan Bar. Tapi telinga mereka memang sengaja tuli. Sebuah peraturan bekerja di bawah kaki Abama. Jika saja melanggar, maka ucapkan selamat tinggal pada kepalamu.


"Tolong aku! Aku terkunci di sini! Seseorang!!"


"Aku bukan penjahat! Aku teman Boss kalian!" Lagi Alexandra menyakinkan. Karena sangat yakin bahwa di bawah sana pasti banyak orang. Bar ini bisa berubah menjadi Cafe klasik di siang hari. Bisnis yang di lakukan Abama bukanlah bisnis yang tergantung pada waktu. Entah siang atau malam, yang pasti uang harus terus mengalir.


"Aku pegawai di sini!!" Mendobrak-dobrak pintu dengan keras. Melolong sampai kerongkongannya kering. Tidak ada satu pun yang menyahut. Seperti patung yang dianggap bisu.


"Ya Tuhan!! Tolong aku! Aku ingin mandi! Aku ingin keluar dari sini! Ada keluarga yang harus aku urus!" Memelas kasih pada tempat yang salah.


Lelah, tenaganya tidaklah sebanyak itu. Pada akhirnya pun Alexandra hanya mampu diam—menunggu Abama kembali dan membukakan pintu.


Sedangkan di FeYier Grup, Abama tengah sibuk dengan urusan bisnisnya. Melupakan Alexandra yang entah bagaimana kondisinya. Hatinya kini dilanda bunga. Hasrat yang dipendam sudah dia salurkan. Kondisi seperti inilah yang baik untuknya bekerja. Di mana otaknya bisa bekerja lebih cepat dan cerdas.


"Tuan, proyek di Kalimantan sudah berjalan."


"Proposalnya akan saya kirim siang ini, Tuan." Jawab Rendy.


"Tuan Abama, nanti siang Anda mempunyai jadwal bertemu dengan Tuan Glen Johnson." Ucap Rendy membaca jadwal Abama hari ini.


"Persiapkan."


"Maaf Tuan... Jika perkataan saya lancang." Memberi hormat Rendy pada Abama. Sebab apa yang akan di katakan sedikit sensitif.


"Itu urusan ku, Rendy. Kerjakan saja pekerjaan mu." Abama tahu di mana arah pembicaraan ini. Walau pun tidak bercerita, tangan kanannya itu pasti tahu. Di tambah tempatnya berada di Bar Walch.


"Tuan saya hanya memberikan Anda pertegasan. Bahwa Anda bukanlah pria lajang. Anda mempunyai istri, bernama Yasie Armandita. Anda tahu sendiri, bagaimana dulu keluarga Arman membantu Anda. Tuan Sandro—"


Brak! Abama pukul dengan keras meja tempatnya bekerja. Menatap nyalang pada Rendy.


"Kau tidak tahu apapun Rendy! Jangan lagi membahas Arman!"


"Maaf Tuan." Sorot mata Abama sudah terlanjur memerah. Menajam siap menguliti tubuh Rendy saat ini juga.


"Kau tidak tahu masalahku Rendy. Yasie itu memang istriku, dan Sandro adalah mertuaku. Cukup aku yang pantas menggurus hidup keluarga ku!" Bentak Abama keras, sampai membuat Rendy mundur.


"Saya hanya tidak menyukai Alexandra, Tuan. Dia bukan wanita baik-baik. Dia seorang pel4cur, Tuan."


"Tahu apa kau tentang semua hal Rendy?" Tanya Abama.


Menegak tubuh Rendy, menatap Abama berani. "Saya mengenal Nyonya Yasie dengan baik. Dia seorang pengusaha berkelas, begitu pula Tuan besar Sandro, Tuan. Mereka mempunyai jasa tak ternilai di sini." Lancang! Rendy benar-benar sudah membangunkan singa yang tengah tertidur lelap.


Abama memberi tepuk tangan yang meriah. Berjalan mendekat pada Rendy, pelan.


"Kau ingin sebuah rahasia?" Tanya Abama.

__ADS_1


"Ini rahasia besar! Tidak semua telinga bisa mendengar." Lanjut Abama memberi sebuah pernyataan.


"Maafkan saya Tuan. Saya telah lancang." Rendy membungkuk, sampai melengkung dalam tulang punggungnya.


"George Lonen lah yang menyumbangkan setengah dari sahamnya di perusahaan ini. FeYier Grup tidaklah berdiri sendiri, Rendy. Perusahaan sebesar ini di pimpin oleh dua orang, George Lonen dan Abama Patrio Walch."


"Yasie adalah wanita yang aku cintai, teramat mencintai. Tapi sayangnya, dia mempunyai orangtua seperti Sandro."


"Kau tidak perlu tahu banyak tentang aku dan Yasie manisku. Sebab—" Darah muncrat membasahi jas licin Abama. Tergorok hampir putus kepala Rendy.


Matanya melotot, dengan lidah yang terjulur keluar. Tepat ditangan Abama sendiri, Rendy tewas. Di kantor di mana dia mencari uang untuk menyambung hidup.


"Kau pandai, tapi mulut mu terlalu banyak berbicara." Bisik Abama, memegang kepala Rendy yang sudah hampir putus.


"Apakah selama ini aku tidak tahu Rendy? Bahwa kaulah mata-mata kiriman Sandro."


"Hanya telinga dan mulut orang mati yang bisa diajak bekerjasama." Lanjut Abama berdiri.


"Masuk ke ruangan ku. Bersihkan mayat mantan tangan kanan ku." Ucap Abama melalui sambungan telepon.


****


Bau anyir begitu ketara sekarang. Samapi membuat Glen menutup hidungnya rapat-rapat.


"KAU BENAR-BENAR PSIKOPAT!" pekik Glen, seraya membuka laptopnya.


"Dia dulu yang bermain-main denganku." Jawab Abama santai, membersihkan darah yang masih tersisa di jas licinnya.


"Padahal kau bisa memanfaatkan Rendy untuk masuk ke dalam sarang Thelio."


Abama menggelengkan kepalanya, "dia bermulut banyak. Tidak cocok untuk pekerjaan ini."


"Lalu sekarang? Kau akan sendiri. Mampus mengerjakan perusahaan sebesar benua Amerika ini!" Ejek Glen begitu senang melihat Abama menderita. Sok sekali sih orangnya.


"Tugas yang ku berikan pada Erick sudah di kerjakan. Sebentar lagi dia akan kembali."


Glen melotot, "dia berhasil menaklukkan perusahaan asal Afrika itu? Kau tambah kaya dong?"


"Ya, dan bisa membunuh kau saat ini juga." Ancam Abama tidak pernah bercanda.


"Santai! Kalau aku, kamu bunuh. Gak ada yang bisa menyelamatkan George Lonen."


"Sebenarnya aku ingin sekali bertanya-tanya tentang alasan mu sebenarnya Abama. Kenapa kau begitu menginginkan George Lonen bebas akan jeratan Thelio. Bukan semata-mata karena Alexandra kan? Karena aku tahu jelas, kau hanya terobsesi padanya. Selebihnya, kau akan untung karena George Lonen tidak ada. Perusahaan ini secara utuh menjadi milikmu." Panjang lebar Glen berucap. Abama hanya diam, dan masih sibuk membersihkan darah di tubuhnya.


Mengangkat kedua tangannya langsung, "oke! Aku akan diam! Jangan pikirkan perkataan ku barusan."


"George Lonen bukan hanya berjasa pada FeYier Grup. Tapi juga pada hidupku."


"Alexandra?"


"Aku menginginkannya. Sebab George tidak mengizinkan ku untuk mendekati Alexandra."


Oke! Cukup! Jika di teruskan ditakutkan kepala Glen Johnson akan lenyap saat ini juga.


BERSAMBUNG....


Apa saya salah upload karya ya di platform ini? jika di amati, cerita saya jauh sekali dari minat pembaca di sini😢 ataukah hanya perasaan pesimis saya saja?


Entah ya, MY BOSS akan selesai di sini aku tidak. Tetap cerita MY BOSS akan saya tamatkan, tapi mungkin tidak di sini.


Maka dari itu, ayo ajak rekan kalian baca My Boss, dan beri dukungan ya! Nana lagi pesimis inihh🙃


Dukungan dari kalian menentukan cepat update!


Terimakasih 🎭

__ADS_1


Nanaitelian.


Kamis, 13 Juli 2023


__ADS_2