
Rasanya seperti bertambah lebar, dan besar. Menggelambir dan sedikit aneh. Semalaman Abama memasukan batangnya di lubang milik Alexandra. Mempunyai efek rasa tidak nyaman tak bersudahan.
Tadi, pukul sembilan. Alexandra baru bangun. Dia langsung bersih-bersih dan merilekskan seluruh ototnya di air hangat. Tenang dan menyenangkan, sebab tidak ada pengganggu. Satu jam Alexandra berendam, hingga ketukan seorang maid membuatnya buru-buru keluar.
"Nona, ini pakaian Anda. Makanan juga sudah siap di bawah."
"Terimakasih." Masuk segera memakai dress selutut yang tadi maid itu berikan. Bewarna lilac dengan hiasan bunga besar di bagian pinggang. Dress itu nampak pas di tubuh Alexandra.
Menonjolkan kesan seksi sekaligus manis. Menyatu padu dengan kulitnya yang putih bersih. Tangan lentiknya menyisir cepat, rambut panjang yang dia miliki. Memakai bedak tipis di wajahnya, agar terlihat fresh. Dan, terakhir memakai lip bam untuk bibirnya.
Dirasa cukup, segera Alexandra turun ke bawah. Tangannya yang panjang, melengkung dengan nuansa klasik. Dinding yang di cat cokelat tua, dan gold. Hiasan lampu yang memang sengaja dinyalakan walau di siang hari. Silau, dengan aroma cuan di mana-mana—Alexandra dapat merasakan itu.
"Perkenalkan saya koki yang di sewa oleh Tuan Abama. Khusus memasakkan hidangan istimewa untuk Anda. Selamat menikmati Nona."
Ini aneh, dia hanyalah ja-lang yang di bayar Abama. Tapi kenapa mereka memperlakukan nya seperti seorang putri raja. Rasanya tidaklah pantas.
"Terimakasih." Memang ada kata selain terima kasih?. Hanya itu yang mampu bibir Alexandra ucapkan.
Di meja panjang dan lebar itu terhidang banyak menu. Membuat kepala pusing akan niatan rakus. Sekaligus tidak tahan untuk menghabiskan seluruh yang ada di sana. Spontan, Alexandra mengelus perutnya.
"Terlalu kecil untuk menampung kalian semua." Ucapnya, melirih.
"Kau membutuhkan seseorang lain yang hidup di perut mu Alexandra. Untuk membantu mu menghabiskan seluruh hidangan ini." Entah datang sejak kapan! Tahu-tahu sudah berada di belakang punggungnya. Membisikkan kalian yang membuat perut Alexandra mual.
"Cih! Bicara mu sangat tinggi, Tuan."
"Ada yang salah?" Tanya Abama, ikut duduk.
"Tidak ada yang salah di sini, kecuali nafsu." Jawab Alexandra singkat, memalingkan wajahnya.
Abama malah tertawa begitu keras. Mengejek begitu dalam jawaban yang Alexandra berikan.
"Nafsu?" Ulangnya.
"Nafsu apa uang?" Tanyanya kembali menyeloroh.
"Kapan ayahku bisa bebas?" teralihkan dengan pertanyaan Alexandra.
Abama mengambil tisu, membersihkan mulutnya dari sisa makanan. Meminum jus jeruk yang sudah di hidangkan.
"Ayahmu atau hutang-hutang mu."
"Apa maksud mu Abama?"
Tersenyum kecil, sangat amat kecil. Terlihat lebih sinis dengan tampang penjahat kelas kakap.
"Maksudku?"
"Selama ini aku yang bergerak. Sedangkan kau selalu diam. Siapa yang butuh di sini? Aku atau kau?"
Terkepal erat jemari Alexandra di bawah kolong meja. Jadi maksud Abama dirinya lah yang harus memohon? Tertunduk kepalanya di bawah batangan pria itu? Hancur lebur seluruh tubuhnya serta harga dirinya?. Sehina itulah? Tuhan sekali lagi Alexandra bertanya, tolong jawab.
***
"Kau duluan!" Dorong Adit di punggung Bara.
Bara melangkah mundur, mendorong punggung Adit. "Kau duluan saja!. Kau tahu kan wajahku ini seperti kriminal. Sedangkan kamu imut nan lucu. Lebih baik kamu dulu."
Melotot besar mata Adit. "Ingin memasukkan ku ke kandang ular betina?"
"Demi Alexandra! Ingat! Dia hilang gak ada kabar kan. Rumahnya kosong. Ingat Adit, dia dulu yang menemani hari kesepian di rumah sakit."
"Jangan menjilat!"
"Aku tidak menjilat, aku berucap."
"Badebah sialan!" Dengus Adit.
"Ayo Dit! Nanti keburu Mami mu itu menunggang!"
Adit jambak kepalanya kasar, menatap kesal pada Bara yang hanya pandai bersilat lidah.
"Oke! Dasar penakut!" Ejek Adit.
Tok
Di ketuk pintu ruangan Mami Yuli. Berharap dia mau keluar dan berbicara dengannya.
"Ada urusan apa?" bukan Mami Yuli yang keluar, melainkan seorang pria botak licin, dengan kacamata hitam berwajah sok sangar.
"Maaf, kita karyawannya Mami Yuli. Ada yang mau di bicarakan. Mami Yulinya ada dan bisa?" Tanya Adit, menunduk.
Bara menyenggol lengan Adit, berbisik, "jangan nunduk!" Langsung tegap kepala Adit.
__ADS_1
"Sebentar." Masuk kembali ke dalam tanpa penambahan kata keterangan.
"Aku nunduk karena refleks! Orangnya besar banget. Kena tindih, langsung KO!"
"Iya aku tahu, Dit! Tapi harga diri!"
Bibir Adit bergerak mencibir, "harga diri?"
"Harga diri kamu cuman sampai mulut!"
"Alexandra tahu gak kalau kamu itu banyak omongnya aja. Jangan sampai dia terpengaruh sikap kamu yang sok cool!"
Gelagapan, sampai membuat Bara memalingkan wajahnya dari Adit. "Gak" jawabnya seraya menggeleng. "Gak mungkin aku menjadi orang sok kaya Mami mu."
"Idih!"
Pintu kembali terbuka, membuat Bara dan Adit berdiri tegap kembali.
"Kalian di persilahkan bicara dengan Mami Yuli, tapi hanya lima menit."
"Kita boleh masuk?" Tanya Bara.
"Silahkan."
Di ruangan Mami Yuli yang begitu memusingkan, di mana lampu disko menyala berputar dengan warna-warna yang berbeda. Bara dan Adit berjalan menuju sebuah sofa panjang, tempat Mami Yuli tengah bersandar sambil merokok.
"Ada apa?" tanya Yuli, membuang puntung rokoknya dan menginjak agar padam apinya.
"Ada hal yang ingin kita bicarakan, Mi."
"Mau undur diri?"
Bara dan Adit langsung menggeleng keras. "Bukan itu, Mi."
"Lantas?" Tanyanya sekali lagi.
"Tentang teman kami, Alexandra yang menghilang."
Yuli spontan tertawa keras, dia pegang perutnya. Melihat wajah polos dua teman Alexandra. Wanita memang sebuah undangan. Undangan kemaksiatan, bisa juga undangan keberkahan. Tinggal wanita siapa yang di undangan.
"Teman mu tidak menghilang."
"Di mana sekarang dia, Mi? Kami khawatir, sebab Alexandra mempunyai seorang Adik." Alibi Bara.
"Kalian tidak akan pernah tahu. Siapa pun orangnya juga tidak tahu." Terlihat ambigu.
"Mi... Alexandra tidak—"
"Waktu kalian habis." Melambai tangan Yuli membuat si kepala botak licin langsung datang dan mengusir Bara dan Adit.
"Tapi Mi. Kita belum mendapatkan jawaban. Alexandra teman wanita kita satu-satunya. Dia baik dan tulus. Jika pun dia menghilang karena menghindar lilitan hutang, tidak apa. Asalkan jelas keberadaannya dalam kondisi aman." Jelas Bara memohon pada Yuli.
Yuli mesum malah membuka celana pendek ketatnya. Menyisir rambut panjang abu-abu yang baru saja di cat kemarin.
"Jika kau tidak segera pergi. Maka batang mu yang memuaskan lubangku malam ini, sayang."
Langsung Bara memalingkan wajah. Memilih menyerah, dan berjalan bersama Adit.
"Untung saja kau tampan dan perkasa. Kalau tidak, sudah aku depak dari sini!" Teriakan Yuli yang menggelegar. Membuat telinga Bara memerah menahan malu.
"Udah Bar, gak usah di pikirin lagi."
"Dari jawaban Mami Yuli jelas Alexandra baik-baik saja." Lanjut Adit menepuk bahu Bara.
"Yang paling aku benci di dunia ini cuman satu, Dit."
"Udah Bar!"
"Diriku di masa lalu."
"Yang paling ingin aku jungkir balikan waktu juga cuman satu."
"BARA!"
"Pertemuan ku dengan Yuli."
"Kalau kamu ngomong terus, mending aku terima job."
"Dit... Nala, dia sudah tahu?"
Melemah tubuh Adit, menggelengkan keras kepalanya sebagai jawaban.
"Jangan sampai dia tahu, selama ini di rawat sama baj1ngan."
__ADS_1
***
Sarapan yang menegangkan sekaligus menampar hati Alexandra kasar-kasar. Setelah selesai dengan makanannya, Abama lantas bangkit dan berjalan keluar.
Alexandra buang napasnya, mulai mengontrol kembali perasaan rumit di hatinya. Benci dan cinta, manakah yang lebih dulu? Manakah yang akan menang?. Alexandra harap bencinya. Alexandra benci sebencinya dengan Abama.
Ingat Alexandra laki-laki itu baj1ngan kelas kakap. Tidak mempunyai rasa setia dan seorang Boss kurang ajar terhadap pegawainya.
"Nona, Tuan Abama memberi perintah."
Mendadak blank, baru saja akan berdiri dan berjalan di kamar sudah ada perintah mutlak dari Abama yang entah apa itu.
"Nona di suruh ganti pakaian dan berias natural. Sudah di tunggu Tuan Abama di ruang tengah."
"Mau kemana?" Tanya Alexandra.
Maid itu menggeleng dan malah undur diri. Sialan bukan!
Terserah mau kemana pun juga bodo amat. Yang penting menurut dulu, di lain kesempatan bisa memberontak dan mendesak kamperat itu untuk membebaskan ayahnya. Jika ayahnya sudah bebas, Alexandra berjanji akan pergi menjauh dari Abama. Terlalu berbahaya untuk hati dan tubuhnya.
Cukup dengan waktu lima belas menit, Alexandra sudah keluar dengan celana panjang hitam yang tidak terlalu ketat, dengan atasan blouse warna hijau tosca berhias bunga-bunga putih kecil. Rambut panjangnya dia gulung dengan bentuk bun. Wajahnya pun hanya terpoles bedak tabur dan lip bam.
"Mau kemana?" Tanya sekali lagi Alexandra tepat di depan Abama.
Abama diam, dia malah beranjak dan menuju mobil. Tentu saja kaki kecil Alexandra harus mengikuti.
"Bisakah kau menjawab pertanyaan ku?"
"Mulut ku terlahir untuk berucap hal-hal yang berguna dan menghasilkan uang. Selebihnya, itu hanya basa-basi." Panjang dan menukik, seperti servis di awal pertandingan.
"Kau mengajakku, tentu saja aku harus bertanya. Ke mana kita akan pergi Abama?" Keras kepala.
"Mobil bergoyang atau diam?"
Oke, jika sudah berupa ancaman serupa Alexandra memilih mengunci rapat-rapat mulutnya. Lubangnya saja masih terasa ada sebuah tongkat. Masih melebar, dan memerah panas. Sudah mau di hantam? Bisa-bisa semakin lecet.
Mobil yang di tumpangi Alexandra dan Abama berhenti di sebuah rumah sederhana. Di bilang kecil, tidak kecil. Di bilang besar, tidak besar. Mewah? Tidak begitu. Biasa saja? Tidak juga. Intinya rumah itu lumayan untuk di tinggali oleh kalangan menengah ke atas.
Halamannya luas dengan rumput bagus seperti rumput lapangan sepakbola. Ditambah tanaman hias yang berjejer di sepanjang teras. Teduh dan terasa nyaman. Rumah siapa ini?
"Turun." Perintah Abam.
Alexandra langsung turun. Memandangi rumah itu kembali. Terlihat sepi, hanya ada beberapa suara dedaunan yang saling bergesek.
"Rumah siapa?" Tanya Alexandra. Sebenarnya percuma bicara dengan Abama. Terlalu pasif. Hanya aktif di ranjang saja pria itu.
"Ketuk pintunya dan masuk. Ucapkan apa yang terlintas di kepalamu."
"Nona ini koper, Anda." Suara sopir yang membawakan koper Alexandra—sebenarnya bukan koper Alexandra. Lebih tepatnya meminjam dari Abama. Atau di berikan?.
"Ini hal penting. Tolong mulut pria terhormat jawab pertanyaan ku. Apa maksud ini semua?"
"Masuk." Sialan! Ingin sekali Alexandra remas mulut itu.
Menghentakkan kakinya sebal, dan mendorong kopernya masuk. Mengetuk pintu beberapa kali dan akhirnya ada suara dari dalam. Menyuruhnya menunggu sebentar.
Pintu terbuka, dan Bi Rumi yang tengah memegang centong sayur dan apron nampak di ambang pintu.
"Bi Rumi!" sertak Alexandra, langsung memeluk Bi Rumi.
Begitu pula Bi Rumi yang memeluknya erat. Menangis sedikit sebagai tanda terharu. Non Alex, akhirnya sudah pulang. Ayo masuk, Non."
"Bibi senang sekali, Non Alex dan Den Varel menemukan teman Tuan George."
"Tuhan memang tidak pernah tidur. Dia selalu tahu kesusahan setiap hambanya." Cerita Bi Rumi, dengan wajah ceria.
"Maksud Bi Rumi, Tuan Abama?" Tanya Alexandra, meneguk ludahnya kasar. Abama yang membuatnya?.
"Iya Non. Non Alex bukannya kerja di bersama Tuan Abama? Kok masih tanya." Kening Bi Rumi berkerut bingung.
Alexandra tertawa kecil. "Tidak Bi, hanya memastikan saja."
"Varel masih sekolah?"
"Iya Non, kondisinya sudah membaik setiap harinya."
"Puji Tuhan, Bi."
"Bibi masak apa? Alexandra bantu ya." Bi Rumi merentangkan tangannya. "Gak Non. Non Alex pasti capek kerja beberapa hari ini. Non Alex cepat istirahat saja. Biar Bibi yang kerja di sini."
Alexandra mengangguk, kembali memeluk Bi Rumi. Segera masuk ke dalam kamar, dan menguncinya rapat-rapat.
"Apa maksud Abama?" Gumamnya bingung.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....
Maaf ya baru sempat update. Happy reading guys💐⛅