
Mobil setan Abama menelisik dengan suara nyaring, meliuk-liuk di jalanan dini hari. Jalan yang sepi, hanya sepintas beberapa pengguna lalu lintas yang lewat. Mengeborkan knalpotnya, seakan memberitahu kepada seluruh dunia bahwa seorang Abama Patrio Walch kini tengah menguasai jalanan.
Mobil yang dikendarai pria bilioner panas berhenti di sebuah rumah kecil yang cukup sederhana. Kecil menurut pandangan Abama. Pada kenyataannya rumah itu bisa digolongkan besar dan mewah. Walaupun tidak semewah Mansion milik Abama. Masuk tanpa mengetuk pintu. Ingatlah sekali lagi, semua berada di tangan pria itu.
Bagaikan rumah sendiri, Abama lantas masuk ke dalam kamar di mana Alexandra tengah berbaring tidur. Melepaskan kemeja putih yang dikenakan dan berjalan kearah kamar mandi. Mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin.
Gemericik air tidak mampu membangunkan tidur nyenyak Alexandra. Dia terlampau lelah, dan baru saja terpejam beberapa jam yang lalu. Memikirkan kehidupan apa yang tengah dia jalani. Ayahnya, George Lonen ternyata masih hidup. Dia tengah mengalami siksaan. Dia sendiri, hidup ditangan seorang pria jahat. Bagai tidak berdaya, bisa di simpulkan keluarga Lonen sedang mengalami sebuah penyiksaan.
Tidak perlu waktu banyak, untuk Abama menyelesaikan ritual mandinya. Berjalan pelan, dengan tetesan rambut yang masih basah. Aliran air yang mengalir pelan di perut bermotif kotak-kotak. Abama tersenyum kecil menatap Alexandra. Perempuan itu nampak lebih manis ketika tidur. Pakaian yang di kenakan Alexandra pun menggoda keimanan seorang Abama.
Dimana Alexandra hanya mengenakan kaos besar dengan kondisi tanpa dalaman. Selimut yang dia kenakan tersingkap. Membuat kue apem manis itu terpampang nyata di mata Abama. Mendekat, Abama menunduk guna menatap wajah Alexandra.
"Alexandra." Bisik Abama serak basah. Batangnya sudah menegang, tidak mungkin langsung naik dan tancap. Harus dalam kondisi Alexandra terbangun dan melakukan bersama.
Kening Alexandra mengkerut. Dia nampak terganggu, hanya sekejap. Selanjutnya berbalik badan dan memeluk guling. Buah pepayanya kini terjepit diantara guling.
Abama sentuh kue apem itu, dan mencubitnya keras. Sampai-sampai membuat mata Alexandra langsung melotot dan bangun. Duduk dengan tatapan terkejutnya. Ditambah kedatangan Abama yang sudah bertelanjang saja.
"Keringkan rambutku." Perintahnya otoriter.
"Darimana kau bisa masuk?" Pertanyaan bodoh Alexandra, yang membuat Abama tertawa.
"Ingat Nona. Semua yang kamu miliki, juga milikku."
Alexandra mengangguk, yang dikatakan dia benar. Bahwa Alexandra lah yang tidak punya apa-apa di sini.
Bangkit, Alexandra mencuci mukanya terlebih dahulu dengan air. Mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Abama. Tidak lupa juga, membawakan pria itu sebuah kemeja ukuran paling besar yang dia punya.
"Pakailah." Suruh Alexandra, dan mulai mengeringkan rambut Abama.
"Kemeja mini seperti ini kau serahkan untuk ku pakai?" Decihnya. Mendongak, menatap Alexandra yang nampak serius mengeringkan rambut Abama. Wajahnya masih terlihat ngantuk, namun dipaksa harus bangun.
"Itu sudah ukuran paling besar. Atau ku cuci dulu kemeja mu?"
Abama diam, tidak menjawab. Matanya sudah fokus pada buah pepaya yang begitu nyata di depannya. Buah itu tidak di lindungi apapun. Begitu saja dibiarkan mengelantung.
Tangan kekar Abama teraih meremas buah dada Alexandra. Membuat sang empu pun terkejut. "Coba kau keringkan sendiri." Menjauh, dan ingin melarikan diri.
Alexandra takut, jika saja nanti suaranya membuat Varel terbangun.
Abama raih tangan Alexandra. Memangkunya di paha dan memeluk tubuh kecil ramping Alexandra. Mencium banyak-banyak aroma khas tubuh Alexandra.
"Lusa kita akan ke Albarracin."
"Ayahku ada di sana?" Tanya Alexandra.
"Ya."
"Abama. Kau sudah berjanji akan membantuku menyelamatkan ayahku."
"Tapi Alexandra. Bayaran akan itu mahal sekali."
Alexandra berbalik badan. Kini posisinya mengakang di paha Abama. Menatap Abama dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Aku tahu. Bukankah sejak awal. Aku sudah menyerahkan seluruh tubuhku padamu Abama?" Tanya Alexandra tenang. Kenyataan pahit telah menjadi taman kehidupan Alexandra.
"Tapi kau yakin, tubuhmu akan selalu indah seperti ini? Apakah kau pikir, tubuhmu yang paling indah?"
Alexandra menggeleng. "Setidaknya, aku sudah berusaha. Ayahku harus ada di sini. Varel masih membutuhkan sosok Ayah."
"Lalu dengan dirimu sendiri?"
Alexandra tersenyum kecut. "Ayah tidak begitu menyukaiku, Abama. Bukan masalah."
Abama menatap Alexandra. Menelisik begitu indahnya mata Alexandra. Kucing kecil yang sudah mulai jinak. Apakah Alexandra sudah sampai di titik paling pasrah? Itu bagus. Dengan seperti itu Abama dengan mudah bermain dengannya.
Abama angkat tubuh Alexandra, dia singkap kaos besar Alexandra. Dan memasukkan batangnya di dalam kue apem milik Alexandra. Mendesah kecil Alexandra menerima perlakuan mendadak Abama. Tanpa adanya persiapan apapun. Sedikit perih, dan selanjutnya Abama goyangkan paha Alexandra. Menciptakan lendir sebagai pelumas.
"Darimana kau tahu bahwa George tidak menyukai mu?"
"Perlakuannya denganku dan Varel berbeda."
"Karena kau keras kepala." Kening Alexandra berkerut.
"Aku tidak keras kepala. Aku gadis penurut."
"Membela diri, huh?" Tanya Abama menahan tawanya. Alexandra memalingkan wajahnya. Ya benar, dia memang cukup keras kepala.
Karena baginya perintah George itu terlalu mengekang kebebasan yang seharusnya dia miliki.
"Wajahmu memerah. Kau sudah menyadari suatu hal? Bahwa kepalamu begitu keras Alexandra."
"Dan berujung menjadi lacur?" Tanya Abama. Mengangkat alisnya keatas.
"Kau yang kurangajar! Aku meminta bantuan tapi tawaran yang berikan begitu gila." Jawab Alexandra kesal.
"Lantas menyesal?"
"Ini penyesalan yang paling aku sesali di hidup ku Abama!"
Abama berdiri dan melepaskan kaos besar Alexandra. Membanting tubuhnya di atas kasur.
"Maka nikmati saja rasa penyesalan mu, Alexandra. Sebab kau yang rugi. Aku tidak."
"ABAMA KAU BAJING4N!!"
"Ya sayang, aku memang bajing4n."
****
Pagi buta Alexandra bangun. Seluruh tubuhnya remuk dengan luka nyeri di bagian pinggul. Punggungnya hendak remuk, jika saja kemarin dia tidak pingsan. Abama sialan! Bermain dengannya tanpa ada rasa puas. Sudah saja bermain dengan istrinya, masih saja mencari lubang di lain rumah.
Betapa jahatnya Alexandra. Menghancurkan rumah tangan orang lain. Hanya sekedar iming-iming harta dan kebebasan. Kondisi yang mendesak, tanpa tahu akal sehat mana yang harus di kerahkan. Penyakit manusia, terburu-buru.
Alexandra goyangkan tubuh Abama, menyuruh laki-laki itu untuk pergi dari rumahnya sebelum Varel bangun untuk sekolah. Ketahuilah Varel itu suka sekali bangun subuh, untuk meneduhkan hati di depan Tuhan Yesus. Alexandra akui bahwa Varel terdidik begitu baik, dia akan menjadi laki-laki penurut dan selalu percaya akan jalan kebenaran Tuhan. Tidak seperti dia yang terlanjur jatuh ke dalam lubang kesengsaraan. Pilihan membawa Alexandra pada Takdir buruknya sendiri.
"Bangun, Abama. Varel akan segera bangun." Bisik Alexandra, menepuk-nepuk pipi Abama.
__ADS_1
Abama menggeliat dengan wajah kantuk. Menarik tubuh Alexandra untuk masuk ke dalam pelukan hangatnya.
"Ada sebuah syarat Alexandra."
"Ketika aku membebaskan George Lonen dari cekalan Thelio." Lanjut Abama.
Alexandra mendongak, menatap Abama. "Apa."
"Dengan kau tinggal selamanya di sebuah tempat yang telah aku siapkan. Tanpa Varel dan George. Hidupmu, sepenuhnya menjadi milikku."
Alexandra lepas pelukan Abama. Melotot penuh keterkejutan. "Kau ingin membuatku pisah dari keluarga ku sendiri Abama? Kau ingin aku menjadi sebatang kara?"
"Ada aku. Selamanya apapun masalahmu hanya ada aku tempat solusi itu."
"Kau obsesi. Kau gila!" Sertak Alexandra, kesal dan hendak keluar.
Abama tarik tangan Alexandra, dan memangkunya erat. "Kau ingin tahu siapa itu Thelio? Dia adalah mantan suami dari Ibu Varelio. Wanita yang sangat amat Thelio cintai. Bahkan Thelio berani menyerahkan seluruh jiwanya hanya untuk wanita itu."
"Aku menyelamatkan George Lonen, musuh terbesar Thelio. Hidup mati diriku serta perusahaan FeYier Grup ada di tangan ku. Bermacam-macam dengannya, maka siap saja siapapun itu akan musnah."
"Sangat sulit Alexandra. Permintaan mu sungguh sulit. Tapi aku berusaha mengabulkan nya. Hanya untukmu. Maka baik-baiklah denganku, dan mulai semua ini dengan baik."
Terdiam Alexandra dibuatnya. Abama telah berhasil menguasai segala sisi kehidupan Alexandra.
"Kapan kita akan ke Albarracin?"
"Lusa."
"Untuk apa? Apakah untuk menyelamatkan ayahku, Abama?"
"Tidak. Tujuanku ke sana adalah untuk jalan-jalan dengan mu. Kelakuan mu di sana menentukan nasib apa yang akan di alami ayah dan adikmu Alexandra." Abama kecup pipi Alexandra mesra.
Alexandra mengangguk, terasa berat di dada saat dia hendak menghembuskan napasnya. Sudah tidak ada lagi harapan untuknya dapat terbebas dari belenggu Abama. Sudah tidak ada celah untuknya lari.
Atas nama Varelio Lonen serta George Lonen, Alexandra berani melangkahi takdir demi takdir atas pilihan buruknya.
"Kau segeralah pulang Abama."
"Aku akan di sini, selama pemberangkatan kita ke Albarracin."
"Tolong... Di sini ada Varel." Mohon Alexandra hendak menangis.
Abama raih rahang Alexandra. Menciumnya dalam dengan sesekali menukar saliva. Dia kecapi seluruh wajah Alexandra. Cantik merona, putih bersih di pagi hari. Lembut sekali kulit wanita itu, membuat Abama tidak tahan untuk tidak menciumnya.
"Urusan Varel biar aku yang menjelaskan. Bukankah satu ronde lagi cukup, sayang?" Tanya Abama, dan mengajak Alexandra masuk ke dalam kamar mandi.
Bersih-bersih sekaligus membuatnya kotor kembali. Air panas di saat udara dingin menyapa. Ketika saja matahari hendak menyinari bumi, tapi bumi Abama sudah hangat di dalam pelukan mentari Alexandra.
"Alexandra, buang rasa menyesalmu. Apa yang kita lakukan atas dasar mutualisme."
"Ya Abama. Mutualisme atas peruntukan hidupku. Aku tidak menyesal sekalipun harus mati sekarang. Tapi, dosa yang tengah ku pupuk ini, entah sejak kapan sudah menjadi sebuah hal biasa untuk hidupku."
BERSAMBUNG......
__ADS_1