MY BOSS

MY BOSS
KISAH AWAL I


__ADS_3

Flashback on


Seusai dengan ucapannya, Alexandra kembali menangis. Di depan Abama dia menunjukkan betapa rapuh hatinya kini. Seluruh tubuhnya tersirat akan lelah yang melanda. Dan akhirnya, Abama mengendong Alexandra di depan, seperti bayi koala yang tengah bermanja dengan induknya. Masuk ke dalam mobil dan Abama lajukan mobilnya ke sebuah apartemen pribadinya.


Tidak ada seorang pun tahu—kecuali Rendy. Tentang apartemennya itu. Sebab, Abama merahasiakan tempat di mana dia bisa meredamkan panasnya pikir seusai bekerja. Singkat cerita, FeYier Grup beberapa tahun terakhir memang kadang mengalami penurunan harga saham secara tiba-tiba. Walau hal tersebut bisa Abama atasi, tetap saja seluruh energi di dalam tubuhnya habis di situ.


Ditambah masalahnya dengan Yasie yang selalu berakhir pada sebuah kata sesal tak terhingga. Cintanya pada Yasie pun perlahan kandas entah kemana. Maka ada sebuah perkataan bahwa menikahlah karena komitmen serta tujuan, bukan serta merta karena cinta. Cinta itu indah, namun juga busuk di satu waktu. Dan cukup kau cintai dirimu sendiri 50% sisanya kau bagi untuk hal yang memang butuh untuk di cintai. Akan tetapi, tetap di atas itu semua ada Yesus yang merindukan kasih mu 100%.


"Kita di mana?" Tanya Alexandra, menunduk. Dia malu dengan semua hal yang telah di ucapkan.


"Duduk diam, dan siapkan saja dirimu, Alexandra." Jawab Abama singkat, dengan penuh tanda tanya.


Nampak Alexandra menghirup napas rakus setelah itu dia hembuskan perlahan. Menetralisir rasa gugup yang kini melanda. Bayangan akan rasa sakitnya sudah dapat Alexandra rasakan. Betapa tersiksanya nanti juga sudah dia rasakan. Mendadak pikirannya blank. Kosong dan penuh dengan rasa takut.


Tanpa banyak berpikir, Alexandra berusaha membuka pintu mobil Abama. Dengan nada bergetar pun dia berkata, "aku berubah pikiran. Lepaskan aku Paman. Aku ingin pulang ke rumah sakit. Varel pasti menungguku. Setidaknya jika nanti Varel di pindahkan, ada aku yang menemani."


"Paman Abama! Maafkan aku. Aku tahu aku tadi kelewatan. Maafkan aku." Kata maaf pun terucap berulang kali.


Abama tetap diam dengan pandangan fokus ke depan. Tidak menghiraukan teriakan Alexandra. Hingga mobilnya pun berhenti di parkiran apartemennya.


Menarik tubuh Alexandra keluar dari mobilnya, dan menghimpit tubuh kecil itu di badan mobil.


"Ucapanmu plin-plan sekali, nona. Kehidupan mu sudah sangat jelas hancur lebur. Dan, sekarang kau pergilah! Menganggu waktuku." Sertak Abama.


Alexandra ingin lari, namun dia kalut sendiri. Benaknya bertanya, di mana dia sekarang? Apakah perjalannya jauh? Kakinya pasti akan lecet jika di paksa. Untung jika dia paham jalan, jika tidak? Mampus bisa mati di tengah jalan bukan.


Langkah kaki kecilnya berlari menyusul Abama. Dia memeluk tubuh Abama dari belakang. "Bisakah kau menunjukkan di mana ini sekarang? Atau aku pinjam dulu ponselmu untuk membuka maps."


Abama berdecih, "ayo ikut aku ke atas. Bicarakan di sana!" Abama menarik Alexandra untuk naik ke atas.


Mendadak wajah Alexandra berubah menjadi panik. "Aku mohon, aku belum siap. Aku takut. Aku masih gadis kecil, paman." Mohon Alexandra.


"Kau kira aku doyan dengan tubuh krepengmu itu, hah? Bahkan mungkin lubangmu hanya muat dua jariku saja." Sertak Abama tajam.


Mata Alexandra menatap ke arah bawah. Dan benar saja, buah pepayanya masih datar. Tidak ada yang perlu di banggakan. Hanya sebesar jeruk Bali, tidak lebih.


Sesampainya di sana, Alexandra langsung duduk tegap. Dia tenang, namun tidak dengan matanya yang mengedar ke seluruh penjuru. Menatap nuansa apartemen Abama yang rapi, dengan tatanan dekorasi yang biasa saja. Yah sesuai dengan dekorasi tema apartemen ini, dark academia. Bahkan, sempat tadi Alexandra melihat ada petunjuk lif yang mengarahkan ke perpustakaan. Tempatnya paling atas sendiri.


Tidak heran, karena letak apartemen ini berada di tengah kota dan di himpit banyak perusahaan kelas kakap. Jadi secara garis besar, apartemen ini memang di buat khusus untuk mereka-mereka yang punya kuasa namun juga butuh pengetahuan lewat buku-buku juga.

__ADS_1


Abama buang asal jasnya, dan duduk berhadapan dengan Alexandra. Wajahnya terlihat sangar dan tidak bersahabat sama sekali. Membuat Alexandra berulang kali memikirkan cara untuk kabur dulu dari sini.


"Apa tujuanmu sebenarnya, Alexandra." Tegas Abama berbicara dengan aksen beratnya.


"Aku hanya meminta bantuan mu, untuk membayar rumah sakit adikku. Aku tidak punya uang."


"Bukankah kau putri dari seorang pengusaha kaya raya George Lonen? Tidakkah kau berpikir sekarang harga dirimu serta keluarga Lonen tengah di pertaruhkan?" Tanya sekali lagi Abama.


"Kau bisa membantu tidak? Jika tidak baiklah. Aku akan pergi." Alexandra lebih baik memutuskan segera. Laki-laki itu keras kepala dan tidak mempunyai hati.


Harta keluarga Lonen yang mana? Sebab Alexandra sendiri hidup tanpa ingin tahu tentang perusahaan Lonen serta bagaimana caranya mengendalikan perusahaan. Semuanya tersimpan rapat. Yang dia tahu hanya satu, ayahnya dulu mempunyai hutang bank sebesar satu milyar. Dan jaminannya adalah rumah. Sudah tergambarkan bahwa Alexandra tidak mempunyai rumah.


Hidupnya luntang-lantung di sekitar rumah sakit. Sejak dia sadar sampai kini adiknya sakit. Hanya dapat kos-kosan jelek kumuh, untuk dia tinggal selama satu Minggu. Bertahan di jalanan, dengan mencoba berkerja seadanya. Buruk sekali.


"Timbal balik apa yang mampu kau berikan, Nona Lonen?" Abama berdecih di depan Alexandra.


"Hidup di dunia ini jika tidak punya apa-apa lebih baik jangan memohon kepada orang lain. Sebab, semakin terinjak harga dirimu di sana."


Suara tangis kecil keluar dari mulut Alexandra. Gadis itu nampak menunduk, dengan rasa pilu nan sesak di dada.


"Bisakah mulut mu itu jangan pedas-pedas? Aku tahu aku sekarang hina. Tapi tanpa aku memohon kepadamu sekarang, kepada siapa lagi aku meminta bantuan?" Tanya Alexandra.


"Sekalipun seluruh hidupmu hancur?" Potong Abama.


"Sekalipun hidup ku hancur." Tungkas Alexandra yakin.


Abama mengambil ponselnya, menghubungi Rendy. "Kau urus biaya pengobatan atas nama Varelio Lonen di rumah sakit Cendikiawan."


Mata Alexandra membola. Dia lantas bangkit dan memeluk Abama erat. "TERIMAKASIH, PAMAN?" ucapnya gembira.


"Aku janji akan membalas budi padamu." Lanjut Alexandra.


Lantas saja Abama tertawa begitu keras. "Apakah kau kira ini gratis, Alexandra?"


Tatapan Alexandra berubah, dia menunduk dengan kecemasan yang melanda.


"Apa yang sudah di katakan di awal adalah sebuah perjanjian mutlak."


"Akan ada pelayan yang mengurus pakaian mu. Kau tinggal di sini, bersama denganku. Sampai ku putuskan kembali keputusan apa yang layak untuk dirimu. Mungkin saja, kau akan menjadi pembantu ku seumur hidup?"

__ADS_1


Alexandra semakin dalam menundukkan kepalanya. Bayangan kejam Abama menindasnya sudah ada di kepala. Laki-laki itu tidak baik, dia jahat. Mengapa juga dulu ayahnya mengajak pria itu ke rumah?. Atau memang dia adalah laki-laki penuh manipulatif. Dan ayahnya ikut terbuai.


Malam hari,


Abama tidak pulang ke apartemen. Sudah terhitung satu hari Alexandra berada di sini. Tadi memang ada seorang pelayan datang, memberikan baju pelayan untuk Alexandra pakai. Tahu akan tugasnya, langsung saja Alexandra membereskan semua hal yang ada di sana. Syukur, karena apartemen itu tidak begitu di singgahi Abama terus menerus. Jadi debunya tidak begitu banyak.


Di dalam kulkas hanya ada botol wine, bir, Vodka dan beberapa minuman soda. Sama sekali tidak ada bahan makanan. Perut keroncongan dengan kondisi nol rupiah. Jadi terbayang akan hidupnya yang penuh dengan keringat seumur hidup, kerja keras tanpa di gaji.


Alexandra lelah, dan dia tertidur di sofa panjang depan TV. Tidak berani kakinya menginjak kasur mewah di dalam kamar. Sadar akan dirinya itu siapa.


Sedangkan Abama, kini dia tengah di rumahnya. Rumah yang dia tinggali bersama Yasie—istrinya. Rumah itu merupakan hasil perjuangannya sendiri. Sebelum menikahi Yasie, Abama lebih dulu mempunyai perkejaan tetap. FeYier Grup tengah di rintis sedemikian rupa. Labanya Abama simpan untuk masa depannya dengan Yasie.


Nahas sekali, Yasie dan Sandro—ayah mertuanya—merupakan pencuri kelas kakap. Cinta busuk yang kini tidak tersisa. Hanya mempertahankan namanya di depan publik dan mencoba mengambil kembali apa yang mereka curi. Data-data rahasia FeYier Grup. Sebab, sampai saat ini Abama belum mampu merubah data-data yang telah dia buat dua hari dua malam itu. Semua pokok pikirannya sudah tertuang di sana. Dan data itu bukti. Bukti bahwa Abama tidak pernah memplagiat data perusahaan lain. Sifatnya penting!.


Abama masuk ke dalam kamar. Mendapati Yasie yang tengah membereskan kasur.


"Kau membawa seorang pria Yasie?" Tanya Abama.


"Siapa lagi kali ini?" Tanya Abama lagi.


"Aku sedang membersihkan kasur. Untukmu tidur agar nyaman. Pikiran mu terhadapku begitu buruk Abama."


"Tidakkah kau bercermin? Bahwa di sini kaulah yang berkhianat." Sambung Yasie.


"Kau ingin tahu alasannya apa?" Abama berjalan mendekat, menunduk dengan tatapan sinis. "Lubang lebar sekali. Seperti setiap saat terkoyak oleh banyak batang. Siapa yang sudi?"


"Apakah kau kira bahwa wanita sewaan mu itu suci Abama? Mereka bahkan lebih banyak. Dan kau dengan bangganya memuja mereka. Aku ini istri mu Abama."


"Setidaknya mereka pintar mencari uang. Tidak seperti kau yang malah mengguras uang, Yasie. Tidakkah kau tahu bahwa aku kerja siang malam untuk masa depan? Bukan untuk membiayai maniak gila mu itu. Sehari kau habiskan berapa batang? Lima? Sepuluh?"


"JAGA UCAPAN MU ABAMA, BRENGSEK!" teriak Yasie tidak terima. Penyakit sialan!.


"Maka, jaga dirimu Yasie. Aku benar-benar menyesal telah menikahi wanita la-cur seperti dirimu!" Sertak Abama, dan keluar. Dia pergi dengan kemarahan yang sudah menusuk hatinya.


Mobilnya dia lajukan dengan kencang, menuju sebuah bar untuk mengistirahatkan otaknya. Minum dengan banyak, sampai mabuk. Kesadaran yang dia miliki hanya tinggal separuh. Kepalanya teramat pusing.


Abama putuskan untuk pulang ke apartemenya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2