
Pintu terbuka, menampilkan bayangan Abama yang gagah memenuhi pintu. Kepala Alexandra mendongak, menatap pada Abama. Tatapan sayu, takut dan malu. Bagaimana tidak malu? Belum mandi sejak pagi. Dan, kondisinya seluruh tubuhnya penuh akan bau percintaan mereka semalam.
"Bebaskan ayahku, Abama." Suaranya seakan memerintah. Abama hanya diam, dia sibuk merapikan ruangannya.
Mengganti sprei, memukul-mukul bantal, dan terakhir mencuci bekas makanan Alexandra.
"Apakah aku sudah resmi menjadi budak mu?"
"Apakah aku semakin hina, Abama?"
Terkekeh kecil Alexandra, mendongakkan wajahnya ke atas guna membendung air matanya sendiri. Terlampau sakit!. Hanya demi keselamatan mereka, kebahagiaan mereka. Alexandra merelakan segala hal yang dia punya.
Jika saja hatinya busuk, sudah sejak lama Alexandra melepaskan diri dari tanggung jawab sebesar ini. Hatinya tidaklah seburuk itu, masih ada secercah tanggung jawab. Walaupun kebahagiaannya sendiri yang menjadi taruhannya.
Mendadak tubuh Alexandra terguncang. Membuatnya spontan memeluk tubuh kekar Abama. Menatap jarak dekat wajah tampan Abama, aroma parfum pria itu. Melekat dekat pada tubuhnya yang bau.
"Mau ke mana?" Tanya Alexandra sekian kali. Tidak berharap akan di jawab. Dan tebakannya benar, Abama tetap diam.
"Aku malu!" Sertak Alexandra, memegang gagang pintu. Di luar pasti banyak orang.
"Bar tutup." Singkat, padat dan jelas. Tangan Alexandra terlepas, mempersilahkan Abama untuk melanjutkan langkahnya.
"Abama aku tidak akan lari. Sudah menjadi kesepakatan kemarin malam bukan? Jadi, lepaskan aku. Aku harus pulang. Varel pasti sudah mencari ku."
"Jika mulutmu tidak sudi berbicara denganku. Tolong gunakan saja bahasa isyarat. Jangan membuatku seperti orang bodoh."
"Pagi ini aku memenggal kepala orang." Cukup menjadi informasi dan sebuah ancaman. Mulut Alexandra terkunci rapat. Ia tidak boleh lupa bahwa Abama adalah Bossnya yang kejam.
***
"Kau tahu Alexandra di mana?" Tanya Adit dan Bara secara bersamaan. Bar Walch tutup, mereka bisa bersantai semenjak matahari terbit hingga akan tenggelam.
"Jika pertanyaan kita sama, berarti kita sama-sama tidak tahu di mana Alex berada." Adit berucap, mengosok kepalanya yang tak gatal.
"Coba kerumahnya?" Tawar Bara memberikan ide.
"Ide bagus! Ayo ke rumahnya sekarang." Beruntung Adit sudah tahu di mana Alexandra mengontrak.
Sampai di sana, rumah itu sepi. Dan terdapat papan besar bahwa rumah itu dikontrakkan, dan tertera nomer pemilik. Tidak ada orang, hanya ada angin yang menerpa-nerpa. Terbukti bahwa Alexandra menghilang sejak semalam. Secepat itu, dia pindah. Tanpa pemberitahuan pada Bara dan Adit—teman kerjanya.
"Apa jangan-jangan Alex—"
"Gak mungkin! Kalau memang kayak yang ada di pikiran kamu, pasti ada Varel. Dan ini? Kosong."
"Ya terus di mana Alexandra sekarang? Dia gak lari kan, Bar? Secara kamu tahu sendiri dari ceritanya beberapa hari lalu."
"Apa dia cari ayahnya ya?" Tebak Bara, semakin pusing.
"Bukan! Yang bohong di sini sepertinya Mami Yuli!"
Menganga mulut Bara, dan menunjuk pada Adit. "Kenapa kita bodoh banget! Mulut bisanya Yuli gak bisa di percaya."
__ADS_1
"Ya udah ayo cari Alexandra! Takut aku kalau sampai dia jatuh pada lubang yang sama kayak aku."
"Kalau memang tebakkan kita benar. Yuli keterlaluan!"
"Mau kamu putusin kepalanya, Bar?" Tanya Adit.
Menggeleng, "ya enggak lah. Nanti jadi pengangguran."
"Salah! Lebih tepatnya jadi tahanan!"
"Sialan kamu Dit!"
****
Albarracin, Spanyol.
Albarracin adalah kota dengan pemandangan sempurna di Teruel, yang terletak di Aragon. Antara abad ke-12 dan ke-14, Albarracin adalah kota yang berkembang pesat serta dinamai sesuai nama pemimpin Moor. Saat ini, banyak dari arsitektur awal yang tersisa, termasuk Katedral Albarracin dan sebagian besar tembok kota.
Kota kecil yang berada di Spanyol itu belum begitu banyak di jajaki kaki manusia. Terbukti dari minimnya bangunan yang ada. Masih banyak perdesaan dan pegunungan yang menjadi nuansa objektif penikmatnya. Bangunan merah muda kota dibangun tepat ke lanskap alami di ngarai, menjadikan ini salah satu tujuan paling menakjubkan yang akan langsung membawamu ke masa silam.
Tenang dan menghanyutkan, begitulah gambaran Albarracin.
Hanya ada beberapa penduduk yang tinggal di kota nuansa masa lampau itu. Hutan yang masih subur, menjadi salah satu ciri khasnya.
Dibalik indahnya kota Albarracin, tempat ini merupakan neraka bagi seorang George Lonen. Tempat di mana dia di sekap dan di siksa setiap harinya. Keruntuhan namanya pun tepat berada di kota nuansa klasik ini.
"Señor." Merupakan ucapan bahasa Spanyol yang berarti Tuan.
"Ada yang ingin saya sampaikan. Tapi maaf, Señor tempat ini tidak cocok untuk pembahasan kita." Sebab, dia tahu betul ini kamar mendiang istrinya, Señora Barhelia.
Suci, murni dan penuh aroma dupa. Peringatan keras untuk tidak membicarakan, bertindak kotor di kamar ini.
"Tunggu aku di ruang kerja." Jawab Thelio, masih asik mengelus foto Barhelia.
Jika yang kalian bayangkan, foto Barhelia saat tersenyum manis dengan topi bundar background pantai indah. Kalian salah, foto yang sadari dulu Thelio raba setiap saatnya merupakan foto di mana Barhelia bergaya menungging dengan bercak merah memenuhi tubuhnya. Alat vitalnya nampak bergelambir, memerah, basah. Wajahnya yang nampak menahan gairah, serta siksa.
Bagi mata siapa saja yang melihat foto itu selain Señor Thelio maka ucapkan terimakasih pada matamu segera. Sebelum dicongkel langsung oleh Thelio.
Rumah Thelio berlorong-lorong. Membingungkan, dengan cat gelap mengkilap. Desain rumah yang rumit serumit orangnya.
Sesampainya di ruang kerjanya, Thelio duduk melebarkan pahanya. Ekspresi wajah yang datar, tanpa adanya guratan senyuman. Nampak menakutkan sekaligus sungkan. Membuat kepala siapa menunduk.
"Saya menemukan adanya aksi percobaan pembobolan keamanan CCTV rumah anda, Señor."
"Siapa?" Tanya Thelio, mengertakkan giginya.
"Maaf, Señor saya belum tahu pasti. Tapi lokasinya berada di Jakarta, Indonesia."
"Pastikan mereka tidak merekam percakapan ku dengan batang busuk itu."
"Baik Señor."
__ADS_1
Berdiri Thelio, meninggalkan ruang kerjanya. Berjalan menuju ruang bawah tanah. Nampak seperti penjara, namun lebih mengerikan. Di mana alasannya berupa tanah merah yang basah, bau busuk yang tercium begitu ketara, serta suara-suara bernada tinggi-rendah yang di putar acak setiap waktunya.
Membuka pintu besi, dan tertawa keras. Menatap seorang George Lonen yang duduk dengan tatapan kosong. Seperti tidak ada nyawa.
"Itulah yang aku rasakan, George! Hampa dan kosong!"
George tersenyum kecil, melirik Thelio sekilas lalu fokus menatap depan kembali. "Yang kau rasakan adalah gila. Sedangkan yang aku rasakan adalah dibuat gila. Pahami kalimat ku, tolol!"
"Kau kurang kerjaan. Manusia tidak menyekolahkan isi otaknya."
"Sekali lagi kau bicara omong kosong, ku robek bibirmu George!"
"Robek saja. Aku tidak takut akan darah, aku tidak takut akan mati."
"KAU MANUSIA JAHANAM THELIO! KAU HUKUM AKU ATAS KEMURNIAN KU MENOLONG BARHELIA!" Teriak George keras, sampai menggelegar ke seluruh ruangan.
"Kau tidak menolongnya! Dia tidak butuh pertolongan siapapun kecuali aku! Kau perusak rumah tanggaku dengan Barhelia kasihku, George! Kau hancurkan dia!"
"Kau bertanya siapa yang menghancurkannya? Bukankah kedua tanganmu sendiri? Secara jelas kau mencincang tubuh Barhelia diatas pesiar yang hendak tenggelam!"
Thelio diam, menyorot tajam pada George Lonen. Melotot tajam matanya, dengan air mata yang keluar sendirinya. Diamnya seperti menyesali kesalahan. Namun sekejap, ekspresinya berubah. Dia tertawa keras dan mengambil cambuk besi.
Mencambuk seluruh badan George yang sudah dimakan umur. Terdiam mulut George tanpa mau berteriak. Menelan mentah-mentah rasa sakit yang dia rasakan. Menahan betapa tersiksa batinnya.
"BERTERIAKLAH, BODOH!!"
"Jika aku berteriak. Itu menguntungkan mu, Thelio. Kau kira aku menjadi dungu setelah kau kurung selama ini?" Ejek George sinis.
****
Seluruh wajah Alexandra memerah, semakin dia eratkan pelukannya pada bahu kekar Abama. Melirik betapa banyaknya pengawal yang ada di belakang, seolah mereka tengah membawa benda pusaka dari istana negara. Sedangkan di depan, banyak maid sedang menunduk memberi hormat pada Abama.
"Kau ingin bertempur dengan istri mu?" Tanya Alexandra berbisik. Abama membawanya ke rumah? Siap-siap saja akan ada perang besar antara istri sah dengan wanita simpanan.
"Aku masih sayang istriku." Jawaban yang cukup menampar hati Alexandra.
Cinta benar-benar badebah sialan. Masuk tanpa permisi dan bersemayam seenak jidatnya. Tidak kah tahu bahwa hati seorang wanita itu sangat renta?.
"Turunkan aku!" Sertak Alexandra, mulai bergerak. Badan Abama seperti kingkong! Sangat besar dan berurat. Tak bisa Alexandra bayangkan ketika batang jelek milik Abama keluar masuk pada lubangnya yang mungil. Pantas saja, semakin hari semakin menggelambir turun ke bawah.
Menendang pintu kamar, dan menutupnya dengan sidik jari. Masuk ke dalam kamar mandi yang di desain terbuka. Jadi, ketika mandi tubuh ini akan menjadi tontonan. Pemiliknya saja gila, apalagi kamarnya.
Bak mandi yang sudah terisi penuh, busa-busa sudah memenuhi bak. Harum aroma citrus yang begitu dominan. Benar-benar aroma khas seorang Abama.
Perlahan tangan Abama menurunkan tubuh Alexandra. Meletakkannya pelan ke dalam bak, sampai keluar-keluar airnya.
Rileks, dan menenangkan! Seperti seluruh otot-otot tubuh Alexandra terlepas dari tegangan. Menutup matanya pelan, menikmati hangatnya air di tambah aroma citrus yang menggoda.
BERSAMBUNG....
Doubel update nihh 😱 tunggu ya! barang kali lolos review nya gak sama. Jangan lupa dukungannya orang baik💐
__ADS_1