MY BOSS

MY BOSS
RENCANA


__ADS_3

Video penyiksaan Thelio terhadap George Lonen tersebar melalui media. Baru saja di unggah jam dua dini hari, kini video tersebut telah di nonton hampir lima ratus juta dari seluruh penduduk dunia. Pagi, pukul tujuh.


Seluruh tubuh George Lonen nampak kacau, lebam dengan luka sayatan di mana-mana. Thelio yang selalu berpenampilan gagah dengan aura dominan kejam, di video tersebut nampak seperti orang gila. Banyak komentar dari banyak orang, yang mengatakan konspirasi apa yang tengah dilakukan penjahat kelas kakap itu? Mengapa agensi keamanan dunia seolah tutup mata? Benarkah hukum seburuk itu?.


Memecahkan kepala seluruh pejabat korupsi. Kasus Thelio melambung tinggi, dan bukti yang begitu jelas. Bahkan tertera juga tanggal, waktu serta tahun pada video tersebut. Banyak detektif mencoba meneliti kebenaran video tersebut.


Konten kreator asal Swedia yang terkenal dengan keahliannya mendeteksi video editan atau bukan pun angkat bicara.


"That's the original video. The source is from CCTV footage. Let's keep an eye on this case. What this man did was inhumane." ucapnya di akhir video yang menjelaskan bahwasanya video tersebut memang asli. Sumbernya juga jelas, dari rekaman CCTV. Meminta kepada seluruh warga media sosial untuk memantau kasus ini sampai ke jalur hukum.


Abama mengangguk, mendengarkan hasil kerja dari Glen Johnson.


"Saya mendapatkan undangan untuk hadir di acara televisi, Tuan."


"Terima. Bicaralah semuanya di sana. Rekam dan unggah di seluruh media sosial." Perintah Abama, dan jangan lupakan senyuman tipis, panas nan menggodanya.


"Dan juga Tuan. Berkas, bukti serta uang sudah saya setorkan ke badan intelijen internasional." Lapor Glen.


"Kerja mu cukup cepat. Segera susun kata-kata yang menyakinkan untuk acara televisi nanti malam."


"Sial Tuan. Saya undur diri." Glen pun beranjak dan pergi dari ruang kerja Abama.


Pria itu kembali lincah, mengerakkan tangannya di atas keyboard. Mengetik, membaca dengan teliti seluruh proposal pengajuan kerjasama dari banyak perusahaan dunia. Pesan pun muncul melalui email, dari perusahaan Selovelia.


"Dia ingin menjebakku, atau memang benar-benar bodoh." Gumam Abama. Membaca proposal yang telah di kirimkan.


Tertera atas nama pemilik perusahaan Señor Thelio Selivia Albora.


Tuk.


Pintu terketuk dan muncul lah Erick dengan berkas-berkas di tangannya.


"Tuan Abama, ada beberapa dokumen yang memerlukan tandatangan Anda."


"Duduk dulu. Ada hal mengejutkan."


"Ada apa Tuan?" Tanya Erick, sudah sangat amat pusing. Melakukan dua pekerjaan di satu waktu.


"Bacalah." Ucap Abama, memutar laptopnya menuju ke arah Erick.


"Wow!" Melotot wajah Erick dengan tampang terkagum-kagum.


"Ini jebakan." Lanjutnya merubah ekspresi wajah cepat.


"Jebakan seperti ini sangat menguntungkan bukan? Masuk, bermain dan bunuh." Mengerikan.


"Tapi Tuan, terlalu beresiko untuk perusahaan FeYier. Karena Selovelia bukanlah perusahaan sembarangan. Di sana banyak terjadi transaksi ilegal. Yang di takutkan FeYier Grup akan diringkus."


"Ada benarnya."

__ADS_1


Menyadarkan punggungnya, "sudah kau temui Tuan Erial?"


"Maaf Tuan. Tuan Erial sendiri hanya akan berbicara langsung jika ada Anda. Katanya masalah ini tidak etis jika harus bawahan seperti saya yang memohon."


"Dia tahu?"


"Tentang Anda dan Gorge Lonen?"


Abama mengangguk. "Saya kurang tahu. Tapi mengenal Tuan Erial. Sepertinya iya, Tuan." Jawab Erick.


"Kau fokus saja pada perusahaan. Biar aku dan Glen yang fokus pada masalah George Lonen."


"Baik Tuan. Saya undur diri."


****


Korden bewarna merah itu terbuka, menampilkan seorang Glen Johnson. Bukan orang asli Indonesia, melainkan Filipina. Tepat orang dari tetangga sebelah. Kedatangannya yang muncul tiba-tiba setelah beberapa tahun selesai mengusut tuntas kasus melegenda dari China, yakni Xing Ru. Kini datang kembali menguak kasus kapal pesiar mewah S4P7, milik keluarga Lonen.


Kedatangannya dengan kabar itu saja sudah membuat banyak kepala berpikir kembali. Keluarga Lonen juga cukup terkemuka, bisa menambah penghasilan negara. Tentunya jika George Lonen masih hidup, kemungkinan besar Lonen akan bersinar kembali. Tidak hanya menguntungkan bagi keluarga Lonen, tapi juga negara. George Lonen juga bisa di katakan tokoh politik, dengan ide-ide menakjubkanya. Terjalin banyak hubungan negeri antara Lonen. Yang lagi-lagi menguntungkan negara.


"Selamat malam, Tuan Glen Johnson." Seorang host pun memberi sapaan.


"Malam." Jawab Glen seadanya. Mulai duduk dengan tenang, menghadap kamera.


"Sebelum kita berbincang jauh dengan Tuan Glen Johnson, marilah kita simak video berikut."


Beritanya mempunyai dua orang anak, dari istrinya yang tidak ketahui namanya. Itulah George Lonen, menyembunyikan seluruh keluarganya dari laman media. Tidak ada yang mengenal pasti siapa anak George, siapa istrinya. Yang perlu mereka tahu hanya satu, Lonen banyak memberikan jasanya di masyarakat luas.


Video itu berhenti saat berita tenggelamnya kapal pesiar S4P7. Di mana banyak orang berduka atas meninggalnya George Lonen. Perlahan, nama Lonen tenggelam jauh di dasar laut. Mereka yang memuja pun juga sama—tenggelam di dasar.


Begitulah manusia. Pandai sekali menjujung. Sekali tenggelam. Maka juga akan ikut tenggelam. Sudah pasti jika bersandar pada Tuhan. Mau kau miskin, kaya, penyakitan, catat, bodoh, tapi tetap ada di sampingmu. Melindungimu, dan baiknya masih menjanjikan pintu tobat serta surya. Oh bunda Maria, Bapa di sorga. Terimakasih.


"Kita semua tahu siapa mereka. Jasa mereka yang begitu luar biasa. Membantu tanpa mau di beri imbalan. Tidak menyukai ketenaran. Dialah George Lonen. Seorang pengusaha sukses, yang harus mengalami peristiwa tragis."


"Apakah dia masih hidup? Benarkah video berdurasi dua menit itu George Lonen? Maka dari itu, ikuti terus Memories untuk tahu jawabannya." Tersenyum host ke arah kamera.


Mulai duduk menyamping dan saling bertatapan dengan Glen Johnson.


****


Andai saja tidak membutuhkan dukungan kuat untuk melindungi dirinya sendiri, Abama tidak akan sudi bertemu dengan Erial. Pria itu sulit di temui, dengan alasan yang pasti saja sama. Berkumpul dengan keluarganya. Secinta itu memang seorang Erial kepada istrinya, Elemery. Tapi syukurnya, Abama dapat membuat janji dengan Erial.


Seperti malam ini, tepat tengah malam di sebuah gudang kosong tidak berpenghuni. Banyak debu, dengan jaring laba-laba menghiasi seluruh dinding dan atap. Entah dulunya gudang apa, yang pasti baunya sangat pengap. Bercampur dengan kotoran binatang malam.


Gagah dengan sepatu bot, jubah hitam bertengger di bahunya. Mengunakan masker hitam guna melindungi sebagain wajahnya, Abama masuk ke dalam. Menemui Erial Agriel Putra Exanta. Seorang yang misterius, dan sulit untuk di tebak akal pikirnya. Nampak seperti budak cinta bodoh, namun bukan demikian.


Kepulan asap dari ruang tengah gudang, mengundang perhatian Abama untuk mendekat. Dia dekati, dan benar, Tuan Erial tengah duduk santai menikmati pemandangan malam dengan para tikus-tikus yang berkeliaran, bunyi serangga yang saling bertautan. Dia gengam pula sebuah tongkat kepala singa—meminjam dari tua bangka Nandhaya.


"Tuan Erial." Sapa Abama, ikut duduk pada kursi yang tersedia.

__ADS_1


Erial pun menoleh, dengan wajah manis tidak ada dosa sama sekali.


"Duduklah. Minum kopi, bersamaku." Ajaknya, dan menyeruput kopi hitam yang telah tersedia.


"Terimakasih Tuan." Sebagai bentuk hormat, Abama duduk. Saling berpandang mereka. Kemudian melihat suasana malam di gudang kosong.


"Tuan Abama Patrio Walch."


"Benar Tuan Erial Agriel Putra Exanta" balas Abama.


"Aku sebenarnya tidak suka ikut campur pada masalah seseorang." Awal Erial berucap, menghisap rokoknya semakin dalam. Dan menghembuskannya kuat, sampai keluar pula dari lubang hidung.


"Pihak saya tentu tidak salah, Tuan. Thelio menyiksa orang dengan begitu kejam. Apakah anda tidak ada kasihan terhadap Tuan George Lonen? Dulunya pun dia pernah menjadi rekan bisnis Anda." Jelas Abama.


"Aku tidak masalah menyelematkan George Lonen. Dia memang pantas di selamatkan."


"Lantas?" Abama angkat tinggi salah satu alis kanannya.


"Hanya saja aku enggan bekerjasama dengan seorang pria tidak setia." Erial tersenyum tipis, menatap Abama.


"Bersama cinta yang suci saja dia berani bermain. Apalagi dengan manusia yang kotor?"


"Diantara langit malam di temani kegelapan. Berkah Tuhan senantiasa bersama dengan hembusan angin. Di dalam dada, sampai kening tengah, aku selalu menyebut Tuhan. Tidaklah sanggup aku membantu seorang pria tidak berharga diri. Sedangkan aku selalu mengagungkan sebuah cinta suci nan murni." Jelas Erial, kembali mengingat wajah manis Mery-nya. Perjalanan mereka terlampau panjang sampai di titik sekarang.


"Saya rasa tidak ada hubungannya. Itu urusan saya bukan, Tuan Erial?" Tanya Abama.


"Sebajingan apapun saya, tetaplah saya paham akan kompensasi. Anda ingin berapa?"


"Aku tidak butuh uang."


"Apakah anda setuju bekerjasama dengan saya menyelematkan George Lonen atau tidak? Saya butuh jawaban pasti."


Erial tertawa kecil. Menepuk-nepuk bahu Abama kuat. "Demi bapa di sorga. Segeralah pulang di pangkuannya, manusia."


"Aku setuju bekerjasama dengan mu. Tapi, aku hanya bisa memberimu dorongan serta pelindungan di belakang. Selebihnya itu urusanmu. Sudah cukup membalas jasa George yang pernah bekerjasama dengan Exanta Grup." Menghabiskan kopinya dan berdiri. Meninggalkan Abama duduk sendiri di dalam gudang kosong itu.


Memukul keras meja besi di depannya, ucapan Erial begitu menamparnya. Mengingatkan banyak tentang hal-hal yang sempat terlupa. Sialan!.


Ponselnya berbunyi, panggilan dari Yasie.


"Malam ini aku pulang. Tunggu, dan persiapkan dirimu." Lantas dia matikan.


Abama tersenyum kecut, menyugar rambutnya ke arah belakang.


"Cinta?" Monolognya.


"Sampah tempat pembuangan sper-ma." Lanjutnya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2