MY BOSS

MY BOSS
KAMAR MANDI


__ADS_3

[ WARNING ]


Walaupun tidak Nana rincikan, tapi tetap 21+ ya pembaca🙏 mohon kebijakannya.


Terimakasih 🌻


****


Rasanya lega, seluruh kotoran terasa runtuh. Menenangkan, sampai-sampai membuat Alexandra lupa bahwa Abama sibuk melepaskan seluruh pakaiannya. Berjalan tanpa sehelai benang, mengambil botol wiski dan menuangkannya di gelas tinggi kecil.


Bergoyang ke sana kemari belalai Abama. Sedangkan orangnya sibuk menyesapi wiski sedikit demi sedikit. Menyaksikan gerakan lembut Alexandra. Kulit putihnya nampak licin, terpantul cahaya remang-remang. Matanya terpejam, dengan sesekali menggerisik gaduh akan ketenangan yang dia dapatkan.


Selesai dengan wiskinya, Abama pun bergabung dengan Alexandra. Masuk dengan kasar, seraya mengangkat bongkahan buah peach Alexandra. Memangkunya, dengan kondisi Alexandra tengkurap di dada.


Terkejut dibuatnya, sampai jantungnya memompa lebih cepat. Air di dalam bak pun, kembali keluar meluber-luber. Busanya memenuhi punggung Alexandra.


"Apakah cahaya matahari sungkan membuat kulit mu menghitam?" Serak basah, dengan intonasi berat Abama bertanya.


Merinding seluruh bulu kuduk Alexandra. Abama itu kejam dan arogant. Bagaimana bisa kata-kata manis itu keluar dari mulutnya? Apakah kesambet setan wiski?.


"Kau mabuk."


"Tidak begitu.. hanya satu gelas."


"Alkohol sudah masuk ke dalam tubuhmu." Dengus Alexandra, membalikkan badan dan hendak keluar dari bak.


Abama terkekeh, meraih kembali pinggang kecil Alexandra. "Kecil sekali, sangat pas di tanganku."


"Aku sudah selesai." Cegah Alexandra, tidak mau! Sudah cukup kemarin malam membuatnya tidak dapat berjalan.


"Aku belum. Aku baru akan di mulai." Bisiknya, dengan aksen rendah.


Melahap bibir Alexandra rakus, memiringkan kepala ke kiri untuk memperdalam. Terkecap bunyi suara antara dua lidah yang saling bertautan. Bertengkar di rongga mulut, saling mengigit dengan intens.


Tangan Abama meraih satu gelas penuh berisi wiski. Menegaknya langsung dalam satu kali minum. Meraih kepala Alexandra, dengan napas memburu. Masuk air wiski itu mengalir deras di kerongkongan Alexandra. Terpejam erat, menahan panasnya alkohol yang mencekik lehernya.


Sengaja Alexandra pukul keras dada Abama, membuatnya mati dengan minuman panas itu. Pukulan Alexandra, membuat tangan Abama aktif. Meraihnya, meletakkan ke atas. Sampai posisi tubuh Alexandra duduk tepat di atas batang Abama.


Mendongak ke belakang kepala Alexandra, merasakan perasaan geli di jakunnya. Basah, penuh gairah rasanya saat ternyata kedua tangannya kini sudah terikat oleh sebuah dasi milik Abama.


Posisi terbalik! Alexandra di bawah. Tepat di kurung oleh tubuh kekar Abama. Mencium seluruh wajah Alexandra, sampai membuatnya basah. Kepalanya sibuk mengecapi manisnya kulit Alexandra. Tangannya pun sibuk memutar-mutar buah pepaya milik Alexandra. Melintir ujungnya, mengeseknya dengan ibu jari.


"Ouhh!! Abama!!" Baru di pertengahan jalan. Alexandra sudah mengeluarkan cairan bening dari lubangnya.


Segera saja Abama jilat, tuntas sampai menjadi kering kembali. Setengah berdiri, menunjukkan batangnya tepat di wajah Alexandra. Memeras kasar-kasar kedua buah pepaya Alexandra, menyatukan menjadi satu dengan dua cekalan.


Keluar masuk batang Abama diantara buah pepaya Alexandra.


Dingin, kaku, dan penuh urat. Menempel di pertengahan dada Alexandra.


"ABAMA!!"


"Ya? Berteriaklah, Alexandra. Aku menyukai suara memburu mu." Mengecap kembali wajah Alexandra. Turun, terus turun sampai di perut.


Ia gigit kecil, lantas mencari biji kecil di lubang Alexandra. Memencetnya, merabanya, dan menarik-nariknya keluar. Menggelinjang tubuh Alexandra. Sampai punggungnya melengkung ke atas.


Air sudah mendingin, bahkan tinggal beberapa saja di bak.

__ADS_1


Ketika Alexandra akan mengeluarkan kesesakannya, Abama langsung masuk keras mengetuk dinding rahim Alexandra.


Terbuka besar mulut Alexandra, matanya melotot juling ke atas. Tangannya yang di ikat, membuatnya sulit menyalurkan apa yang dia rasakan.


Keluar masuk batangan itu, membuat kue tembem menjadi bengkak penuh noda.


Abama raih punggung Alexandra. Berganti posisi! Kini Alexandra yang di atas. Posisi duduk, saling menautkan alat kelamin. Semakin dalam, dan dalam.


"K-kau! Gi-ahhh-gila!!"


"Pujian untuk ku?" Menggeleng Alexandra menjawab. Lemas tak berdaya, dan semakin kencang nan dalam batang itu keluar masuk.


"Pinggulku sakit, bodoh!!" Pekik Alexandra, tidak nyaman dengan posisi ini.


Abama bangkit, berdiri dengan kelamin mereka masih berada di sarang. Berjalan ke arah kasur, dan Abama lanjutkan aksinya.


Tubuh mereka yang licin penuh dengan sabun. Keringat yang sudah membanjiri mereka, bersatu sudah.


"Ahhhh!" rintih Alexandra, ketika punggungnya mendobrak kasur.


Abama kembali menggoyangkan pinggulnya kuat. Gerakan melambat, mendalam. Sangat dalam. Alexandra bahkan membayangkan jika batang Abama telah masuk sampai ke ususnya! Ini gila!. Tiba-tiba saja berubah menjadi cepat, sampai tersentak-sentak tubuh Alexandra.


"Abama!! Ouhhh!! Aku lelah!! AGHTTT" teriak Alexandra, di hadapkan langsung oleh batang Abama yang besar, kekar nan panjang.


"Hisap! Seperti kau mengemut permen lollipop!" Perintah Abama, memaksa masuk batangnya ke dalam mulut kecil Alexandra.


Posisi enam sembilan. Di mana Abama menghisap madu langsung pada sarangnya. Sedangkan Alexandra mengemut permen lollipop langsung pada sumber alaminya. Saling menguntungkan, sekaligus memuaskan.


Kebas, sudah lelah mulut Alexandra menghisap milik Abama. Semakin di rasa, benda itu semakin besar. Besar dan besar, sampai membuat kedua pipinya menggelembung.


Abama cabut, dan langsung kembali tancap pada lubang Alexandra.


Dengan sedikit gerakan memutar, menyentaknya dalam. Mengalir deras cairan ****** Abama. Memenuhi rahim Alexandra.


Napas Alexandra sudah hampir habis rasanya. Begitu pula napas Abama.


"Rahimku hangat."


"Kenapa tidak selesai-selesai?" Tanya Alexandra, menyorot Abama.


"Dia memproduksi banyak. Khusus untukmu." Bangkit mengendong Alexandra, masih belum melepaskan kelamin mereka! Apakah ini yang dinamakan berjalan bersama-sama? Ya, inilah definisi yang sebenarnya.


Mengajak Alexandra di bawah guyuran shower. Membersihkan tubuhnya serta tubuh Alexandra. Mengeringkan dengan handuk. Di rasa sudah kering, langsung Abama ajak Alexandra tidur di kasur. Saling berpelukan, tanpa mau melepaskan batangnya dari lubang Alexandra.


"Sesak!" Rengek Alexandra memohon pada Abama.


Diam, dan memilih memejamkan mata. Merengkuh tubuh Alexandra obsesi.


Lelah, tenaganya pun juga sama terkurasnya. Membuat matanya juga terpejam menyusul Abama ke dalam mimpi. Abaikan rasa sesak, yang penting Abama merasakan hangat. Adik kecilnya tidak kedinginan malam ini! Gocha!.


****


Korden itu otomatis terbuka saat sinar matahari menerpa. Membuat kening Abama bertaut, hingga membuatnya terbangun. Di tatapnya wajah tenang Alexandra. Mengusap pipinya pelan, dan mempererat pelukannya.


"Eughh!" Abama sempat lupa jika adiknya masih di dalam gua.


Abama lepas perlahan-lahan batangnya, dia harus bekerja. Tidak mungkin juga seorang Abama lalai dalam urusan kerja. Di lihatnya mulut Alexandra yang terbuka kecil, seraya mendesah. Lucu, pagi-pagi sudah mendapatkan energi.

__ADS_1


Mandi dan pergi ke kantor. Banyak yang harus dia urus.


Ketika kakinya menuruni tangga, tertangkap sosok Glen yang tengah duduk bersama Erick—yang ternyata sudah pulang dari Afrika.


"Kau menipuku Erick? Katamu akan pulang kemarin. Tapi kini sudah sampai. Afrika Indonesia sedekat itu kah?" sindir Abama.


"Untuk basa-basi. Apa kabar Boss?" Tanya Erick berdiri melakukan tos ala pria.


"Kau tidak melihat wajah berserinya, Ric?" Celetuk Glen.


"Jika dilihat dari wajahnya seperti puas, gairahnya seperti tersalurkan dengan baik." Jelas Erick.


"Yahh, kau benar!" Tawa kecil Glen dan Erick menggoda Abama.


"Sudah bosan mempunyai kepala?"


Kikuk, sampai membuat tawa kecil mereka terhenti. "Tidak, belum bosan. Jika bosan nanti aku hubungi." Erick pun menenangkan tuannya.


"Ehem! Saya mulai saja Tuan Abama." Mode serius di mulai!.


"Bawahan Thelio sudah menyadari bahwa selama ini CCTV mereka kita rentas."


"Semalaman aku berusaha agar nama mu tidak bocor. Tapi sayangnya, mereka tahu lokasi kita secara garis besar." Lanjut Glen.


"Thelio bukan orang biasa. Kau yakin ingin kembali terjun pada dunia hitam?" Tanya Erick.


"Aku harus menyelamatkan George Lonen. Dia bisa gila jika di kurung di sana terus-menerus."


"Thelio tidak lagi bisa ku sebut sebagai manusia. Dia hewan berkedok manusia. Psikopat sejati." Erick tentu tahu betul siapa Thelio.


"Kau tahu, tapi masih bertanya."


"Bukan itu yang menjadi intinya, Tuan Abama!"


"Tapi janji pada dirimu sendiri, yang ingin lepas dari dunia Mafia!" Erick kembali menegaskan.


"Erick, kita perlu masuk ke dalam dunia yang sama dengan Thelio." Glen Johnson mode benar-benar serius.


"Apa yang di lakukan Thelio melanggar hukum. Dan, bisnis yang di lakukan Thelio pun menjadi incaran agensi dunia. Kita gunakan celah-celah tersebut untuk menghancurkan Thelio."


"Glen, jika pun mereka bisa. Sejak awal seharusnya mereka bisa menangkap Thelio. Tapi lihatlah!"


"Hukum itu bisa menjadi adil, jika kau mempunyai uang!" Sambung Erick.


"Kalian diamlah!" Suara Abama sudah menggelegar.


"Aku punya caraku sendiri."


"Erick. Minta bantuan pada Tuan Erial. Ucapkan bahwa sahabatnya George Lonen tengah di kurung."


"Dan kau Glen Johnson! Masukkan seluruh kasus-kasus bejat Thelio. Masukkan datanya segera ke agensi dunia."


"Kalian lakukan saja apa yang aku perintahkan. Selanjutnya aku yang urus." Tegas, penuh wibawa Abama berucap.


Erick mengangguk, menepuk bahu Abama. "Kau hebat! Tahu bagaimana berbalas budi."


"Tapi Abama. Apa yang kau lakukan pada putrinya, telah melanggar perintahnya langsung."

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


Ayo jangan keseruan sendiri baca My Boss, ajak yang lain juga ya😉⛅


__ADS_2