
Kasus penyiksaan George Lonen masih menjadi topik yang paling panas. Sebab, keterangan serta bukti telah dinyatakan keasliaanya, namun hukum tingkat internasional masih saja bungkam. Seolah keadilan memang berada di tangan orang berkuasa. Glen Johnson tidak akan pernah berhenti berproses. Dia akan menemukan titik terang dari kasus rumit ini.
Banyak komentar, dan pujian yang telah di dapat. Di mana Glen Johnson tidak pernah lelah untuk mengungkap semua pendapatnya mengenai masalah penyekapan George Lonen.
Thelio sendiri belum menunjukkan wajahnya. Pria itu bersembunyi di rumah-rumah atau mungkin di bawah tanah. Albarracin seakan menjadi wilayah kekuasaan Thelio. Setiap orang yang keluar-masuk mendapatkan pengawasan ketat.
"Temukan video terbaru penyiksaan George Lonen." Ucap Glen Johnson melalui sambungan telepon.
Tanpa bicara, namun sebuah pesan masuk melalui emailnya. "Kondisi sekarang belum bisa, Tuan. Sebab Thelio sendiri tengah mengawasi ketat penjagaan di sini." Orang suruhan Glen.
Glen berdecih kesal. "Video yang kau kirim itu video lama. Jika terus menerus, maka publik akan kembali berkomentar bahwa apa yang aku ucapkan hanyalah sebuah pembelaan terhadap kematian George, bukan asli penyelamatan."
"Akan saya usahakan." Balasnya menggunakan pesan.
Glen tutup sambungan telepon itu. Kepalanya dia pegang, pusing sendiri dengan kasus George Lonen yang banyak kontravensi.
Karena pusing, maka Glen menghubungi sahabatnya, Abama. Mengajaknya untuk ketemuan di Bar Walch. Glen ingin minum, sampai rasa pusingnya kian bertambah dan lama-kelamaan akan hilang. Rasanya benar-benar ingin pingsan saja. Untung uang yang Abama berikan bernilai satu penthouse. Jadi bukan masalah besar, jika harus menahan pusing.
****
Baru saja Glen ingin duduk santai, dan memesan satu wanita Abama sudah lebih dulu berbicara. Jika Abama sudah berbicara, maka yang keluar dari mulut pria itu hanyalah perintah dan perintah.
"Besuk aku dan Alexandra akan ke Albarracin. Kau perketat penjagaan di sana. Lakukan penyerangan pada Thelio melalui bukti yang kau dapat. Aku ingin bulan depan proses itu sudah selesai, dan kalian di temukan di pengadilan." Titah Abam, menyeruput wiski orange yang dia pesan.
"Tunggu dulu Abama. Aku belum memberikan mu laporan penting. Kepalaku pecah asal kau tahu! Kasus ini penuh dengan orang yang punya uang. Jika sudah ada uang, maka jalannya mulus. Ditambah Thelio sudah lebih dulu punya orang dalam di sana. Bisa jadi kencur aku di sana."
"Apa laporanmu, Glen? Aku membenci laporan basa-basi."
"Bukti yang aku kirimkan menjadi pertanyaan untuk mereka. Di mana hal tersebut sudah terjadi setahun yang lalu. Kemungkinan George Lonen sudah mati. Sedangkan yang mereka butuhkan adalah bukti baru dan keberadaan George Lonen sebagai korban. Thelio juga sudah menyogok mereka. Akibatnya, pertanyaan kembali berbalik tentang aku! Misi kita menyelematkan George Lonen sudah pupus, sebab dia sudah mati, lalu apa yang perlu di kerjakan?"
"Siapkan tiket ke Albarracin. Mau tidak mau semua surat-surat yang di butuhkan sudah siap."
"Abama!! Tolong, aku sedang pusing. Kau punya sekertaris. Gunakan bocah itu dengan baik."
"Dia sudah aku perintahkan melindungi perusahaan. Ini waktunya kau bekerja cepat dan gesit. Aku membayar mahal dirimu, harus ada guna dan fungsinya." Abama acuh, dan kembali meminum wiskinya.
"****!!" Umpat Glen.
__ADS_1
"Selesaikan semuanya dalam waktu tiga puluh menit!" Teriak Glen melalui sambungan telepon.
Abama tersenyum sinis, lantas mengeluarkan cerutu dari balik jasnya. Mengigitnya di sebelah kiri lantas mengambil pematik api. Dia hisap kuat, dan dia hembuskan perlahan. Asap tebal mengelilingi wajahnya sekarang.
"Masalah mu itu dapat di selesaikan cepat. Kirim bukti rekaman suara George Lonen yang saat itu berbicara dengan anak buahmu. Potong ucapannya, jangan sampai kau publikasi kan semua. Ambil kata tolong, beserta bukti cctv tempat penyiksaan George Lonen. Tidak perlu ada George, yang penting tanggal dan tahunnya masih baru."
"Aku sempat berbicara dengan anak buah ku di sana. Tapi, Thelio sudah mengetahui gerak gerik kita. Semua orang yang ada di sana di awasi dengan ketat, sampai ke keluarganya."
"Cari tahu alasan kenapa Thelio ingin bekerjasama dengan FeYier Grup. Aku sudah menerka, namun aku juga butuh bukti yang kuat."
Glen mengangguk, meneguk wine nya rakus.
"Kapan kita akan bergerak, Abama?" Tanya Glen.
"Tunggu sampai aku dan Alexandra pulang dari Albarracin."
"Berapa lama kau akan di sana? George Lonen akan mati jika kau berlama-lama." Celetuk Glen kesal.
"Tidak akan mati. Aku butuh dukungan Erial. Tapi pria itu sulit untuk diajak kerjasama," ucap Abama, menghembuskan asapnya tinggi.
"Itu karena kau ba-jingan. Sedangkan Erial sendiri menjunjung tinggi wanita." Glen Johnson memutar bola matanya malas.
****
Yasie membuka pahanya lebar, menunduk sampai punggungnya melengkung. Mengisap vape harga ratusan juta itu, sampai kandas. Lantas menguapkan asapnya ke udara bebas. Rasa nikotin yang terbakar melalui penghantar listrik itu membuatnya melayang, nikmat.
"Bagaimana hasil kerjamu, bodoh?" Tanya Yasie. Menatap penuh rasa jengkel pada anak buahnya yang tidak becus itu.
Dulu masih ada Rendy yang dengan sigap memberikannya banyak informasi. Sayang sekali, pria kolot itu sudah mati di tebas kepalanya oleh Abama. Kesimpulannya, Abama tahu mengenai Yasie yang memata-matainya. Bodohamat. Sebab, rasa sakit kini tengah mendidih di hatinya.
Dia cemburu dengan Abama yang lebih memilih tidur dengan wanita lain ketimbang dirinya sendiri. Bukankah sudah sepantasnya Abama memahami sakitnya itu? Lantas kini pertanyaan muncul. Apakah sumpah yang Abama ucapkan di depan Tuhan hanyalah bohong belaka? Sial sekali.
"Tuan Abama hanya pulang-pergi dari kantor menuju ke apartemen dekat kantornya, Nyonya." Ucapnya, menunduk.
"Berapa kali dia ke bar dalam Minggu ini?" Tanya Yasie.
"Tiga kali, Nyonya. Saya lihat Tuan Abama tengah bingung. Dia kerap menyendiri di apartemennya lama. Tidak seperti biasa yang kerap wora-wiri keluar."
__ADS_1
Mengangguk, "apakah perusahannya ada masalah?" Gumam Yasie, mengigit jarinya. Kalau sampai FeYier Grup mempunyai masalah. Maka secara otomatis suntikan dana di perusahaannya akan menyusut. Bisa kere dan jatuh nanti.
Tidak ada uang untuk menyewa pria? Gatal dua hari penuh!.
"Di bar, dia menyewa wanita?" Tanya Yasie.
Pria itu mengangguk, "iya Nyonya. Tuan Abama menyewa dua wanita. Yang tak lain adalah Yuli, dan Anita. Mereka semua adalah orang di dalam bar Walch. Bukan orang asing, seperti kemarin-kemarin."
"Yuli? Aku jelas tidak bisa menyentuhnya, dia bekerja di bawah Abama pas. Untuk Anita, bunuh dia. Buat dia overdosis saja. Untuk rencananya ku serahkan padamu." Perintah Yasie, melemparkan satu gepok uang kepada pria itu. Dia ambil lalu dimasukkan ke dalam kantong tasnya.
Yasie berdiri, melempar vape-nya ke asal lantai. Menghadap langsung ke arah pria itu. Dia dekati, dan berjinjit.
"Siapa kau?" Tanyanya, menilik matanya. Wajah pria itu tertutup topeng kain dengan baju tertutup rapat.
"Bawahan Anda, Nyonya." Ucapnya tegas, menjawab pertanyaan Yasie.
Yasie sedikit terkekeh. "Baiklah. Selama kau selalu berhasil dalam tugas mu, masih pantas kaki mu menginjak lantai ini."
"Baik nyonya. Saya permisi." Pergi dengan langkah tegasnya. Membuka pintu, dan menutupnya kembali.
Matanya lagi melirik kearah cctv. Tersenyum tipis di balik topeng yang di kenakan.
Di dalam Yasie kembali memungut vape-nya, mengisi dengan liquid Vape rasa banana. Memastikan baterainya masih, dan dia tutup. Menghisap lagi dengan kuat sampai menghasilkan asap di ruangan ber-AC tersebut.
Pikiran Yasie tengah berkelut. Di mana dia merasa seperti orang kesetanan nan bodoh. Dia sendiri yang membawa Abama pada sebuah pengkhianatan. Dia sendiri yang membuat Abama mencintainya, sampai membuat pria itu berjuang keras untuk bersanding dengannya, seorang putri pengusaha.
Usaha Abama Yasie akui memang luar biasa. Bahkan mampu mengimbangi perusahaan Yasie sendiri. Namun sayangnya, Abama terlalu rakus sampai membuat semua direksi mengalihkan sahamnya ke perusahaan Abama. Ayahnya—Sandro dibuat stress dengan penurunan saham yang drastis.
Ditambah satu lagi masalah yang hampir membuat Yasie gila. Yakni ketika uang di tabungannya hampir habis, bahkan untuk menyewa pria pun tidak ada sama sekali. Dia pusing, sampai melakukan aksi menjijikan. Sedangkan Abama pada saat itu sibuk dengan urusan perusahaan. Sudah enggan menyentuhnya, dan mulai acuh tak acuh.
Hal tersebutlah awal mula keretakan hubungan Yasie dan Abama. Bagi Yasie, cinta Abama memang telah sirna sejak dia menjadi kaya. Dan bagi Abama, Yasie lah yang membuatnya memilih menghapus cinta itu. Hubungan yang kini mereka jalani hanyalah sebatas kertas.
Seharusnya sejak awal keretakan itu di mulai, keduanya sudah mulai melakukan pemecahan masalah. Bukan malah saling mengaku menjadi korban. Suatu hubungan, jika tidak adanya landasan komunikasi yang jelas. Maka retaklah.
Percuma di tumpuk cinta sebanyak gunung Everest, jika saja tidak di tanami dengan banyak pohon. Bisa ambruk, dan hanyalah tanah berantakan yang berhamburan di mana-mana. Menimbulkan dendam, untuk saling mencari keuntungan.
Posisinya berubah. Menjadi bertahan demi pemulihan nominal laba perusahaan atau melepas, dan merelakan beberapa asetnya musnah. Dan, yah. Semua akan kembali pada kerakusan manusia. Harta.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....