
Langkah kaki Abama nampak lebar, berjalan gagah menuju lif khusus CEO. Dia lantas memencet tombol lantai paling atas yakni, 20. Otaknya berpikir dengan banyak spekulasi yang mungkin saja terjadi, untung-rugi atau memang hanya terkaannya saja.
Di sana Erick sudah menunggu dengan iPad di tangannya. Pria itu berdiri untuk bersalaman singkat dengan Abama.
"Duduk. Bicarakan apa maksudmu di telepon tadi?" Ucap Abama, membuat Erick pun langsung duduk.
Dia menyuruh Abama membaca apa yang telah dia dapatkan. Di mana, perusahaan yang bergerak di persenjataan api, serta produk pangan yang cukup terkenal menguasai dunia. Selovelia.
Perusahaan yang terletak di ujung kota Albarracin itu merupakan perusahaan besar yang cukup banyak menyumbangkan hasil labanya untuk provinsi Teruel, Spanyol. Tidak heran juga, posisi Thelio Selivia Albor di sana cukup memumpuni. Proposal itu di kirim lagi. Bahkan dengan pengunaan format yang lebih rinci.
Abama baca lagi, tentang maksud dari proposal yang Thelio tulis. Di mana mereka mengajak FeYier Grup untuk bekerjasama membuat produk inovatif cemilan yang mendukung produk antar budaya. Makanan ringan yang dimaksud adalah makanan campuran antara budaya Spanyol dengan Indonesia.
"Kirimkan orang kepercayaan ke Muelle de las carabellas. Tempat di mana Thelio mengencarkan aksi penyelundupan narkobanya." Titah Abama.
Erick mengangguk, "kau curiga bahwa Thelio ingin meluncurkan produk cemilan narkobanya ke sini, dengan jembatan FeYier Grub?"
"Bukankah sudah sangat amat jelas?" Tanya Abama. Tersenyum sinis dengan rencana licik Thelio.
"Kirimkan juga mata-mata, masukkan ke dalam Selovelia. Aku ingin tahu dengan jelas, bagaimana cara kerja perusahaan itu."
"Bukankah itu terlalu gegabah, Abama? Kau tahu sendiri siapa Thelio. Dia tidak akan mungkin memasukkan seseorang ke dalam perusahaannya semudah itu. Bahkan aku mendapatkan informasi bahwa seluruh karyawan Thelio hidup di bawah kaki pria itu. Keluarga mereka ada di tangan pria bang-sat itu. Salah sedikit saja, bayarannya satu nyawa."
"Akal liciknya saja, Erick. Tujuan sebenarnya adalah Thelio juga ingin memajukan bisnis perdagangan organ ilegalnya. Tidak mungkin juga dia harus bersusah payah mencari orang, apalagi menculik."
"Thelio sulit di tebak."
"Buatkan aku proposal pengajuan penerimaan kerjasama itu, tapi dengan syarat. Syaratnya akan aku kirim ke email mu, siang ini juga. Kau siapkan dulu berkas, proposal serta keamanan rahasia FeYier Grup." Perintah Abama, dia berdiri—
"Cekal mulut Sandro. Pria tua bangkotan itu harus tahu menjaga mulut. Awasi Sandro dengan teliti. Jangan sampai kecolongan. Sampai aku berhasil merebut kembali hakku." Sambung Abama.
Erick mengangguk, harus kerja cepat. Maka dari itu segera saja Erick pergi dari ruangan Abama. Sedangkan Abama sendiri, mulai membuka laptopnya. Membaca banyak jurnal, serta informasi bisnis di dunia. Membaca banyak buku bisnis. Setelahnya baru tangan kekar itu dengan lincah menari di atas keyboard. Semua yang akan di tulis merupakan kunci utama, Abama dapat masuk.
George Lonen memang harus segera di bebaskan. Sesuai saja dengan janjinya dulu.
"Pertama, jaga putriku, Alexandra Lonen. Kedua, tolong aku bebas saat terjerat dengan orang spanyol itu." Ucap George kala itu.
****
Sandro buka paksa pintu kerja Yasie. Di mana pria tua itu sekarang berdiri dengan tatapan marah, penuh dengan rasa sakit yang tidak terkira. Yasie, dia itu putrinya. Anak yang lahir dari wanita yang begitu Sandro puja, Sandro rawat dengan sepenuh hati. Bahkan Sandro rela jika harus menjadi santapan Abama. Dia tidak akan pernah buka suara mengenai akal busuk Yasie.
Sebab bagi Sandro, Yasie adalah segalanya. Dia sayang, teramat sayang. Meskipun caranya kadang kasar. Tetap, hatinya melembut ketika bersitatap dengan Yasie. Keikhlasan itu yang membuat Sandro berani memproklamasikan dirinya, bahwa dia yang telah mencuri data rahasia perusahaan FeYier Grup.
"Yasie! Sudah aku katakan berapa kali? Rubah tingkah busuk itu! Kau sudah bukan lagi wanita bebas. Kau itu seorang istri. Kau punya suami! Harga dia. Kalau saja kau tidak mampu menghargai suami mu, maka lepas!" Sertak Sandro, berjalan gagah menuju meja besar yang sudah kacau.
Yasie terdiam, dia terlampau memuja nafsu, sampai lupa tempat di mana menggila. Ayahnya itu memang kerap kali ke perusahaan, hanya sekadar salam-sapa lalu pergi atau menemaninya kerja.
Kondisi Yasie telanjang bulat, dengan wajah memerah. Keringat membasahi beberapa file yang tergeletak tidak berarti di atas meja. Sedangkan pria itu, dia adalah salah satu karyawan Yasie. Niatnya hanya untuk meminta tandatangan. Namun, saat Yasie lirik batangnya yang besar. Maka janji manis jabatan naik pun terlontarkan.
__ADS_1
Aksi mereka sungguh brutal. Di mana pria itu juga sama terlanjang bulat. Di mana-mana tercecer cairan putih kental. Semua benda ambruk, atas keganasan Yasie serta pria itu. Bau menyengat, sampai membuat Sandro menutup matanya—malu.
"Lepas batang busuk pria itu Yasie! Ada aku ayahmu di sini!" Teriak Sandro, sampai memukul meja keras.
"Ayah aku mohon keluarlah dulu. Kau tahu penyakit ku, maka diamlah. Nafsu ku tengah di puncak kepala." Ucap Yasie mencoba pelan.
Tetap dia gerakkan pinggulnya, menancapkan batang pria itu lebih dalam. Sedangkan tangan si pria dengan santai, memainkan buah dada Yasie. Benar-benar gila.
Sandro akhirnya menutup pintu kasar, dia tunggu anaknya selesai dengan urusan buruk penuh dosa itu. Dadanya dia pegang erat, dengan memori yang mampu membuatnya tertampar dalam. Gila akan se-ks merupakan hal yang Sandro turunkan pada Yasie. Dulu, sebelum dia menikah, setiap harinya Sandro mampu mengagahi banyak wanita. Akan tetapi setelah Sandro temukan wanita yang mampu mengimbanginya, Sandro memilih berhenti dan mencoba mengontrol diri dengan berobat.
Sedangkan Yasie? Wanita itu bahkan menikmatinya. Membuat seolah penyakit itu menjadi senjata untuknya. Padahal nafsu itu bisa di kontrol, bisa di tekan dan di hilangkan. Memang dasarnya la-cur ya tetap la-cur.
Menunggu sampai dua jam lamanya, baru pria itu keluar dengan tangan yang memegang batangnya sendiri.
"Sial! Nona Yasie mampu membuat adikku lecet." Gumamnya tanpa menghiraukan Sandro yang sudah memasang wajah galak.
Sandro masuk, dan langsung menjambak rambut Yasie kuat.
Blam!
"OTAKMU KAU TARUH DI MANA YASIE!" teriak Sandro, sekali lagi membenturkan kepala Yasie di meja.
"Ayah... Tenanglah. Akan aku jadikan hari ini sebagai pembelajaran. Maafkan aku." Matanya berkaca-kaca, lantas mencium kaki Sandro.
Tipu daya wanita memang luar biasa. Hati Sandro luluh dan langsung memeluk Yasie.
"Untuk apa? Aku tidak sakit." Yasie mengelus tangan ayahnya lembut.
"Itu sakit Yasie. Semua manusia mempunyai nafsu. Sebagian yang sudah tahu rasanya, juga ingin terus menerus. Tapi mereka mampu mengontrol, sedangkan kau? Sembarangan memasukkan batang ke dalam lubangmu sendiri."
"Aku hanya sedikit stress, ayah. Abama menyakiti ku kemarin."
Sandro menghelakan napasnya pasrah, "berikan saja data rahasia itu. Sampai mati kau berusaha belajar dari kode-kode itu, nyatanya perusahaan ini tidak akan bisa bertahan tanpa suntikan dana dari Abama."
"Aku hanya perlu mendekat pada Abama, dan bertanya satu persatu. Arman grup akan bersinar pada masanya. Ayah, kau tetap diam dan pada rencanaku."
"Kalian memang pasangan gila!"
Yasie tersenyum lembut, "aku dan Abama memang jodoh, ayah."
"Apa rencanamu?" Tanya Sandro.
"Membunuh selingkuhan Abama. Dia wanita yang sudah mampu menghapus rasa cinta Abama dariku, maka dia pantas mati."
"Jangan sampaii kau menyeret ku untuk masalah ini. Tidak sudi aku bertahan hidup di penjara di usia senja."
"Ayah tenang saja. Ini akan menjadi urusanku."
__ADS_1
"Bereskan kekacauan mu. Aku pulang. Semakin muak aku di tempat bak neraka ini."
"Hati-hati, ayah."
****
Selovelia,
Albarracin, Spanyol.
"Señor, FeYier Grup mengirimkan proposal balasan." Ucap salah satu dari sekian sekretaris Thelio.
"Apa jawabannya?" Tanya Thelio, memainkan gelas winennya.
"Dia setuju apabila anda melaksanakan tiga syarat yang telah di buat. Pertama, bertemu langsung. Kedua, keterbukaan. Ketiga, tujuan."
Thelio mengangguk, "perusahaan kecil saja sudah seberani itu." Ucapnya memandang rendah.
"Aku tidak bisa bertemu sembarang orang. Dan tujuanku untuk bekerjasama dengan dia adalah ingin memasukkan FeYier Grup pada jebakan yang akan ku buat."
"FeYier Grup adalah perusahaan yang George lindungi. Harta, aset perusahaan Lonen berada di perlindungan FeYier Grup sekarang. Aku harus dapat membuatnya hancur. Setelah itu, baru ku bunuh George Lonen." Sambung Thelio.
"Tunjukkan biodata pemilik FeYier Grup." Perintah Thelio.
Dia melihat wajah itu, tampan dengan postur tubuh yang gagah.
"Di berada di Jakarta?" Tanya Thelio.
"Benar, Señor."
"Bukankah mereka semua saling berhubungan?" Tanya Thelio.
"Menurut saya iya, Señor. Di lihat dari segi apapun penyebab dalang ini semua berpusat di Jakarta."
Benar, Thelio tengah bersembunyi untuk melindungi dirinya sendiri. Walau dia punya kekuatan besar untuk membayar mereka. Tetap saja, dia harus bersembunyi sampai detektif bodoh, Glen Johnson itu berhenti untuk menyelidiki kasus SP47.
"Atur pertemuan ku dengan dia. Aku ingin bersitatap dengan calon lawanku."
"Baik, Señor. Saya undur diri."
Thelio melambaikan tangannya. Matanya melirik laptop yang menyala di depannya. Ada sebuah rasa puas ketika dia mendapati kondisi George yang sudah dipucuk maut. Di mana dia hanya mampu berbaring dengan tangan dan kaki terantai. Tubuhnya setiap harinya harus mendapatkan dua puluh pukulan. Suara bising, sunyi dan kadang juga mengagetkan. Mental dan fisik Geroge tengah di pertaruhkan.
Tatapan benci yang kian berkobar dari mata Thelio. Seakan tidak pernah padam, dan terus menjulur sampai ke darahnya. George telah mencuri Barhelianya. Semua hancur. Andai saja Barhelia tidak jatuh di tangan George pasti Thelio sudah menemukan wanita itu. Kini, hanya ada rasa haus Thelio terhadap Barhelia.
Pria itu berdiri, bergerak menuju tempat di mana mayat Barhelia di awetkan dan di jaga ketat oleh para penjaga terlatih. Juga pun ada dokter-dokter yang tengah meneliti, untuk menghidupkan kembali Barhelia.
Thelio gila!.
__ADS_1
BERSAMBUNG....