
Semuanya tertata dengan baik. Alexandra menjelaskan pada Varel bahwa dia akan ikut Abama untuk bisnis di luar negeri. Memang, tidak Alexandra katakan bahwa dia akan pergi ke Albarracin untuk George Lonen. Syukurnya, Varel percaya akan hal itu.
Perjalanan menuju ke Albarracin cukup memakan waktu, selama kurang lebih dua hari. Di mana mereka akan melakukan transit dua kali, di DOH dan MAD. Abama memang tidak mengunakan pesawat pribadinya. Dia menggunakan pesawat kelas ekonomi untuk mengelabuhi pengawasan Yasie. Keberangkatan Abama bersamaan dengan perjalanan bisnis Erial Agriel Exanta Putra. Sudah terencana dengan begitu matang. Di mana Tuan Erial akan melihat betapa mencintainya Abama dengan Alexandra.
Di dalam perjalanan, beberapa kali Glen Johnson menelpon penuh kekhawatiran. Thelio sudah bergerak sangat amat cepat. Sudah dapat Abama prediksi, tidak mungkin jika seorang seperti Thelio hanya berdiam diri di injak-injak lawannya.
"Kau tenang, Glen. Cari seorang yang mampu membedakan video asli dan editan. Masukkan berkas ajukan banding di pengadilan. Dengan upaya pembelaan bahwa kau hanya melakukan tugasmu sebagai penguak kasus, dan menegak keadilan. Suruh orang mu yang ada di sana, mengirimkan video Thelio memindah George Lonen. Jangan sampai kita kehilangan jejak George Lonen." Ucap Abama melalui sambungan telepon. Melirik Alexandra yang tengah tidur nyenyak di bahunya.
"Kau gila!! Kau sama gilanya dengan Thelio!! Bang-sat!! Hidupku ketar-ketir di sini." Membeludak amarah Glen.
"Kau menurut. Jika tidak, kau akan membusuk di penjara. Jangan ganggu aku dulu."
"Jalankan apa yang sudah ku perintahkan. Jangan banyak ba-cot!" Lanjut Abama. Menutup sambungan telepon.
Abama simpan kembali ponselnya. Mengambil kepala Alexandra guna ia kecup singkat. Lantas, Abama mulai menutup mata. Perjalanan mereka masih panjang, ditambah transit beberapa kali. Menggunakan pesawat biasa memang melelahkan.
****
Dua hari, waktu berlalu secepat itu. Abama dan Alexandra mendarat mulus di bandara VLC, Valencia AirportSpanyol, 131 km. Mereka langsung menuju ke sebuah hotel ternama, yakni Bouldering. Albarracin juga terkenal sebagai "Fontainebleau Spanyol." Surga batu pasir, yang terletak di dekat Teruel di tengah-tengah Madrid, Barcelona dan Valencia.
"Buenas tardes, señor y señorita. Déjame ayudarte a cargar tus cosas." sapaan hangat dari pembawa koper.
"Gracias." Ucap Abama, berterimakasih. Alexandra hanya mampu diam kikuk. Bahasa Spanyol? Dia belum mampu menguasai sepenuhnya. Hanya tahu beberapa, salah satunya Gracias yang berarti terimakasih. Señor, señorita yang berarti Tuan, Nona. Hanya ala kadarnya. Memang payah.
"Kau bisa belajar bahasa Spanyol dengan cepat." Ucap Abama, ketika tahu apa yang di pikirkan Alexandra.
"Bagaimana caranya?"
"Memohonlah terlebih dulu, Alexandra." Jawab Abama. Membuat Alexandra diam dan lebih memilih mengabaikan pria tua tengik itu.
"Kau marah?" Tanya Abama, mengecup kening Alexandra. Merangkul pinggang wanitanya mesra.
"Untuk apa? Marah pun percuma. Mau ku memohon, kau memaksa. Pada akhirnya akulah yang kau salahkan."
Abama tersenyum kecil, menghentikan langkahnya lantas mencium dalam bibir Alexandra sekejap. "Selain kita akan menyelidiki masalah internal. Kita juga akan liburan selama beberapa hari di sini. Maka nikmati semua Alexandra. Hanya ada aku dan kau."
"Tersenyumlah. Jangan seperti bocah yang sedang merajuk minta es krim."
"Atau kau memang mau mengemut es krim, sayang? Aku punya."
"Diamlah Abama! Aku lelah. Dan aku tidak mau es krim." Dengus Alexandra, memalingkan wajahnya malu. Apa-apaan pria ini, kenapa mendadak menjadi cerewet dan banyak gombal.
"Baiklah." Abama kecup kembali kening Alexandra, cukup lama.
Sekilas mereka seperti pasangan yang romantis serta penuh kasih sayang.
Di lobby hotel, Erial duduk membaca majalah. Dengan kopi hitam khas Albarracin, menikmati pemandangan demi pemandangan.
"Ree, bicaralah." Titah Erial.
"Buruk Tuan. Istrinya, Yasie lah yang memang seorang ja-lang. Abama sejak awal mencintai Yasie, hanya saja wanita itu mela-curkan dirinya. Untuk masalah antara George Lonen dan Abama, itu masalah perjanjian bisnis. Di mana dulunya George membantu Abama dengan syarat bahwa Abama harus menjaga putrinya dengan baik."
"Alexandra Lonen adalah anak kesayangan George Lonen. Sebab, Alexandra adalah anak yang dia dapat dari wanita yang teramat dia cintai. Bahkan sempat dia meredup di kala mengetahui Baherlia hamil Varelio Lonen. George Lonen sadari awal sudah sadar, bahwa suatu saat Thelio akan mengincar nya. Namun tidak terbesit di kepalanya bahwa Thelio akan menyerangnya di kapal persiar yang tidak lain sudah di lengkapi penjagaan ketat." Jelas Ree.
__ADS_1
"Urus semuanya. Aku bersedia memberikan sokongan kekuatan untuk Abama. Namun, pastikan bahwa kau tidak meninggalkan jejak." Ucap Erial, menatap Abama dan Alexandra lekat. Tersenyum tipis, "arus cinta itu unik. Berakhir pupus atau hembus."
"Aku menolongnya bukan karena dia menunjukkan rasa sayang palsu itu kepada Alexandra. Aku menolongnya karena aku ingin membantu Alexandra lepas dari kubangan lumpur berbau." Lanjut Erial.
"Baik Tuan, saya paham."
"Kau urus penerbangan ku kembali ke Indonesia. Aku sudah merindukan Mery, Donan, Aksera, Aksara dan Angkara." Erial bangkit namun kembali dia berdiam.
"Tetap utus pengawal untuk mengawasi Abama. Buat saja seolah-olah aku masih mengawasi dia."
"Laksanakan Tuan." Membungkuk Ree, memberi hormat pada Erial.
****
"Bereskan semua barang-barang, dan segeralah ganti pakaian. Kenakan baju tipis, sebab udara di sini panas. Jangan lupa juga topi." Perintah Abama, kepada Alexandra.
Alexandra mengangguk, ini merupakan hari pertama mereka jalan-jalan ke kota Albarracin. Nuansanya seperti berada di abad pertengahan. Bangunan yang di dominasi oleh gedung-gedung kecil, batu bata yang tersusun rapi, serta udara panas nan sejuk yang datang bersamaan. Di seberang sana, masuk sedikit menuju kota besar ada kota Madrid, Barcelona. Ingin rasanya juga mencicipi ke kota-kota terkenal Spanyol itu. Namun, sekali lagi Alexandra harus sadar bahwa dia hanyalah menumpang.
Entah, masih belum jelas tujuan Abama membawanya sampai ke jauh ini. Apa benar, Abama akan menyelamatkan ayahnya? Terus saja Alexandra ikuti pemberitaan di media sosial, mengenai siksaan serta konspirasi kehidupan politik internasional. Yakin, bahwa George Lonen memang masih hidup.
Kali ini Alexandra kenakan dress putih bersih, dengan tali spaghetti, dan topi pantai besar yang melekat di kepalanya. Rambutnya dia kepang panjang, dengan hiasan jepit-jepit kecil berbentuk bunga Daisy. Kaki jenjangnya turun, mengarungi anak tangga. Sedangkan di bawah Abama lirik—dalam—penuh atensi pada Alexandra.
"Kemarilah, sayang." Seru Abama. Suaranya melembut, seakan mereka benar-benar seorang kekasih yang tengah memadu kasih di kota Albarracin.
Menurut saja, Alexandra berjalan ke arah Abama.
Abama tarik lembut tangan kecil Alexandra, mendudukkan di pangkuannya. Seraya memperbaiki kepangan rambut Alexandra.
Tangan kekar besar itu dia selampirkan di pinggang ramping Alexandra.
"Sebenarnya aku tidak tahu menahu mengenai Albarracin."
"Apakah kau ingin ke Madrid?" Tanya Abama, menatap lekat wajah ayu milik Alexandra.
Menggeleng, "bukan. Ucapanku tadi memberimu kode bahwa aku menurut saja. Toh aku tidak tahu apapun. Jadi, kau bisa membawaku ke mana saja. Sesuaikan saja dengan outfit ku kali ini." Jelas Alexandra.
Abama tersenyum, dia bawa Alexandra ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, dan meletakkan tangan kekarnya di pinggang mungil Alexandra. Mencium sejenak aroma khas dari tubuh Alexandra, melalui cekuk leher Alexandra.
"Di Albarracin, hanya ada pemandangan kota tua pada pertengahan abad, atau sebuah pemadangan alam dengan daya tariknya sendiri."
"Di mana? Bukan, apa nama tempatnya?" Tanya Alexandra.
"Pinares del Rodeno, Murallas de Albarracin, Camino natural del rio Guadalaviar dan plaza mayor"
Alexandra menatap Abama, dengan tatapan sulit untuk di artikan. Apa yang tadi laki-laki itu ucapkan ya? Seperti mantra sihir yang entah kenapa terdengar seperti ocehan bayi di telinganya. Sama sekali tidak jelas.
Abama tertawa, melihat ekspresi lucu Alexandra. Di mana mata bulatnya tebuka lebih lebar, dengan mulut terbuka kecil. Dahinya berkerut, menandakan dia bingung. Langsung saja Abama kecup, eh bukan, melu-mat bibir Alexandra. Menukarkan salivanya dengan Alexandra, dan berakhir membuat lipstik wanita itu berantakan.
"ABAMA!" teriak Alexandra kesal. "Jadi tidak?" Tanyanya.
"Jadi, ayo. Lama-lama di sini, tidak jadi ku ajak kau jalan-jalan." Abama gandeng tangan Alexandra, keluar dari hotel.
Terlihat dari jauh, keduanya nampak mesra. Bak pasangan suami istri yang tengah berbulan madu.
__ADS_1
Nuansa tempat yang di kunjungi Abama adalah alam, di mana masih banyak beberapa pepohonan, aliran air yang mengalir serta udara sejuk menjadi teman. Hiruk pikuk kota, terlihat jarang. Sebab, bukan di sini pusat penglihatan orang lain. Kebanyakan mereka saat ke Spanyol, hanya mampu terpaku pada kota-kota besar, seperti Madrid, Barcelona. Tidak tahu saja keindahan negara Spanyol berada pada nuansa bangunan megahnya di masa lampau.
Albarracin termasuk menjadi sebagian dari kota di negara ini, yang mempertahankan nuansa alam serta bangunan klasiknya.
Di sana, Alexandra dan Abama berfoto ria dengan banyak gaya. Batas diantara keduanya pun musnah. Sikap Abama yang lebih hangat, serta banyak cinta, walau sedikit mesum. Ditambah Alexandra yang manja namun juga malu-malu. Pipinya beberapa kali memerah, entah sengatan matahari atau memang gombalan super dari Abama.
"Kau menyukainya Alexandra?" Tanya Abama. Mereka tengah berada di sebuah bangunan tertinggi, di mana balkon adalah tempat favorit untuk menikmati sejuknya udara panas Albarracin.
Alexandra mengangguk, "kapan kau bebaskan ayahku, Abama?" Tanya Alexandra, balik.
Dia memutar tubuhnya, menjadi berhadapan dengan Abama. Tepat di dada bidangnya, lantas dia mendongak. Untuk dapat melihat wajah tampan pria itu.
"Kemarin Varel bertanya. Bocah itu sudah tahu banyak hal. Harapan besarnya sungguh luar biasa. Dia menginginkan ayahnya kembali. Wajar saja bukan? Dia anak kesayangan ayah, sadari dulu."
Abama tundukkan kepalanya, "apakah kau tidak menginginkan George Lonen selamat, Alexandra? Jika itu mau mu, akan ku hentikan semua rencana ini."
Menggeleng, gelengan yang sangat kuat. Kepalanya menunduk, tidak berani mengucapkan kata, yang selama ini dia pendam lama. Akan pertanyaan dan jawaban yang jaraknya sebenarnya dekat, namun tidak mampu di pecahkan dengan logika.
"Aku sayang, serta cinta dengan ayahku, Abama. Tapi, di sisi lain. Mengapa dia membedakan aku dan Varel? Perbedaannya begitu jauh." Tanya Alexandra dengan wajah polos.
Abama tersenyum kecil, mengangkat tubuh Alexandra dan membawanya berjalan menuju sofa panjang yang ada di balkon tersebut.
Memangku Alexandra seperti anak kecil, mengusap punggungnya perlahan. "Seorang pria mempunyai caranya sendiri untuk menjaga permatanya, Alexandra. Ada yang di jaga secara terang-terangan, ada yang di jaga secara licik, dan ada juga yang di jaga secara sembunyi-sembunyi. Semua itu mempunyai kendali, berlandaskan alasan."
"Pemikiran mu jangan sempit. Setelah ku berhasil membebaskan George Lonen. Kau tanyakan semua hal yang ingin kau tanyakan padanya. Minta dia jujur." Lanjut Abama.
"Aku takut." Alexandra mengakui.
"Why?"
"Ayahku sangat galak, Abama."
"Oh ya?"
Mengangguk cepat. "Lebih baik aku atau ayahmu?" Pertanyaan macam apa ini?.
"Tentu saja ayahku, adalah pria palingggggg baikkkkk yang pernah ku temui!" Jawab Alexandra cepat.
Abama tertawa kembali, dia menduselkan kepalanya diantara belahan dada Alexandra. Menghirup lagi dan lagi aroma candu milik Alexandra.
"Sudah waktunya makan siang Alexandra. Ayo turun ke bawah." Ucap Abama setelah melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Aku malas makan." Lirih Alexandra, melirik sebentar ke arah Abama.
"Kau tadi pagi hanya memakan secuil roti kering. Tanpa adanya serat, vitamin, protein, lemak dan karbohidrat yang memenuhi. Aku suka wanita montok. Jadi ayo makan." Rayu Abama, yang sangat amat jujur di akhir kalimat.
"Ya sudah!" Desak Alexandra berdiri, memanggut-manggut sedikit kesal. Dia sudah terluluhkan oleh sikap manis bak cokelat Abama dan pria itu malah sok idiot.
Abama tersenyum, lantas lanjut tertawa. Mengendong tubuh Alexandra ala bridal style menuju sebuah ranjang besar.
"Aku tentu saja paham, sayang. Tongkatku sudah tegak semenjak dekat denganmu. Ku tahan, dan ku tahan. Tidak mau membuatmu merajuk, dan tersiksa berada di dekatku. Tapi, kau yang kini meminta. Keinginan apapun itu, akan ku turuti asalkan kalimatnya berasal dari mulut manis mu."
BERSAMBUNG....
__ADS_1