MY BOSS

MY BOSS
MALAM YANG TENANG


__ADS_3

Ponsel Alexandra hilang entah di mana. Membuatnya kembali membeli ponsel, dengan uang pemberian Abama. Ponsel itu sangat penting, karena Alexandra harus menghubungi Rose, Adit dan Bara. Teman-temannya itu pasti tengah bingung mencarinya. Ditambah rumahnya telah pindah, tidak lagi mengontrak.


Kehidupan secepat itu membalikan status sosial Alexandra di masyarakat. Mereka tidak tahu jika apa yang di dapatkan Alexandra, berasal dari tubuh moleknya. Paras cantiknya yang mematikan. Cantik itu luka, sebab malapetaka kerap kali datang karena rupa.


Demi uang, dan uang. Cukup jangan kembali ungkit masalah suci nan murni. Karena di sini kembali lagi membicarakan realita.


Setelah membeli ponsel, Alexandra langsung memasukan nomer Rose—yang sempat memberinya kartu nama pada saat itu. Untuk Bara dan Adit, mungkin nanti malam bisa ke Bar.


Rose langsung meminta Alexandra untuk bertemu di tokonya. Dan, di sinilah Alexandra berada. Di toko bunga Harum bersama Rose.


"Kau kemana saja?"


"Tidak bisa di hubungi. Ponsel mati. Kontrakan mu kosong. Hilang tanpa jejak. Aku takut! Aku pikir kamu marah karena waktu itu pinjam uang gak aku kasih. Tapi beneran gak ada Lex. Kalau ada sudah aku bantu. Aku kelimpungan sendiri, cemas dan takut karena masalah uang persahabatan kita jadi retak." Oceh Rose marah.


Memegang tangan Alexandra, dan menatapnya dalam. "Maaf, aku gak bisa bantu banyak."


Alexandra mengangguk tersenyum kecil. "Bukan salah mu. Aku menghilang karena mempunyai alasannya, Rose."


"Ayo ceritakan! Aku sudah kaku penasaran. Selalu saja setiap hari bertanya-tanya di mana kamu berada."


"Kau berlebihan. Baru saja aku hilang sekisaran tiga hari lebih sedikit. Sudah sangat heboh."


"Bagaimana gak heboh? Kamu pergi setelah kamu bercerita tentang masalah kamu. Wajah kamu saat itu murung, tidak ada awan cerah di atas kepalamu."


"Aku sebenarnya tidak pergi. Hanya saja, ada teman ayahku dulu yang datang memberikan tawaran kebaikan."


"Maksudnya? Baik kok di tawarkan." Dumel Rose masih dalam mode kesal pada Alexandra. Tapi juga penasaran.


"Istilahnya gitu. Ternyata dulu ayahku pernah bantu dia. Terus ya seperti balas budi. Dia suruh aku pindah, kasih aku pekerjaan dengan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ku sama Varel. Dan, saat aku pergi itu aku sedang sibuk mengurus berkas dan bekerja." Cerita Alexandra, sebagian benar hanya saja kurang di perinci. Membuat siapa saja yang mendengar akan menangkap baik.


"Puji Tuhan. Akhirnya ada jalankan."


"Iya Rose. Dan aku sebenarnya mau kasih surat ini ke kamu." Letak Alexandra mendorong surat beramplop cokelat ke arah Rose.


Rose tersenyum, "iya Lex, selamat ya. Ikut senang dengarnya. Tapi setelah ini kita masih berteman kan?"


"Tentu. Aku berterimakasih banyak, Rose. Mau menerima ku kerja pada saat itu."


"Iya Lex. Semoga sukses."

__ADS_1


****


Notifikasi muncul dilayar ponselnya, dari Tuan Abama. Tertera bahwa dirinya tidak akan menganggu tidur nyenyak Alexandra malam ini. Senyuman manis, melengkung penuh ketas, Alexandra hadirkan. Malam tenang akhirnya tiba, tidur berkualitas akan segera datang.


Sekejap Alexandra teringat bahwa Adit dan Bara belum mendapatkan kepastian tentang dirinya yang menghilang. Menengok ternyata sudah pukul delapan malam, membuatnya segera bergegas untuk ke Bar Walch.


"Kakak mau ke mana?" Tanya Varel yang sedang belajar di depan TV.


"Varel nanti kalau pintunya di kunci, di cabut ya. Kakak mau ada urusan sebentar. Gak lama kok." Pesan Alexandra kepada Varel.


Varel pun mengangguk, membuat hati Alexandra lega. Tidak begitu banyak pertanyaan dari anak itu. Mungkin memang pikirannya untuk fokus belajar. Mengejar materi yang tertinggal selama dia sakit.


"Oh ya, besuk kamu pulang jam berapa? Waktunya kamu kontrol."


"Mungkin jam 3 sudah sampai kak. Aku besok juga libur latihan sepakbolanya."


"Oke, kakak buat janji sama dokter jam set.4 aja ya."


"Iya kak."


Menuju ke Bar Walch, Alexandra memilih menggunakan taksi. Rekeningnya penuh dengan uang. Abama memang tidak tanggung-tanggung dalam memberinya uang. Sekelebat pikiranya bertanya, apakah dia akan selamanya bergantung pada Abama?. Tanpa Abama, hidupnya akan terpontang-panting seperti kala itu?.


Taksi yang di tumpanginya pun berhenti di depan Bar Walch. Jam segini memang belum ramai. Tapi, kalau sudah jam sepuluh keatas. Orang-orang yang datang sudah seperti zombie.


Segera Alexandra masuk menemui Bara dan Adit. Dari kejauhan Bara tengah sibuk meracik minuman. Mengocoknya dengan gaya maskulin, menuangkannya pada gelas tinggi. Dan terjejer rapi minuman-minuman itu. Siap di santap saat itu juga. Alexandra tersenyum, mengingat dirinya sendiri pada saat itu.


Berjalan mengendap agar Bara tidak tahu. Menepuk bahunya pelan. Bara sontak menoleh, dengan mata melotot karena terkejut.


"Alexandra?"


"Alex?" Ulangnya sampai dua kali.


Alexandra mengangguk. Membuat Bara langsung meletakkan kembali botol wiski yang hendak dia campur-campur ke meja pantry. Menggandeng tangan Alexandra pergi menjauh dari keramaian Bar.


"Kamu tunggu di sini dulu. Aku hubungi Adit. Jam 10 an kita semua ngobrol. Aku ngeracik minuman dulu." Pesan Bara, membuat Alexandra mengangguk gemas.


"Kalau lebih dari jam segitu, aku pulang." Bara mengangguk, dia tahu pasti Alexandra hanya izin sebentar dengan Varel.


****

__ADS_1


Kusut. Terasa penuh dan mulai jenuh akan perasaannya sendiri. Ucapan Tuan Erial yang mendohok hatinya. Cinta ya? Benarkah cinta semurni itu? Abama tidak yakin.


Baiklah mari kita bercerita. Agar tidak bingung dan bimbang tentang mengapa, Abama begitu bang-sat di mata kalian.


Yasie itu anak kandung Sandro, seorang pengusaha kecil yang hendak jaya. Ingin besar tentu saja haruslah berusaha ekstra. Tapi Sandro menggunakan cara liciknya, dengan memanfaatkan perusahaan berkembang Abama. Sandro mengancam akan menghancurkan perusahaan berkembang Abama dengan senjata yang telah dia curi. Yakni, data rahasia milik FeYier Grup.


Data itu sangat amat penting. Di mana seluruh isinya adalah hasil kerja keras Abama dan seluruh karyawannya. Ditambah pada saat itu, FeYier Grup hanyalah sebutir debu dibanding Lonen Grup.


Ancaman Sandro tidak main-main, bahkan dia tidak takut jika harus dibawa ke jalur hukum. Sebab, Abama sendirilah yang ikut berkontribusi memberikan data perusahaanya sendiri pada Sandro. Lewat sosok Yasie.


Benar, Yasie adalah kekasih Abama. Kekasih yang Abama sayangi melebihi apapun. Bahkan Abama sempat berjanji di hadapan Tuhan bahwa Yasie-lah wanita yang akan menemaninya seumur hidup.


Omong kosong! Sekarang saja, ucapan itu hanyalah bualan belaka. Sampah busuk.


Rasanya memang begitu mendidih, terasa sangat menyakitkan. Hanya sesaat, karena Abama sadar bahwa cinta selamanya akan terus menjadi omong kosong tak berguna. Seperti ayah dan ibunya yang pergi di jalan masing-masing, meninggalkan Abama berjuang sendiri.


Mengenal sosok Alexandra berawal saat dia berkunjung ke rumah George Lonen. Meminta bantuan pada Tuan George.


George pada saat itu memang tidak begitu baik menanggapi Abama. Tapi, dengan kemampuan yang dia tunjukkan membuat George yakin bahwa Abama layak mendapat dukungan Lonen Grup.


Tatapan mata sedu, nan tenang Alexandra sepulang kuliah. Menatap sekilas pada Abama, lalu kembali menunduk. George awalnya tidak mengakui bahwa dia benar anaknya. Sebab, penting bagi George melindungi seluruh keluarganya dari incaran pesaingnya.


Jujur, sejak saat itu ada sebuah debaran tidak kasat mata hinggap di dada Abama. Berdebar, dengan hebat seolah-olah telah kembali kembali mengenal cinta. Padahal sudah tahu saat itu dia akan menikah dengan Yasie. Dan Abama pun mencintai Yasie. Walau dia juga tahu, Sandro—mertuanya hanya mengincar kekayaan serta kerjasama dengan FeYier Grup.


Pernikahan Abama dan Yasie bagaikan neraka. Hanya akan bersatu saat di ranjang, dan mulai mencari kesenangan sendiri setelahnya. Mereka datang hanya saat membutuhkan. Cinta indah pada masa muda pun hangus saat janji suci telah terucap di atas altar.


Hanya ada kehampaan dan kesunyian. Menikah tidaklah hanya berkaitan dengan hubungan suami istri, tapi juga sebuah obrolan panjang seumur hidup. Kehangatan saat lelah datang, dan pelukan untuk memudarkan kalutnya dunia.


Ingatan itu kembali terlintas di otak Abama. Dia pegang kepalanya pusing. Meneguk sebuah wine anggur merah secara rakus. Tidak sampai mabuk, hanya ingin meminumnya.


Abama buka pintu kamarnya dengan Yasie. Memang besih, luas dan hangat. Namun di intinya hanyalah berupa ranjang besar untuk bergelut mengeluarkan buangan cairan mereka. Apakah hanya Abama yang selingkuh? Tentu tidak. Tidak akan Abama mulai ini semua, tanpa tahu bahwa Yasie adalah pemain handal. Lubangnya jauh lebih besar daripada milik Alexandra yang imut nan lucu. Oh, menjadi membandingkan?.


Di ranjang besar itu, Yasie sudah mengangkang dengan posisi terekspos penuh bongkahan buah peach-nya. Dengan tali spaghetti melilit ditengah belahan. Mulus bersih seperti kulit bayi.


Terbalik tubuh Yasie. Menatap Abama lapar dengan gerakan seksual mendekat pada Abama dengan jalan merangkak.


Abama meludah, tepat di sampingnya. Benar-benar menjijikan, dan memalukan. Kelakukan ja-lang rendahan. Ingatan wajah Alexandra kembali terlintas di kepalanya. Tidakkah bisa berhenti mengingat Alexandra? Dia juga sama, seorang pela-cur seperti Yasie.


Abama mendekat, mengangkat tubuh Yasie dan mengendong Yasie di depan. Seperti bayi koala yang memeluk induknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2