MY BOSS

MY BOSS
PACAR ALEXANDRA


__ADS_3

Pukul 5 Bi Rumi sudah sampai di rumah Alexandra. Seperti rutinitas biasanya, akan membantu Alexandra masak, dan beres-beres rumah. Tatapan Bi Rumi sempat terkejut mendapati Abama yang tengah duduk santai dengan kaos ketatnya seraya merokok di teras rumah Alexandra.


Setelah itu mulut Alexandra bergegas menjelaskan bahwa kini dia dengan Abama berpacaran.


"Oh pantas saja, Tuan Abama waktu itu benar-benar mau membantu. Ternyata... Semoga di berkati Tuhan ya, Tuan dan Nona."


Alexandra balas dengan kikuk, dan mengangguk. Berkat Tuhan apa? Rasanya sangat kotor.


Varel keluar dari kamarnya dengan kondisi rapi. Dengan bola yang dia cekal di tangan kanannya, datang menghampiri meja makan. Di sana, sudah ada Abama dan Alexandra. Alexandra yang sibuk melayani Abama bak seorang istri kepada suaminya.


"Paman Abama?" Tanya Varel, sedikit terkejut. Masih ingat di memorinya bahwa dia adalah orang yang sudah menolongnya serta kakaknya.


Lantas, Varel segera mendekat pada Abama mencium punggung tangan pria itu. "Paman kok bisa di sini?" Tanya Varel.


"Ya tentu saja, aku di sini. Aku sedang menginap di rumah pacarku." Jawab Abama santai. Membuat mata Alexandra melotot besar dengan tatapan marah.


"Sungguh? Aku senang, namun juga sedikit aneh. Paman memangnya belum menikah di umur segini? Kok masih pacaran?" Dasar Varel, otakmu tolong jangan pintar-pintar. Kasihan Abama dan Alexandra untuk menjawab.


Abama tersenyum lantas saja mengusap kepala Varel lembut. "Menurut Varel menikah itu apakah hanya hal mengejar umur?" Tanya Abama.


Varel terdiam, "aku tidak tahu."


"Menikah itu sebuah hubungan panjang penuh dengan komitmen. Menikah tidaklah harus terpenuhi hanya karena umur. Jatuh cinta pun begitu. Masa muda telah ku habiskan untuk bersahaja, sudah waktunya aku mulai memikirkan di mana masanya aku harus berkeluarga dan menikmati hasil dari proses masa mudaku." Jelas Abama. Varel paham, walau tidak semuanya. Tapi dia mengangguk, mencoba saja menjadi pria dewasa dengan obrolan berat.


"Aku harap Paman Abama tidak membuat kakakku menangis. Dan aku juga berharap semoga hubungan kalian awet sampai masa di mana Tuhan memisahkan melalui maut. Aku akan berdoa yang terbaik untuk kakakku."


Abama tersenyum, dia lantas memeluk Varel erat. "Kau pria yang baik, pertahankan pola pikirmu. Pria itu semakin dewasa, semakin berat pikirnya. Maka tidak heran jika banyak wanita mengatakan bahwa pria terlalu logis ketika berpikir."


"Dan wanita itu selalu saja terlalu membawa perasaan. Tapi itu bagus. Menjadi satu kesatuan, bahwa pria dan wanita hidup untuk saling melengkapi."


Alexandra lega, dia mengelus dadanya pelan. Ada sebuah rasa bangga, ketika Varel mampu mengimbangi bicara Abama. Ada sebuah rasa yang tidak mampu Alexandra utarakan ketika melihat Abama dan Varel bicara bersama. Rasanya terlampau nikmat. Dan dia lupa bahwa pada hakikatnya, Abama tetaplah pria manipulatif dan pendusta. Omong kosong! Sudah jelas masa muda sampai tua dia hanya tahu lubang. Sialan bukan!.


"Varel, ayo segera sarapan. Dan berangkat sekolah! Sekolahlah yang rajin." Seru Alexandra. Tidak hanya Varel saja yang bangkit tapi juga Abama. Laki-laki tua itu mau ikut saja. Dengan gaya kokohnya, dia berjalan menuju meja makan. Duduk dengan tatapan tidak luput dari wajah Alexandra.


"Cukup, Varel?" Tanya Alexandra, memastikan bahwa porsi nasinya sudah pas dengan keinginan perut Varel pagi ini.


"Tambah sedikit lagi, kak. Nanti setelah pulang sekolah sampai sore aku latihan sepak bola."


"Boleh, asalkan jangan lupa minum air putih yang cukup, makan siang yang sudah di siapkan Bi Rumi di makan dan ini yang paling penting, jangan lupa minum obat tepat waktu." Nasihat Alexandra lembut, mengelus pucuk hidung Varel di akhir bicaranya.

__ADS_1


"Kak! Aku sudah besar. Jangan perlakukan diriku seperti anak kecil. Aku masih ingin mempertahankan hidung mancung ku ini."


"Tapi kau tetap menjadi anak kecil di mataku. Dan juga, hidung mu itu terlalu mancung. Sudah waktunya mengikuti anak-anak lain." Tawa kecil Alexandra keluarkan, senang sekali mengejek Varel.


"No! Hidungku ini kualitas premium. Tidak ada yang mengembari. Cukup bangga. Kakak segeralah makan."


"Oke, sayangku." Dan Alexandra duduk di kursinya. Mengambil piring, dan mengambil nasi. Cukup dengan satu centong, dan Alexandra letakkan di atas piring putihnya.


Suasana meja makan sunyi, dengan khidmatnya mereka menikmati hidangan yang tersaji di atas meja.


"Ehem." Abama terbatuk kecil, dengan tatapan yang masih saja tidak lepas dari wajah Alexandra. Wanita itu 0% peka. Sama sekali tidak paham kode etik yang telah Abama pancarkan.


"Ambilkan nasi." Merasa teracuhkan, akhirnya Abama angkat bicara. Suaranya dingin, berat. Membuat atensi Alexandra dan Varel terpusat pada Abama.


Alis Alexandra terangkat sebelah, dengan tatapan yang sulit diartikan. Saling tatap dengan raut wajah yang sama, namun beda pemikiran.


"Kau tuli?"


"Kau tidak punya tangan?" Bersamaan mereka bertanya.


"Kalian sama-sama tidak cacat." Varel menambahkan.


"Varel akan diantar oleh supirku. Kau duduk dan temani aku makan." Perintah mutlak Abama, membuat pantat Alexandra kembali menyentuh kursi.


"Kalian seperti bukan sepasang kekasih. Tapi seperti ayah dan anak yang sedang bertengkar." Cetus Varel, membuat Abama melotot.


"Supir sudah menunggumu, Varel."


"Aku sekolah dulu. Shalom." Ucap Varel dan berlari keluar menuju mobil yang sudah di siapkan Abama beserta supirnya.


Selang beberapa menit, Bi Rumi datang dengan tas belanjanya.


"Non Alex. Bibi izin ke pasar dulu." Pamit BI Rumi, membuat Alexandra langsung tersenyum kecil penuh lega.


"Alex—"


"Saya tambah uangnya, Bi. Hitung-hitung saya tambah makan di sini." Potong Abama, mengeluarkan merah-merah dari kantong celananya berjumlah lima lembar.


"Baik, Tuan Abama. Bibi pamit dulu ya, Non."

__ADS_1


Sekarang, mereka hanya berdua di rumah. Sepi nan sunyi, membuat keadaan benar-benar akward. Lantas saja, Alexandra berjalan ke arah dapur untuk basa-basi. Entahlah, rasanya terlalu gugup dan membingungkan.


"Alexandra, aku menyuruhmu untuk menaruh nasi dan lauk pauk di piringku. Tapi kau malah berlari ke arah dapur?" Suaranya menggelegar, penuh ke seluruh ruang.


"Apakah kau ingin membuat dapurmu berantakan penuh dengan lendir dan cairan putih? Jika itu mau mu, siapkan posisi mengakang di atas meja dapur itu." Lanjut Abama kuat dengan suara serak basahnya.


Alexandra kaku, lantas berbalik dengan tatapan kesal. "Kau mengancam ku, Abama? Dasar tukang ancam!"


"Jika kau menurut, aku tidak akan mengancammu. Sayangnya kau itu gadis liar yang belum ku jinakkan."


"Ba-jingan." Dengus Alexandra. Dan berjalan ke arah Abama. Menaruh tiga centong nasi dengan banyak lauk pauk di piring Abama.


"Kau kira aku tukang kuli?" Tanya Abama, melihat betapa brutalnya Alexandra menaruh segala hal di meja makan ke piringnya.


"Siapa bilang kau itu kuli, Tuan? Kau itu tukang genjot lubang." Jawab Alexandra membisik di dekat telinga Abama.


Abama tersenyum kecil, lantas menarik tubuh Alexandra ke dalam pangkuannya. Menghirup aroma rambut Alexandra yang khas. Vanilla bercampur aroma klasik. Menenangkan dan menukik secara langsung. Aroma seseorang itu ibaratkan jadi dirinya sendiri. Alexandra itu tenang, membuat tenang sekaligus nyaman.


Dengan parasnya yang cantik serta tubuh moleknya menjadi poin tenang bagi setiap mata memandang. Klasik dengan pola pikirnya yang aneh dan kadang terburu-buru. Pandangan wanita itu hanya satu, pada tujuannya saat itu. Apapun akan dia lakukan hanya untuk tercapainya tujuan. Sayang sekali Alexandra melupakan satu hal bahwa setiap masalah mempunyai suatu masa akan tercapainya tujuan.


Kau kira Tuhan tidur? Dia juga bersedih menatap hambanya yang tengah di runding musibah akan takdir yang telah di gariskan. Entah takdir yang terjadi akan kesalahan memilih atau memang takdir yang sudah harus dia jalani. Dan Tuhan pun melihat engkau sampai mana berusaha, tanpa takut terjebak pada kemiskinan serta ketidakpuasan nafsu. Pilihan hidup berada di tangan setiap hamba. Dan setiap hamba sudah sepantasnya sadar bahwa hidup di dunia ini merupakan perintah mutlak untuk mencapai surga.


"Mulut kecilmu selain lincah mengemut, tapi juga pintar berbicara." Bisik Abama pelan.


Tubuhnya kembali dia tegakkan. Merekuh semakin dalam tubuh Alexandra. "Suapi aku, sayang. Tanganku pagi ini hanya mampu memelukmu."


"Buaya di pagi hari sangat aktif, ya." Celetuk Alexandra malah membuat tawa Abama keluar.


*****


Abama pergi ketika mendapatkan telepon dari sekretarisnya, Erick. Dia nampak bergegas, dengan terburu-buru. Alexandra menatapnya pun hanya sekilas, seolah tidak peduli dengan urusan Abama. Sungguh di dalam hatinya sendiri, Alexandra tengah meruntuki dirinya. Betapa bodoh dan kolot otaknya berpikir. Sampai-sampai akan ada masa di mana dia dan Abama di fase paling buruk.


Kehidupan macam apa yang sedang Alexandra jalankan sekarang? Kehidupan busuk penuh dengan dosa ini kapan akan berakhir? Ingin sekali Alexandra berteriak penuh dengan tenaga yang tersisa.


Namun dia kembali teringat pada memori kelam. Sebuah film kusut yang sudah lama di simpan rapi di dalam sel otaknya pun kini mulai berputar kembali. Dan asalkan kalian tahu, bahwa hal itulah yang menjadi awal mula Alexandra terjun ke dalam dunia kemaksiatan. Sebuah ucapan dengan tatapan kosong, dan tanpa berpikir panjang. Membuahkan hasil, seperti sekarang.


Menjadi simpanan, bossnya sendiri.


**BERSAMBUNG**.....

__ADS_1


JADWAL UPDATE: Sabtu dan Minggu 📌 (ofc)


__ADS_2