
Abama masuk ke dalam apartemennya. Duduk sebentar seraya mengisap cerutu kesukaannya. Menonton aksi mengintip orang suruhan Yasie. Sejak lama, Abama tahu bahwa Yasie itu penguntit. Dan selama ini dia hanya mengelabuhi orang itu. Tidak Abama cari tahu siapa, pria bertopeng kain itu. Bodoamat, memang apa urusannya? Selama tidak macam-macam, Abama biarkan. Tapi jika sudah membuatnya celaka, maka dia diwajibkan mati.
Sekisaran satu jam, dan sebanyak empat cerutu habis di hisap Abama. Pria itu baru pergi. Abama keluar apartemen, dengan menggunakan mobil lain. Mobilnya itu banyak, setiap hari bisa ganti. Dan lagi, plat mobil Abama juga sama banyaknya. Kapan pun bisa dipasang dan buang. Tentu saja ada orang dalam. Jangan tanya berapa banyak rupiahnya, yang 1000x lipat kekayaanmu.
Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Alexandra. Kali ini lebih santai, menikmati nuansa kota di malam hari dengan banyak pemandangan. Salah satunya, tentang padatnya lalu lintas perkotaan. Serta banyaknya aksi pencari uang dengan berbagai cara.
Wanita seksi banyak berkeliaran. Tak hanya wanita, pria pun demikian. Mereka-mereka itu telah di hantam kehidupan, dan melarikan diri. Sebab itulah, jangan pernah lari dari musibah. Tuhan memberimu anugrah luar biasa, dengan adanya musibah. Maka nikmati musibah itu, sejatinya Tuhan tidak pernah tidur meskipun kau tertidur. Musibah itu dia turunkan, beserta nikmatnya.
****
"Kak..." Panggil Varel. Dia mendekat pada Alexandra yang tengah duduk di depan laptop.
Segera saja Alexandra menoleh dan mematikan laptopnya. Fokus pada Varel, yang nampak ingin membicarakan sesuatu.
"Nama ayah kita adalah George Lonen, bukan? Bermarga Lonen, sama seperti aku dan kakak." Dari sini, Alexandra mulai paham. Tidak mungkin jika Varel tidak tahu, video tersebut menyebar luas di media sosial. Di mana semua mata dapat melihat dan mengulik.
"Benar Varel." Jawab Alexandra seadanya.
Varel menatap Alexandra dengan mata berkaca-kaca, tersirat akan rindu dan kesedihan yang menguap. "Aku masih mempunyai ayah, kak?" Pertanyaan Varel, begitu dalam.
"Iya Varel. Namun, kasus ini masih dalam penyelidikan. Doakan saja, semoga semua lancar. Jika benar, ayah masih hidup. Jika tidak, maka tugas kita hanyalah mendoakan."
"Aku selalu berdoa untuk ayah, ibu dan kakak. Aku hanya merasa sedih akan ketidakberdayaan ku sekarang. Mengapa aku tidak cepat tumbuh dewasa? Aku ingin membantu Glen Johnson menemukan ayah. Aku ingin membuat Thelio, terjerat hukuman yang adil."
"Kau sudah mengetahuinya Varel?" Tanya Alexandra. Varel mengangguk cepat. "Ya, aku sudah tahu semua. Jika saja aku tidak tahu, pasti sampai kapanpun kakak hanya akan diam. Benar bukan?"
"Maaf Varel. Bukan aku ingin menyembunyikan ini semua kepada kamu. Aku berpikir bahwa kau belum saatnya, menahan beban berat ini. Tugas mu hanyalah satu, belajar sampai kau dapat meraih mimpi serta tujuan hidupmu." Ucap Alexandra, mengelus surai rambut Varel. Dalam hatinya pun meruntuk banyak kata, bahwa cukup dirinya saja yang berkorban habis-habisan. Cukup dia saja yang terluka begitu hebat. Varel jangan.
Doa Alexandra, semoga Varel dapat menjalani hidup baik serta normal. Memilih jalan hidupnya tanpa terkekang. Di sayangi setulus hati, agar kelak dapat menyayangi orang lain di masa depan. Tak apa jika balasan itu bukan untuk Alexandra. Setidaknya, Varel—adiknya, tumbuh baik penuh pendidikan, kasih sayang, dan kelayakan.
"KAK!!" sertak Varel, keras.
"Jangan jadikan aku sebagai beban hidupmu. Jika kau susah, aku juga susah. Kau senang, aku juga senang. Selama ini kakak sudah mengorbankan banyak waktu hanya untukku. Kau juga punya kehidupanmu sendiri, kak. Aku sudah hampir 12 tahun! Aku sudah tahu." Lanjut Varel.
Alexandra mengangguk, "kau cepat sekali dewasanya Varel. Baiklah, aku akan menurut."
"Dan aku sekarang bahagia. Kau juga harus bahagia."
__ADS_1
"Kau bahagia, karena Paman Abama? Aku senang dengan dia, aku suka dengan pemikirannya. Ketika aku berbicara dengan dia, banyak ilmu yang ku serap."
Alexandra mengangguk ragu, dan tersenyum. Dia kecup dahi Varel lama. "Belajar lah, lalu tidur. Hari sudah malam. Kau harus tetap menjaga kesehatanmu, Varel. Obatnya juga jangan lupa untuk di minum."
"Oke kak, aku akan menurut pada kakak. Kau harus bahagia." Pesan Varel dan kembali ke dalam kamarnya.
"Ya! Aku akan bahagia, Varel!" Balas Alexandra. Sejenak, air mata pun keluar dari pelupuk matanya. Segera dia mengusapnya kasar. Dan kembali membuka laptopnya.
Membaca sampai mana kasus itu terkuak di media sosial. Akhir-akhir ini muncul video baru, tentang penyiksaan George Lonen. Alexandra putar video itu. Telinganya berdengung, dengan jantung yang berdetak begitu cepat. Ayahnya di siksa habis-habisan oleh Thelio.
Pertanyaan kini saja muncul. Mengapa Thelio bisa menyiksa ayahnya? Tidak mungkin jika tidak sertai sebab. Pasti ada sebab mengapa bisa hal ini terjadi. Takutnya, George Lonen sendiri yang membuat masalah sampai membuat orang asing itu marah dan dendam. Tapi setahu Alexandra, Ayahnya itu walau tegas, keras dan galak. Tetap, dia orang baik dan jujur. Mengasihi tanpa menunjukkan kasihnya.
"Tutup laptopmu. Lusa kita berangkat ke Albarracin." Ucap Abama, masuk ke dalam kamar Alexandra. Tanpa salam atau pun sapa.
"Bukankah dua hari lagi?" Tanya Alexandra, mengingat.
"Di undur, satu hari. Karena paspormu baru jadi dua hari lagi. Kau pun harus menyiapkan apa saja yang ingin kau bawa." Abama berbaring, di atas ranjang Alexandra.
Alexandra berdiri, menatap Abama. "Katakan, Abama. Apa yang membuatmu membawaku ke Albarracin?" Tanya Alexandra.
"Kau tanya tujuan ku Alexandra? Kau ingin jawaban apa atas pertanyaan mu? Sekalipun aku menjelaskan secara baik, di otakmu hanyalah hal buruk tentangku bukan?" Pertanyaan itu Abama ulang menjadi pertanyaan untuk Alexandra sendiri.
"Manipulatif." Desis Alexandra, duduk kembali menghadap laptop.
"Aku mengajak mu keliling Albarracin, serta untuk memeriksa kondisi Geroge Lonen secara langsung. Aksi penyergapan ini harus di lakukan secara hati-hati. Untuk tidak menimbulkan kecurigaan siapapun. Ku bawa kau dengan alasan, simpananku." Akhir kata yang cukup menukik, sampai membuat dada Alexandra memberat. Kenyataan memang terus saja menamparnya. Seolah mencekik untuk tetap sadar.
"Baiklah." Ucap Alexandra, memejamkan mata.
"Tutup laptopmu, Sayang. Aku di sini, dan hargai keberadaan ku."
"Kau ingin cara kasar, atau halus?" Tanya Abama.
Alexandra bangkit, dan berjalan menuju Abama yang sudah tidur di atas ranjang.
*****
Thelio membanting semua barang yang ada di ruangan kerjanya. Menatap penuh nyalang akan video yang berputar jutaan kali itu.
__ADS_1
"MIERDA!!!!!" Umpat Thelio, mengambil komputer yang ada meja lantas membuangnya asal dari atas jendela gedung setinggi 500 meter. Terpental tercecer keping-keping komputer itu.
Amarah Thelio mendidih dengan urat-urat yang terbentuk di tangan kekarnya.
"Señor, calma. Semua bisa di atasi. Jangan memberontak dengan menimbulkan suara. Mr. Alfeet sudah mewanti-wanti kita."
"Gwen, bagaimana bisa aku tenang? Kau tahu jelas video itu adalah video baru! Dengan suara penyiksaan yang telah ku lakukan cukup lama. Dalang dari ini semua lebih licik dari yang ku kira. Bahkan dengan berani mengedit video itu dan di sebar ke dunia Maya."
"Señor. Menurut saya mereka hanya memancing kemarahan anda. Mereka tahu bahwa kekuatan anda cukup hanya untuk membungkam. Calma, Señor. Jangan gegabah."
"Bagaimana dengan penyelidikan mu? Kau hanya mampu membuatku tenang dengan kata-kata idiot itu. Sedangkan sekarang kondisinya mendesak. Selovelia grup bisa hancur reputasinya jika hal ini terus terjadi."
"Saya sudah mendapatkan letaknya, Señor. Tapi di sini saya kesulitan menemukan identitas yang menjadi background Glen Johnson."
"Dia bukan orang biasa. Harga saham di Selovelia menurun. Kau juga cepat bergerak untuk bertemu dengan pemilik FeYier Grup. Aku bunuh umpan, untuk mengalihkan masalah ini." Titah Thelio, membuka pematik api dan membakar ujung cerutunya.
"Baik, Señor. Akan segara saya laksanakan." Membungku Gwen berucap, sebagai tanda hormatnya pada Thelio.
"Aku melupakan sesuatu." Desis Thelio, bangkit dan menatap hamparan kota Albarracin yang nampak begitu klasik dengan bangunan-bangunan kuno. Bangunan tersebut seperti sengaja di pertahanan sebagai suka cita warisan leluhur.
"Mengapa tidak kita masukkan saja kasus ini ke pengadilan internasional? Biarkan Glen Johnson muncul tepat di hadapan ku dengan dukungannya. Dari sana, terlihat bahwa musuh akan muncul."
"Kita tidak perlu repot mencari dan memakan banyak biaya." Lanjut Thelio.
"Señor, ini terlalu berbahaya. Keselamatan anda akan menjadi pertanyaan besar. Ditambah, yang ditakutkan adalah ketika semua terkuak di permukaan. Mr. Alfeet akan ikut terseret, tidak hanya itu Selovelia Grup akan diambang kehancuran yang sebenarnya. Hukuman yang anda dapat bisa jadi lebih berat, bahkan hukum mati." Gwen berucap dengan nada penuh kekhawatiran.
"Bukan seperti itu Gwen. Masukkan laporan atas tuduhan palsu. Edit kembali saja video-video mereka, buatlah seolah Glen Johnson yang ingin mencari muka dan terkenal kembali. Rubah opini publik."
"Untuk George Lonen, sembunyikan dia dengan baik. Jangan siksa dia dulu. Jika perlu luka-luka itu harus sembuh."
"Selajutnya cari orang yang bisa menghipnotis. Buat saja George Lonen sebagai bukti palsu. Buat seolah-olah aku lah yang selama ini menyelamatkan George Lonen dari keburukan dalang ini semua!" Thelio remas cerutunya, lantas dia buang asal.
Gwen meneguk ludahnya, cukup berbahaya. Sebab apa yang di lakukan Thelio penuh dengan kebohongan.
"Baik, Señor. Akan saya kerjakan."
BERSAMBUNG....
__ADS_1