
Asalkan kalian tahu, cinta Abama benar-benar tulus pada seorang Yasie. Bahkan dia yang dulu seorang miskin pun berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki hidupnya. Agar kelak Yasie—wanita yang dia cintai dapat hidup dengan layak. Tidak ada sebab mengapa Abama mengatakan bahwa cinta itu busuk.
Cinta dengan penuh kasih di balas oleh Yasie dengan sebuah keburukan. Membawa Abama ke dalam fase terjebak akan perasaanya sendiri. Yasie membawa cerita hangat di dalam hidup Abama, begitupula dia membawa kisah paling buruk di dalam hidup Abama. Ibarat kata, cinta Abama sudah habis di Yasie. Sisanya dia hanya untuk melanjutkan hidup. Hidup tanpa lagi mengenal kisah cinta.
Tubuhnya sempoyongan, berjalan dengan benar menuju ke unit apartemennya. Abama buka dengan menggunakan id card yang di miliki. Berjalan masuk, dan tumbang di dekat sofa TV. Memegang kepalanya sakit. Tatapannya menyeluruh dengan ingatan suka maupun duka.
"Abama. Aku tidak butuh apapun dari mu. Yang aku butuhkan hanya satu, jiwamu utuh, ragamu bersamaku selamanya."
"Akan aku usahakan, sayang. Apapun demi kebaikan kita di masa depan. Tunggulah aku, tunggu aku sampai sukses dan akan ku nikahi kau di hadapan Tuhan."
"Maafkan aku Abama. Tapi data ini penting untuk ayahku."
"Berikan Yasie! Akan aku bantu perusahaan ayahmu, asalkan kau berikan dulu itu. Sayang, menurutlah."
"Tidak bisa Abama. Tanpa ide-ide dari mu, percuma saja perusahaan ayahku akan tetap hancur."
"Maka jangan gunakan uang hanya untuk berjudi! Ayahmu harus tahu bahwa menjadi pengusaha itu ada masa jatuh bangunnya."
"Kau mengejek ayahku Abama? Apakah karena kau kaya sedangkan kita rakyat jelata?"
"YA! AKU MEMPUNYAI PENYAKIT MANIAK! MENANG KENAPA? KAU YANG TERLALU SIBUK, SAMPAI AKU HARUS MENCARI PRIA LAIN!"
"Siapa wanita-wanita itu Abama? Kenapa kau menutupinya dariku? Apakah kau takut?"
Prang!
Abama raih asbak kaca di hadapannya. Membuangnya asal, sampai membentur dinding. Rasa marah bercampur dengan kecewa yang amat dalam. Bayang-bayang Yasie dan dia dulu menjadi bayangan paling mematikan.
Alexandra terbangun, dia langsung berdiri sigap. Mata sayunya, menjadi segar tak kala melihat pecahan asbak berceceran di lantai.
"Abama? Kau mabuk?" Tanya Alexandra pelan. Dengan gemetar tangannya memegang suhu tubuh Abama yang panas. Keringat membanjiri tubuhnya. Matanya merahd dengan penampilan buruk.
Mata sayu Abama menatap Alexandra. Gadis kecil yang dulu sempat dia lihat itu kini cepat sekali dewasanya. Ucapan George Lonen yang begitu antusias saat menceritakan putri kecilnya, dan sebuah janji untuk melindungi. Itu semua syarat, karena Lonen grup sudah banyak membantu FeYier Grup. Sepertinya George sudah mempunyai ramalan akan masa depannya sendiri.
Akan tetapi, George begitu bodoh bukan? Menitipkan putrinya pada ba-jingan seperti dirinya?.
"Ambilkan aku minum!" Perintah Abama. Berlari Alexandra ke arah dapur. Segera dia ambilkan air untuk Abama. Laki-laki itu meminumnya dengan sangat rakus, seolah tenggorokannya benar-benar kering dan butuh guyuran air.
Sesaat kemudian, Abama muntah. Mengotori seluruh badannya sendiri begitupula lantai dan sofa. Alexandra menutup mata, hidung dan mulutnya. Menjijikan! Rasanya ingin mual. Laki-laki itu makan apa saja? Hingga yang dia muntahkan berupa cokelat, kuning dan hijau. Tolong untuk tidak membayangkan hal menjijikan itu. Cukup Alexandra saja yang menanggung.
Menghela napasnya, dan mulai Alexandra membangunkan Abama. Membawa pria berbadan Hulk itu ke dalam bak mandi. Menguyurnya dengan air hangat. Tetap terpejam, tidak terbuka sama sekali. Biarkan dia berendam, dan Alexandra membersihkan ruang tamu. Baunya jangan di tanya! Seperti sampah! Melebihi itu!.
Abama di rendam dengan air hangat dengan kondisi memakai celana. Alexandra bingung di sini, ingin sekali dia mengganti pakaian Abama. Tapi.... Ini gila! Dengan dia mengganti pakaian Abama maka dia akan tahu jelas seluruh tubuh pria itu. Tidak! Lebih baik membangunkan pria itu sendiri.
"Abama. Bangunlah. Ganti pakaian mu sendiri." Ucap Alexandra, mendorong keras tubuh pria itu.
Bahkan menepuk-nepuk dengan amat keras. Lumayan juga untuk menyalurkan rasa kesalnya pada Abama.
"Bangun! Bangun! Kau itu payah mabuk, bergaya mabuk! Lihat kondisi mu sekarang, lemah tidak berdaya." Oceh Alexandra. Mencubit hidung mancung Abama. Memukul-mukul pantat Abama, menarik rambut ketek pria itu dan terakhir mencubit bibirnya. Lega! Seluruh kesalnya hilang.
Bahkan Alexandra tertawa keras karena hal itu. Asik tertawa membuat gadis itu tidak sadar bahwa Abama terbangun.
"Gadis cabul." Desisnya, lantas bangkit. Masih dengan kepala yang pusing, namun lebih mendingan daripada tadi.
Buru-buru Alexandra keluar dari kamar mandi Abama. Sayang sekali, tangan Abama sudah meraih pinggang kecil Alexandra. Dan kedua manusia itu pun tercebur ke dalam bathtub.
__ADS_1
"AA TIDAK!" teriak Alexandra.
"Lepaskan! Aku tidak bisa terkena air di tengah malam!"
"Tidak."
"Lepas! Aku akan masuk angin."
"Akan ku bantu mengeluarkan anginnya."
Kening Alexandra berkerut, "bagaimana caranya?"
"Dengan mengambilnya dulu, baru di keluarkan. Lalu di kembalikan dalam bentuk cairan lendir putih penuh kecebong mini."
"What! Lebih baik aku masuk angin." Balas Alexandra. Abama tertawa kecil, dia lantas semakin mengeratkan pelukannya pada Alexandra. Menaruh kepalanya di punggung gadis itu dan menghirup aroma baru yang menenangkan bagi Abama.
"Jangan tidur! Nanti punggung ku bisa patah!" Larang Alexandra. Masih dengan mode ingin bebas dari jeratan kedua tangan Abama.
"Mandi bersama." Ucap Abama, dan membuat wajah Alexandra syok. Dia bahkan membulatkan matanya.
"Jangan Abama. Ku mohon." Mohon Alexandra, saat tangan Abama mulai melepaskan pakaian yang melekat pada tubuhnya.
Menangis sampai dibuatkan. Tidak membuat Abama menggubris sedikit pun. Dia melucuti setiap helai kain di tubuh Alexandra. Memberontak, memukul bahkan meninju-ninju tidak mempunyai efek pada tubuh Abama.
"Abama! Keluar! Aku malu! Kau berkata tubuhku jelek. Maka pertahanankan semua itu."
"Aku menelan kembali kalimat itu. Tubuhmu indah. Aku suka." Ucap Abama, menjilat bahu Alexandra. Di bawah guyuran shower Abama melancarkan aksinya untuk membuat Alexandra tertekan.
Meraba kue apem Alexandra, menggoda biji mete di buah dadanya, menjilati setiap inci tubuh Alexandra serta membuat gadis itu merasakan batangnya yang sudah tegak seperti tongkat bisbol.
"A-ahhh." Alexandra langsung membekap mulutnya. Menangis, nikmat serta sakit di hatinya.
Abama menatap wajah Alexandra tajam. Mencekam rahang kokoh Alexandra dan mengigit bibir gadis itu.
"Apakah kau kira aku sudah membayarkan uang rumah sakit Alexandra?" Bisik Abama.
Mata Alexandra melotot, "kau menipu ku??"
"ABAMA KAU MENIPU KU?" ulang Alexandra.
"Lalu bagaimana dengan Varel? Dia—"
"Dia sekarang berada di luar. Di letakkan dekat ruang mayat." Potong Abama.
Luruh, tubuh Alexandra merosot jatuh di lantai kamar mandi. Membayangkan Varel yang tengah kedinginan serta ketakutan sedangkan dia di sini terlindungi dengan ruangan hangat. Kakak macam apa dia itu? Tidak becus sama sekali.
"Abama... Ucapkan dengan jelas apa mau mu?" Dengan tatapan kosong, pasrah serta tidak berdayanya Alexandra bertanya. Dia menangis kecil. Tidak ada lagi keputusan yang mampu membuatnya berpikir jernih. Dia sudah berada di ujung kehidupan.
Awal kisah suram yang benar-benar akan di mulai.
"Kapanpun aku membutuhkan lubang kecilmu, maka kau harus siap."
"Hanya tubuh ini, Abama?" Tanya Alexandra.
"Apa lagi yang mampu dibanggakan dari dirimu sendiri, selain tubuh molek mu Alexandra?"
__ADS_1
"Ya kau benar." Alexandra berdiri, dan merangkul Abama dari belakang. Menggoyangkan pinggulnya sampai membuat batang Abama kembali tegak, dan semakin keras.
"Ku anggap kau telah menjadikan ini keputusan mu Alexandra. Tidak akan ada celah lagi kau dapat keluar dari lubang yang kau gali sendiri."
"Aku tidak akan menyesal. Sebab, hidup adikku lebih berharga daripada hidup ku sendiri."
Abama mengigit cuping telinga Alexandra. "Ya benar, sayang. Hidup mu memang tidak penting. Kau terlahir memang untuk melayani ku, benar?"
"Kau benar." Dengan nada bergetar, Alexandra menjawab pertanyaan Abama. Dia membenarkan, sudah tidak ada masa untuknya bangga atas dirinya sendiri.
Semua telah lenyap, hal yang dia jaga selama ini harus ikut musnah. Sudah tidak ada apapun dalam diri Alexandra. Jiwanya rapuh, dengan hidup penuh pilu. Pilihannya memang hanya dua; Varel mati atau dia yang mati.
Abama bawa tubuh molek Alexandra ke dalam bathtub. Dia letakkan dengan kasar, sampai kepala Alexandra membentur marmer. Sedikit pusing, sampai membuatnya mengejapkan mata.
Abama tersenyum, lantas mengelus kepala Alexandra. Menciumnya dengan brutal, sampai terasa tersedot. Tangannya bergerilya penuh mengusik tubuh suci Alexandra. Mengelus dan masuk ke dalam.
Suara desah yang kini terdengar, masih begitu kecil dan malu. Alexandra melebarkan pahanya, memberikan akses untuk Abama menguasai semua hal yang ada di depan mata. Abama mainkan buah pepaya Alexandra, dengan biji mete yang tertancap. Lantas dia hisap kuat.
"A-abama! B-bisakah kau pelan? Seluruh tubuhku sakit!" Desak Alexandra, berkomentar. Padahal tongkat sakti Abama belum menancap, entah bagaimana bisa sudah merasakan sakit?. Oh, jadi seperti ini rasanya menyetubuhi gadis perawan. Yasie dulu menikah dengannya sudah tidak perawan, mengaku bahwa dia sudah mencoba sejak SMA. Bodoh juga Abama pada saat itu.
"Bagaimana bisa pelan, sayang? Sedangkan tubuhmu selalu meminta lebih dari sekadar sentuhan." Abama lu-mat bibir Alexandra. Ciuman dalam pun mulai dia atraksikan. Di mana lidahnya menjulur mendalam, sampai kerongkongan, ludahnya dia tukarkan dengan ludah Alexandra. Menyentuh semua bagian langit-langit mulut Alexandra. Terakhir Abama mengabsen setiap gigi Alexandra.
Abama telan, lantas keluarkan. Sampai membuat cairan salivanya muntah-muntah. Mulut Alexandra penuh dengan napas, serta ludah Abama. Membuat gadis itu melotot tidak sanggup mengimbangi ciuman brutal Abama.
"A-ahhh" terlepas, sampai membuat napasnya memburu.
Tangan Abama terjulur jauh sampai ke hutan rimba. Menggodanya dengan memberi sentuhan-sentuhan hangat. Alexandra bergerak gelisah, tidak sadar pantatnya dia angkat tinggi-tinggi guna meraih batang Abama. "Tolong." Ucap Alexandra, matanya memerah dengan wajah memohon. Tubuhnya mendadak panas dengan nafsu yang sudah tidak tertahan.
"Memohonlah yang benar." Ucap Abama.
Alexandra tidak tahu, apa yang harus dia lakukan. Tapi yang pasti tangan Abama tidak berhenti menggoda area sensitifnya. Memberi elusan lembut di punggung, pinggang, paha dalam sampai mengigit gemas cuping telinga dan hidung Alexandra.
Dua jari Abama masukkan, menggoda labia Alexandra. Membuka-buka nya dengan gerakan sensual. Dia pijat kecil ******** Alexandra. Dan di sanalah kegilaan Alexandra tiba.
Dia mendesah panjang, sangat amat panjang. Melengkung sempurna setengah lingkaran punggungnya. Cairan bening muncrat begitu deras dari alat kelaminnya. Abama sampai terkekeh, lantas menepuk pantat Alexandra kasar-kasar. Sampai merah.
"Sensitif sekali kau." Bicaranya pada alat kelamin Alexandra. Dia mencubit kecil labia mayor Alexandra.
"A-aku mohon Abama. Masukkan!"
"Sesuai perintah mu, sayang." Ucap Abama. Mengangkat tubuh Alexandra. Dan membawanya ke dalam ranjang.
Terbanting kecil punggungnya, Abama pijat batang besarnya sebentar. Lantas Alexandra lebarkan pahanya. Sangat amat lebar, seakan siap untuk pengocokan.
Langsung saja Abama tusuk Alexandra kuat. Dalam. Terbentur rahimnya.
"AAAAAA SAKITTTTT!!! KELUARKAN ABAMA! KAU BRENGSEK!" teriak Alexandra menangis keras. Tangannya mendorong-dorong tubuh Abama.
Abama raih tangan Alexandra, dan dia ikat kedua tangannya menggunakan dasinya yang terselampir di meja. Abama tutup mulut Alexandra dengan sebuah ciuman di akhirnya dia tutup dengan lum-atan.
Bergeraklah pinggul Abama. Dia memang manusia tidak mempunyai perasaan. Abama keluar-masukkan batangnya, dan menusuk dengan kuat, dalam. Dia sentak-sentak pinggul Alexandra. Menghujani dengan sangat amat kuat.
Bergoyang ke sana kemari tubuh Alexandra. Tidak tersisa sama sekali untuk memprotes kecuali satu—menjeritkan nama Abama.
Flashback off
__ADS_1
**BERSAMBUNG**......
Sampai jumpa di Sabtu dan Minggu🌷