
Mulai saja lidah panjang Yasie menjilat ke sana kemari. Membuat basah leher kekar Abama. Kecapan demi kecapan yang menggoda, ia belai dengan tangan panjang lentik.
"Apakah aku hanyalah pela-cur berkedok seorang istri?" Tanya Yasie tepat di depan wajah Abama.
Tersenyum tipis Abama membalasnya. "Andai kau bukan istriku. Sudah tidak sudi aku memakai mu, Yasie." Sertak Abama, melempar tubuh Yasie pada di sebuah lantai.
Ruangan itu gelap, cahayanya hanyalah sebutir-butir, seperti tidak niat memberikan cahayanya untuk menerangi ruangan itu. Kamar yang dulunya adalah tempat Abama mengeluarkan inspirasinya, kini dia rubah menjadi tempatnya bercumbu dengan Yasie. Semenjak Yasie mulai memamerkan lubangnya pada banyak orang, dan saat itulah Abama murka dan bertambah gila.
"Bo-kong ku sakit, sayang." Keluh Yasie, memegang pantatnya yang ter-ekspos.
Abama buka dasi yang melilit lehernya, membuang asal. Membuka cepat pula baju yang dia pakai. Telanjang dada kini, Abama di depan Yasie.
Yasie langsung saja bangkit, bergelayut manja memegang otot-otot kekar Abama.
"Kira-kira siapa selingkuhan mu, sayang?" Tanya Yasie, menurunkan tangannya memegang batangan Abama yang sudah berdiri tegak seperti tongkat bisbol.
"Untuk apa kau tahu? Aku saja tidak berurusan dengan selingkuhan mu." Jawab Abama, memegang pinggang ramping Yasie. Membawanya ke dalam pelukan dengan tangannya yang menekan-nekan buah peach Yasie.
"Kau yakin?" Ulang Yasie, hendak mencium bibir Abama. Namun sayang, laki-laki itu begitu cepat membawanya pada sebuah tiang besar. Gambaran mudahnya, seperti tiang latihan pull up.
"Bisakah kita bercinta dengan lembut?" Kesal, dan memprotes cara Abama memberlakukannya tidak adil.
"Selingkuhan mu kau ajak bercinta enak, di kasur hotel. Menusuk dengan tenang, penuh kelembutan. Sedangkan saat bersamaku, kau hanya memainkan alat vital ku dengan alat-alat menjijikan itu. Sialan kau Abama!"
Abama tidak peduli akan ocehan Yasie. Dia lantas mengambil vibrator di nakas lacinya. Dan memasukkannya tepat di lubang besar bau milik Yasie. Menyalakan dengan gerakan super cepat, di saat lubang Yasie masih kering kerontang.
Menetes air mata Yasie, tangannya terikat oleh rantai. Kakinya di gembok kuat dengan palangan besi.
"Ahhhh. Ahhhh. Abama. Kau GILA!" Terkoyak habis lubang miliknya. Bergetar-getar serasa terhimpit dengan begitu kuat. Vibrator yang menekan-nekan begitu dalam, dengan ukuran yang besar.
"Aku gila? Lalu kau dan ayahmu apa?" Tanya Abama, menekan masuk ke dalam alat vibrator itu. Menelisik sampai mengedor rahim Yasie. Juling naik ke atas, dengan dada membusung dibuatnya.
"Eughh!! KAU YANG TELAH MENGKHIANATI KU LEBIH DULU ABAMA!"
"Jangan membawa-bawa topik ini keluar dari akar permasalahan." Terkekeh kecil, Abama duduk di sebuah sofa panjang. Menyalakan rokoknya, dan menikmati pemandangan indah di depannya.
Cairan Yasie tumpah-tumpah, sampai membuat paha bagian dalamnya basah dengan cairan kenikmatannya sendiri.
"Vibrator di ciptakan untukmu, Yas. Maniak se-ks." Cibir Abama.
Yasie diam, tak sanggup menjawab ucapan Abama. Sebab, kini tubuhnya lemas dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya. Ditambah posisi berdiri, yang membuat pinggulnya sakit.
Asap mengepul memenuhi wajah Abama. Matanya menelisik tajam pada Yasie yang tengah menikmati vibrator yang telah terpasang. Lubang baunya pun tambah menganga. Bergelambiran jatuh, dengan keringat yang memenuhi seluruh badan. Punggungnya melengkung-lengkung, memerah.
Abama bangkit, mencabut vibrator itu yang membuat cairan Yasie tumpah tidak terkendali. Melihat kondisi istrinya, dari atas sampai bawah. Cukup seksi untuk ukuran standar wanita lacur.
__ADS_1
"Bisa kau kembalikan semua yang bukan hak mu, Yas?" Tanya Abama, tenang.
Yasie medongak, menatap nanar pada Abama. "Minta pada ayahku, Abama. Aku tidak tahu apapun tentang permasalahan mu dan ayahku."
"Manusia memang pintar berlagak bodoh. Namun di sisi lain juga, manusia memang makhluk yang bodoh."
Abama angkat kepala Yasie, mendongak keatas. Mencekam dagunya dengan kuat, sampai membuat pipi Yasie terjepit diantara jari-jari kekar Abama. Menunduk, dan sebuah hembusan hangat dia hamburkan di cuping telinga Yasie.
"Heh Yasie. Selingkuhan mu, oh bukan. Pacarmu sejak awal, hanyalah pria biasa. Hidupnya menumpang di apartemen milikku. Kau wanita yang terobsesi dengan batang besar, bang-sat dengan cinta."
"Kau ikut andil dalam ini semua Yasie. Bahkan telah aku sadari bahwa, kebencian ku padamu sebanyak cinta yang pernah aku berikan padamu kala itu. Lacur!" Terhantam kepala Yasie sampai mengenai gagang besi.
Abama ambil kembali vibrator yang tadi dia buang, memanjangkannya dan menambah kecepatan bergetarnya sampai ke tingkat paling tinggi. Dia tancapkan kedalam lubang Yasie. Begitu saja Abama meninggalkan Yasie diruangan itu. Penuh dengan suara desa-han. Menguncinya dari luar. Masa bodoh dengan Yasie yang mati akibat nafsunya sendiri.
****
"Siapkan seluruh persiapan ku ke Spanyol." Abama berucap kepada Erick.
"Tidak terlalu cepat?" Tanya Erick melalui sambungan telepon itu. Tengah membaca data-data di depan komputer. Tindakan yang akan di lakukan Abama menurutnya cukup berisko. Musuhnya banyak, bisa jadi Sandro mendapatkan celah. Bisa jadi Thelio lebih kuat dari informasi yang diketahui.
"Tuan Erial bersedia membantu, manfaatkan dengan baik sumber daya ini, Erick. Aku membutuhkan George Lonen—"
"Untuk membuat Alexandra tambah tunduk kepadamu?" Lanjut Erick.
Tut. Malas berdebat dengan obrolan yang merumitkan hidup. Cinta, dan cinta. Dia laki-laki dewasa dan Alexandra perempuan dewasa. Bahasa cinta orang dewasa cukup saja dengan harta dan uang. Bagi Abama, perempuan itu makhluk dengan medan magnet cukup tinggi. Daya tariknya hanya akan bergerak saat ada sebuah elektron yang besar. Elektron itu adalah harta dan kuasa.
Menolong George Lonen adalah sebuah keuntungan bagi Abama. Selain dia mampu membuktikan bahwa dia pantas di hadapan George. Dia juga bisa kembali membuat jasa, mendirikan perusahaan Lonen kembali.
****
Adit dan Bara duduk di depan Alexandra. Tatapan mereka sungguh serius. Seakan apa yang akan di bicarakan adalah hal besar dan rahasia. Sampai-sampai mencari tempat yang sepi. Takut sekali jika ada dinding yang dapat mendengar pembicaraan ini.
"Alex. Aku mendengar, kau dekat dengan Bos Besar?" Tanya Bara. Gelagat si Yuli itu mengkhawatirkan umat.
Alexandra menghembuskan napasnya. Siap bercerita di depan Bara dan Adit. Namun, dia ragu. Apakah benar keputusannya ini?. Tidak! Jangan dulu. Lebih baik bercerita ala kadarnya saja. Jangan terlalu rinci.
"Kalian pasti terkejut."
"Alex!!! Ayo langsung saja cerita. Kita takut banget kamu kenapa-kenapa. Ditambah rumor si bos besar itu gak baik."
"Kalian sudah tahukan kalau aku ini anak dari George Lonen?"
"Tahu!" Serentak Bara dan Adit menjawab.
"Bos besar itu temannya ayahku dulu. Dia ternyata mempunyai hutang budi. Dan mau menyelamatkan ayahku dari tangan penjahat Spanyol. Kasusnya juga sudah semakin menguak. Banyak hukum, serta cercaan netizen yang sudah memenuhi media. Jadi kesimpulannya aku kemarin hilang itu karena membantu mengurus semua hal tentang perusahaan Lonen. Dan aku di beri pekerjaan oleh Tuan Abama."
__ADS_1
"Plot twist kamu di luar prediksi BMKG, Lex!!" Celetuk Adit. Memegang dadanya, tidak main-main. Tidak salah juga dia berteman dengan Alexandra. Walau mantan orang kaya. Tapi setidaknya keberuntungan orang kaya itu tetap melekat.
"Kamu kerja di mana?" Tanya Bara. Alexandra tersenyum, menatap miris dirinya sendiri. Kerja ya Bar? Kerja jadi budak nafsu. Menyakitkan bukan?.
"Aku kerja di kantor pusatnya, Bar. Di bagian terjemahan. Aku kan dulu kuliah sastra. Walau gak sempat selesai sih."
"Puji Tuhan. Akhirnya hidup kamu ada titik terangnya, Lex." Bara menepuk bahu Alexandra.
"Sumpah, Lex. Aku jadi terharu. Kehidupan kamu sebelumnya penuh liku banget. Tuhan baik banget ya sama kamu. Semoga berkat Tuhan juga mengalir di kehidupan ku."
"Tenang Dit. Berkat Tuhan selalu di sekeliling kita."
"Ya sudah, buruan pulang aja Lex. Si Varel pasti udah nunggu kamu."
"Iyaa. Aku pamit ya. Kalian yang semangat kerjanya. Mungkin pas weekend atau pas ada waktu bisa main bareng lagi. Deep talk mungkin?" Canda Alexandra.
"Alamat rumah kamu ganti? Nomer ponsel kamu juga ganti kan? Bagi dong anak kantoran."
"Jangan gitu, Bar. Ini aku kasih."
Melonggo mata Adit menatap handphone Alexandra. "Lex? 30 juta?" Tanyanya pelan.
"Ini bekas."
"Lex. Ketahuilah walaupun bekas harganya masih puluhan juta."
"Puji Tuhan Dit. Ini yang kasih Bos besar karena ponsel ku rusak."
"Udah jadi sugar daddy aja ya bos besar ke kamu." Canda Bara dan ditimpali Adit. Mereka tertawa. Sedangkan Alexandra mengangguk membenarkan. Tidak ada yang salah. Sesekali berdamai dengan fakta tidak buruk juga.
"Ya sudah. Aku pamit ya."
"Hati-hati ya Lex. Sukses terus buat kamu!!!" Teriak Adit. Di beri jempol oleh Alexandra.
Selepas ya Alexandra pergi. Bara dan Adit langsung saling tatap. "Ini udah jadi jalan Alexandra." Bara berucap, menyalakan rokoknya.
Adit menggeleng lesu. "Mau nangis. Tapi malu sama batang."
"Menurutku, mereka sudah lama. Terlihat dari Bos Besar yang waktu itu natap Alexandra beda. Bisa kamu rasakan kan?"
"Bisa, Bar. Aku sebenarnya udah curiga. Tapi aku takut... Ini masalah pribadi Alexandra. Dan dia sendiri juga malu sama dirinya sendiri. Kondisi yang menghimpit membuat banyak orang kalut ya? Kayak kita."
"Cobaan yang Tuhan kasih ke kita sebagai ladang meningkatkan amal ibadah. Tapi ada materi dunia yang lebih menggoda. Di sisi lain pula, jurang dengan janji lembah indah tepat berada di samping. Manusia punya jalannya masing-masing."
BERSAMBUNG.....
__ADS_1