MY DREAM

MY DREAM
95


__ADS_3

Aku sangat senang melihat pemandangan di rumah, aku langsung terbayang masa-masa aku dengan almarhum orang tua aku dan bersama keponakan aku.


“Ly tunggu, kita turunkan kursi roda dulu” kata Mike.


“Nggak usah Mike, aku gak mau semua orang khawatir nantinya. Ci, bantu kakak ya” aku melihat Maisy.


“Iya kak” jawab Maisy.


Aku mencoba untuk turun lalu kaki aku terasa kaku dan tidak bisa digerakkan “aw.. aw...” aku memegang kaki.


“Kenapa Ly?” tanya Mike dan Anggika.


“Kenapa kak?” tanya Maisy.


“Kaki aku terasa keram” jawab aku sambil sedikit meringis.


Anggika langsung memijit kaki aku dengan dibantu Maisy, setelah terasa lebih baik aku baru mulai jalan. Sedang yang lain sedang menurunkan barang-barang.


“Bagaimana Ly?” tanya Anggika.


“Sudah lebih baik, makasih ya” ucap aku.


Aku langsung jalan masuk dan diikuti oleh semua orang. Aku langsung salaman dengan semua orang sambil memeluk mereka maing-masing.


Ketika aku mau membungkuk ingin memeluk Qori dan Kayla, kaki aku terasa sakit lagi “aw...”.


“Ly kenapa?” tanya semua orang yang langsung khawatir.


Datang Anggika “sebaiknya kita masuk dulu. Lo harus pakai obat kamu Ly” ucap Anggika.


Aku langung masuk dengan dibantu Maisy dan Anggika.


“Unty kenapa ma?” tanya Qori yang cemas.


“Kaki unty lagi sakit, jadi kita masuk dan ketemu sama unty” Raisa menenangkan Qori dan Kayla.


“Ayo masuk..” ajak Doni pada semua orang.


Aku dan Anggika sedang berada dalam kamar tamu yang ada di lantai satu. Maisy keluar kamar sebab mau mengambil obat aku.


“Kak obat kak Laili mana?” tanya Maisy sama Mike.


“Ini..” Mike memberikan tas yang berisi obat aku.


Setelah Maisy mengambilnya, dia langsung pergi masuk kembali ke kamar tamu.


Semua orang sudah duduk di ruang tamu “Mike, kenapa dengan Ily. Apa pengobatannya gagal?” tanya mas Doni.


“Nggak mas, Laili masih dalam tahap penyembuhan. Mungkin dia terlalu lama duduk di pesawat dan di mobil. Tadi sampai sini dia langsung ingin mencoba berjalan, mungkin kakinya keram. Itu tadi ada dokter dia yang langsung menanganinya, mas sama mbak tenang saja” Mike menenangkan semua orang.


“Alhamdulillah” ucap semua orang yang tadinya cemas menjadi lebih tenang.

__ADS_1


Tidak lama aku keluar dari kamar tamu bersama Maisy dan Anggika.


Semua orang melihat kita “bagaimana Ly?” tanya mas Doni.


“Sudah lebih baik mas” aku langsung duduk.


“Oya mas, kenalkan itu Maisy adik aku dan disebelahnya dokter Anggika, anak dokter Agus yang menjadi dokter Laili. Mereka sama-sama spesialis darah, makanya Ken minta dokter Anggika ikut” penjelasan Mike.


“Anggi, Ci, kenalkan ini adalah keluarga Laili. Itu kakak pertamanya yaitu mas Doni dan disebelahnya kak Della istrinya, Kayla anaknya. Kemudian disebelah lagi dokter Raisa, kakak kedua Laili dan anaknya Qori sama Adam. Kemudian disebelah mbak Luna istri mas Angga” lanjut Mike memperkenalkan mereka.


“Anggika...” Anggika bersalaman dengan semua orang.


“Maisy..” juga ikut bersalaman.


“Silakan di minum” ucap Raisa/


Semua orang langung menikmati hidangan yang sudah ada disana. Aku melihat keponakan aku yang hanya sibuk dengan mainan masing-masing.


“Hai Qori, Kayla, gak kangen sama unty” ucap aku.


“Kangen...” jawab mereka.


“Sini kalau kangen” panggil aku.


Lalu Qori dan Kayla berlari menghampiri aku. Mereka langsung memeluk aku “bik Jum bisa bawa paper bag itu kesini?” kataku.


“Iya non” jawab bik Jum.


“Sebelum makan malam, lebih baik istirahat dulu dan bersih-bersih” ucap mas Doni pada semua orang.


“Iya mas” jawab semua orang.


“Luna, bik Jum antar mereka ke kamar yang sudah disiapkan” ucap Doni.


“Mas, aku kamar tamu dibawa saja sekarang ya. Biar dokter Anggi sama Maisy di kamar aku” kataku.


“Ya gak apa-apa” jawab Doni.


Aku tinggal di kamar tamu yang di lantai satu sebab aku belum bisa naik tangga dulu. Kamar aku akan dipakai oleh Anggika dan Maisy. Kamar Qori dipakai oleh Dave dan Jihan, sedangkan kamar mas Doni dulu di pakai oleh Mike, Eka, dan Beni. Kamar tamu di sebelah kamar aku di pakai oleh Vino, Dea, dan anaknya.


“Mas Rian mana mbak?” tanya ku pada Raisa.


“Mas Rian sedang dinas Ly, mas Rian tidak bisa minta cuti sebab ada operasi” jawab Raisa.


“Oh..”


“Kamu gak istirahat juga Ly?” tanya Della.


“Iya kak bentar lagi, aku masih kangen sama dua bocil ini” kataku sambil membelai rambut Qori dan Kayla.


“Jangan terlalu kecapekan Ly, kamu baru sembuh” kata Doni.

__ADS_1


“Iya mas” jawab aku.


Pagi harinya setelah sarapan kita langsung menuju perkebunan. Disana Tejo pun sudah menyiapkan keperluan kita semua.


***


Beberapa hari kemudian Ken, Galu, Frans dan istrinya sudah sampai Indonesia. Mereka langsung terbang ke kampung aku, tapi mereka tidak langsung ke perkebunan. Mereka akan menginap di hotel Ken yang sudah dibelinya.


Angga yang menjemput mereka ke bandara. Setelah selesai mengantar Ken ke hotel, dia langsung menuju perkebunan. Sebab disana sekarang lagi sibuknya dengan pembukaan yang akan segera dilaksanakan. Tidak hanya acara pembukaan tempat wisata, tapi juga merayakan ulang tahun aku.


Aku sedang duduk di gazebo depan penginapan sambil memainkan ponsel. Aku mencoba mengirim pesan pada Ken.


“Kamu dimana? Apa kamu gak akan pulang ketika pembukaan?”.


Ken membalas chat aku “akan aku usahakan. Kalau memang aku tidak datang, kamu harus tetap melaksanakannya. Kasihan sama karyawan yang sudah lama kita terima bekerja disana”.


“Iya aku tahu. Tapi gak asyik kalau kamu tidak hadir juga. Sebab tempat wisata ini bukan aku sendiri yang membangun tapi kamu juga”.


“Iya aku usahakan. Tapi kamu harus tetap jaga kesehatan dan jangan lupa minum obat. Dengarkan apa yang dikatakan Mike sama Anggika”.


“Iya bawel. Sekarang Mike sudah sama dengan kamu suka bawel dan maksa aku”.


“Haha... itu sudah menjadi tugasnya. Sudah dulu ya, aku mau meeting ini”.


“Oke...”.


Ketika aku membalas chat terakhir Ken datang Maisy “kak...”.


Aku melihatnya “iya, ada apa?”.


“Enak loh disini kak, udaranya segar dan pemandangannya indah. Sepertinya aku akan beta disini” Maisy senang.


“Jangan dulu ya, selesain dulu kuliah kamu. Nanti baru kesini lagi kalau sudah selesai” lalu aku melihat Anggika bersama Tejo dari perkebunan “itu bukannya dokter Anggi?” tunjuk aku.


“Iya. Tadi kak Anggi ajak aku keliling perkebunan tapi aku gak mau panas. Jadi mas Tejo yang menemaninya keliling” cerita Maisy.


“Emang yang lain kemana?” tanya ku.


“ Sedang ke peternakan sama melihat tempat wisata. Apakah masih ada yang kurang dalam pembukaan nanti” ucap Maisy.


“Oh... temani kakak ke kuburan yuk?” ajak aku.


“Ayo..”.


Maisy menemani ke kuburan orang tua aku. Selama aku disana aku selalu kesana setiap harinya. Kalau gak Maisy yang menemani aku, Jihan juga siap menemani aku.


“Kenapa kamu mau menemani kakak kesini, Ci. Bukannya kamu bilang tadi panas ya?” tanya aku ketika kita jalan.


“Beda kak, kalau kesini kan sejuk banyak pepohonan kiri kanan. Kalau masuk perkebunan mana ada kak” kata Maisy.


“Kamu ya, katanya tadi senang disini tapi kena panas saja gak mau” aku tersenyum.

__ADS_1


“Itu beda lagi kak” ucap Maisy.


__ADS_2