
Aku dan Ken akan kembali ke Jakarta sebab Ken harus mengerjakan beberapa kerjaaan. Kita kembali dengan membawa Cici sebab Cici akan berobat sekalian menjauhkannya dari masalah yang terjadi di kampung.
Kita semua pamit pada keluarga besar aku. Jihan juga ikut kembali ke Jakarta. Sebab dia juga yang akan membantu persiapan resepsi disana. Lagian Dave juga sudah ada di Jakarta karena membawa Putri ke markas.
Berapa jam di perjalanan darat dan udara, malam harinya kita sampai di mansion. Aku dan Jihan mengantar Cici ke kamar tamu. Setelah itu kita gabung dengan Ken dan Eka yang ada di ruang tamu.
“Bagaimana?” tanya Ken.
“Mungkin dia kelelahan makanya tidak teriak-teriak Bi” jawab aku.
“Kalau gitu gue pamit pulang ya” ucap Eka.
“Kenapa gak nginap disini saja” ajak Ken.
“Gue besok ada sidang pagi, gue pulang saja” kata Eka.
“Lo nginap disini kan Han?” aku melihat Jihan.
“Iya, lagian Dave masih di markas keknya. Tadi dia juga nyuruh gue nginap disini” ucap Jihan.
“Kalau gitu gue pamit” Eka langsung pamit.
“Bik...” panggil Ken.
Lalu datang pembantu “iya tuan”.
“Kamar tamu satu lagi sudah disiapkan?”.
“Sudah tuan, di sebelah nona tadi” jawab pembantu.
“Kalau gitu gue istirahat ya, lo juga” Jihan melihat aku.
“Iya..” jawab aku.
Jihan sudah ke kamar tamu bersama pembantu.
“Kita ke kamar yuk, istirahat juga” ajak Ken.
“Kamar yang mana?” tanyaku.
“Inginnya kamar yang mana?”
“Terserah Bi saja”.
“Kita ke kamar kamu, semua barang aku sudah di pindahkan kesana. Nanti kamar aku kita berikan pada anak-anak kita” ucap Ken.
“Bisa aja, ayo” aku berdiri.
Kita langsung ke kamar aku yang akan menjadi kamar kita mulai dari sekarang. Lagian kamar aku memang lebih besar dari pada kamar Ken. Kamar utama mansion itu terletak di lantai satu yang di tempati oleh almarhum orang tua Ken. Sampai saat ini kamar itu tidak di pergunakan, hanya berisi foto-foto dan kenangan orang tuanya.
Setelah bersih-bersih Ken siap-siap sholat isya “sayang sholat dulu yuk” ajak Ken yang baru keluar dari ruang baju.
__ADS_1
“Maaf ya Bi, malam ini Bi sholat sendiri dulu sebab aku lagi gak sholat” ucap aku.
“Oh, iya gak apa-apa” Ken mencium kening aku.
Ken langsung sholat dan aku melihatnya dari atas tempat tidur. Ken sedang berdoa dan aku juga ikut mengaminkan doa Ken. Setelah Ken selesai sholat Ken menghampiri aku dan aku mencium tangan Ken sedangkan Ken mencium kening aku. Meskipun aku tidak sholat, apa yang sudah menjadi kebiasaan kita harus kita jalani.
Kita siap-siap untuk tidur “Bi...” kata ku.
“Iya, kenapa?”.
“Maaf ya Bi, sampai disinipun kita belum melakukan malam pertama. Maafin aku ya” aku minta maaf.
“Tidak apa-apa sayang, setelah kamu selesai datang bulannya baru kita lakukan. Ayo tidur sudah malam” ucap Ken.
Aku langsung bergeser mendekati Ken, aku tidur didalam dekapan Ken. Berapa hari ini Ken selalu memeluk aku sebab dia sering mendengar kalau aku sering menangis ketika tidur. Ketika Ken memeluk aku, aku tenang dan tidak menangis lagi. Sekarang pun jadi kebiasaan aku kalau tidur dalam pelukannya.
Pagi hari Cici bangun tidur langsung teriak-teriak. Jihan yang disebelahnya langsung kebangun dan masuk ke kamarnya. Beberapa pembantu yang sudah bangunpun langsung masuk kedalam kamarnya. Sebab Ken sudah menjelaskan pada semua pekerjanya kalau tiba-tiba Cici teriak, mereka harus langsung memegangnya.
Satu orang pembantu mengetuk kamar aku “Bi.. Bi..” aku terbangun.
“Ya...” Ken terbangun.
“Itu ada orang mengetuk pintu” ucap aku.
Ken langsung berdiri, sebab Ken memang tidak mengizinkan aku membuka pintu jika ada orang yang mengetuk. Sebab ketika aku tidur, aku memakai baju yang pendek. Sebab Ken tidak suka melihat aku memakai baju tidur lengan panjang.
Ken membuka pintu “ada apa?”.
“Tuan, nona Cici teriak-teriak” lapor pembantunya.
“Sayang, ayo pakai baju panjang dan kerudugnya. Cici teriak-teriak” ucap Ken.
Aku langsung ke ruang ganti baju mengambil celana panjang dan memakai kerudung yang bisa langsung pakai. Kemudian kita langsung ke lantai satu menemui Cici.
“Han, biar aku” ucap aku sebab Jihan sedang hamil nanti takut kenapa-napa dengan kehamilannya.
“Yang lain ambil minum” perintah Ken.
Ken sudah diberikan doa yang harus dibacakan ketika Cici teriak-teriak. Makanya dia minta minum segelas, setelah itu Ken memberikan pada Cici. Cicipun mulai tenang dan sudah bisa dilepaskan.
“Mas Eka.. mas Eka...” gumam Cici.
“Apa kita harus beritahu mas Eka, Bi?” aku melihat Ken.
“Tidak bisa sayang, dia kan ada sidang pagi ini” ucap Ken.
“Begini saja, kita hubungi dokter psikiater. Mungkin bisa membantunya” saran Jihan.
“Boleh juga, sebaiknya kita kembali ke kamar. Sekarang Cici sudah mulai tenang dan tidur kembali” ucap Ken.
“Terus yang menjaga Cici siapa, Bi?” aku melihat Cici yang tertidur.
__ADS_1
“Kalian yang akan menjaga Cici disini, kalau ada apa-apa beritahu kita” Ken menunjuk pembantu.
“Baik tuan” jawab dua orang pembantu yang di tunjuk Ken.
“Selebihnya keluar dan kerjakan pekerjaan masing-masing” perintah Ken.
“Iya tuan” pembantu langsung keluar kamar Cici begitu juga dengan aku, Ken, dan Jihan.
Sampai di luar kita ketemu dengan oma “ada apa Ken, Ly? oma tadi sedang sholat” tanya oma.
“Ini oma, sepupu Laili mengamuk, penyakitnya bangkit lagi. Kalau Cici teriak-teriak jangan oma ikut pegang ya. Nanti oma kenapa-napa” pesan Ken.
“Iya oma, betul kata Ken” kata aku.
“Iya oma paham” ucap oma.
Kemudian kita kembali ke kamar dan oma melanjutkan pekerjaannya. Sampai di kamar Ken langsung wudhu dan sholat subuh. Aku menyiapkan keperluan Ken.
Setelah membantu Ken siap-siap, ponsel Ken berdering.
“Bi, aku keluar duluan ya, aku mau lihat Cici” aku pamit.
“Iya sayang, aku angkat telvon Beni dulu” ucap Ken.
Aku keluar kamar dan Ken angkat telvon “ya, waalaikumsalam” jawab Ken.
“Kenapa lo telvon gue subuh-subuh?” tanya Beni.
“Lo siapkan seorang dokter psikiater untuk Cici dan berapa perawat untuk datang ke mansion. Nanti soal biaya lo gak usah khawatir” ucap Ken.
“Gue tahu, kalau lo yang minta mereka juga gak bakalan nolak kalik”.
“Gue tunggu di rumah hari ini. Lo harus datang sebelum gue ke kantor”.
“Lo bisa sabaran dikit gak, gue masih di rumah. Belum tentu juga mereka gak sibuk, gue harus mengatur jadwal mereka dulu” kesal Beni.
“Pokoknya sebelum siang, gak ada tawaran lagi”.
“Iya bawel, udah ah, gue mau ke kantor” Beni langsung menutup panggilan.
Setelah panggilan dari Beni berakhir, Ken keluar kamar. Sebab dia akan sarapan dulu bersama-sama. Sampai di meja makan sudah ada aku yang membantu oma menyiapkan sarapan dan jihan. Ternyata Mike sama Dave juga sudah duduk di meja makan.
“Kalian kapan datang?” tanya Ken.
“Barusan” jawab Mike dan Dave.
“Lo kerja juga hari ini, Ken?” tanya Dave.
“Iya, gue ada meeting. Kemarin Galu beritahu ada meeting siang ini” jawab Ken.
“Emang kalian gak pergi honeymoon?” tanya Jihan.
__ADS_1
“Pergi dong, tapi kalian kan tahu masih ada resepsi disini. Kita seleaian dulu resepsi disini dan masalah Cici. Setelah itu baru kita pergi honeymoon, benar kan sayang?” Ken melihat aku.
“Iya Bi” jawab aku.