
Aku sudah selesai bersih-bersih, Ken pun sudah mempersiapkan peralatan sholat. Kita akan melaksanakan sholat Zuhur berjamaah, meskipun ini bukan untuk yang pertama kalinya. Tapi ini adalah pertama saat kita berubah status menjadi suami istri.
“Ayo sholat” ajak Ken.
“Iya..” aku langsung memakai mukenah.
Kita langsung memulai sholat dan setelah selesai aku salaman dengan Ken mencium tangannya. Sedangkan Ken mencium kening aku “kegiatan seperti ini akan kita lakukan setiap hari” ucap Ken.
“Iya, aku juga senang” jawab aku.
Setelah sholat kita mengganti baju pergi ke kuburan orang tua aku. Sampai disana kita langsung membacakan surat yasin.
“Yah, bunda, sekarang aku sudah tidak sendirian lagi. Sudah ada yang menjaga aku, orang yang selalu mendampingi aku hampir satu tahun ini. Orang yang selalu membela aku disaat aku dalam kesusahan. Sekarang
ayah dan bunda gak usah khawatir pada aku. Terimakasih ayah... bunda...” aku mengungkapkan isi hati aku sambil menangis.
Ken menguatkan aku “Yah, bun, terimakasih telah melahirkan Laili. Perempuan yang mengajarkan aku banyak hal. Perempuan yang bisa mengontrol emosi aku, aku berjanji akan menjaga Laili sampai kapanpun. Sekarang
ayah dan bunda gak usah khawatir, Laili akan aku jaga sepenuh hati aku” ucap Ken.
“Terimakasih ya Bi, sudah mencintai aku dan menjaga aku satu tahun ini” aku langsung memeluk Ken.
“Sama-sama, aku akan menjaga kamu sampai maut memisahkan kita” ucap Ken.
Setengah jam kemudian kita kembali ke penginapan. Mike sudah menunggu kita di gazebo depan penginapan.
“Ada apa Mike?” tanya Ken.
“Begini bos, tadi Jihan bilang bahwa kita sekeluarga besar berkumpul di ruang meeting di tempat wisata untuk membicarakan mengenai Cici” kata Mike.
“Oh iya Bi, tadi aku yang bilang sama Jihan” aku melihat Ken.
“Ya sudah, ayo kita kesana” ucap Ken.
Tidak lama kita sudah berada di ruang meeting, disana sudah keluarga besar aku dan Ken. Kecuali Cici, ibu Cici, Resi, Dio, dan anak-anak lainnya. Mereka sudah pada menunggu kita sebab kita tadi memang lama di kuburan.
Aku dan Ken jalan sambil pegangan tangan masuk. Semua pun melihat pada kita yang baru masuk.
“Silakan dimulai” perintah Ken.
“Begini Ly, Ken, kita akan membahas mengenai Cici. Sampai saat ini Putri masih belum melepaskan Cici” ucap Angga.
“Solusinya bagaimana?” tanya Ken.
“Apakah resepsi kalian malam ini akan tetap dilanjutkan atau bagaimana. Sebab, kalau dilanjutkan Cici akan histeris seperti tadi” ucap Doni.
“Bagaimana sayang?” Ken melihat aku.
__ADS_1
“Sebenarnya aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Tapi bagaimana dengan undangan yang sudah kita sebar. Pasti mereka sudah siap-siap akan datang” kataku.
“Aku tidak setuju” ucap Raisa.
“Kenapa?” tanya Doni.
“Ini pernikahan Laili mas, dia adik kita satu-satunya. Aku tidak mau ayah sama bunda marah sama kita karena kita membedakannya. Kita menikah dulu dirayakan dengan mewah, aku tidak mau mas” penjelasan Raisa.
“Benar yang dikatakan sama Raisa, Don. Apa kamu ingin semua orang berfikiran negatif sebab tiba-tiba saja resepsinya batal” kata paman papa Resi.
“Begini saja, kita ambil saja jalan tengahnya. Apakah ada obat untuk Cici atau cara lain yang bisa membuat Cici tidak seperti itu” paman Jaya mengeluarkan pendapatnya.
Semua orangmelihat paman ayah Cici “paman, paman tahu kan sebenarnya obatnya?” ucap aku.
“Iya, paman sudah berusaha mengobatinya. Tapi tetap tidak bisa sebab Putri sendiri yang tidak mau melepaskan. Paman juga sudah menghubungi teman paman itu, katanya tidak bisa tergantung keinginan Putri” ucap paman ayah Cici.
“Mas, lebih baik katakan pada mereka. Mungkin itu bisa dilakukan” ucap papa Resi pada ayah Cici.
“Jangan...” ayah Cici tidak mau.
“Apa paman?” tanya Ken.
“Iya paman, lebih baik ceritakan pada kami. Mungkin kita bisa membantunya” lanjut Dave.
Aku teringat dengan perkatan Resi ketika make up tadi pagi “apa mas Eka satu-satunya orang yang bisa membantu, paman?” ucap aku.
“Maksudnya apa Ly?” tanya Eka yang tidak paham.
“Darimana kamu tahu, Ly?” tanya Angga.
“Resi yang cerita sama aku, tapi dia tidak mau ceritakan semuanya pada aku. Katanya dia takut akan seperti Cici” jawab aku.
“Paman, lebih baik ceritakan pada kami semuanya jalan keluarnya. Mungkin Eka juga sedia membantu” Ken melihat Eka.
Eka yang tidak paham juga hanya menatap Ken, tapi tatapan mereka berdua hanya Dave, Mike, dan Beni yang paham.
“Begini saja paman, ceritakan saja dulu. Mau tidak maunya mas Eka itu urusan nanti. Sebab kita tidak memaksa seseorang, setidaknya kita tahu ada obatnya” aku langsung menengahinya.
“Iya paman, ceritakan saja dulu” lanjut Ken.
“Baiklah kalau itu. Memang Eka yang bisa membantu sebab orang pertaman kali memeluknya adalah Eka. Jadi dia akan tenang kalau bersama Eka, aura tubuh Eka memang berbeda dari orang lain. Contohnya ketika acara akad tadi pagi, Eka ada di belakangnya makanya selama akad berlangsung dia aman. Tapi setelah Eka berapa meter, dia akan kambuh” cerita ayah Cici.
“Kemudian ketika dia mengamuk, Tejo diebelahnya langung dia dorong. Lalu Beni juga ada disana langsung di dorong juga. Terus Eka yang mendekat langsung dia pinsan dan tangannya di pegang erat tidak bisa lepas” lanjut ayah Cici.
Semua orang langsung mengangguk dan membayangkan apa yang terjadi tadi pagi “kenapa aku, paman?” tanya Eka.
“Paman tidak tahu, tapi memnag itu faktanya. Kalau tidak percaya pada masyarakat disini. Siapa yang kamu percaya disini, Angga, tanya sama Angga” ucap paman.
__ADS_1
“Bukan aku tidak percaya paman, tapi memang tidak masuk akal” ucap Eka.
“Benar Ka, kita sudah membuktikan dari beberapa kejadian yang sudah-sudah. Sebab Putri kalau sakit hati pada seseorang, dia pasti akan mencelakai orang itu. Tapi dia tidak tahu kelemahan dari perbuatan yang dia lakukan itu” kata papa Resi.
“Iya Ka, mas sudah sering melihatnya. Makanya mas tidak beritahu kalian dari kemarin sebab kalian tidak akan percaya” ucap Angga.
“Bagaimana cara kalau seandainya Eka bisa membantu paman?” tanya Ken.
“Kita tidak meminta yang berlebihan kok Ken. Eka hanya mendampingi Cici dan menjaganya di kamar saja selama acara berlangsung. Jangan izinkan dia keluar kamar, sebab kejadian wkatu itu malam hari. Jadi Cici tetap didalam kamar tidak boleh melihat kegelapan malam” ucap papa Resi.
“Keyakinan macam apa ini?”gumam Eka dalam hatinya.
“Bagaimana ka?” tanya Angga.
“Tunggu sebentar, Ka bisa kita bicara sebentar?” ucap Ken.
“Ada apa?” Eka melihat Ken.
“Ikut saja” Ken berdiri jalan keluar.
Eka langsung mengikuti Ken keluar dari ruang meeting. Lalu Dave, Mike, dan Beni juga mengikuti mereka keluar. Sekarang mereka berlima sudah berada di ruangan Ken.
“Kenapa?” ucap Eka.
“Keputusan lo apa?” tanya Ken.
“Aku gak mau, apalagi berduaan didalam kamar bocah itu” tolak Eka.
“Lo jangan salah Ka, dia sudah wisudah. Apa lo gak kasihan?” ucap Ken.
“Kasihan sih!” katanya.
“Ka, gue bukan ingin memaksa lo. Gue yang sering ketemu dia, dia dulu tidak seperti ini. Dia selalu ceria dan suka buat orang ketawa. Gue sebenarnya tahu cerita ini, sebab mas Tejo pernah cerita sama gue. Tapi gue gak mau maksa lo, gue hanya harap lo bisa buka hati nurani lo itu” ucap Dave.
“Iya Ka, gue dulu juga sering ketemu dia. Memang dia tidak pernah seperti ini, meskipun dia putus cinta tapi dia tidak terlalu memikirkan. Dia pasti selalu tersenyum” ucap Mike.
“Jangan ada dalam pemikiran lo dia itu bocah. Dia yang akan menggantikan Laili selama Laili ikut gue tahu. Dia juga pintar, tapi kamu ingin buat dia semakin hancur” ucap Ken lagi.
“Oke, baiklah saya bersedia membantu” keputusan Eka.
“Sekarang lo menolak, nanti lo jatuh cinta sama dia. Jangan main sama hati bro” ucap Beni.
“Lo apaan sih” Eka kesal sama Beni.
“Benar gak yang gue bilang Ken, Dave, Mike?” tanya Beni.
“Benar, lihat bos kita sama Laili” ucap Mike.
__ADS_1
Mereka semua langsung tertawa membayangkan masa lalu aku dengan Ken.