
Ketika mereka sedang bicara, ponsel Ken berdering. Ternyata panggilan video call dari Qori keponakan Laili.
“Assalamualaikum uncle....” ucap Qori.
“Waalaikumsalam Qori, apa kabar?”
“Sehat uncle. Uncle, unty mana?”
“Unty... unty di rumah sayang. Uncle sedang di kantor kerja, ada apa sayang?”.
Lalu muncul Raisa “Ken, maaf ya ganggu. Qori dari semalam pengen menghubungi Ily, tapi kenapa nomornya gak aktif sampai sekarang. Makanya mbak menghubungi nomor kamu, mungkin Ily bersama kamu. Ternyata Ily juga tidak bersama kamu”.
Ken merasa bersalah “maaf ya mbak. Sekarang Ken lagi meeting bersama teman-teman mbak” Ken mengarahkan ponsel pada semua orang.
Semua orang langsung melambaikan tangan “hai mbak, hai Qori...”.
“Berarti mbak ganggu dong, maaf ya” ucap Raisa.
“Iya tidak apa-apa mbak. Qori sayang, nanti kalau uncle sudah pulang kerja nanti uncle bilang sama unty ya” ucap Ken.
“Iya uncle, daa... uncle...” ucap Qori menutup telvon.
“Kalau sudah seperti ini, apa yang akan lo lakukan?” tanya Dave.
“Mike, lo datang ke kontrakan Laili dan bawa ponsel Laili. Kemudian lo pergi ke mansion minta oma menyiapkan baju-bajunya” ucap Ken.
“Lo emang tidak akan berusaha?” Dave bertanya lagi.
Eka langsung memegang tangan Dave agar tidak emosi “kita lihat saja apa keputusannya. Kita sebagai anak buah hanya bisa menjalankannya. Keputusan ada padanya” kata Eka.
“Oke..” Dave kembali diam.
Semua orang langsung pergi meninggalkan perusahaan Ken. Mereka pada menjalankan perintah dari Ken. Tinggal hanya Ken dengan Eka, sebab Dave juga pergi bersama Mike.
“Lo kenapa sampai sekarang tidak bisa mengontrol emosi lo sih. Sampai kapan lo akan seperti ini, untung kita yang jadi rekan kerja lo selama ini. Kalau orang lain tidak akan sanggup menghadapinya, tahu!” ucap Eka.
Dari kelima mereka bersahabat, Eka lah orang yang bisa berfikiran jernih dari begitu banyak masalah. Sedangkan Ken dan Dave memang memiliki emosi yang kurang stabil. Makanya mereka sering berdebat kalau bicara.
“Gue gak tahu, gue hanya sedang lagi banyak fikiran saja saat ini” jawab Ken.
“Itu bukan alasan, kita tahu lo. Setiap lo ada masalah dengan wanita incaran lo, memang lo seperti ini. Sebaiknya lo berubah kalau lo benar-benar ingin bersama Laili. Gue memang belum pernah ketemu dengan dia, tapi dari pembicaraan kalian gue bisa menilainya seperti apa” Eka.
“Menurut lo gue harus seperti apa?” Ken malah bertanya pada Eka.
“Lo sendiri tahu apa yang mau lo lakukan. Asal jangan mengikuti ego lo saja sudah” jawab Eka.
***
__ADS_1
Malam harinya datang Mike dan Dave ke kontrakan. Aku dan Jihan sedang menunggu makanan yang dipesan Jihan secara online.
Kita mendengar bunyi ketukan pintu “itu makanan sampai” ucap Jihan.
“Biar aku saja yang ambil” aku jalan menuju pintu.
“Dave.. Mike...” ucap aku ketika membuka pintu.
“Boleh kita masuk?” ucap Dave.
“Silakan masuk” aku membuka pintu.
Dave membawa pesanan kita yang sempat ketemu dengan mereka ketika jalan masuk rumah. Sedangkan Mike mendorong koper yang berisi baju aku sesuai perintah Ken.
“Silakan duduk” ucap aku yang duduk di sebelah Jihan.
“Ini pesanan makanan kalian tadi, kita ketemu di depan ketika mau masuk tadi” ucap Dave sambil meletakan makanan di atas meja.
“Iya, makasih” jawab kita berdua.
“Ly, gue juga mengantar ponsel lo dan baju buat lo sesuai perintah Ken. Lo harus aktifkan ponsel lo, sebab keluarga lo menghubungi lo dan nomor lo tidak aktif. Makanya tadi mereka menghubungi bos. Untuk itu bos merintahkan gue mengantar ini” Mike memberikan ponsel aku.
Aku mengambilnya “makasih” ucap aku.
“Bukannya datang membujuk aku untuk kembali malah menyuruh Mike membawa keperluan gue” kata aku dalam hati.
“Ly...” panggil Jihan.
“Mike bertanya sama lo” ucap Jihan.
“Kenapa Mike?” aku melihat Mike.
“Apa lo gak ingin kembali?” ucap Mike.
“Untuk saat ini biarkan saja aku disini dulu” jawab aku.
“Oke. Tapi mulai besok akan datang dokter dan perawat untuk membantu lo disini. Dokter Agus juga akan datang setiap hari untuk memperiksa lo. Sebab lo harus secepatnya ditangani, kalau tidak penyakit lo akan sama dengan penyakit mommy Ken parahnya nanti” Mike menjelaskannya.
“Kenapa dia tidak datang?” tanya aku.
“Dia sibuk mengurus pembukaan tempat wisata, katanya akan tetap di buka seminggu lagi” jawab Dave.
“Kenapa? Bukannya setelah aku sembuh?” tanya aku.
Semua orang mengangkat bahu “kita tidak tahu Ly. Keputusan ada padanya, kita hanya menjalankan perintahnya” jawab Mike.
“Bukannya seminggu lagi adalah ulang tahun Laili. Apa karena itu Ken ingin cepat membukanya sesuai dengan rencana awal Laili” kata Jihan dalam hati.
__ADS_1
“Terserah dia saja. Lagian aku juga tidak akan bisa ikut gabung untuk saat ini. Berarti Jihan akan kembali ke perkebunan dong” aku melihat mereka bergantian.
“Sepertinya iya Ly, tapi lo tetap semangat disini ya dan tetap berobat” ucap Jihan.
Malam semakin larut, Mike dan Dave pamit pulang. Jihan akan tetap menemani aku di kontrakan sesuai dengan perintah Ken. Ken tidak mengizinkan aku untuk tinggal sendirian sebelum orang-orang rumah sakit datang besok paginya.
Aku masih tidak habis fikir dengan keputusan Ken. Dia bukannya datang membujuk aku untuk kembali tapi dia memerintahkan orang-orangnya untuk tetap menjaga aku. Aku masih bertanya-tanya ada apa dengan Ken yang berubah menurut aku.
Aku sedang berdiri di balkon sambil melihat sekeliling. Sudah lama aku tidak menghirup udara di kontrakan aku. Aku baru saja selesai telvonan dengan keluarga aku.
Aku kaget melihat banyak orang di luar kontrakan berjalan. Tidak jauh dari kontrakan juga ada juga beberapa orang yang sedang berjaga-jaga.
Datang Jihan “apa yang lo lihat?”.
“Coba lo lihat sekeliling kontrakan dan kesana” aku menunjuk semua orang.
“Nggak ada apa-apa, emang kenapa?” ucap Jihan.
“Lo gak merasa aneh sama orang yang berdiri disana. Tidak biasa kan ada orang-orang yang berjalan dan berdiri disana” ucap aku.
“Oh itu, kalau itu siapa lagi kalau bukan orang-orang suruhan Ken. Lo sebenarnya beruntung tahu, meskipun Ken tidak ada tapi orang-orangnya terus menjagain lo dari jauh” ucap Jihan.
“Iya sih. Tapi kenapa dia tidak datang menjemput aku. Apa dia marah sama aku?” ucap aku.
“Mungkin dia sibuk, lo jangan berfikiran negatif dulu. Ayo kita tidur yuk, udah lama kita tidak tidur bareng” Jihan mengajak aku tidur.
***
Pagi harinya aku dan Jihan sedang sarapan berdua di meja makan. Sebab semalam Mike dan Dave sempat membawa sedikit bahan makanan untuk aku atas perintah dari Ken. Makanya aku dan Jihan bisa sarapan.
“Ly...” panggil Jihan.
“Iya, kenapa?” aku melihat Jihan.
“Sebenarnya ada yang mau gue bicarakan sama lo semalam. Tapi setelah gue selesai telvonan dengan Dave, gue lihat lo sudah tidur. Jadi gue gak mau ganggu lo makanya sekarang gue mau cerita”.
“Ada apa?” aku mulai khawatir.
“Kemarin Dave sempat berantem dan bertengkar besar karena lo” kata Jihan.
“Maksudnya?” aku sedikit kaget mendengarnya.
Jihan lalu menceritakan pada aku apa yang terjadi semalam dengan Ken dan Dave. Jihan juga mengatakan kalau dia sempat menghubungi Dea tadi pagi menanyakan kepastiannya.
“Kok bisa begitu?” tanya ku.
“Kalau menurut gue sih karena Ken memang peduli sama lo dan gak mau buat lo terluka lagi. Makanya dia gak mau ganggu lo saat ini. Sekarang keputusan ada di tangan lo, lo mau kembali kesana atau tetap disini” ucap Jihan.
__ADS_1