
Ken dan Mike sudah berada di ruang kerja “Ken, bagaimana Eka?” saran Mike lagi.
“Lo ya bikin gue kesal. Mana mau Eka kerja disana, bagaimana dengan hukumnya. Lo ini memberi saran yang tidak tepat” Ken melempar Mike dengan pulpen.
“Ya coba saja lo fikirkan kalau gue kerja disana. Emang lo gak kasihan sama gue Ken, gue sudah jarang ketemu Galu. Ditambah dengan pekerjaan ini, gue gak mau” Mike masih bersikeras menolaknya.
“Baiklah, berarti tugas lo mencari pengganti suami Dea. Tidak boleh sembarangan orang, lo gue kasih waktu sampai pembukaan tempat wisata” keputusan Ken.
Semakin membuat Mike kaget “apa! Lo kasih gue waktu hanya beberapa hari lagi. Lo gila, pembukaan kan tinggal beberapa hari lagi”.
“Nggak jadi minggu besok, sebab Laili tidak mengizinkannya. Sebab dia akan melakukan pengobatan selama sebulan penuh. Setelah itu baru bisa melakukan pembukaan, kalau tidak salah tepat di hari pernikahan orang tuanya” ucap Ken.
“Oke, akan gue cari” jawab Mike.
Setelah perdebatan mereka selesai, mereka langsung menuju kamar masing-masing. Sebab mereka akan melakukan bersih-bersih sebelum makan malam.
***
Selesai sholat maghrib Ken keluar dari kamar menuju meja makan. Dia ingin makan malam tapi sebelum itu dia ingin melihat aku di ruang rawat. Ketika mau jalan ke ruang rawat, Ken melihat Mike sedang bicara dengan dokter Agus di ruang keluarga.
Ken menghampiri mereka “kok pada disini?” tanya Ken.
“Ini om Agus menunggu lo, katanya mau pamit” jawab Mike.
Ken duduk “kok cepat sekali om? Bagaimana dengan Laili?”.
“Om sudah melakukan pengobatan, untuk sementara Laili harus tidur di ruang rawat dulu. Seminggu ini om akan melakukan cuci darah pada Laili. Setelah itu om akan melanjutkan pada tahap pengobatannya lagi” jawab dokter Agus.
“Keadaan Laili sekarang om?” tanya Ken lagi.
“Dia seperti kecapekan sekarang, sebab dia baru saja operasi memasang alat untuk cuci darah. Biarkan dia istirahat sebab dokter sama perawat sudah stanbye disana” pesan dokter Agus.
“Baiklah om, terimakasih banyak om” ucap Ken.
“Kalau gitu om pamit sebab sudah malam” dokter Agus pamit.
“Om gak makan malam dulu?” ajak Ken.
“Om sudah makan duluan bersama Mike” kata dokter Agus.
“Maaf ya bro kita makan malam duluan, sebab tadi om Agus selesai sholat langsung mau pamit. Makanya gue ajak makan duluan, kalau nunggu lo pasti semakin malam tadi” Mike minta maaf sebab merasa bersalah makan duluan dari Mike.
“Iya tidak masalah kok. Kalau begitu terimakasih banyak om dan hati-hati” kata Ken.
__ADS_1
“Gue antar om ke depan ya” kata Mike pada Ken.
“Iya..” Ken mengangguk.
Ken tidak jadi makan malam, dia langsung ke ruang rawat melihat keadaan aku. Sedangkan Mike mengantar dokter Agus ke mobilnya.
***
Subuh-subuh aku terbangun, ternyata tangan aku masih terpasang infus “dok... sus...” aku memanggil dokter dan perawat.
Terbangun perawat yang tidur di dekat aku “ada apa nona?” perawat itu menghampiri aku.
“Apa infus aku sudah bisa di buka. Sebab aku mau sholat?” tanya aku.
“Sebentar ya nona, saya coba tanya dokter dulu sebab saya tadi sudah diberi pesan untuk membangunkan dokter kalau nona bangun” kata perawat.
“Baiklah” kataku.
Perawat langsung membangunkan dokter, kemudian mereka menghampiri aku “nona, saya periksa dulu ya?” kata dokter.
“Iya dok” jawab aku.
Tidak lama dokter selesai memperiksa aku “bagaimana dok?” tanya aku.
“Nona sudah lebih baik sekarang. Suster silakan lepaskan infusnya. Nona bisa melakukan sholat tapi nona sholat di mushollah saja ya. Sebab tuan Ken tidak mengizinkan nona ke kamar karena lift rumah belum diaktifkan” kata dokter.
“Maaf nona, kami hanya menjalankan tugas. Nona bisa tunggu tuan Ken datang kesini dan bilang padanya” kata dokter.
“Baiklah. Sus, bantu aku” kata ku pada perawat.
Aku langsung dibantu perawat jalan ke mushallah tapi sebelum itu aku wudhu dulu di kamar mandi yang dekat mushallah.
***
Setelah sholat subuh Ken keluar dari kamarnya dengan menggunakan peralatan lengkap sholat. Dia langsung jalan menuju ruang rawat aku.
Ken ketemu dengan dokter yng sedang membereskan infus aku “Laili mana dok?” tanya Ken.
“Tuan, nona sedang sholat di mushallah” jawab dokter.
“Oh makasih” Ken mau jalan tapi dia kembali berhenti “dok, bagimana keadaan Laili?”.
“Nona sudah lebih baik kok tuan. Nona bisa kembali ke kamarnya, tadi nona minta kembali ke kamarnya mau mandi. Tapi karena tuan melarang nona ke atas makanya kita minta nona untuk sholat di mushallah saja” jawab dokter.
__ADS_1
“Oh gitu, baiklah” Ken langsung jalan ke mushallah.
Ken melihat aku yang sedang mengaji bersama perawat yang menemani aku dari pintu masuk. Perawat melihat Ken yang sedang berdiri dan langsung menghentikan aku yang sedang mengaji.
“Nona, ada tuan Ken” perawat menunjuk Ken.
Aku menoleh, lalu aku langsung menyelesaikan bacaan aku. Setelah selesai sholat perawat membereskan peralatan mengaji aku.
Ken menghampiri aku “sudah selesai?”.
Aku melihat Ken “sudah, kenapa subuh-subuh sudah turun. Tumben saja?” kata ku.
“Aku mau melihat keadaan kamu. Kata dokter kamu ingin ke kamar bersih-bersih?” tanya Ken.
“Iya, tapi kamu gak izinkan aku ke kamar” aku cemberut.
“Ya maaf, kamu kan lagi sakit. Lagian lift aku matikan ketika kamu menghilang kemarin. Makanya aku gak izinkan kamu jalan naik tangga ke kamar. Sini aku bantu, tadi pembantu sudah menyiapkan keperluan kamu di kamar” Ken mengulurkan tangannya.
“Nggak mau, aku bisa sendiri” aku menolaknya.
“Jangan membantah, kamu lagi sakit. Kamu gak usah khawatir, pembantu ada yang membantu kamu di kamar. Aku hanya membantu menggendong kamu ke kamar saja” ucap Ken.
“Benar nona kata tuan Ken. Nona tidak boleh jalan terlalu banyak sebab tubuh nona belum sekuat kemarin” kata perawat.
“Dengar tuh” ucap Ken.
“Baiklah...” aku masih cemberut.
“Tolong hijab aku” aku minta tolong pada perawat mengambilkan hijab aku yang aku buka menjelang sholat.
Perawat mengambilnya “ini nona”.
“Terimakasih” aku mengambilnya dan langsung memakainya.
Perawat mengambil mukenah aku dan langsung merapikannya. Lalu Ken langsung menggendong aku keluar mushallah dan jalan menuju kamar aku. Perawat yang melihat aku sangat takjub melihat perhatian Ken pada aku.
“Eh apa yang lo fikirkan?” ucap perawat yang baru datang mau sholat.
“Itu, gue melihat tuan Ken sama nona Laili. Tuan Ken sangat perhatian sekali pada nona Laili seperti pasangan sesungguhnya. Sedangkan mereka tidak ada hubungan apa-apa, beruntung sekali nona Laili mendapatkan tuan Ken” jawab perawat yang menemani aku tadi.
“Huss... nanti kedengaran orangnya kalau kita membahas mereka” kata temannya itu.
“Kita mengatakan fakta kalik. Lo sudah selesai bersih-bersih?” tanya perawat tadi.
__ADS_1
“Iya, lo pergi sana bersih-bersih. Sebab setelah ini tugas kita akan banyak lagi sebab kata dokter jaga nona Laili akan langsung melakukan pengobatan hari ini”.
“Baiklah, gue ke kamar dulu” perawat yang menemani aku tadi pamit pada temannya.