MY DREAM

MY DREAM
138


__ADS_3

Bunda Risa, Resi, dan Cici sudah datang ke rumah sakit. Mereka langsung menghampiri resepsionis menanyakan kamar rawat Eka. Anggika yang sedang jalan menuju kamar pasien melihat mereka datang.


“Bunda...” ucap Anggika.


Bunda Risa, Resi, dan Cici menghampiri Anggika “Anggi, Eka dimana?” tanya bunda.


“Eka di ruang VVIP bunda nomor 3. Bunda langsung saja kesana, Mike, Dave, dan Beni sedang ada disana” ucap Anggika.


“Makasih ya” bunda langsung pergi dan diikuti oleh Resi dan Cici.


Mereka sampai di kamar rawat Eka, mereka langsung masuk. Bunda Risa masuk dan diikuti Resi sama Cici. Ternyata Eka juga sudah sadar dari pinsannya.


“Eka...” bunda Risa menghampirinya.


“Bunda, maafin Eka” ucap Eka yang langsung memegang tangan bundanya.


“Bunda sudah memaafkan kamu, nak. Bunda juga minta maaf” bunda Risa memeluk Eka.


Setelah mereka selesai berpelukan, bunda melihat Dave, Mike, dan Beni “bagaimana keadaannya?”.


“Eka banyak minum alkohol dalam keadaan perut kosong, itu yang membuatnya pinsan bunda” jawab Beni.


Bunda melihat Eka “kamu minum?”.


“Maaf bunda, aku stress karena bunda marah sama aku. Aku juga tidak tahu bagaimana bicara sama Cici mengenai....” Eka langsung melihat Cici di balik punggung Resi.


“Cici...” Eka duduk dan melepaskan infus ditangannya, dia langsung menghampiri Cici dan berlutut di kaki Cici.


“Eka...” panggil semua orang kecuali Resi dan Cici.


“Cici.. maafin aku” Eka berlutut.


Cici langsung memegang tangan Resi “kamu siapa?” ucap Cici.


Eka kaget dengan Cici yang tidak tahu dengannya dan juga responnya juga berbeda “Kamu tidak kenal saya? Bunda, Mike, Dave, Ben...” Eka juga melihat mereka.


“Cici melupakan kamu, Ka. Sebab dokter bilang waktu pengobatannya, dia harus melupakan kamu. Makanya dokter menghapus bagian dari fikirannya mengenai kamu. Hanya itu yang bisa dokter lakukan untuk penyembuhannya. Sebab kamu sendiri dulu yang menolak membantunya” cerita Mike.


“Iya Ka, semua itu juga persetujuan dari Ken. Semua orang tidak ada yang tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Makaya Ken mendatangkan dokter dari Amerika untuk membantu pengobatannya itu” kata Dave.


“Ci, maafin aku” Eka menyesal.


“Kenapa kamu minta maaf, kamu tidak salah. Resi kita keluar yuk, aku mau ke toilet” ucap Cici.


“Iya, ayo” jawab Resi.

__ADS_1


Eka masih berlutut dengan darah infus ditangannya sambil melihat Cici pergi. Eka tidak percaya kalau Cici tidak mengingatnya tapi kenyataannya benar.


“Ayo, kembali” ucap Dave.


Beni langsug mengambil perlatan medis yang berada tidak jauh darinya “sini aku perbaiki infus lo. Lo harus menghabiskan infus ini” kata Beni sambil membersihkan dan memasangkan lagi.


“Kalau gitu bunda keluar menyusul Cici dan Resi, sambil beli makanan siang untuk kalian” ucap bunda pamit.


“Gue yakin Cici bukannya hilang ingatan mengenai aku. Dia pasti terpaksa melupakan aku, aku tahu dia pasti mengingat aku. Semuanya terlihat dari tatapannya dan raut wajahnya”gumam Eka dalam hati.


“Ka,, ka..” panggil Beni.


“Iya...” Eka sadar dari lamunannya.


“Lo kenapa?” tanya Beni.


“Tidak apa-apa. Ada apa?” tanya Eka.


“Mike tanya sama lo, apa lo sudah menghubungi Ken?” ucap Dave.


“Oh itu, sudah” Eka kembali tidur.


“Terus kenapa lo tidak menemui kita?” tanya Mike.


“Sebab memang gue yang salah dan tidak pantas menemui kalian. Terutama bunda dan Cici, gue sudah salah besar sama mereka” kata Eka.


***


Cici sedang berada di kamarnya di mansion, dia sedang membayangkan apa yang sudah terjadi berapa bulan belakang ini. Kemudian Cici teringat dengan pengobatan yang dia lakukan bersama dokter yang di kirim Ken satu bulan yang lalu.


Flashback


Dokter yang biasa mengobatinya datang menemui Cici bersama dokter utusan Ken. Dokter biasa mendekati Cici yang sedang melamun “hai Ci?” sapa dokter.


Cici hanya tersenyum merespon panggilan dokter “dokter tahu, kamu kemarin sudah mulai lebih baik. Tapi kenapa sekarang kamu semakin buruk, apa yang kamu fikirkan?” tanya dokter biasa.


Cici langsung menangis dan memeluk dokter, tanpa sadar Cici menceritakan apa yang ada dalam fikirannya dengan histeris. Setelah Cici cerita kedua dokter itu paham dengan apa yang terjadi.


Dokter utusan Ken menghampiri Cici “kamu mau sembuh?”.


Cici mengangguk “kamu mau kembali seperti dulu?”.


Cici menggeleng “kenapa?” tanya dokter.


“Takut dok” jawab Cici.

__ADS_1


“Oke. Cici mau seperti apa, seperti sebelum kejadian ini atau setelah kejadian ini?” tanya dokter utusan Ken.


“Sebelum kejadian ini, sebelum aku mengenal mas Eka” Cici menjawab dengan derai air mata.


Dokter biasa melihat dokter utusan Ken “bagaimana dok?”.


“Kita serahkan padanya, apa dia mau melupakan Eka atau dia akan tetap terkurung dengan fikiran itu. Dia tidak sakit tapi dia hanya butuh teman untuk ngobrol. Masalah yang kamu ceritakan itu hanya menjadi alasan dia untuk sakit. Sebab fikiran dia sendiri yang selalu takut” kata dokter utusan Ken.


“Pengobatan yang kamu lakukan sudah benar. Dia kemarin sudah mulai sembuh, sekarang dia hanya tertekan. Sebab orang yang ada dalam pengaruh hipnotis wanita itu sangat membencinya. Pria itu yang menolak dia langsung, berarti rasa sukanya pada pria itu harus di lupakannya” lanjut dokter.


“Berarti benar dok hanya Eka yang bisa membantunya sembuh?”.


“Benar. Sebab dari awal Ekalah yang bisa mengendalikannya. Dia merasa nyaman dengan Eka dan perlakuan Eka padanya membuat dia bisa tenang. Kita hanya bisa mengendalikan dia dengan obat tapi Eka tidak”.


Lalu kedua dokter mulai melakukan pengobatannya. Pengobatan yang dilakukan yaitu mencuci otak Cici untuk melupakan Eka.


“Dok, apa ini akan bisa membantu?” tanya dokter biasa.


“Saya juga tidak tahu, tergantung pada keinginannya sendiri. Kita hanya membantu saja” jawab dokter.


Selama melakukan pengobatan, Cici merasakan sakit sebab dipaksa untuk melupakan apa yang sudah terjadi. Dia berniat untuk keluar dari keadaan itu ditambah dokter selalu membantunya mensuportnya untuk sembuh.


Sebulan berlalu pengobatan yang dilakukan dokter utusan Ken berhasil. Cici sudah bisa melupakan Eka ditambah bantuan dari bunda Risa.


Dokter utusan Ken menemui Cici sendiri “Ci, bole dokter duduk?”.


Cic mengangguk dan dokter duduk di depannya “boleh dokter bertanya?” lanjutnya.


Cici kembali mengangguk, dokter memegang tangan Cici “satu bulan ini dokter melihat hasil rekam medis kamu. Dokter senang sebab kamu sangat cepat sembuh tapi yang bikin dokter bingung, kamu bukannya hilang ingatan kan?”.


Cici sebenarnya memang tidak hilang ingatan, dia hanya mengikuti saran dari dokternya dan bunda Risa. Dia juga tidak tahu kenapa dia bisa sembuh dengan waktu satu bulan.


Cici menggeleng dan lalu menunduk “dokter mau bertanya, kenapa?”.


Cici melihat dokter “aku tidak ingin mas Eka susah karena aku, dok. Dia tidak salah, yang salah itu Putri. Dia yang telah menghipnotis aku bersama mas Eka. Sebab aku kenal siapa Putri dok, dia ingin aku meninggalkan kampung dari dulu makanya dia melakukan itu. Aku juga tidak ingin semua orang susah dengan aku dok” Cici menangis.


“Oke, dokter paham. Dokter salut sama kamu, tapi apa kamu akan mampu melakukannya?” lanjut dokter.


“Insya allah dok, aku yakin. Sebab kata bunda Risa aku harus banyak berdoa dan berzikir, hanya tuhan yang bisa membantu aku sembuh” lanjut Cici.


“Iya benar. Dokter senang, tapi mulai sekarang dokter akan melakukan pengobatan lain lagi. Dokter akan membantu kamu untuk tidak stress, tertekan, dan banyak fikiran lagi. Sebab semua itu terjadi akan membuat kamu semakin parah penyakitnya” kata dokter.


“Baik dok” jawab Cici.


Dokter pamit keluar kamar Cici, dia langsung pergi menemui dokter biasa. Mereka langsung membicarakan kelanjutan pengobatan Cici. Hanya Cici, kedua dokternya, dan Alla yang tahu kalau Cici tidak hilang ingatan.

__ADS_1


Flashback Berakhir


__ADS_2