MY DREAM

MY DREAM
115


__ADS_3

“Semua jelas berarti bukan Putri didalam video itu. Makanya dia langsung bisa mengupload tanpa editan” kata Mike.


“Bagaimana dengan mereka sekarang, Dave?” tanya Ken.


“Semua warga sudah tahu mereka yang melakukannya. Besok saja kita berikan hukuman sebab hari ini sudah malam. Mereka sekarang sedang ada di ruangan kosong di belakang. Lo gak usah takut sebab anak buah kita yang menjaga mereka disana” ucap Dave.


“Besok saja lanjutkan lagi, hari sudah semakin larut. Kita masih ada acara besok untuk mempersiapkan pernikahan Ken dan Laili” ucap paman.


“Iya. Ken besok jangan datang kesini lagi. Kalian tidak boleh ketemu sebelum akad. Ketika akad kalian pasti ketemu” ucap Doni.


“Maaf mas, tadi aku khawatir sama Ily” Ken minta maaf.


“Laili besok juga tidak boleh ikut campur dengan masalah ini ataupun masalah lainnya. Biarkan Dave, Mike, Tejo, dan mas Angga menyeleaikannya” lanjut Doni.


“Iya mas” jawab aku.


Kemudian aku langsung ke kamar bersama Jihan dan mbak Luna. Sedangkan Ken juga kembali ke rumahnya bersama Eka dan Beni. Mas Don juga kembali ke kamar masing-masing bersama mas Rian dan paman-paman lainnya.


Angga, Mike, Dave, dan Tejo masih belum kembali. Mereka masih memperiksa keadaan sekeliling bersama anak buah Ken. Sekarang tempat itu semakin diperketat sebab mereka tidak ingin kecolongan lagi.


***


Hari pernikahan aku dan Ken, semua persiapan sudah selesai. Para tamu sudah pada berdatangan, acara yang awalnya di buka umum menjadi sangat ketat. Sebab kejadian berapa hari yang lalu.


Subuh aku sudah menghilang dari kamar, Jihan dan Luna mencari aku. Sebab aku akan di make up, tapi semua orang tidak ada yang tahu.


Tiba-tiba aku datang dari arah kuburan “Ly, kamu dari mana?” tanya mbak Raisa.


“Dari kuburan, kenapa mbak?” aku kaget semua orang pada khawatir.


“Kenapa gak bilang-bilang, semua orang mencari kamu” ucap Doni.


“Maaf mas, mbak, aku hanya kangen sama ayah dan bunda” aku minta maaf.


“Sudah-sudah, Jihan bawa Laili” paman menghentikan mereka.


“Iya paman, ayo Ly” Jihan membawa aku masuk kamar.


Ponsel Dave berdering, ternyata Ken yang menghubunginya “iya..” jawab Dave.


“Bagaimana, sudah ketemu?”


“Sudah, baru saja pulang. Dia ke kuburan orang tuanya”.


“Ya sudah, ingat harus lebih ketat lagi” pesan Ken.


“Siap bos” panggilan berakhir.


“Ayo kita semua juga siap-siap” ucap paman lagi.


Semua langsung kembali ke kamar masing-masing.


Ken sedang duduk bersama keluarganya “bagaimana Ken?” tanya paman Jaya.

__ADS_1


“Sudah ketemu paman, dia ke kuburan orang tuanya” jawab Ken.


“Alhamdulillah..” jawab semua orang.


“Dia sekarang pasti sedih Ken, mungkin dia kangen orang tuanya. Makanya dia datang kesana minta restu” ucap mama Mike.


“Kamu harus bisa menjadi orang tua juga untuk Laili. Sebab dia kehilang orang tua disaat hari-hari speialnya. Jangan pernah kamu melukainya nanti” pesan paman.


“Om ingat pesan orang tua kamu, Ken, pada Laili waktu itu. Sebesar apapun masalah yang dihadapi jangan lupa untuk tersenyum dan berdoa. Sampai sekarang om lihat dia menjalankannya” kata dokter Agus.


“Beruntung kamu mendapatkannya Ken, jangan di sia-siakan. Harus dijaga, apapun rintangan yang kamu hadapi nanti kamu harus tetap mendukungnya. Satu lagi Ken, jangan ada rahasi dalam pernikahan” pesan mama Mike.


“Iya ma, paman, om, Ken akan ingat semuanya” ucap Ken.


***


Aku sudah mengganti baju, sebab aku akan mulai di make up “Ly, gue tinggal ya. Sebab gue harus siapkan baju Dave dulu, nanti gue kesini lagi” ucap Jihan.


“Iya, Cici saja suruh datang kesini” kataku.


“Sepertinya tidak bisa Ly, dari kejadian kemarin Cici banyak diam. Mungkin Resi bisa menemani lo sebentar” kata Jihan.


“Resi emang sudah pulang?” tanyaku.


“Sudah, semalam dia datang bersama temannya. Tapi kata bibi pacarnya, sudahlah nanti gue suruh dia kesini” ucap Jihan.


“Iya terserah kamu, tapi minta mbok Ijah bawa makanan kesini ya. Buat aku sama mbak-mbak ini juga” aku menunjuk orang MUA.


“Oke, siip” Jihan langsung keluar kamar.


“Waalaikumsalam” jawab semua orang yang didalam kamar aku.


“Kapan sampai?” tanya ku.


“Semalam, maaf ya mbak aku baru sampai” Resi minta maaf.


“Tidak apa-apa, datang sama siapa?” selidik aku.


Resi tersenyum “sama Dio, katanya mbak juga mengundangnya”.


“Iyalah tuh alasan, sudah lihat Cici?”


“Sudah, kasihan mbak. Aku tidak lihat keceriaan dan kebawelan dia lagi, sering melamun dan diam” cerita Resi.


“Emang benar putri itu gitu?” tanya aku, sebab setahu aku Resi adik kelas dibawa mereka ketika SMA.


“Iya, makanya kita tidak berani dekat-dekat sama dia. Ketika mbak menerima dia kerja dulu sebenarnya sudah ingin aku bilang sama mama untuk tidak menerimanya. Tapi kata mama sudah mbak terima, ya bagaimana lagi” cerita Resi.


“Kamu tahu cara mengobati Cici?” tanya ku lagi.


“Waktu saja yang menjawab mbak, mungkin seseorang yang membantunya pinsan waktu itu. Sebab kata papa dia langsung tenang di pelukan cowok itu, biasanya kalau seseorang seperti Cici langsung teriak-teriak dan memukul orang di dekatnya”.


“Masa iya?” aku tidak percaya.

__ADS_1


“Tanya sama paman dan papa kalau mbak tidak percaya. Paman bisa mengobatinya tapi aku rasa tidak akan dilakukan, apalagi ini berkaitan soal kehidupan”.


“Maksud kamu apaan sih Si, mbak gak paham” aku semakin tidak mengerti.


“Makanya mbak jangan belajar terus, jadi masalah di kampung gak ada yang tahu. Mbak tanya saja nanti sama paman atau gak papa. Aku malas membahasnya nanti aku juga kena, takut mbak..” ucap Resi.


“Kamu nih bikin mbak penasaran saja” aku kesal.


Lalu datang mbok Ijah dan Luna bawa makanan untuk kita. Resi pun membantu mbak Luna dan mbok Ijah.


“Ly, masih ada yang mau diminta?” tanya mbak Luna.


“Mbak, masih ada yang dibutuhkan lagi?” tanya ku pada anggota MUA.


“Nggak ada kok nona, sudah cukup” ucap salah satu dari mereka.


“Nggak ada mbak, mbak kembali saja” kataku.


“Kalau gitu mbak pamit” Luna dan mbok Ijah pergi.


“Si, ambil makanan mbak dan suapi mbak” ucap aku.


“Siap mbak” Resi langsung mengambilkannya.


Satu jam kemudian aku sudah selesai di make up. Resi juga sudah kembali ke kamarnya untuk siap-siap. Sekarang Jihan yang menemani aku di dalam kamar.


Semua tamu sudah pada berdatangan, keluarga Ken belum datang begitu juga dengan penghulunya. Keluarga aku sudah duduk di tempat yang sudah disediakan oleh panitia.


Luna menghampiri Resi yang duduk bersama Dio “Si..”.


“Iya mbak” jawab Resi.


“Nanti kalau hijab kabul sudah mau dimulai, kan mempelai pria sudah duduk disana bersama pak penghulu, saksi, dan wali. Lalu MC memanggil Laili untuk datang ke tempat akad, kamu sama Cici yang menggandengnya masuk ya” ucap Luna.


“Yakin aku sama Cici mbak, mbak gak lihat Cici sekarang” Resi melihat Cici yang duduk tidak jauh darinya.


“Iya juga sih, tapi Laili dulu mintanya memang kamu sama Cici. Bagaimana ini?” Luna juga ragu.


Datang Jihan dan Raisa “kenapa mbak?” tanya Raisa.


“Rencana awal Resi sama Cici yang akan mengiring Laili masuk nanti. Tapi lihat Cici karena masalah kemarin” ucap Luna.


Datang ibu Cici “ganti saja orangnya. Kita tidak bisa memaksa Cici untuk ikut. Sebab dia memang harus diobati karena Putri maih belum melepakan hipnotisnya” ibu Cici bersedih.


“Bi, yang sabar kita akan berusaha kok” ucap Raisa.


“Sekarang siapa yang menjadi pengganti Cici?” tanya Jihan.


“Kamu saja Han, kamu kan sahabat Laili” ucap ibu Cici.


“Tapi bi, kan harus orang belum menikah” ucap aku.


“Tidak apa-apa, kita sudah tidak ada orang. Kamu saja Han sama Resi” ucap Raisa.

__ADS_1


“Baiklah” jawab Jihan.


__ADS_2