MY DREAM

MY DREAM
119


__ADS_3

Suara adzan subuh sudah berkumandang. Mereka langsung siap-siap menjalankan misi mereka. Tapi mereka tidak lupa untuk sholat dulu sebelum berangkat. Mereka sudah masuk kedalam mobil masing-masing dengan dikawal dengan beberapa orang anak buah.


Aku terbangun dan melihat Ken tidur disebelah aku. Aku langsung ke kamar mandi untuk berwuduh.


Lalu aku langsung membangunkan Ke “Bi.. bangun.. Bi...”.


Ken terbangun “kenapa sayang?”.


“Sholat subuh” kataku dengan memakai mukenah.


“Iya..” Ken langsung duduk dan ke kamar mandi.


Kemudian kita langsung sholat subuh berjamaah dan selesai sholat kegiatan yang sudah menjadi kewajiban langsung kita jalani.


“Bi, jam berapa kembali tadi?” tanya ku sambil membuka mukenah.


“Jam tiga, kita sudah siapkan rencana. Sayang kita bawa Cici ke Jakarta ya?” ucap Ken.


“Apa paman dan bibi mengizinkannya, Bi?”.


“Aku sudah bicara sama paman, paman setuju. Sebab Cici butuh psikiater sayang, karena di mansion sudah ada ruang perawatan akan mempermudah kita nantinya. Kalau di mansion pun kan ada kamu yang menemaninya”.


“Kalau paman setuju, Bi setuju, aku pun setuju juga. Mana yang terbaik saja Bi” ucap aku.


“Baiklah, hari ini kita urus keberangkatannya. Besok kita langsung pulang gak apa-apa kan?”.


“Nggak apa-apa, aku kan harus ikut kemana suami aku pergi. Jangan pernah tinggalkan aku saja kalau pergi kerja luar”.


“Iya sayang, kamu jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkan kamu” Ken memegang dagu aku.


“Awas saja kalau bohong”.


“Nggak kok” ucap Ken.


Lalu Ken kembali tidur sebab dia memang mengantuk. Sedangkan aku langsung ke dapur mempersiapkan sarapan untuk Ken kalau nanti dia bangun.


***


Kita mengantar keluarga Ken pulang ke depan tempat wisata. Mereka akan diantar oleh anak buah Ken ke bandara. Kemudian kita menghampiri keluarga aku yang sedang memantau Cici dari jauh.


Cici sedang duduk bersama Eka di gazebo, jadi keluarga memantau dari jauh. Berapapun usaha yang dilakukan Eka tetap tidak ada hasilnya. Tidak hanya Eka yang berusaha mengajaknya bicara, semua orang mencobanya. Tapi hanya Eka yang ada responnya walaupun sedikit.


Resi dan Dio menghampiri aku “mbak. mas..” ucap Resi.


Aku dan Ken melihat mereka “ada apa Si?” tanya aku.


“Mbak, mas, aku pamit ya. Aku harus kembali ke Bandung, sebab kita besok ada kuliah” ucap Resi.


“Berdua saja?” tanya Ken.

__ADS_1


“Iya mas” jawab Resi dan Dio.


“Hati-hati..” aku memeluk Resi.


“Kalau libur datang ke Jakarta temui kita ya” pesan Ken pada Dio.


“Iya mas” jawab Dio.


“Ini untuk kalian” Ken memberikan beberapa lembar uang pada mereka.


“Eh gak usah mas” tolak Resi.


“Ambil saja untuk jajan atau minyak mobil di jalan”ucap aku.


“Baiklah” Resi mengambilnya “terimakasih mas”.


Lalu Resi dan Dio salaman pada kita. Kemudian pada orang tua Resi dan seterusnya sama keluarga yang lain. Sebelum berangkat Resi menghampiri Cici dan memberikan Cici kekuatan. Kemudian mereka baru berangkat dengan mobil yang dibawa Dio.


***


Dea dan Vino sedang duduk bersama di ruang keluarga sambil menemani anaknya belajar.


“Mas, bagaimana dengan pernikahan Ken. Apa kita harus pulang?” tanya Dea.


“Bagaimana kita bisa pulang De, mama tidak tahu ada dimana sekarang. Sedangkan Marsya, dia sudah menjadi simpanan mafia itu. Dia juga sudah di DO dari kampus. Tambah masalah perusahaan belum juga bisa kita selesaikan. Aku malu sama Ken” ucap Vino.


“Mas gak mau menyusahkannya lagi. Dia sudah susah karena keluarga mas ditambah sekarang lagi bahagia-bahagianya”.


“Apa kita temui Mr. James lagi mas, kita coba bicara baik-baik padanya” saran Dea.


“Emang gak ada solusi lain dari itu?”.


“Nggak ada mas, semua sudah kita coba. Semua client takut dengannya, kecuali kita bilang sama Ken”.


“Besok kita temui Mr. James lagi, apapun yang dia minta akan kita lakukan. Setidaknya kita bisa memulihkan keuangan perusahan saja dulu” ucap Vino.


“Baiklah mas” ucap Dea.


Pagi harinya setelah mengantar anaknya sekolah, Vino dan Dea datang ke perusahaan James. Mereka memang belum buat janji tapi mereka tetap beruaha untuk ketemu. Satu jam kemudian mereka sudah diperbolehkan masuk.


“Silakan duduk” ucap James.


Mereka langsung duduk “terimakasih”.


“So, why?” tanya James.


“Kita kesini ingin membicarakan mengenai waktu itu” ucap Dea.


“Semuanya sudah saya jelaskan, kalau saya tidak mau membantu. Kecuali....”.

__ADS_1


“Kecuali apa?” tanya Vino.


“Kecuali biarkan Marsya hidup dengan saya, jangan pernah anda ikut campur lagi dengan kehidupannya. Anda tidak berhak mengatur hidupnya kecuali saya dan keluarkan dia dari kartu keluarga anada” ucap James.


Vino dan Dea kaget “apa!”.


“Iya, keputusan ada sama anda” James acuh.


Dea melihat Vino “terserah mas saja, aku ngikut saja” bisik Dea.


“Baiklah..” keputusan Vino.


“Cio, berikan surat perjanjiannya” perintah James.


“Ini tuan, silakan dibaca dulu baru tanda tangan” Cio memberikan map.


Isi surat perjanjian memang sesuai dengan perkataan James. Mereka tidak bisa ikut campur lagi dengan kehidupan Marsya dan mengeluarkannya dari kartu keluarga. Kemudian ditambah dengan saham James yang ada di perusahaan mereka menjadi milik mereka. James juga siap membantu jika ada masalah apapun yang terjadi dengan perusahaan itu.


Dengan berat hati Vino menandatangani surat perjanjian itu. Jika mereka melanggar berarti perusahaan milik James dan mereka akan menjalankan hukuman di penjara.


Begitu banyak pengorbanan yang dilakukan Marsya untuk keluarganya. Tapi sampai saat ini keluarganya belum tahu apa yang terjadi dengannya. Sedangkan Mawar hanyak sibuk dengan kehidupan barunya di Singapura menjadi istri kedua Bram.


Setelah selesai mereka tanda tangan Cio kembali mengambilnya. Cio memberikan pada James untuk ikut juga tanda tangan.


“Berarti mulai sekarang kalian tidak ada hak dengan Marsya. Perusahaan kalian akan kembali seperti semula. Kalau sudah tidak ada, silakan keluar” usir James.


Vino dan Dea keluar dari ruangan James dengan perasaan sedih. Mereka kehilangan adik satu-satunya karena kebodohannya. Kepintaran Dea juga tidak bisa dimanfaatkan sebab James cepat tahu kelemahan Dea.


James pulang ke mansionnya, dia ketemu dengan Marsya yang sedang di kamar “siang sayang”.


“Siang..” jawab Marsya.


“Kamu mau menikah dengan saya?” tanya James.


Marsya melihat James “maksudnya?”.


“Bukannya ini yang kamu mau selama ini?”.


“Kata siapa?”


“Oh berarti kamu tidak mau, ya sudah. Sampai kapanpun kamu akan tetap jadi pathner *** saya” James kesal.


“Bukan saya tidak mau, tapi kamu siap merubah keyakinan kamu. Sebab kita beda keyakinan, kalau kamu tidak siap. Seperti ini saja jalani, sudah berdosa pun” Marsya ikut kesal.


James tertawa “sampai kapan pun kamu tidak akan bisa mengatur saya. Kalau kamu ingin menikah ayo, hanya buat surat nikah saja. Setidaknya kalau kamu hamil anak kamu sah”.


“Terserah kamu, apapun keputusan saya juga tidak pernah kamu dengarkan” Marsya langsung pergi dari kamar.


Esokan harinya James sudah buat surat nikah mereka. Sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri tapi hanya siri. Sekarang Marsya sudah menjadi hak nya seutuhnya. James melakukan semua itu tanpa diketahui oleh keluarganya begitu juga dengan Marsya.

__ADS_1


__ADS_2