
Semua orang sedang berkumpul di meja makan sedang makan siang. Ken tidak melihat Laili duduk di tempat duduknya.
“Oma, Laili mana?” tanya Ken pada oma.
“Di taman samping sama perawat, tadi setelah melakukan pengobatan dia mau merangkai bunga. Jadi perawat membawanya kesana” jawab oma.
“Apa sudah di panggil makan siang bersama oma?” Ken.
“Sudah..”
“Kita tunggu saja dulu, mungkin sebentar lagi datang” ucap Eka.
Tidak lama aku datang bersama perawat yang mendorong kursi roda aku “maaf ya aku telat” ucap ku.
“Tidak apa-apa Ly” jawab semua orang.
Ken membantu aku berdiri dan duduk di kursi makan lalu perawat mendorong kursi roda menjauh dari ruang makan.
“Mike, apa lo sudah menghubungi teknisi untuk mengaktifkan lift kembali?” tanya Ken.
“Sudah bos, mungkin sebentar lagi datang” jawab Mike.
“Ayo dimulai makannya” ajak Ken.
“Lo gak makan Ly?” tanya Beni sebab dia melihat aku hanya diam menatap semua menu yang ada di meja makan.
“Iya..” jawab aku.
“Bik.. makan siang Laili” teriak Ken.
“Sebentar lagi datang kok Ken, sabar saja. Tadi oma suruh panaskan dulu” ucap oma datang sambil membawa sup.
“Entah gak sabaran” ucap aku.
“Jadi lo gak makan makanan ini Ly?” tanya Eka.
“Nggak mas, aku ada makanan khusus yang dibuat oma atas saran dari dokter Agus” kataku.
“Mas..” ucap Ken, Mike, dan Dave bersamaan.
“Kalian kenapa?” tanya Beni pada mereka.
“Gue heran deh sama lo Ly, kalau sama gue, Ken, dan Dave, lo hanya sebut nama kita saja. Sedangkan sama Beni dan Eka lo panggil mas, lo tahu gak kita bertiga lebih besar loh dari mereka” ucap Mike.
“Tahu tuh, apalagi sama gue” kata Dave.
“Ya suka-suka dia dong panggil apa, kenapa kalian yang sewot” ucap Eka.
“Sudahlah, ayo makan” Ken langsung menghentikan perdebatan mereka.
Sebenarnya Ken juga sedikit kesal pada Beni dan Eka sama dengan Mike dan Dave. Dia yang sering bertemu tetap tidak berubah panggilannya.
__ADS_1
Setelah makan siang, semua langsung pamit. Hanya tinggal Ken dan aku yang sedang makan. Aku diantar Ken ke ruang rawat kemudian Ken kembali ke ruang kerjanya.
“Tunggu!” aku menghentikan Ken.
“Ada apa?”
“Kenapa mereka pada datang kesini dan apa yang kalian lakukan sampai bicara berjam-jam disana?”
“Masalah kerjaan, sebab aku tidak bisa ke kantor makanya aku suruh mereka kesini” jawab Ken.
“Yakin?” aku tidak percaya.
“Iya. Kamu istirahat gih, sebentar lagi teknisi datang dan nanti malam kamu bisa tidur di kamar kamu kok” ucap Ken.
Kemudian Ken keluar dari ruang rawat setelah menyelimuti aku tidur.
***
Malam harinya Ken pergi ke kamar aku untuk memperiksa aku sudah tidur apa belum. Ken mengetuk pintu aku dan di buka oleh perawat yang baru saja mengantar obat untuk aku.
“Tuan..”
“Apa nona sudah tidur?”
“Sudah tuan”
“Baiklah, kamu bisa pergi dan tutup pintunya” ucap Ken.
“Ayo, Laili sudah tidur” ucap Ken.
Lalu Mike dan Ken pergi keluar mansion menuju mobil yang sudah disiapkan di depan mansion. Mereka akan pergi ke markas untuk menemui Endi, orang yang sudah menabrak aku ketika di Paris.
Dave dan Danu sudah menunggu kedatang Ken dan Mike di markas. Tidak lama mereka mendengar mobil masuk menuju halaman markas.
“Itu bos sudah datang” ucap Danu.
“Ayo keluar” ucap Dave.
Dave dan Danu keluar markas, mereka langsung menghampiri Ken dan Mike “bagaimana?” tanya Ken.
“Ayo ikut saya bos” ucap Danu.
Mereka berjalan menuju ruangan bawah tanah. Tempat dimana Endi di sekap, semua anak buah langsung menunduk melihat kedatangan Ken.
“Buka pintu” ucap Dave pada anak buah yang menjaganya.
Anak buah langsung membuka pintu, mereka langsung masuk menemui Endi. Endi melihat Ken datang langsung bersujud di kakinya.
“Maafin saya bos, saya bersalah telah melakukan semua itu. Saya menyesal bos, saya terpaksa bos” ucap Endi.
“Sekarang lo menyesal, apa lo tahu akibat dari semua itu?” teriak Ken.
__ADS_1
“Iya bos” Endi menunduk.
“Hanya karena uang yang diberikan sama wanita murahan itu, lo berani menusuk gue dari belakang. Selama ini siapa yang ngasih lo kerjaan dan uang. Atau jangan-jangan lo sudah menikmati tubuhnya sama dengan yang lain, ha...” bentak Ken.
Endi tidak menjawab, dia hanya terpaku diam. Karena benar yang dikatakan oleh Ken kalau Endi sebenarnya memang menyukai Thania semenjak menjadi bodygurthnya. Dia juga sama dengan beberapa bodygurth lainnya
yang menyukai Thania seorang model.
Dari begitu banyak bodygurth yang mengikuti Thania hanya pada Endi Thania yang lebih dekat. Endi termasuk pria pintar dan memiliki paras yang bisa memikat wanita. Thania juga suka pada Endi yang mau melakukan apa yang dia minta. Thania juga menyukai bentuk tubuh Endi yang sama dengan Ken.
Thania menyukai Endi karena dia tidak mendapatkan perhatian dan apa yang dia mau dari Ken. Ken hanya bisa memenuhi kebutuhannya dengan uang. Tapi Ken tidak mau mengikuti keinginan Thania yang lebih. Sebab Ken sudah bersumpah sama mommy untuk tidak menyentuh wanita yang bukan muhrimnya.
Thania sudah biasa melakukan itu semua sebab dia tinggal di luar negeri yang kehidupan sekitarnya tidak jauh dari itu. Makanya dia mendekati Endi untuk bisa memenuhi keinginan jika pergi bersama Ken.
Berbeda jika Ken tidak ada bersamanya, Thania mendekati pria yang bisa menaikkan popularitasnya di dunia model. Sehingga Thania bertemu dengan James dan Aberto.
“Dave, gue gak mau melihat pria ini lagi disini. Lo jalankan saja hukumannya seperti yang sudah-sudah” ucap Ken dan berlalu pergi.
“Bos.. bos.. saya gak mau, bos.. maafin saya..” teriak Endi sambil memberontak ketika di pegang sama bodugurth lainnya.
“Baik..” jawab Dave.
“Ken...” Mike menghentikan Ken.
“Kenapa?” Ken malihat Mike.
“Lo yakin melakukan itu, lo gak kasihan sama keluarganya. Lo tahu kan bagaimana kehidupannya. Bukannya lo sudah lama tidak menugaskan anak-anak untuk memberikan hukuman itu?” begitu banyak pertanyaan yang diajukan Mike pada Ken.
“Gue akan memenuhi semua keperluan keluarganya, selama ini gue juga yang memenuhinya. Kalau mengenai hukuman, dia pantas mendapatkannya” ucap Ken yang masih keras kepala.
“Kalau Laili tahu bagaimana, lo sudah sanggup untuk melihat kemarahan Laili lagi?” Mike mencoba memberi pengertian pada Ken.
“Kenapa semuanya lo kaitkan sama Laili. Kalau lo tidak memberitahunya, dia tidak akan tahu” Ken mulai sebal.
“Lo lupa bagaimana kepintaran Laili selama ini. Dia bisa membaca apa yang lo fikirkan, makanya dia bisa mengontrol emosi lo selama ini” kata Mike.
Datang Dave yang melihat mereka yang masih belum pergi “ada apa lagi?”.
“Ini gue coba bicara sama Ken, apa seharusnya kita menjalankan hukuman itu lagi pada Endi” ucap Mike.
“Gue hanya menjalankan perintah apa yang menjadi keputusan Ken. Sebenarnya gue juga tidak setuju sebab kita sudah tidak melakukan hukum itu sejak lama. Anak-anak juga pada tidak akan mau melakukannya, sebab Endi adalah teman mereka juga” kata Dave.
“Lo dengar Ken. Lo jangan egois, memang benar apa yang dia lakukan membuat Laili seperti itu. Tapi ingat Laili pasti tidak akan suka” kata Mike lagi.
“Baiklah kalau begitu. Bawa dia ke kantor polisi biar polisi yang menghukumnya. Berikan semua bukti pada polisi, ingat gue gak mau melihat dia lagi. Lo bilang sama Eka untuk mengurus semuanya” Ken langsung masuk
mobil.
Mike melihat Dave “lo memang pintar memberi saran sama bos kita. Tapi kita memang harus menggunakan nama Laili mulai dari sekarang” ucap Dave.
“Lo bisa aja, sana jalankan tugasnya. Gue masuk dulu sebelum dia ngamuk lagi” ucap Mike sambil tersenyum.
__ADS_1