
Cici masih melamun di kamarnya “maafkan aku mas, sepertinya ini lebih baik. Lebih baik aku tidak mengenal mas dan mas bisa menjalankan hidup mas” gumam Cici.
Lalu Cici mendengar suara ketuk pintu kamarnya, lamunannya pun selesai “Ci.. ini aku Resi, aku masuk ya” Resi membuka pintu.
Cici melihat Resi “ada apa?” tanya Cici.
“Mas Ken dan mbak Laili video call” Resi memberikan ponselnya.
Lalu mereka langsung bicara, kita video call Cici ingin membicarakan kalau dokter utusan Ken akan kembali ke Amerika seminggu lagi. Jadi kita juga ingin tahu apakah Cici akan melanjutkan kuliahnya atau bagaimana, apa dia akan tetap di Jakarta atau kembali ke kampung.
“Bagaimana Ci?” tanya aku.
Cici terdiam sebab dia memang takut untuk kembali ke kampung. Tapi dia juga tidak mau tinggal di Jakarta sebab akan membuatnya sering ketemu dengan Eka.
“Begini saja sayang, biarkan Cici putuskan dulu, Ci, nanti kalau kamu sudah ada jawabannya gubungi mbak ya” ucap Ken.
“Iya mas” jawab Cici.
Tidak lama panggilan berakhir “kenapa kamu tidak jawab Ci?” tanya Resi.
“Aku belum tahu mau kemana Si, aku tidak mau kemali ke kampung dan juga tidak mau disini” ucap Cici.
“Fikirkan saja dulu, nanti bilang sama mbak Laili. Mereka seminggu lagi akan berangkat ke Singapura. Setelah dari sana mereka akan kembali kesini dan aku juga akan mulai kuliah kembali. Kamu fikirkan ya, aku keluar membantu bunda Risa menyiapkan sarapan. Kata bunda apa kamu ikut ke rumah sakit lagi?” ucap Resi.
“Aku di rumah saja” jawab Cici.
“Tapi mbak Galu bilang kamu harus ke rumah sakit juga. Sebab kedua dokter kamu akan memperiksa kamu dengan keseluruhannya. Apakah kamu akan dinyatakan sembuh atau masih melanjutkan pengobatan lainnya”.
“Baiklah” Cici akan ikut ke rumah sakit.
Resi langsung keluar kamar Cici, sedangkan Cici melanjutkan bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Kemudian dia keluar kamar dan bergabung dengan yang lain untuk sarapan bersama.
***
Mike mengantar bunda Risa, Resi dan Cici ke rumah sakit. Sedangkan Galu pergi ke perusahaan dengan di antar oleh sopir. Mike dan Galu menunda pertunangannya sampai aku dan Ken kembali dari honeymoon. Sebenarnya beberapa minggu yang lalu adalah hari pertunangan mereka. Karena mereka sedang menjalankan tugas dari Ken, makanya mereka menunda sampai kita kembali.
Mereka sudah sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju kamar rawat Eka. Eka tidak ada yang menemaninya, sebab Beni dan Anggika yang selalu menjaganya bergantian.
Mike dan bunda Risa menghampiri Eka, sedangkan Cici dan Resi duduk di sofa yang tidak jauh dari mereka.
Eka terus melihat Cici, sebab dia memang merasa bersalah sama Cici. Sedangkan Cici sibuk dengan ponselnya bersama Resi.
“Ka, kapan lo dibolehin pulang?” tanya Mike.
“Belum tahu, sebab dokter belum masuk” Eka masih melihat Cici.
Ketika mereka bicara datang Beni masuk “maaf mengganggu. Gue ingin memanggil Cici, Ci saatnya melakukan pengobatan” ucap Beni setelah masuk.
“Iya..” jawab Cici.
__ADS_1
“Bunda, mas Mike, aku menemani Cici ya” ucap Resi.
“Baiklah, nanti bunda kesana menyusul” ucap bunda Risa.
Beni, Resi, dan Cici langsung keluar kamar rawat Eka. Eka masih meliat Cici, sedangkan Cici memang acuh seperti tidak kenal. “Sudah dong matanya, sekarang melihatnya tanpa berkedip. Coba dulu, datang saja ke mansion gak untuk melihat keadaannya” ucap Mike.
“Ya maaf, gue hanya serba salah saja dulu. Sekarang mau apa lagi, dia juga gak kenal gue. Hanya dengan melihatnya dari jauh saja sekarang” kata Eka.
“Lihat saja sepuasnya, mungkin ini yang terahir sebab setahu gue dia akan pergi” kata Mike.
“Pergi! Pergi kemana?” Eka kaget.
“Gue gak tahu, Ken bilang dia belum kasih jawaban. Tapi Resi bilang dia bingung, sebab gak tahu mau kemana. Dia gak mau kembali ke kampung dan juga tidak mau disini” cerita Mike.
“Kenapa?” Eka kepo.
“Ya mana gue tahu, gue gak berani kali nanya seperti itu. Asal lo tahu, di rumahpun gue dengannya hanya bicara sekedarnya saja. Dia memang berubah tidak seperti dulu, gue sudah tidak pernah melihat Cici cerewet dan suka bercanda seperti dulu. Dulu kalau ketemu gue pasti selalu bercanda”.
“Sudahlah gak usah fikirkan dia. Biarkan dia pergi kemana dia mau, dia sudah lama menderita. Mungkin sudah saatnya dia bahagia, kamu juga fokus pada kesembuhan dan pekerjaan kamau saja” kata bunda.
“Iya bunda” jawab Eka.
“Kalau gitu bunda melihat Cici dulu” bunda pergi keluar.
Setelah bunda keluar Eka kembali bertanya “Mike, emang Cici melakukan pengobatan apa lagi?”.
“Apa sakitnya begitu parah sampai Ken harus memanggil dokter dari Amerika?”.
“Itu karena lo. Satu bulan yang lalu sebenarnya Cici sudah mulai membaik. Tapi lo datang ke mansion dan marah-marah padanya. Setelah itu Cici semakin parah dan tidak bisa di kontrol makanya Ken mengutus dokter dari Amerika”.
“Jadi karena gue. Tapi....” Eka masih memikirkan Cici.
“Tapi apa lagi?” tanya Mike.
“Gue rasa dia tidak hilang ingatan” kata Eka.
“Terserah lo deh, dokter bilang Cici tidak mengingat lo. Lo gak usah deh ganggu dia lagi. Biarkan dia menjalankan hidupnya, jangan bikin dia semakin stres” kata Mike.
Ketika mereka bicara datang Dave dan Jihan melihat Eka. Semakin membuat Eka bete karena Mike dan Dave mengejek Eka karena masalah berapa hari yang lalu.
***
Cici sedang duduk di gazebo taman depan mansion, datang Resi “bagaimana? Sudah dapat keputusannya”.
“Mungkin aku pergi ke kota lain saja Si untuk melanjutkan kuliah. Aku ingin mengulang kehidupan aku yang baru” jawab Cici.
“Sudah kamu bilang mbak Laili dan mas Ken?”.
“Sudah. Tapi aku gak tahu kota yang mana yang akan mereka pilihkan untuk aku”.
__ADS_1
“Sama paman dan bibi sudah bilang?”
“Mereka hanya mengikuti apa yang terbaik untuk aku. Kalau tidak ingin kembali juga tidak masalah”.
Ketika mereka sedang bicara datang Eka dengan Mike. Mereka turun dari dalam mobil dan melihat Cici sama Resi yang sedang duduk sambil ngemil.
“Ngapain mereka disana?” tanya Eka.
“Palingan baru selesai pengajian bersama bunda. Ayo masuk, bunda pasti sudah menunggu” ajak Mike.
Ketika masuk pun Eka hanya melihat pada Cici, tapi Cici hanya fokus dengan buku bacaan yang dia pegang.
“Kita masuk yuk” ajak Resi.
“Bentar lagi” Cici sebenarnya tidak mau ketemu dengan Eka makanya dia belum mau masuk.
“Udah waktunya makan siang Ci, kamu mau makan obat juga kan!”.
“Iya sih...”.
“Udah ayo” Resi langsung menarik Cici masuk dalam mansion.
Sampai di dalam mansion, ternyata Eka, Mike, dan bunda Risa sedang duduk di ruang tamu. Di samping bunda juga ada tas baju bunda.
“Resi, Cici...” panggil bunda.
Lalu Resi dan Cici menghampiri mereka “ada apa bunda?” tanya Resi.
“Bunda mau kemana?” tanya Cici langsung.
“Duduk dulu” ucap bunda.
Lalu mereka duduk “Si, Ci, bunda akan pulang ke rumah bunda. Sudah lama bunda tidak pulang, lagian Eka juga baru keluar dari rumah sakit” ucap bunda.
“Jadi bunda mau tinggalin aku setelah baikan dengan anak bunda. Baiklah, bunda boleh pulang kok” Cici langsung pergi.
“Ci...” panggil Resi.
“Cici...” bunda juga ikut memanggilnya.
Cici terus jalan pergi tanpa menghiraukan mereka. Eka juga melihat wajah Cici, terlihat kesedihan yang besar di raut wajahnya.
“Bunda disini saja bunda, sepertinya Cici lebih membutuhkan bunda. Biar aku yang tinggal bersama pembantu di rumah. Aku tidak mau membuat dia kecewa lagi sama aku. Nanti kalau Laili dan Ken pulang baru bunda pulang” ucap Eka.
“Tapi Ka...” ucap Mike.
“Sudahlah, ayo kita makan siang. Kasihan Cici sudah menunggu di meja makan” kata bunda.
Lalu semua orang langsung ke meja makan. Sampai disana mereka tidak melihat Cici. Mereka langsung mencari keberadaan Cici, mereka takut akan terjadi apa-apa padanya.
__ADS_1