
Ken turun dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi ingin pergi ke perusahaan. Mike sudah menunggu Ken diluar seperti biasanya bersama seorang sopir Ken.
Ketika sedang menunggu Ken, Mike melihat mobil kesehatan pada berdatangan ke mansion. Mike menjadi heran kenapa mereka semua datang ke mansion bukan ke kontrakan Laili.
Beni keluar dari mobil dan langsung menghampiri Mike “kenapa lo kesini, bukannya ke tempat Laili?” tanya Mike.
“Laili tadi menghubungi gue ketika kami di jalan mau kesana. Katanya kita suruh datang kesini bukan ke kontrakannya” jawab Beni.
Datang Ken “ada apa ini? Lo lagi, ngapain datang kesini bukannya ke kontrakan Laili?” Ken melihat Beni.
“Ini bos, kata Beni mereka disuruh datang kesini atas perintah Laili. Laili menghubungi Beni langsung, katanya” jawab Mike.
“Kok gitu?” tanya Ken.
Mike dan Beni langsung mengangkat bahu dengan maksud tidak tahu apa-apa. Tidak lama ponsel Ken berdering, ternyata pesan dari aku.
“Datang ke yayasan sendiri dan jemput aku” isi pesan dari aku.
“Kenapa?” tanya Beni.
“Gue harus ke yayasan, Mike urus semua ini dulu. Sebelum ada perintah dari gue selanjutnya jangan lakukan apapun” perintah Ken.
“Siap bos” jawab Mike.
“Lo mau kemana?” teriak Beni.
“Gue harus menemui Laili” Ken langsung mengendarai mobilnya menuju yayasan.
***
#Flashback
Setelah aku sarapan dengan Jihan, aku duluan masuk kamar untuk minum obat yang sudah dibawa oleh Mike semalam. Jihan membersihkan sisa makanan kita di dapur. Ketika selesai minum obat ponsel aku berdering. Ternyata Dika yang menghubungi aku, sebab semalam aku sempat mengirim pesan padanya dan mengatakan kalau ponsel aku sudah aktif lagi.
“Assalamualaikum Dik” jawab aku.
“Waalaikumsalam mbak”
“Ada apa, apa ada masalah lagi?” tanya aku.
“Nggak mbak. ini soal kedatangan tuan Ken bersama asistennya kemarin kesini. Memang benar dia mencari mbak, tapi dia mengantar bantuan untuk pembangunan kita yang hampir ketunda. Tuan memberikan dana yang sangat banyak mbak, melebihi dari target kita sebelumnya”.
“Terus!”
“Tuan juga minta data mbak dan ingin ketemu dengan mbak. dia memang sudah tahu tentang mbak, tapi tidak mau terus terang mengatakan pada saya. Dia juga ada alasan mengapa selama ini mencari mbak”.
“Apa alasananya, katanya Dik?”
“Dia menjalankan wasiat dari daddynya. Katanya, dia harus menemukan mbak sampai kapanpun. Itu adalah pesan terakhir dari daddynya itu. Kemudian dia juga menceritakan kalau kematian mommynya memang bukan karena mbak. Tapi memang penyakitnya sudah tidak bisa disembuhkan lagi mbak. Itu semua kata dokter yang menanganinya waktu itu”.
__ADS_1
“Kalau itu mbak juga sudah tahu semalam Dik. Anak buahnya datang menemui mbak di kontrakan dan membawa barang-barang mbak kesini”.
“Mbak, sebaiknya mbak kembali pada tuan Ken dan melakukan pengobatan. Saya sempat dengar percakapan tuan Ken dengan asistennya itu kemarin mengenai penyakit mbak”.
“Iya, nanti mbak pikirkan lagi”.
“Jangan difikirkan lagi mbak, selagi ada kesempatan. Emang mbak gak ingat kata-kata orang tua tuan Ken dulu. Selagi ada kesempatan lakukan apapun yang menjadi terbaik. Jika kita sudah tidak dapat melihat dan merasakan apa yang ada di bumi ini, apapun caranya tidak akan bisa mengembalikan kita seperti semula”.
“Iya, mbak masih ingat kok”.
“Fikirkan mbak, masih banyak tanggung jawab mbak yang masih belum selesai. Masih banyak juga mimpi-mimpi mbak yang masih di tengah jalan. Kalau begitu saya kembali kerja lagi mbak, fighting” Dika memberi aku semangat dan mengucapkan salam langsung mematikan panggilannya.
Aku berdiri di balkon sambil melihat sekeliling dan memikirkan perkataan Dika sama Jihan. Lalu datang Jihan menghampiri aku yang sedang melamun.
“Ada apa Ly?” tanya Jihan.
“Han, sepertinya aku sudah punya keputusan” aku masih menatap lurus.
“Apa?” tanya Jihan.
“Aku akan kembali ke mansion Ken dan melakukan pengobatan disana sesuai permintaannya dan pesan keluarga aku. Tapi sebelum itu aku harus menghubungi Beni, apa kamu ada nomornya” aku melihat Jihan.
“Tunggu gue minta sama Dave” Jihan langsung mengambil ponselnya.
Tidak lama Dave membalas pesan Jihan dan memberikan nomor Beni. Aku langsung menghubungi Beni yang sedang jalan ke kontrakannya.
“Iya Ly, ada apa?” jawab Beni yang sedang dijalan dalam ambulance.
“Mas, jangan datang kesini ya. Mas datang saja ke mansion Ken, aku akan melakukan pengobatan disana. Nanti akan aku jelaskan sama Ken, mas langsung saja kesana sebab aku juga tidak ada di rumah sekarang”.
“Baiklah kalau itu keputusan lo” Beni langsung mematikan panggilannya dan langsung memerintahkan sopir untuk ke mansion Ken.
“Han, antar aku ke yayasan ya” kata ku setelah selesai nelvon Beni.
“Ada apa?” tanya Jihan lagi.
“Ken mau ketemu sama orang yang punya yayasan yang sudah membantu orang tuanya. Nanti aku akan pulang bersama Ken, kamu bisa di jemput oleh Dave disana. Kita kesana pakai taksi online saja. Kamu bisa pesan kan?”
“Oke, baiklah. Gue senang akhirnya lo mengambil keputusan yang tepat juga” Jihan langsung memeluk aku.
Kita langsung siap-siap, kita langsung pergi ke yayasan aku. Sebelumnya aku sudah menghubungi Dika akan datang.
#Flashbak Berakhir
Ken sudah sampai yayasan, dia melihat Jihan yang sedang bicara dengan Dave. Lalu dia langsung menemui mereka yang berada di depan yayasan.
“Laili mana?” tanya Ken langsung.
“Ada didalam, lo selesaikan masalah lo. Gue gak mau lo seperti kemarin lagi” kata Dave. “Kalau masalah Endi dan Thania setelah masalah lo dengan Laili selesai baru kita bicarakan masalah itu” lanjut Dave.
__ADS_1
“Baiklah, gue masuk dulu. Terimakasih ya” Ken senang dan langsung berlari masuk.
Sedangkan Jihan dan Dave langsung jalan menuju mobil, lalu pulang ke apartemen mereka.
Ken bertemu dengan Dika “tuan, ikut saya. Tuan mau ketemu sama pemilik yayasan ini kan?”.
“Iya.. tapi...?” Ken masih belum sadar dengan ucapan Dika.
“Makanya ikut saya” Dika jalan menuju ruangan aku.
Terpaksa Ken mengikuti Dika, Dika membuka pintu dan menyuruh Ken masuk “silakan masuk tuan”.
“Iya..” Ken langsung masuk.
Ken melihat aku yang sedang berdiri melihat foto aku bersama orang tuanya. Kemudian disebelahnya adalah foto almarhum orang tua aku.
“Ly...” ucap Ken.
Aku melihat Ken “apa kabar?”.
“Ly..” Ken merasa bersalah.
“Duduk saja” aku jalan duduk.
Ken mengikuti kata ku “kenapa tidak jemput aku setelah tahu keberadaan aku. Apakah aku begitu bersalahnya sama kamu sehingga kamu seperti itu?” ucap ku langsung.
“Bukan gitu....” Ken merasa bersalah.
“Terus, apa?” aku masih menatapnya tajam.
“Jangan seperti itu Ly, aku gak suka” ucap Ken.
“Terus apa alasan kamu sampai kamu harus melepaskan semua kekesalan kamu kepada orang lain. Apa kamu fikir dengan seperti itu semua masalah akan selesai. Kenapa?” ucap aku dengan keras.
“Cukup! Emang dengan kamu lari masalah akan selesai. Jangan hanya menyalahkan aku Ly, kamu juga salah. Setelah kamu tahu soal itu” Ken menunjuk foto aku bersama orang tuanya “kenapa kamu tidak beritahu aku. Sedangkan kamu tahu kalau aku sudah mati-matian mencari kamu berapa tahun ini” Ken juga mengeluarkan emosinya.
“Apa karena kamu pintar, jenius, kamu bisa membohongi semua orang. Tahu aku kamu sejenius gitu mendingan aku sendiri yang mencari. Jangan karena kamu pintar kamu bisa juga menipu semua orang termasuk orang-orang terdekat kamu sendiri” lanjut Ken.
“Sudah.. sudah..” kataku setelah melihat Ken diam.
“Ha...”
“Ini minum dulu” aku memberikan minum pada Ken.
Ken hanya menatap aku tanpa mengambil minuman “ayo minum dulu, biar tenang” kata ku lagi.
Akhirnya Ken mengambil minum dan menghabiskan hampir setengah botol minuman yang diberikan.
“Setelah tenang dengarin aku” aku langsung menceritakan semuanya.
__ADS_1