MY DREAM

MY DREAM
77


__ADS_3

Aku sudah melakukan pengobatan selama seminggu, keadaan ku semakin memburuk sebab efek dari pengobatan yang aku lakukan. Sekarang aku sudah tidak bisa bolak balik kamar dan mengelilingi mansion lagi. Aku sekarang hanya bisa tiduran di atas bankar ruang perawatan.


Ken sudah mulai khawatir melihat aku yang semakin melemah “om, kenapa Laili minggu ini semakin melemah?” ucap Ken yang bicara dengan dokter Agus di luar ruang perawatan aku.


“Kamu gak usah khawatir, sebab memang seperti itu. Nanti Laili akan baik-baik saja, Laili pun sudah tahu kalau keadaannya seperti itu. Makanya dia dulu ragu melakukannya, dia tidak akan bisa bergerak selama beberapa hari” ucap dokter Agus.


“Om gak lihat, dia semakin kurus. Semua makanan yang diberikan selalu ditolak, kalau pun dimakan pasti dimuntahkan lagi” Ken khawatir.


“Kamu sabar, seperti inilah yang dialami mommy kamu dulu. Begitu susah Laili membujuk mommy kamu dan memaksanya agar terus makan meskipun dia tidak mau. Tapi asal kamu tahu, mommy kamu akan makan kalau Laili sendiri yang masak. Saat itu Laili tidak pandai dalam memaksa, untuk membantu mommy kamu dia beranikan diri untuk belajar memasak pada orang tua Jihan dan melalui sosmed” cerita dokter Agus.


“Pantasan mereka sangat menyayangi Laili dan sampai menyiapkan kamar untuknya di mansion. Mereka selalu berniat untuk mengajaknya tinggal disini dari pada di kontrakan. Tapi Laili tidak pernah mau, karena itu juga aku tidak pernah ketemu denganya om” ucap Ken.


“Kamu benar, dia selalu menolak apa yang diberikan orang tua kamu. Makanya mereka memberikan rumah sakit dan butik itu untuk membalas kebaikannya” lanjut dokter Agus.


***


Jihan dan Dave sudah berada di perkebunan, mereka sudah menjalankan tugas yang diberikan Ken. Mereka hanya sekali dalam semingu kembali ke Jakarta. Sebab Dave harus mengontrol KJ Bodygurth juga melihat keadaan aku.


Keluarga aku hanya mendengar keadaan aku dari Jihan dan Dave yang selalu melaporkan pada mereka. Mereka juga kepikiran dengan keadaan aku dan tidak bisa mendampingi aku yang sedang sakit.


Hari ini Jihan dan Dave datang melihat aku ke mansion “bagaimana keadaan Laili, Ken?” tanya Jihan.


“Seperti yang kalian lihat semakin melemah, tapi kata om Agus itu adalah proses dalam pengobatannya” jawab Ken yang tetap fokus pada aku.


“Gue boleh masuk?” tanya Jihan.


“Boleh. Sus, dia mau masuk ketemu nona” ucap Ken pada perawat yang ada disana.


“Mari nona” perawat membawa Jihan mengganti baju baru dia diizinkan masuk.


“Kalau gitu kita bicara di depan saja” ajak Ken pada Dave.


“Ayo..” ucap Dave.


Ken dan Dave sedang duduk di ruang keluarga “bagaimana pekerjaan kalian?” tanya Ken.


“Semuanya lancar kok, lo jangan khawatir. Karyawan-karyawan Laili sangat pintar-pintar. Tapi kapan kamu akan membuka tempat wisata, sebab banyak orang yang menanyakannya”.


“Tunggu dulu, gue mau lihat keadaan Laili. Kalau tidak bisa dihari pernikahan orang tuanya makanya gue undur lagi di hari ulang tahunnya sesuai rencana awal gue”.


“Bukannya ulang tahun Laili sudah lewat?” tanya Dave.


“Bukan, Jihan sepertinya lupa dihari ulang tahun sahabatnya. Sebab kata Laili ketika kuliah dia juga punya teman kuliah yang namanya juga sama dengannya. Jadi kemarin itu ulang tahun temannya itu” kata Ken.

__ADS_1


“Oh..”


Datang Mike “Dave.. lo kapan sampai?” Mike duduk gabung sama mereka.


“Baru saja, tadi dari kampung langsung kesini. Lo baru balik kerja?” tanya Dave.


“Iya. Maklum bos kita kan tidak bisa datang ke perusahaan, terpaksa deh gue yang menghandle semuanya” kata Mike.


“Kita maklumi saja” ucap Dave.


“Jihan mana?” Mike mencari Jihan.


“Dia ada di ruang rawat Laili” jawab Dave.


***


Ken baru saja selesai meeting di perusahaannya, sebab dia harus datang ke perusahaan karena meeting itu tidak bisa di gantikan. Ketika dia sedang berada di ruangannya ponselnya berdering. Ternyata panggilan video call dari mas Doni.


“Assalamualaikum mas” jawab Ken.


“Waalaikumsalam, dimana Ken?” tanya Doni.


“Di perusahaan mas, tadi ada meeting yang tidak bisa diwakilkan. Jadi terpaksa Laili aku tinggalkan di rumah sama dokter dan perawat mas”.


“Iya mas, tapi dari kemarin sudah lebih baik. Tapi Laili memang belum bisa keluar dari ruang perawatan. Dia harus tetap tinggal disana”.


“Iya mau bagaimana lagi. Ini memang salah mas juga yang tidak memperhatikannya dari dulu. Mas hanya berharap pada kamu, Ken. Kamu jaga Laili ya, temani dia, jangan sampai abaikan dia” pesan mas Doni.


“Iya mas, aku janji”.


“Kalau gitu kamu lanjut saja bekerjanya, maaf mas ganggu. Nanti titip salam mas sama Ily ya?”.


“Iya mas. Kapan-kapan datang juga kesini mas?”.


“Insya allah mas usahakan”.


Kemudian mas Doni pamit dan menutup panggilannya. Ken langsung membereskan pekerjaan sebentar, sebab dia akan pulang.


Mike mengetuk pintu “masuk..” ucap Ken dari dalam.


Mike masuk “bagaimana bos, pulang sekarang?”.


“Iya..” Ken langsung berdiri.

__ADS_1


Ken dan Mike keluar dari ruangan Ken, Dea berdiri melihat mereka keluar “pulang sekarang bos?”.


“Iya. Oya De, bilang sama Vino dan keluarganya untuk datang malam minggu ke mansion. Sebab ada yang mau gue bicarakan, bilang harus datang” ucap Ken.


“Baik bos” jawab Dea sambil menunduk.


Ken dan Mike jalan menuju lift, kemudian mereka masuk lift setelah pintu lift terbuka “apa lo mau bicarakan sama mereka lagi?” tanya Mike.


“Iya, gue mau mempersiapkan semuanya sebelum Laili sembuh. Nanti kalau pengobatannya berhasil gue ingin mereka langsung berangkat” jawab Ken.


“Berarti lo mau mengambil butik itu?”


“Harus, sebab bukan punya mereka dan juga bukan hak gue. Itu adalah hak Laili sesuai yang dikatakan Eka waktu itu”.


“Gue akan selalu mendukung lo. Tapi apa rencana lo setelah itu?” tanya Mike lagi.


“Mereka bisa ikut Dea dan Vino ke Amerika. Tinggal disana dan menetap disana. Rencana gue perusahaan disana akan gue serahkan sepenuhnya pada mereka”.


Mike kaget “lo yakin? Nanti lo bisa bangkrut”.


“Gue sebenarnya ingin menghilangkan jejak dari Thania. Jadi gue berencana memberikan perusahaan itu pada mereka. Gue akan membangun kerja sama dengan tuan Ismail di Paris dan Mr. Frans di LA” ucap Ken.


Pintu lift kebuka, mereka keluar dan langsung jalan menuju lobi. Disana mobil Ken sudah disiapkan, Ken jalan masuk mobil dan Mike mengambil kunci sama pengawal.


Mereka sudah didalam mobil menuju mansion “jadi tujuan lo itu ingin menghilang dari Thania?” tanya Mike lagi.


“Iya. Gue sudah malas berhubungan sama dia. Biarkan saja apa yang terjadi sama dia disana, gue gak peduli” Ken sebal.


“Apa lo yakin Dea dan Vino bisa menghandle perusahaan lo disana?” Mike ragu.


“Kalau sama kemampuan Vino gue memang ragu tapi kalau sama kemampuan Dea gue  tidak akan ragu. Karena dia sudah bersama daddy lama, dia juga sudah tahu sedikit banyak mengenai perusahaan itu”.


“Berarti kamu menjauhkan oma sama Dea dong?”.


“Gue sudah bilang sama oma dan oma setuju”.


“Atau jangan-jangan lo melakukan ini karena masalah oma dan untuk mengambil butik kembali. Makanya lo menyerahkan perusahaan itu?” Mike masih belum paham dengan maksud Ken.


“Iya, lo benar. Gue yakin mama Vino tidak akan mau menyerahkannya dengan begitu mudah. Makanya gue serahkan perusahaan disana, lagian gue akan tetap mempunyai saham juga disana meskipun sedikit. Sebab kalau James tahu gue menyerahkan perusahaan itu pada mereka, pasti dia tidak akan mau kerja sama lagi”.


Mike mengagguk paham “gue ngerti sekarang. Gue salut sama lo dan akan mendukung lo”.


“Lo juga bilang sama paman untuk datang ya” ucap Ken.

__ADS_1


“Oke bos...” Mike senyum.


__ADS_2