MY DREAM

MY DREAM
134


__ADS_3

Cici sudah mau membuka pintu kamarnya tapi dia masih belum mau bicara dengan orang lain. Termasuk dengan Resipun Cici tidak mau bicara. Kedua orang tuanya video call pun dia abaikan saja.


Galu melihat Resi dari jauh yang terusan mencoba mengajaknya bicara. Datang Mike yang akan siap-siap pergi ke perusahaan.


“Bagaimana?” tanya Mike.


“Lihat saja usaha Resi tapi masih tidak ada hasilnya”.


“Kita harus bicara, tapi tunggu Beni dan Dave datang. Ada masalah yang lebih serius saat ini” ucap Mike.


“Apa?” Galu melihat Mike.


“Kita tunggu saja mereka datang” ucap Mike.


Datang Beni dan dokter Cici menghampiri mereka “pagi..” ucap mereka.


“Pagi..” balas Mike dan Galu.


“Kalian jangan pacaran mulu, disini kerja” ucap Beni.


“Mana ada, kita lagi diskusi” ucap Galu.


“Alasan” Beni tidak percaya.


“Malas bicara sama lo Ben. Mari dok?” Galu mengajak dokter menemui Resi dan Cici.


“Iya..” dokter mengikutinya.


“Kita tunggu Dave datang di ruang keluarga” Mike mengajak Beni ke ruangan keluarga.


Setelah mengantar dokter, Galu kembali menemui Mike dan Beni. Lalu datang Dave dan Jihan, Jihan ikut karena ingin melihat Cici.


“Asslamulaikum” ucap Jihan dan Dave.


“Waalaikumsalam” jawab semua orang.


Mereka langsung pada salaman sebab baru pertama kali bertemu. Kemudian mereka pada duduk di tempat duduk. Tidak lama pembantu datang membawa minuman dan beberapa cemilan.


“Kalian pada mau bicara kan, gue ke belakang saja melihat Cici” jihan pamit.


“Kamu gak ikut gabung?” tanya Galu.


“Nggak, gue datang juga karena ingin ketemu Cici” jawab Jihan.


Jihan langsung pergi dan mereka langsung mulai bicara. Dave langsung menjelaskan apa yang sudah dijelaskan oleh anak buahnya kemarin. Reaksi mereka sama dengan Dave yang mendengarnya kemarin. Mereka benar-benar kecewa dengan Eka.


“Bunda bagaimana?” tanya Galu.


“Itulah yang buat aku bingung” jawab Dave. “Kalian ada rencana gak?”.


Mereka langsung membicarakan rencana yang akan mereka lakukan. Mereka ingin membantu Eka terbebas dari menjadi kambing hitam. Mereka akan bermula dengan om Candra, sebab semua masalah terjadi darinya.


Setelah rencana mereka telah terasa oke, mereka langsung bergabung dengan semua orang melihat Cici melakukan pengobatan. Karena memang tidak ada ansurannya Mike terpaksa menjemput bunda Risa untuk membantunya kembali.


***


Jihan dan Dave datang ke tempat klinik kandungan yang biasa Wulan kontrol kandungan. Mereka masih menunggu Eka dan Wulan datang, setelah mendapat informasi dari anak buah yang selalu mengikuti mereka. Jihan dan Dave masuk klinik mengambil nomor antrian.

__ADS_1


Dave dapat pesan dari anak buahnya kalau mereka sudah mau masuk perkarangan klinik. Dave keluar dari klinik pura-pura sedang mengambil sesuatu di dalam mobil.


Mobil Eka masuk perkarangan klinik, seperti biasa Eka menurunkan Wulan di depan klinik. Sebab biar Wulan mengambil nomor antrian duluan. Eka ke parkiran untuk memarkirkan mobilnya.


Ketika Eka mau turun, dia melihat Dave yang berdiri di samping mobilnya sedang memainkan ponsel.


“Itu bukannya Dave, ngapain dia disini” ucap Eka.


Lalu Dave jalan dan masuk klinik.


“Bagaimana ini gue mau masuk” lanjut Eka.


Wulan sudah mengambil antrian dan duduk di sebelah Jihan. Wulan tidak tahu kalau Jihan adalah istri dari Dave. Jihan setelah dapat pesan dari Dave kalau yang baru masuk itu adalah Wulan.


Jihan mendekati Wulan “hai, hamil juga?” tanya Jihan.


“Iya, kamu pasti iya kan” kata Wulan.


“Datang sama siapa?”.


“Sama suami saya, kamu?”.


“Suami saya juga, dia sedang ke mobil mengambil ponselnya ketinggalan. Kenalkan saya Jihan, kamu?” Jihan mengajak Wulan berkenalan.


“Saya Wulan” Wulan tersenyum.


Jihan melihat Dave jalan masuk dan menghampirinya “itu suami saya kesini”.


Dave duduk menghampiri Jihan “sayang, belum di panggil juga?”.


“Belum sayang. Oya sayang, kenalkan dia....” Jihan memperkenalkan Wulan.


“Wulan....” kata Dave.


“Dave...” ucap Wulan.


“Kalian sudah saling kenal?” tanya Jihan.


“Sayang, Wulan ini teman satu kampus aku, Ken, Mike, Beni, dan Eka dulu. Kamu sudah menikah?” Dave pura-pura baru tahu.


“Iya..” Wulan jadi bingung.


“Pengantin baru dong sayang, berapa umur kandungannya?” Jihan.


“Masuk tiga minggu” Wulan bohong.


“Kok kelihatannya sudah seperti 6 minggu dan sama seperti saya sudah mau dua bulan” ucap Jihan.


“Iya sayang sudah mulai kelihatan sama seperti kamu” kata Dave.


Wulan jadi salah tingkah, sedangkan Eka mendengar percakapan mereka dari jauh. Eka sembunyi sebab tidak mungkin dia masuk karena ada Dave dan Jihan.


“Nggak kok baru dua minggu” Wulan menyembunyikannya.


“Bisa jadi” ucap Jihan. “Suami kamu mana, dari tadi kok belum datang juga?” tanya Jihan.


“Iya, gue juga mau kenalan dong” kata Dave.

__ADS_1


“Nggak tahu tuh, kemana dia” ucap Jihan.


Kemudian nama Jihan dipanggil perawat “itu nama saya sudah terpanggil. Kita duluan masuk ya” ucap Jihan.


“Iya” jawab Wulan.


Ketika Jihan dan Dave masuk, Wulan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Eka.


Eka menjawab panggilan Wulan “kamu dimana? Disini ada Dave bersama istrinya”.


“Iya gue tahu, gue lihat kok. Gue tunggu di parkiran saja ya” kata Eka.


“Terserah kamu” Wulan bete dan mematikan panggilannya.


Setengah jam kemudian Jihan dan Dave keluar dari ruangan pemeriksaan. Jihan duduk di kursi tunggu sebelah Wulan sebab Dave sedang mengambil obat Jihan.


“Suami kamu belum datang juga?” tanya Jihan.


“Dia gak jadi datang, tiba-tiba ada meeting” Wulan berbohong.


“Oh gitu” ucap Jihan.


Dave datang “ayo sayang”.


“Udah selesai?”.


“Iya. Wulan kita duluan ya, suami kamu belum datang juga?” tanya Dave.


“Sayang, suaminya sibuk. Ayo kita pulang, kamu ada meeting kan bersama Eka, Beni, dan Mike” ucap Jihan.


“Oh iya sayang, kalau sampai Eka telat lagi datang awas dia” Dave menyindir Wulan.


“Maaf ya, mereka memang begitu” Jihan melihat Wulan.


“Iya tidak apa-apa” Wulan hanya tersenyum kecut.


Dave dan Jihan jalan ke parkiran. Eka sudah berada di dalam mobilnya menunggu Wulan. Ternyata mobil sebelah mobil Dave sudah pergi. Jadi mobil mereka hampir berdekatan.


Jihan melihat mobil Eka “sayang, itu bukannya mobil Eka?” Jihan menghampiri mobil itu.


Mereka sudah berdiri di samping mobil Eka “sepertinya iya sayang, tapi ngapain dia disini” kata Dave.


“Iya juga ya, dia kan belum punya istri dan menikah. Tidak mungkin dia datang ke klinik kandungan. Ayo sayang nanti kamu telat seperti Eka yang selalu telat” sindir Jihan.


“Nggak dong sayang, ayo” Dave mengajak Jihan ke mobilnya.


Eka mendengar semua ucapan Jihan dan Dave. Dia sembunyi di samping mobil, dia turun ketika mereka jalan menghampiri mobilnya.


“Sampai kapan gue sembunyi-sembunyi seperti ini. Apa ini kamar buat gue karena menolak Cici” gumam Eka yang sudah pusing.


Eka memang sering telat kalau di ajak bertemu oleh teman-temannya. Karena dia memang sibuk mengikuti semua keinginan Wulan. Hanya satu keinginan Wulan yang tidak dia ikuti yaitu berhubungan dengannya.


Eka berada di dalam mobil kemudian masuk Wulan dengan bete membanting pintu mobil membuat Eka terkejut.


“Kamu bisa pelan-pelan gak” Eka marah.


“Kamu sih, sampai kapan seperti ini?” Wulan menatap Eka.

__ADS_1


“Sampai semua orang bisa menerima lo, gue tidak bisa langsung bilang pada semua orang kalau gue sudah menikah. Apalagi lo sekarang sedang hamil” Eka kesal.


“Terserah kamu, aku capek” Wulan mengalihkan pandangannya.


__ADS_2