MY DREAM

MY DREAM
110


__ADS_3

Thania sudah sakit-sakitan di kamar, sebab tubuhnya yang sedang hamil dipaksa oleh Alberto untuk melayaninya. Thania merasa nyeri di perutnya, lama kelamaan darah segar mengalir di kakinya.


“Apa ini?” ucap Thania.


Keluar Alberto dari kamar dan melihat Thania yang sudah pinsan di bawa tempat tidur. “Thania.. Nia...” Alberto mencoba membangunkannya.


Karena Thania tidak sadarkan diri, Alberto membawanya ke rumah sakit terdekat. Sampai di rumah sakit, dia langsung diperiksa oleh dokter. Ternyata dia mengalami keguguran dan terpaksa anaknya di keluarkan.


Berapa jam kemudian Thania bangun, dia melihat sekeliling. Kemudian dia menyentuh perutnya yang sudah datar.


“Tidak...” teriaknya.


Masu Alberto “ada apa?”.


“Kemana anak ku?” teriaknya.


“Maafin saya, kamu mengalami keguguran jadi anak kamu harus dikeluarkan” jawab Alberto.


Thania kaget “Apa? Tidak?” Thania langsung pinsan.


Beberapa hari kemudian Alberto membawa Thania pulang “ini makan dulu” Alberto membawa makanan.


“Sekarang kamu puas, anak saya sudah tidak ada. Anak dari orang yang kamu benci sudah tidak ada. Sekarang puas?” tatap Thania.


“Iya, puas bangat. Itu yang saya mau. Tapi kamu sadar gak, itu salah kamu sendiri. Kamu yang tidak mau makan dan minum obat. Jangan hanya kesalahan saya saja yang terlihat. Kamu juga salah, kamu yang sudah membunuh anak kamu sendiri” ucap Alberto.


“Tidak.. tidak..” Thania teriak-teriak.


Alberto langsung pergi dan meninggalkannya sendirian. Ketika keluar Alberto pun tidak lupa mengunci pintu sebab dia tetap tidak mau Thania kabur.


***


Esokan harinya Ken, Mike, dan Galu siap-siap akan pulang ke Jakarta. Semua orang sedang berkumpul di depan penginapan.


“Aku balik ke Jakarta, minggu depan Mike akan datang menjemput kamu. Kita akan mengadakan foto preweding di Jakarta” kata Ken.


“Emang harus kita melakukan semua itu?” tanya aku.


“Aku tahu apa yang kamu rasakan Ly, tapi aku juga ingin yang terbaik untuk kamu”.


“Oke terserah kamu” jawab ku.


Kita sampai di dekat semua orang, ternyata mereka pulang bukan dengan pesawat. Tapi mereka akan pulang dengan menggunakan mobil. Semalam mobil dari Jakarta sampai atas perintah Ken.


“Nona kita pamit ya” ucap Galu.


“Iya, hati-hati ya” jawabku.


“Aku pamit..” Ken melihat aku.

__ADS_1


“Yakin menggunakan jalan darat, jauh loh?” tanya aku yang sedikit khawatir.


“Tidak apa-apa. Sebab kita harus berhenti dulu melihat proyek. Kamu gak usah khawatir, nanti aku kabarin” ucap Ken.


“Baiklah, salam buat oma” pesan aku.


“Iya, nanti disalamin” Ken tersenyum.


“Kita pamit ya, Dave, Jihan, Ly” ucap Mike.


“Iya..” jawab kita.


Galu dan Mike sudah masuk mobil satunya. Sedangkan Ken masih berdiri bicara dengan mas Angga.


“Dave, Jihan, titip Laili. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku” pesan Ken pada Dave dan Jihan.


“Siap bos” jawab mereka.


Lalu Ken masuk kedalam mobil yang berbeda dengan Mike sama Galu. Tidak lama mobil Ken jalan dan diikuti mobil Mike serta dua mobil pengawal yang ada di depan mobil Ken dan dibelakang mobil Mike.


“Ayo Ly, kita harus mengadakan meeting. Sebab sudah lama kan lo belum ketemu sama karyawan” ajak Jihan.


“Dimana kita meeting?” tanyaku.


“Di tempat wisata, sebab ruangan meeting sudah dipindahkan kesana. Kalau tempat meeting disini sudah diganti” penjelasan Jihan.


Lalu kita semua jalan ke tempat wisata yang lumayan jauh juga. Disana sudah pada kumpul karyawan perkebunan, peternakan, tempat wisata, dan kantor di kota. Semua yang ada disana adalah karyawan yang memiliki jabatan tinggi.


“Han, kalau seperti ini lamanya kita sampai disini lebih baik kita berikan kendaraan khusus disini. Seperti yang ada di tempat golf-golf gitu, bagaimana menurut kamu?” tanya aku.


“Gue setuju bangat, iya kan sayang?” Jihan minta pendapat Dave.


“Iya. Sebenarnya Ken semalam cerita sudah ada juga rencananya tapi karena dia harus pulang pagi ini, jadi tidak sempat dia beritahu lo” kata Dave.


“Kalian bicarakan saja, bilang saja nanti ketika rapat” perintah aku.


Kita langsung jalan ke ruang meeting dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Semua karyawan juga sudah ada disana, mereka langsung berdiri ketika aku masuk ruangan.


Beberapa jam meeting berjalan, sebelum adzan zuhur kita sudah selesai. Aku langsung kembali ke penginapan sebab aku mau sholat.


***


Marsya keluar dari aparteman dengan membawa koper. Dia berencana ingin meninggalkan kota itu untuk sementara. Sampai di luar dia kaget melihat para bodygurth James sudah berdiri menghadangnya.


“Nona mau kemana?” tanya salah satu bodygurth.


“Bukan urusan kalian” bentak Marsya.


“Nona  tidak bisa pergi” salah satu bodygurth mengambil kopernya.

__ADS_1


Mawar yang melihat dia dari jauh mau menghampirinya tapi ponselnya langsung berdering.


Panggilan dari Bram “iya sayang” jawab Mawar.


“Dimana? Kamu bisa ke hotel sekarang?”.


“Bukannya kamu mau pulang hari ini?”.


“Nggak jadi, aku kangen kamu. Sebab semalam kamu tidak jadi kesini. Cepat kesini!”.


“Baiklah..” Mawar menutup panggilan.


Ketika selesai telvonan, dia mau menghampiri Marsya. Tapi Marsya sudah tidak ada, terpaksa dia pergi ke hotel Bram.


Marsya sudah di mobil James “mau kemana?” tanya James.


“Bukan urusan kamu” jawab Marsya bete.


“Kamu tidak akan bisa pergi”.


“Terserah saya, lagian saya siapa kamu” Marsya menatap James.


James tersenyum “kamu dan tubuh kamu sudah jadi milik saya. Kemanapun kamu pergi harus atas izin saya, apa kamu mau seperti waktu itu?” James mengancam Marsya.


“Kamu jangan pernah mengancam saya, sebab saya bukan mantan istri kamu ataupun wanita bekas simpanan kamu. Saya mau jadi simpanan kamu bukan karena keinginan saya, sebab saya memang butuh tubuh dan uang kamu” Marsya kesal.


James kaget mendengar perkataan Marsya lalu menamparnya, Marsya langsung memegang pipinya.


“Kamu menampar saya silakan, lagian tubuh saya sudah tahan banting dengan semua” ucap Marsya.


“Oke, kamu berani menentang saya” James langung menyuntik obat tidur di lengan Marsya.


Seketika Marsya langsung pinsan, James meminta sopir masuk. James membawa Marsya ke markas rahasia lagi. Dia akan melakukan apa yang tidak akan pernah difikirkannya.


Sudah lama James tidak melakukannya, sebab dia sudah mulai menghargai perempuan semenjak ketemu Ken. Tapi jika masih ada wanita yang melawannya tidak akan segan-segan dia melakukannya.


Berapa jam kemudian mereka sampai di markas. Sekarang mereka sudah berada di tempat yang berbeda dari sebelumnya. James hanya duduk di sofa melihat Marsya tidur di tempat tidur.


Ruangan mereka dibatasing dengan kaca bening. Marsya pun sudah di telanjangi oleh James setelah masuk kesana. Tidak lama Marsya bangun dari tidurnya dan merasakan tubuhnya kepanasan.


Ternyata obat tidur yang disuntikan James sama Marsya berisi obat peransang yang memiliki dosis paling tinggi. Sebab obat itu buatan James sendiri dan hanya James yang bisa mengobatinya.


Marsya sudah tidak bisa menahan diri, dia langsung duduk. Melihat James di luar dia memanggil-manggil James. Tapi James tidak peduli sebab dia akan menyiksa Marsya di ruangan itu sampai Marsya tunduk padanya.


Marsya mencoba cari jalan keluar tapi tidak ada ditemukan. Sebab ruangan itu memang tidak ada pintu masuk atau pintu keluar. Hanya James yang bisa membukanya menggunakan remote kontrol di meja sebelah sofanya.


Hampir seharian Marsya didalam itu dan memang tidak bisa melakukan apa-apa. Dia terpaksa meminta maaf dan sujud dihadapan James. Dia juga tidak terfikirkan dengan apa yang akan dilakukan James padanya.


James memencet remote dan kaca itu langsung kebuka. James memberikan obatnya dan memaksa marsya untuk meminumnya. Tapi Marsya tidak mau, sebab dia ingin James melakukan hubungan dulu. James langsung menolaknya, sebab itu adalah pantangan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2