MY DREAM

MY DREAM
101


__ADS_3

Aku dan Ken sedang duduk di taman belakang mansion. Lalu datang pembantu yang memberitahu kita kalau Mike dan Eka datang.


“Bukannya Mike memang tinggal disini?” ucap aku pada Ken.


“Kamu ya, maksudnya mungkin Eka. Ayo...” Ken memukul aku karena meledek pembantu.


Lalu aku langsung jalan masuk dan menemui mereka “siang..” jawab mereka.


“Siang..” jawab Mike dan Eka.


Mereka duduk “begini Ly, sebenarnya Eka kemarin sudah datang tapi kamu tidur. Mungkin kelelahan karena melakukan pengobatan kemarin. Makanya hari ini aku minta dia datang lagi” kata Ken.


“Maaf ya mas” ucap aku.


“Iya tidak apa-apa” jawab Eka.


“Langsung saja Ka” kata Ken.


“Baik. Begini Ly, gue bukan hanya sahabat Ken tapi gue pengacara keluarga ini. Gue yang membacakan wasiatnya atau lo sendiri yang baca?” ucap Eka.


“Kamu saja” jawab aku.


“Oke. Intinya saja ya. Pertama Ken disuruh mencari kamu bukan minta pertanggungjawab kamu. Tapi dia ingin menyampaikan pesan daddynya sama kamu”.


“Apa?”


“Sebenarnya orang tua Ken memang pernah ingin menjodohkan kalian berdua. Tapi setiap mereka ingin mempertemukan kalian, ada saja halangan yang membuat kalian tidak bisa ketemu. Makanya sebelum beliau meninggal, beliau meminta Ken menemukan lo. Bukan untuk menikahi lo tapi untuk mengucapkan terimakasih karena sudah menjaga mommy”.


“Daddy memberika kamu sebuah properti yang sangat berharga yaitu rumah sakit Anugrah menjadi milik kamu” lanjut Eka.


“Aku gak bisa terima mas” aku melihat Ken dan semua orang.


“Dengar dulu” ucap Ken.


“Tidak hanya rumah sakit, mommy juga menyerahkan butiknya untuk kamu. Itu sudah mommy buat surat kuasanya sebelum meninggal” lanjut Eka.


“Mas, aku gak bisa menerima semua itu. Aku ikhlas membantu tante sam om dulu. Kalau pernikahan kami adalah permintaan mereka juga, aku ikhlas pasti akan aku wujudkan. Tapi kalau itu aku tidak bisa menerimanya, mas” tolak aku.


“Ly, ini berkas pemindahan nama pemilik sama surat kuasanya. Silakan lo tanda tangani” ucap Mike.


“Aku tidak bisa Mike” aku masih menolaknya.


“Terima saja Ly, itu adalah permintaan terakhir mereka. Apa yang membuat kamu tidak bisa menerimanya?” tanya Ken.


“Untuk apa buat aku, aku pun akan menikah sama kamu. Lagian aku tidak bisa menjalankan semua itu. Aku bukan kamu Ken yang bisa dimanapun” ucap aku.


“Kamu tidak akan mengurusnya, ada orang yang ahli yang akan mengurusnya. Kamu hanya menandatangani itu dan menerimanya. Kalaupun ada masalah nantinya, kamu tidak sendiri. Ada aku, ada kita semua yang akan membantu kamu. Aku tahu kamu bukan tidak mampu tapi kamu belum sanggup menerimanya” Ken berusaha membujuk aku.


“Benar yang dibilang Ken, Ly. Kita semua akan siap membantu lo, lo hanya mau gak menerimanya dan tanda tangani semua ini” Mike juga ikut membujuk aku.


“Keputusan ada ditangan lo” kata Eka.

__ADS_1


“Ken...” aku melihat Ken.


“Terima saja. Kalau kamu terima dan tanda tangan berarti tugas aku selesai. Aku tidak lagi terasa terbebani dengan janji sama wasiat mereka” kata Ken.


Benar juga yang dibilang mereka, aku tidak sendiri. Mereka semua bisa menanganinya selama ini, kenapa aku tidak bisa. Lagian aku akan menikah juga dengan Ken, Ken juga yang akan mengurusnya.


“Baiklah aku terima” aku mengambil pena sama Mike dan langsung menandatanganinya.


“Semuanya selesai, terimakasih Ly” ucap Eka.


“Sama-sama” jawab aku.


“Kalau gitu gue pamit” Eka pamit.


“Kenapa buru-buru?” tanya aku.


“Gue harus segera ke kantor untuk mengesahkan ini semua. Gue pamit ya” Eka langsung pergi.


“Gue juga. Gue mau jemput Galu, bye,,,” Mike juga pamit.


Ken menatap aku “apalagi yang kamu fikirkan?” tanya Ken.


“Aku masih bingung kenapa tante dan om memberikan semua itu untuk aku” jawabku cemberut.


“Itu sudah jadi hak kamu” kata Ken.


“Besok bisa antar aku ke makam tante dan om?” aku melihat Ken.


***


Alberto dan Thania sudah berangkat ke bandara, ternyata di jalan Alberto memberikan minum pada Thania. Sehingga dia langsung tertidur, tujuan Alberto memberikannya adalah untuk memudahkannya membawa Thania ke Amsterdam.


“Kenapa saya ngantuk?” ucap Thania yang berkali-kali manguap.


“Kamu tidur saja, kalau mau berangkat saya bangunkan” kata Alberto.


Tidak lama Thania langsung tertidur di bahu Alberto. Kemudian Alberto membawa Thania masuk menggunkan kursi roda. Lalu mereka langsung terbang menuju Amsterdam bukan Indonesia.


Sampai di Amsterdam Thania masih belum bangun. Alberto membuang paspor, visa, dan ponsel mereka. Lalu anak buahnya membawa identitas baru untuk mereka. Mereka sudah menjadi turis ilegal disana, itu tidak akan memudahkan mereka untuk kembali ke Amerika ataupun kemanapun.


Mereka sudah sampai di rumah yang sudah disiapkan oleh Jame untuk mereka. Alberto sedang menunggu Thania bangun dari tidurnya. Sebenarnya Thania sudah berkali-kali bangun ketika di pesawat ataupun di mobil. Tapi Alberto terus memberikan minum yang berisi obat tidur.


Thania bangun dan memegang kepalanya “kenapa mengantuk sekali, kita dimana?” ucapnya.


“Kita sudah sampai sayang” jawab Alberto.


“Sampai mana, Indonesia” Thania berusaha untuk bangun dan berdiri.


“Kamu jangan bangun dulu kalau masih ngantuk” Alberto menahannnya.


“Kenapa kamu tidak bangunkan saya?” kata Thania.

__ADS_1


“Sudah, tapi kamu tidak mau bangun, bagaimana lagi”.


Tapi Thania tetap keras kepala bangun, dia jalan menuju jendela kamar. Dia mencoba melihat keluar dan betapa terkejutnya dia melihat sekeliling.


“Dimana kita? Kenapa tidak Indonesia?” Thania melihat Alberto.


“Kita di Amsterdam, kamu tidak bisa kembali ke Indonesia. Sebab saya sudah tahu tuuan kamu kesana” kata Alberto.


“Tujuan apa? Kamu kan sudah tahu kalau saya ingin ketemu orang tua saya” Thania marah.


Alberto tertawa “orang tua mana! Orang tua kamu sudah meninggal, kamu tidak punya siapa-siapa disana”.


Thania langung terdiam, dia jalan mencari tasnya.


“Kamu mau kemana?” tanya Alberto.


“Saya mau pergi dari sini” ucap Thania kesal.


“Kamu tidak bisa pergi, kemanapun kamu pergi tidak akan bisa”.


“Maksud kamu apa?” Thania semakin kesal.


“Sebab visa dan paspor kita sudah aku buang. Kita sudah menjadi turis ilegal disini, kita tidak akan bisa pergi dari sini”.


“Apa! Kenapa kamu lakukan itu ha?” Thania semakin marah.


Ketika dia mau marah, ternyata dia pinsan lagi. Alberto langsung mencoba membangunkannya tapi tidak juga mau bangun. Lalu Alberto meminta anak buahnya untuk membawakan dokter.


Tidak lama dokter datang dan memeriksa Thania. Setelah mendengar perkataan dokter membuat Alberto bertanya-tanya. Sebab Thania saat ini sedang hamil 4 minggu.


Lalu Thania bangun dan berusaha duduk “kamu benar-benar ya, aku benci kamu” ucap Thania.


“Duduk.. duduk...” bentak Alberto.


“Apa lagi?” Thania menatapnya.


“Kamu hamil”


Thania langsung tertawa “hahah.. hamil. Mana mungkin?”.


“Iya, mana mungkin kamu bisa hamil. Sedangkan kita sudah hampir satu bulan tidak berhubungan, lalu itu anak siapa, James” Alberto marah.


“Hamil, kata siapa saya hamil. Kamu jangan asal bicara” bantah Thania.


“Dokter tidak akan mungkin salah diagnosa, kalau kamu tidak percaya silakan cek” Alberto memberikan tes pack.


Thania langsung mengambil paksa “Oke, akan saya buktikan” Thania langsung ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Thania keluar dengan membawa hasil tesnya. Dia terpaku setelah melihat hasilnya.


“Benar kan?” Alberto mengambilnya. “Sekarang anak siapa?” bentak Alberto.

__ADS_1


“Apakah ini benar anaknya James ya, sebab terakhir gue berhubungan adalah sama dia. Dia juga tidak pakai pengaman begitu juga dengan gue”gumam Thania dalam hati sambil membayangkan perkataan James sebelum pergi waktu itu.


__ADS_2