MY DREAM

MY DREAM
79


__ADS_3

Mawar dan Marsya masih menatap aku seperti tidak suka. Tapi aku hanya bersikap biasa saja dan terlihat baik.


“Ken, mau makan malam dulu atau bicara?” tanya tuan Jaya papa Mike.


“Tante, Vino, Dea, bagaimana?” tanya Ken pada Mawar.


“Bicara saja, apa yang mau kalian bicarakan?” ucap Mawar.


“Baiklah, kita bicara di ruang kerja” ucap Ken.


Aku melihat Ken “aku ikut?”.


“Kamu gak ikut gak apa-apa kan?” kata Ken dengan lembut.


“Nggak apa-apa, kamu kan bicara sama keluarga kamu” jawab ku sambil tersenyum.


“Kalau gitu kamu mau disini, ke dapur ketemu oma, atau ke kamar?” tanya Ken sama aku.


“Ke kamar saja, aku mau cek kerjaan dulu. Nanti panggil aku ya kalau mau makan malam” ucap ku.


“Baiklah. Sus... sus...” Ken memanggil perawat.


Lalu perawat datang membawa kursi roda aku “antar nona ke kamar dan temani disana” perintah Ken.


“Baik tuan” jawab perawat.


“Sini aku bantu..” Ken langsung membantu aku naik kursi roda.


Mawar dan Marsya kaget melihat aku pakai kursi roda “ternyata sakit” gumam mereka dalam hati.


Setelah aku duduk di kursi roda, perawat langsung mendorong aku menuju lift. Sedangkan yang lain berjalan menuju ruang kerja. Setelah sampai aku di lantai dua, perawat langsung mendorong aku ke kamar. Ternyata Marsya memperhatikan aku sampai ke kamar.


“Bukannya kamar itu...” gumam Marsya.


Datang Mike dan dia mendengar apa yang dikatakan Marsya “kenapa?”.


“Oh.. bang Mike” Marsya kaget.


“Ada apa?” Mike mengikuti apa yang dilihat Marsya.


“Gadis itu siapa?” ucap Marsya.


Mike tersenyum, benar dugaannya dari tadi. Pasti Mawar dan Marsya penasaran dengan aku yang ada di dekat mereka.


“Oh... mau tahu, nanti lo akan tahu juga. Ayo, semua orang sudah menunggu” ajak Mike.

__ADS_1


Mike langsung mengajak Marsya masuk, dengan betenya dia masuk. Sebab Mike sudah membukakan pintu untuknya.


Semua orang telah duduk di ruangan kerja “sebenarnya ada apa Ken?” tanya Vino.


“Begini bang, saya tahu abang pasti bertanya-tanya. Sebab tiba-tiba saya meminta abang dan keluarga datang kesini. Tapi semua ini memang harus saya sampaikan” ucap Ken.


“Nggak usah basa basi, langsung saja” kata Mawar.


“Oke. Saya berncana ingin mengambil butik mommy saya yang sudah diberikan sama tante dulu” ucap Ken.


“Nggak bisa gitu dong, itu kan sudah jadi hak saya” Mawar langsung marah.


“Mommy menyerahkan hanya membantu tante untuk bisa mendapatkan uang sebab om meninggal. Mike...”


Mike meletakan surat kuasa dari Eka “itu perjanjian tante sama mommy dulu” lanjut Ken sambil mendorong dokumen yang berada di depannya.


Mawar langsung membacanya dan langsung meletakan diatas meja lagi.


“Bagaimana?” tanya Ken.


Mawar hanya diam tanpa menjawab.


“Satu lagi yang mau saya katakan, ini mengenai Vino dan Dea” kata Ken.


“Apa Ken?” ucap Vino.


“Mana boleh begitu, kamu seenaknya saja. Butik kamu ambil dari saya, sekarang anak saya kamu pindahkan. Ingat, saham tidak hanya punya kamu sendiri tapi juga ada saham anak saya” Mawar kembali marah.


“Tante, makanya jangan marah-marah saja. Dengarkan dulu baru komen” ucap Mike.


“Oke..” Mawar kembali diam.


“Saya akan menyerahkan semua saham abang sama Marsya, yaitu mengambil perusahaan disana menjadi punya abang dan Marsya. Tapi saya akan tetap meninggalkan berapa persen saham saya disana sebab kalau diambil semuanya pasti semua client akan ikut pergi juga. Bisa-bisa perusahaan menjadi bangkrut” kata Ken.


“Kemudian saham saya yang disana akan saya gantikan dengan nama abang di saham perusahaan Johnson Group. Sebab hanya Johnson Group yang perusahaan milik keluarga. Perusahaan yang lain itu bukan punya keluarga tapi pribadi punya saya dan orang tua saya” lanjut Ken.


“Lalu kalau abang kesana, bagaimana dengan mama dan Marsya?” tanya Vino.


“Kalau itu terserah tante dan Marsya saja bang. Mau ikut abang juga boleh atau tetap disini juga boleh. Itu hak mereka” kata Ken.


“Kalau kita ikut Vino bagaimana dengan kuliahnya?” tanya Mawar.


“Ya pindah juga lah tante, nanti Mike akan membantu pindahannya” kata Ken.


“Ma...” ucap Marsya pada mamanya.

__ADS_1


“Kamu diam saja” ucap mama.


Marsya sebenarnya tidak mau pindah, sebab kalau pindah dia akan jauh dari Mike. Tapi mamanya sangat senang sebab mendapatkan apa yang dia mau dari dulu.


“Kalau kita pergi yang menggantikan kita siapa disini?” tanya Dea yang sedikit murung.


“Kamu akan digantikan oleh Galu sedangkan bang Vino akan digantikan oleh paman Jaya dan dibantu oleh Mike” jawab Ken.


“Baiklah, saya akan ikut saja” kata Dea.


“Kapan kita pindahnya Ken?” tanya Vino lagi.


“Tunggu keadaan Laili membaik dulu bang, nanti kalau sudah waktunya akan saya katakan” ucap Ken.


“Emang dia siapa sih, kenapa harus tunggu dia sembuh segala” ucap Mawar dengan sebalnya.


“Siapa dia juga bukan urusan tante, tante kan sudah keluar dari keluarga saya. Lagian kan tante sendiri yang memutuskan semuanya kan!” Ken ikut kesal.


“Ya terserah kamu” Mawar langsung mengalihkan penglihatannya.


“Dea, lebih baik kamu temui ibu kamu nanti ya. Sebab kamu kan akan pergi jauh, bilang sama dia” kata tuan Jaya.


“Benar tuh De” sambung Mike.


“Iya paman” jawab Dea sambil tersenyum.


“Tunggu, mana surat pengalihan saham dan kepemilikan perusahaannya. Saya nggak percaya kalau gak ada suratnya” ucap Mawar.


“Tante tenang saja, saya bukan penipu. Sebelum kalian pergi Mike dan Eka akan datang menemui kalian. Tapi tante harus ingat, kalau sampai semuanya bocor sama client disana. Jangan harap saya akan membantu ganti ruginya, sebab rekan bisnis disana bukan sembarang orang. Tante harus ingat” pesan Ken.


“Kalau sudah jadi hak milik kami ya terserah kami dong mau kami apain” ucap Mawar dengan sombongnya.


“Ya kita lihat saja nanti” Ken semakin geram pada Mawar.


“Kalau sudah tidak ada lagi yang dibicarakan lebih baik kita makan malam sekarang. Kasihan Laili nunggu lama mengurus perdebatan yang tidak penting ini” ucap Ken sambil jalan duluan keluar.


“Ayo pa” Mike mengajak Jaya juga keluar.


Tinggal Vino dan keluarganya “sampai kapan mama akan seperti ini. Benar yang dikatakan Ken, kalau rekan bisnis Ken disana adalah seorang mafia. Kalau mama gak percaya coba saja nanti. Ayo sayang kita menemui


ibu” Vino marah pada mamanya dan langsung membawa Dea pergi.


“Eh Vino...” Mawar memanggil Vino tapi Vino tidak menghiraukannya.


“Mama sih,,,” Marsya juga bete dan meninggalkan mamanya.

__ADS_1


“Eh kamu juga kenapa, Sya tunggu mama” Mawar mengejar Marsya.


Semua orang langsung menuju ruang makan dan langsung duduk di tempat yang sudah disediakan. Tapi disana tidak ada Ken maupun aku, sebab Ken langsung pergi menjemput aku di kamar.


__ADS_2