
Sebulan berlalu, hari ini adalah pengobatan terakhir yang akan aku lakukan. Apakah penyakit yang aku derita masih ada tersebar dalam darah aku atau tidak. Khusus hari ini aku harus datang ke rumah sakit sebab akan ada pengambilan darah yang akan langsung di cek di laboratorium.
Aku sedang sarapan dengan Mike dan Ken seperti biasa “Mike, hari ini lo mau kemana?” tanya Ken.
“Gue ada meeting di K Architect, kenapa?”.
“Berarti lo gak ke Johnson Group dong” ucap Ken.
“Ya gak lah, kenapa?” tanya Mike.
“Tadi pagi Galu menghubungi gue, katanya ada berkas yang harus gue tandatangani di kantor. Tapi gue baru ingat kalau hari ini gue akan menemani Laili ke rumah sakit”.
“Emang sangat penting berkas itu?” tanya aku.
“Katanya berkas yang akan mereka bawa meeting nanti siang” Ken.
“Kalau gitu kita kesana saja dulu, baru kita ke rumah sakit” ucap aku.
“Itu ide yang bagus Ly” ucap Mike.
“Ya sudah” jawab Ken.
Mereka lanjut sarapan “Mike, Maisy bagaimana?” tanya ku.
“Dia sudah tidak mau melanjutkan kuliahnya lagi sebab dia ingin ke kampung kamu” ucap Mike.
“Jangan izinkan, tanggung satu tahun lagi selesai. Katakan saja padanya, kalau lulus tahun depan akan langsung aku terima kerja di tempat wisata. Tapi syaratnya harus lulus tahun depan” pesan aku.
“Benar tuh Mike, sudah cukup bocah bawel itu main-main kuliahnya. Bilang pada dia” lanjut Ken.
“Oke, nanti gue bilang. Kalau gitu gue duluan” Mike minum dan setelah itu langsung pamit.
***
Vino, Dea, sama mamanya sedang duduk di ruang keluarga. Lalu Vino teringat dengan Marsya yang sudah jarang balik ke rumah.
“Ma, bagaimana keadaan Marsya?” tanya Vino.
“Dia baik-baik saja, emang kenapa?” Mawar sibuk melakukan perawatan kukunya.
“Sudah sebulan lebih loh ma, dia gak balik kesini. Emang mama gak khawatir sama dia?” kata Vino.
“Kemarin mama ketemu, katanya dia sekarang sibuk kerja sampingan. Sebab uang yang lo kasih tidak mencukupi kehidupannya disini”.
“Kerja? Kerja apa ma?” tanya Dea.
“Ya mama tahu, mama gak tanya. Biarkan saja, dia bisa jaga diri. Oya Vin, sampai kapan kita akan tinggal di rumah kecil dan sempit ini. Apa kalian belum juga berhasil memenangkan tender?” mawar melihat mereka.
“Ma bisa sabar gak. Saya bukan Ken yang bisa di berbagai bidang. Lagian bisa gak mama tidak menghabiskan uang untuk hura-hura terus” Vino kesal.
__ADS_1
“Sampai kapan mama akan sabar, kamu sama saja dengan papa kamu lelet” mawar langsung pergi ke kamarnya.
Dea melihat Vino “yang sabar mas, kita usahakan lagi. Apa kita harus menemui rekan bisnis Ken itu, mas?”.
“Aku sudah pernah menemuinya tapi dia tidak pernah ada di kantornya. Selalu sekretaris sama asistennya yang aku temui” jawab Vino.
Ternyata mamanya mendengar percakapan Vino dengan Dea “kalau gitu biar saya yang bertindak” gumam mawar dan langsung pergi.
***
Marsya sekarang hidupnya sudah senang, apapun yang dia inginkan sangat mudah dia dapatkan. Dia juga selalu diantar jemput oleh seorang sopir serta anak buah James. Mobil pemberian Ken dulu hanya terparkir di basemant aparteman.
Kamar apartemannya yang dulu kecil sekarang sudah lebih besar dan lebih lengkap lagi. Sebab James langsung memberikan aparteman yang bisa dia keluar masuk kesana.
Hari ini Marsya diantar oleh James ke kampus sebab semalam James tidur di apartemannya. James keluar mobil bersama dengan Marsya. Tidak jauh dari mereka ternyata teman-teman yang dulu tidak suka padany melihatnya.
“Lihat gadis kampung diantar lagi sama seseorang” kata salah satu dari mereka.
“Iya, wow.. ganteng sekali” kata mereka kagum dengan ketampanan James.
“Sayang, saya langsung ke kantor ya” ucap James pada Marsya.
“Oke sayang, sampai ketemu lagi” ucap Marsya.
James langsung mengecup bibir Marsya lalu mencium keningnya. Setelah itu James langsung masuk mobil dan pergi. Sedangkan Marsya jalan masuk kampus. Marsya jalan melewati teman-temannya itu dengan sombongnya.
“Dasar OKB” kata salah satu dari mereka.
“Darimana dia mendapatkan semua itu?”.
“Mungkin mencuri?”
“Bukan, palingan jadi simpanan om-om?”.
“Atau tidak dia jual diri pada lelaki tadi” begitu banyak cacian mereka untuk Marsya.
Marsya berhenti dan menghampiri mereka “apa kalian terganggu dengan saya. Terserah saya dimana dapat uang dari mana, mau saya mencuri, jadi simpanan, ataupun jual diri. Setidaknya saya dihargai, tidak seperti kalian habis sepah langsung dibuah, dasar pelacur”.
Salah satu dari mereka langsung ingin menampar Marsya lalu ditahan olehnya. “Jangan main-main sama saya, sebab saya tahu siapa kalian” Marsya langsung menghempaskan tangan mereka.
“Iihhhh....” bete mereka semua.
***
Mawar mendapatkan telvon dari selingkuhannya, sebab dia baru saja sampai Amerika. Mawar langsung siap-siap dan berangkat di tempat pertemuannya.
Tidak lama Mawar sampai di restoran dan langsung mencari selinguhannya. Ketika sedang jalan buru-buru, dia menabrak James yang baru selesai meeting di restoran tersebut.
“Anda punya mata gak?” Mawar langsung marah.
__ADS_1
“Permisi nyonya, nyonya yang menabrak saya. Kenapa nyonya yang marah” ucap James.
“Eh, kenapa anda juga marah. Anda punya sopan santun sama orang tua gak?” Mawar semakin marah.
“Saya...” ketika James mau marah lagi datang Cio.
“Ada apa ini?” tanya Cio.
“Gak tahu ini orang gila, dia yang salah dia pula yang marah-marah” ucap James.
Ternyata selingkuhan Mawar itu adalah rekan bisnis James yang mereka baru selesai meeting.
Datang selingkuhan Mawar “kenapa Mr?”.
“Sayang...” ucap Mawar melihat selingkuhannya.
“Tuan Bram kenal sama nyonya ini?” tunjuk James.
Bram langsung tersenyum “kalau dia salah saya minta maaf Mr”.
James tersenyum “sudahlah, seharusnya anda harus hati disini. Ayo Cio?” James mengajak Cio pergi.
“Permisi tuan, nyonya” ucap Cio.
Setelah James dan Cio pergi “ada apa?” tanya Bram pada Mawar.
“Dia menabrak aku, sayang. Tapi gak mau minta maaf, malah menyalahkan aku” jawab Mawar.
“Sudahlah, dia memang seperti itu. Ayo, aku udah kangen sama kamu” Bram mengajak Mawar masuk ruangan private.
Sampai di dalam mereka langsung pelukan dan saling bercumbu “sayang, kamu kenal sama orang tadi?” tanya Mawar.
“Dia rekan kerja yang aku temui tadi, tapi sombong dan angkuh. Aku juga gak tahu tim kenal dia dari siapa” jawab Bram.
“Oh.. sayang berapa hari disini?” Mawar manja-manja dengan Bram.
“Seminggu, sebab aku harus mendapatkan proyek bersama Mr tadi”.
“Bagus dong” Mawar senang.
“Kamu semakin cantik disini. Bagaimana ikut aku, aku sudah kangen sama kamu” ajak Bram.
“Ayo, aku juga sudah kangen. Sudah lama kamu tidak menemui aku, bagaimana dengan istri mandul kamu itu” Mawar sangat bete.
“Biasa, dia selalu sibuk dengan menjodohkan anak angkatnya itu. Ayo” Bram langsung mengajaknya berdiri.
Bram mengajak Mawar ke hotel dimana dia tinggali untuk seminggu ini. Bram datang dengan sekretarisnya, tapi sekretarisnya selalu diberikan uang tutup mulut kalau mengetahui Bram selingkuh.
Sekarang sekretarisnya sedang jalan-jalan dengan uang yang diberikan oleh Bram. Sekretarisnya itu pun sama dengan Bram yaitu suka main perempuan.
__ADS_1