MY DREAM

MY DREAM
112


__ADS_3

Satu bulan berlalu, berapa hari lagi adalah hari pernikahan aku dengan Ken. Aku tidak mempersiapkan semuanya melainkan Ken dan anak buahnya yang memperiapkannya. Ken hanya minta pendapat aku, mana yang aku sukai.


Doni dan Raisa menghampiri aku yang sedang berada dalam kamar di penginapan “masuk..” ucapku dari dalam kamar.


Raisa membuka pintu “boleh mbak sama mas Doni masuk”.


“Masuk saja mbak, mas” jawab aku.


Mereka langsung masuk dan duduk di tempat tidur “ada apa mas, mbak?” tanya ku.


“Nggak ada, mas sama mbak hanya ingin menemui kamu sebelum kamu sah menjadi istri. Kita sudah sering mengobrol apalagi berapa tahun ini, kamu sibuk dengan kerjaan kamu. Begitu juga dengan mas dan mbak” ucap Doni.


“Jangan seperti itu mas, aku masih disini kok” ucap ku.


“Tidak Ly” Raisa menggeleng “setelah kamu sah menikah dengan Ken. Kamu akan tinggal bersamanya, bukan disini tetapi di Jakarta”.


“Tapi pekerjaan aku disini mbak, bukan disana” kataku lagi.


“Memang Ken mengizinkan kamu tinggal disini Ly. Tapi kamu tahu, kodrat seorang istri harus ikut suaminya. Kamu juga tahu kalau kerjaan Ken banyak di Jakarta bukan disini. Kami tidak melarang kamu untuk kesini tapi kamu memang harus ikut suami kamu” ucap Doni.


“Iya mas” jawab aku.


“Kita juga sudah tahu mengenai warisan yang diberikan keluarga Ken sama kamu. Mengenai penyakit kamu, mengenai kamu pernah membantu orang tua Ken, dan mengenai banyak bisnis kamu yang tidak kami ketahui selama ini. Kita semua sudah mengetahui, sebab minggu kemarin Ken menceritakan sama keluarga besar” kata Doni.


Aku kaget “maafin aku ya mas, mbak, sebab tidak pernah cerita sama kalian” aku menunduk.


“Tidak masalah Ly, itu adalah mimpi kamu. Kamu benar, selama ini tidak hanya mbak sama mas yang menghalangi mimpi kamu tapi juga ayah dan bunda. Kita sudah berusaha untuk membantu kamu selama ini, mungkin ini takdir kamu dek” Raisa meneteskan air mata.


“Iya, kami selama ini bukannya marah sama kamu. Tapi kami melarang kamu karena kami tidak ingin gagal menjaga kamu karena ayah dan bunda sudah tidak ada lagi” sambung Doni.


Aku langsung menangis “maafin aku mas, mbak”.


“Kamu tidak salah, mbak banyak salah sama kamu. Tidak pernah mengetahui apa yang kamu inginkan, ditambah lagi mbak sesuka hati memerintahkan kamu. Sedangkan kamu selalu memberikan yang terbaik untuk mbak” ucap Raia.


“Mas juga minta maaf, kalau selama ini mas terlalu mengekang kamu. Sekarang mas serakan kamu pada orang yang sudah jadi pilihan kamu. Sekarang mas sudah tidak akan melarang-larang kamu lagi”.


“Mas..” aku langsung memeluk Doni.


“Sudah, jangan menangis lagi. Kamu sudah mendapatkan yang terbaik buat kamu” Doni menenangkan aku.


“Kamu mendapatkan lebih dari punya mas dan mbak. Kamu juga berhasil dalam segala hal, mbak salut sama kamu” Raisa memeluk aku.


“Terimakasih mbak” aku memeluknya juga.


Rangkaian acara sebelum akad sudah aku jalankan. Ken benar-benar membuatnya sekeren mungkin. Membuat acara pernikahan 7 hari 7 malam kata orang-orang kampung, benar dilakukan oleh Ken.


Ken dan keluarganya sudah datang di daerah tempat tinggal aku. Mereka tidak langsung ke perkebunan tapi mereka sampai rumah Ken yang ada di kota tempat tinggal aku. Rumah Ken memang baru siap seminggu menjelang pernikahan. Rumah itu akan di tinggali Ken dan aku jika kita datang ke kota kelahiran aku.

__ADS_1


Aku sedang duduk melihat acara masyarakat yang dibuat Ken. Acara itu sebenarnya bentuk syukuran dan sekalin menghibur masyarakat.


Jihan menghampiri aku “senyum-senyum sendiri, apa yang lo fikirkan?” tanya Jihan.


“Nggak ada, aku senang saja melihat anak-anak itu. Mereka senang menikmati hiburannya, Dave mana?” aku tidak melihat Dave.


“Dia tadi sore menjemput Ken dan keluarganya bersama mas Tejo. Sekarang masih disana dan mungkin langsung nginap disana” jawab Jihan.


“Kenapa?” aku melihat Jihan.


“Biasalah laki-laki, pasti ada acara mereka tuh” ucap Jihan.


“Iya, mungkin saja. Apalagi bos mereka yang akan maried” ucapku juga.


“Tuh lo tahu” sambung Jihan. “Ly, gue senang bangat akhirnya lo maried juga. Meskipun sama orang yang dulu lo sebalin, tapi selalu membantu lo. Apa lo yakin belum pernah ketemu Ken dulu, waktu menjaga orang tuanya?”.


Aku menggeleng “aku rasa belum pernah begitu juga dengan Ken. Kalau kita pernah ketemu pasti dia tahu aku dari pertama ketemu”.


“Iya juga sih. Ly, apa lo gak bilang sama William dan keluarganya kalau lo mau nikah dua hari lagi?”.


“Nggak perlu juga, aku saja gak tahu mereka dimana sekarang. Tapi kalau William dan istrinya mungkin Ken yang ngundang di acaranya. Sebab keluarga istri William rekan kerjanya”.


“Gue dengar kelurganya itu tinggal di kota tidak jauh dari sini. Sebab gue pernah dengar karyawan melihat adiknya datang ke tempat wisata berapa minggu yang lalu”.


“Biarin saja, aku gak mau ada gosip aneh-aneh lagi mengenai aku”.


Datang Cici “mbak...”.


“Kenapa kamu lari-lari gitu?” tanya ku.


“Tadi aku lihat Denis adiknya mas William di tempat wisata. Dia keluar dari tempat penginapan bersama cewek sembunyi-sembunyi. Penampilan mereka juga berantakan mbak” ucap Cici.


Aku melihat Jihan “bukannya tempat wisata tutup, Han?”.


“Iya..”


“Lalu kenapa dia bisa masuk dan ada disana?” aku heran.


“Gue juga bingung, tunggu sebentar” Jihan menghubungi Tejo.


“Kamu duduk dulu, Ci” kataku pada Cici.


Tidak lama Tejo mengangkatnya “assalamualaikum Han”.


“Waalaikumsalam mas. Mas dimana? Masih di tempat Ken?”.


“Ini sedang bicara sama tuan Ken dan mau kembali ke perkebunan. Ada apa?”.

__ADS_1


“Begini mas, ada yang mau kita tanya. Apa tempat wisata dibuka lagi, bukannya di tutup seminggu ini?”.


“Iya, ada apa?”.


“Tadi Cici dari penginapan tempat wisata, sebab sebagian keluarga Laili kan disana menginap. Tapi Cici melihat Denis, adiknya William keluar dari salah satu kamar di penginapan disana bersama seorang cewek. Makanya kita tanya tadi” cerita Jihan.


“Kok bisa, dia kan sudah check in sehari menjelang penutupan. Dimana dia dapat kunci kamarnya” kata Tejo.


“Ya mana kita tahu mas, makanya kita tanya mas”.


“Itulah mas juga gak tahu. Sebentar lagi mas kembali, biar mas periksa dulu” Tejo menutup panggilannya.


“Bagaimana Han?” tanya aku.


“Katanya minggu kemarin dia memang datang kesini. Tapi sendirian bukan sama cewek, dia juga sudah check in sehari menjelang penutupan” ucap Jihan.


“Ci, kamu lihat perempuannya? Apa orang kampung sini atau gak?” tanya aku.


Cici terdiam “kok kamu diam?” tanya ku lagi.


“Jawab saja Ci, ini berkaitan dengan tempat wisata Laili. Sebab dari cerita kamu, pasti mereka baru siap ngapa-ngapain” kata Jihan.


Cici melihat aku “mbak.. aku takut?” Cici ketakutan.


“Takut kenapa? Bilang saja, ayo siapa?” kata aku.


“Denis bersama Putri” jawab Cici.


“Putri?” kata aku dan Jihan.


“Iya Putri pekerja mbak di Nur Market, mantannya mas William” Cici langsung duduk.


“Ha...” aku dan Jihan semakin terkejut.


“Bukannya Putri punya suami dan anak?” tanya ku lagi.


“Maaf Ly, sebenarnya kita sudah berjanji pada semua orang tidak cerita sama lo. Ketika lo pergi ke Amerika dan Paris bersama Ken, Putri ketahuan mencuri uang Nur Market. Lalu mbak Luna, mas Angga, dan mas Doni langsung memecat dia” ucap Jihan.


“Kenapa dia mencuri?” tanyaku.


“Lebih baik lo tanya mbak Luna, gue gak tahu persis ceritanya bagaimana” Jihan menutupi semuanya.


“Oke. Bagaimana dengan anak dan suaminya?” tanya ku lagi.


“Lebih baik kamu tanya juga sama mbak Luna, Ly” Jihan tetap tidak mau cerita.


“Ada apa ini, panggil mbak Luna dan mas Angga ke ruang aku” aku langsung pergi ke ruangan aku di tempat wisata.

__ADS_1


__ADS_2