MY DREAM

MY DREAM
74


__ADS_3

Dikamar sudah ada pembantu menunggu aku di depan pintu “sampai disini saja. Aku bisa jalan masuk ditemani pembantu” kata ku minta turun.


“Baiklah...” Ken menurunkan aku.


Ketika Ken menurunkan aku, Mike keluar dari kamarnya dan menghampiri kita “Ly, bagaimana keadaan lo?” tanya Mike.


“Sudah lebih baik kok Mike, mau joging ya?” tanya aku.


“Iya, mumpung masih pagi” ucap Mike.


Aku langsung cemberut, Ken melihat aku yang cemberut. Dia tahu kalau aku memang mempunyai kebiasaan joging pagi.


“Untuk saat ini tunda dulu ya, kalau pengobatannya sudah selesai kamu boleh kok olahraga lagi” ucap Ken.


“Ya sudah deh. Bik bantu aku ya” aku melihat pembantu yang berdiri di samping aku.


“Iya non” jawab pembantu.


Aku dan pembantu langsung masuk kamar, sedangkan Ken dan Mike masih berdiri di depan kamar melihat aku masuk.


Ken melihat Mike “kenapa?” tanya Mike.


“Gue ikut, lo tunggu gue di depan” ucap Ken.


“Tumben lo ikut, biasanya langsung kerja” ledek Mike.


“Gue bilang tunggu ya tunggu saja, jangan banyak nanya” Ken langsung lari ke kamarnya mengganti baju.


***


Aku jalan menuju ruang makan di bantu pembantu yang menemani aku tadi “oma...” aku memanggil oma.


“Iya Ly, ada apa?” ucap oma dari dalam dapur.


“Ken sama Mike mana?” tanya aku sambil duduk.


Oma datang “mereka pergi joging, mungkin sebentar lagi datang. Kamu mau sarapan sekarang?” tanya oma.


“Boleh deh oma, aku udah lapar. Lagian semalam aku juga tidak sempat makan malam” jawab aku.


Pembantu tadi ingin mengambilkan makanan untuk aku “kamu ke belakang saja gabung sama yang lainnya sarapan, biar oma saja” kata oma pada pembantu.


“Baik oma” jawab pembantu dan langsung pergi.


“Oma, boleh aku nanya?” ucap aku.


“Boleh nanya apa?” oma sambil mengambil makanan aku.


“Oma sudah maried kan?”


“Ya sudah toh Ly, ada apa nanya gitu?” oma melihat aku.

__ADS_1


“Maaf ya oma, suami oma mana? Aku mau kenalan dong”.


“Suami oma sudah meninggal, makanya oma beta tinggal disini merawat Ken” oma duduk di sebelah aku.


“Anak oma?”


“Kamu gak tahu?” oma nanya balik.


Aku menggeleng “kamu sering ketemu sama dia kok, apalagi kalau ke perusahaan Ken” kata oma.


Aku masih menatap oma tidak paham “yang mana oma? Cerita dong sedikit tentang oma?” kata aku.


“Baik, oma akan cerita tapi kamu harus sambil makan ya” kata oma.


“Baik oma” aku langsung mulai makan.


“Suami oma dulu itu sopir pribadi tuan besar. Tapi sudah meninggal karena kecelakaan ketika menjalankan tugas dari tuan besar. Anak oma adalah Dea yang menjadi sekretaris tuan besar dan sekarang sekretaris Ken” kata oma.


“Oh.. jadi mbak Dea itu anak oma?” kataku.


“Iya. Dea disekolahkan oleh tuan besar sampai dia kuliah. Dia hanya berbeda beberapa tahun saja dari Ken”.


“Tapi kenapa Ken dan teman-temannya hanya sebut nama saja sama mbak Dea oma?”


“Karena mereka sudah kenal dari semenjak kecil. Mereka tidak mau memanggil Dea kakak, mereka menganggap Dea hanya sebatas adik perempuan mereka. Sebab Dea dulunya sangat cengeng dan manja pada tuan besar dan nyonya besar”.


“Tapi kenapa mbak Dea jarang datang kesini oma?” pertanyaan yang membuat aku penasaran dari dulu.


“Setahu aku mbak Dea itu nikah muda ya oma?”


“Iya...”


“Apa mbak Dea dijodohkan dengan suaminya itu oma?”


“Kalau bilang dijodohkan gak juga sih Ly. Mereka juga sudah kenal dulu, sebab suami Dea itu adalah sepupu Ken. Tapi mereka jarang ketemu karena suami Dea itu sering di luar kota sama di luar negeri. Mereka ketemu kembali karena mereka satu sekolah dulu di luar negeri dan saling jatuh cinta. Karena tuan dan nyonya tahu dengan hubungan mereka makanya selesai kuliah mereka langsung dinikahkan”.


“Oh gitu, kirain dijodohkan oma. Siapa nama suami mbak Dea oma? Aku pernah ketemu tapi gak kenalan sebab pada sibuk waktu itu”.


“Vino Johnson, dia anak yatim. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya ada di luar kota bersama adiknya”.


“Tapi selama aku disini, kenapa aku tidak pernah ketemu sama mereka oma?”.


Oma terdiam seperti ada masalah yang oma simpan “ada apa oma?” aku melihat oma.


“Tidak apa-apa, kamu lanjut makan saja. Kalau mengenai itu kamu tanya sama Ken saja ya” oma tidak mau menjawabnya.


“Sepertinya ada masalah besar, kelihatan oma yang menghindar dan raut wajahnya juga langsung berubah” kata ku dalam hati.


Ketika kita bicara datang Ken dan Mike “pagi...”.


“Pagi...” aku melihat mereka sedangkan oma langsung berdiri.

__ADS_1


“Den, silakan sarapan dulu. Biar oma suruh pembantu menyiapkan minum dulu” oma langsung meninggalkan ruang makan.


Ken melihat perubahan di wajah oma, Ken dan Mike langsung duduk. Sedangkan Ken melihat oma yang pergi, kemudian dia melihat aku yang sedang sarapan.


“Ada apa Ly?” tanya Ken langsung.


Aku tersenyum “gak ada apa-apa kok, ayo sarapan” ajak aku.


“Jawab jujur atau aku yang cari tahu?” Ken menatap aku.


Aku juga kaget bagaimana Ken bisa tahu kalau ada masalah sama oma yang pergi “tadi aku cerita mengenai keluarga oma. Terus aku tanya mengenai suami Dea anaknya dan keluarga suaminya itu. Jadi aku nanya kenapa mereka jarang kesini, itu saja kok” jawab aku.


“Yakin?” Ken masih belum percaya.


“Kamu gak percaya sama aku?” aku mulai emosi.


“Bukan gitu, pasti kamu tanya soal keluarga Vino kan?” ucap Ken.


Aku langsung diam “Ken, makan dulu” Mike langsung menghentikannya.


Ken melihat aku yang langsung diam dan murung. Kemudian dia sadar kalau dia merasa sudah menaikkan suaranya sama aku.


“Maaf... kalau kamu ingin tahu semuanya selesaikan pengobatan kamu dulu. Nanti aku cerita, jangan tanya sama oma lagi. Kasihan oma” kata Ken.


“Iya...” aku lanjut makan.


Tidak lama aku sudah selesai makan “aku sudah siap” aku langsung minum. “Sus.. sus...” aku memanggil perawat.


Datang perawat “iya nona”.


“Ambilkan kursi roda” perintah aku.


“Iya nona” perawat langsung pergi mengambil kursi roda.


“Kamu mau kemana?” tanya Ken.


“Mau melakukan perawatan, kata kamu aku harus melakukan perawatan kan!”.


Ken langsung merasa bersalah dengan ucapannya “bukan gitu”.


Perawat datang dan membantu aku duduk di kursi roda. Lalu Ken menghampiri aku dan membantu aku duduk, kemudian dia mau mendorong aku.


“Kamu mau kemana?” aku melihat Ken.


“Mengantar kamu ke ruang rawat” jawab Ken.


“Nggak usah, kamu lanjutkan saja sarapannya. Aku bisa sama perawat, kamu sudah membayar mereka kan untuk merawat aku. Jadi kamu fokus sama pekerjaan kamu dan aku fokus pada perawatan aku. Mari sus...” aku langsung pergi meninggalkan ruang makan.


Ken kembali duduk “lo jangan terlalu keras sama Laili. Lo gak ingin dia kabur lagi kan! Ingat pesan dokter Agus, kita harus buat perasaannya senang terus. Sebab dia bisa tiba-tiba down dalam melakukan pengobatannya” kata Mike.


“Gue tahu, tapi lo lihat kan oma tadi. Dia pasti kepikiran dengan pertanyaan Laili” ucap Ken.

__ADS_1


“Iya gue lihat. Tapi oma pasti lebih tahu apa yang akan dia jawab. Sebab masalah ini masih berlarut-larut sampai sekarang. Lo lihat kan, Dea dan suaminya masih belum mau datang kesini. Apalagi mama Vino yang masih keras kepala sampai saat ini” kata Mike.


__ADS_2