MY DREAM

MY DREAM
68


__ADS_3

Ken dan Mike sudah mulai curiga dengan melihat raut wajah Dika yang langsung pucat. Sebab dari awal bicara Dika memang kelihatan gerogi. Bukan Ken kalau tidak bisa mengalihkan keadaan.


“Tapi kalau tidak bisa juga tidak masalah. Mungkin dia banyak rahasia makanya dia tidak mau terekspos. Tapi sampai kapan, yayasan ini sudah terdaftar dan masyarakat banyak tahu. Apalagi bekerja sama dengan kampus dan Johnson Grup, benarkan Mike?” Ken bertanya pada Mike.


“Benar bos. Mas Dika, bukan kami memaksa kamu. Tapi setelah ini setiap kegiatan di yayasan ini akan langsung dibawah tangan Johnson Group. Meskipun kami hanya donatur nomor dua. Sebab perjanjian awal kita seperti itu, meskipun bukan pemilik langsung yang menandatangan dulu. Tapi kamu yang bertanggung jawab disini” kata Mike dengan tegas.


“Bu..bukan begitu tuan. Kita sebagai pekerja hanya menjalankan tugas dari atasan. Tapi kita akan berusaha untuk mempertemukan tuan dengan atasan kita” ucap Dika.


“Nggak usah difikirkan, kapan-kapan saja. Saya hanya ingin bertanya, apa benar orang tua saya pernah dirawat di yayasan ini? Bukan dirawat di yayasan tapi di rumah sakit Anugrah, yang merawatnya adalah orang dari yayasan ini, apa benar?” ucap Ken.


“Iya tuan, sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu. Saya juga lupa tepatnya kapan” jawab Dika.


“Apa boleh saya ketemu dengan orang yang merawat orang tua saya itu?”


“Dia sudah tidak bekerja disini lagi tuan”.


“Kalau tidak ada orangnya, pasti data-datanya kan masih ada. Sebab bos Ken harus ketemu sama orang itu. Bos harus menyampaikan wasiat dari daddynya. Untuk itu bisa berikan datanya pada kami, biar kami yang mencari tahu orangnya” kata Mike.


“Itu masalahnya tuan, data berapa tahun yang lalu sudah tidak ada. Sebab satu tahun yang lalu baru diperbaiki. Kalau ada pasti kita langsung beritahu tuan” Dika masih menyembuntikannya.


“Sepertinya memang tidak akan bisa mengetahuinya. Sudahlah, kalau memang ditakdirkan aku ketemu sama Laili pasti akan ketemu juga nanti” kata Ken dalam hatinya.


Ken memberi kode pada Mike yang langsung dipahami oleh Mike “baiklah, kita harus pamit sekarang juga. Sebab kita ada pekerjaan, silakan diterima ini” Mike mendorong map tadi.


“Baik tuan saya terima. Sekali lagi saya minta maaf tidak bisa membantu tuan” kata Dika.


“Tidak apa-apa” jawab Mike.


***


Dave dan Jihan sudah sampai di kontrakan, mereka mengetuk pintu. Aku yang ada di dalam membuka pintu “Jihan...” aku langsung menutup pintu.


Jihan dan Dave langsung menahan pintu agar tidak tertutup “Ly.. buka pintu. Gue mau ngomong sama lo, ini penting” ucap Jihan.


“Iya Ly, lo tidak bisa main kabur gini. Kita butuh penjelasan dari lo” ucap Dave.


“Nggak ada yang mau dijelaskan lagi, kalian boleh pergi” teriak aku.


“Bagaimana ini?” Jihan melihat Dave.

__ADS_1


“Kamu pasti bisa membujuknya, sebab ingat perkataan Ken mengenai penyakitnya” kata Dave.


“Ly.. pleass.. gue mohon sama lo, kalau lo tidak ingin bicara sama Dave. Lo bisa bicara berdua dengan gue. Ini bukan Dave tidak bisa mendorong pintu ini tapi karena kita memikirkan penyakit lo” Jihan berusaha membujuk.


Lalu Jihan langsung membuka pintu “silakan masuk”.


Kita langsung jalan masuk dan duduk di ruang tamu “ada apa?” tanya aku jutek.


“Kenapa lo kabur dari mansion Ken?” tanya Jihan.


“Bukannya kalian sudah tahu alasannya. Mustahil seorang Ken tidak memberitahu kalian” kata aku.


“Oke, memang sama lo gue tidak bisa basa basi. Kita memang sudah tahu semuanya, tapi gue masih belum yakin dengan alasan lo kabur itu” Jihan.


“Coba kamu di posisi aku Han, orang yang sudah menganggap kita sebagai anaknya malah meninggal karena aku” aku langsung meneteskan air mata.


Jihan langsung memeluk aku “itu bukan karena lo Ly. Tante itu meninggal karena memang penyakitnya tidak bisa sembuh. Kenapa lo malah menyalahkan diri lo sendiri”.


“Maksud kamu?” aku melepaskan pelukan Jihan.


“Gue gak tahu ceritanya. Mas, jelaskan pada Laili” Jihan melihat Dave.


“Terus kenapa kalian mencari aku selama ini?”.


“Sebab Ken harus menyampaikan wasiat dari daddynya sebelum meninggal. Bukan minta pertanggung jawab sama lo, Ly. Lo salah selama ini menganggap Ken seperti itu” jawab Dave.


“Nggak mungkin, wasiat apa?”


“Itu lebih baik Ken sendiri yang menyampaikan pada lo. Bukan hak kita mengatakannya. Sekarang kita hanya ingin lo kembali, sebab dokter Agus sudah menjelaskan mengenai penyakit lo yang harus diobati secepatnya” Dave.


“Dokter Agus?”


“Iya, dokter yang menangani mommy Ken. Lo pasti mengenalnya, sebab lo sudah sering ketemu kan” Dave.


“Ya ampun apa aku sudah salah menilai selama ini. Kenapa juga dengan penyakit aku, apa yang ditakutkan dokter Agus dulu menjadi kenyataan” gumam aku dalam hati sambil memikirkan perkataan Dave.


“Ly...” panggil Jihan.


“Iya...”

__ADS_1


“Lo mau kan balik lagi ke mansion Ken?” tanya Jihan.


Aku bingung harus menjawab apa. Apa aku akan tetap balik kesana atau tidak. Tapi aku masih takut dengan penyakit yang ada padaku saat ini.


***


Ken dan Mike jalan menuju mobil “bagaimana bos?” tanya Mike.


“Biarlah mereka tetap pada pendirian mereka menyembunyikannya. Kalau ditakdirkan Laili akan kembali pada gue juga. Sekarang apa lo sudah mengurus kepindahan dokter sama perawat ke rumah sakit lagi?” tanya Ken.


“Sudah, hari ini mereka sudah kembali bertugas di rumah sakit. Tapi Beni masih bertanya-tanya ada masalah apa. Jadi....”


“Lo ceritakan sama si kutu kupret itu?” kata Ken langsung.


Mike tersenyum “maaf, lo tahu kan kalau gue tetap diam”.


“Sudahlah, ayo” Ken membuka pintu dan masuk mobil.


Didalam mobil “kita kemana?” tanya Mike.


“Ke perusahaan saja, lagian kalau di rumah juga bikin gue ingat Laili terus. Kalau di perusahaan gue bisa kerja atau ngapain nanti” jawab Ken.


“Apa lo tidak penasaran Laili ada dimana sekarang?” tanya Mike.


“Di kontrakannya, dimana lagi kalau tidak disana. Lagian Dave sama Jihan kesana, kalau dia ingin kembali pasti dia akan kembali. Tapi kalau dia tetap keras kepala, biarkan dokter Agus mengobatinya disana” jawab Ken.


Mendengar perkataan Ken, Mike merasa Ken kembali seperti dulu. Dia menjadi gila kerja, tidak pernah senyum, dingin, dan menutup hatinya lagi. Sampai di perusahaan, mereka langsung menuju ruangannya.


Semua karyawan yang menyapanya hanya dia acuhkan. Dugaan Mike benar, perubahan yang dulu akan kembali dirasakannya.


Dea menarik Mike “ada apa?” tanya Dea.


“Menurut lo...” kata Mike.


“Ya mana gue tahu, apa karena Laili yang masih sampai sekarang belum ditemukannya” tebak Dea.


“Bukan tidak ditemukannya tapi dia tidak mau menjemputnya. Sebab dia tidak mau mekasa Laili lagi” ucap Mike.


“Berarti suasana seperti dulu kembali lagi di perusahaan ini?”

__ADS_1


“Itu yang akan kita rasakan..” Mike langsung jalan menuju ruangannya.


__ADS_2