MY DREAM

MY DREAM
109


__ADS_3

Vino dan Dea datang ke perusahaan James, sampai disana James maupun Cio tidak ada. Jadi sekretaris James menyuruh mereka datang ke mansion James. Vino dan Dea sudah sampai di mansiom James yang hampir sama luas dengan mansion Ken.


Mereka langsung masuk dan menunggu James di ruang tamu. Sebab pembantu sedang memanggil James yang sedang ada di ruang kerja. Tidak lama James keluar dengan Cio dari ruang kerja.


“Selamat siang Mr” sapa Vino dan Dea.


“Siang, silakan duduk” perintah James.


“Anda kenal dengan saya?” tanya James.


“Kenal Mr, sebab Ken pernah memperlihatkan foto Mr pada kami” jawab Vino.


“Oke, apa yang mau anda bicarakan dengan saya. Maaf ya harus datang kesini, seharusnya di kantor” James minta maaf terlebih dahulu.


“Tidak apa. Kami ingin memberitahu mengenai ini” Vino memberikan map sama James.


James membukanya dan membacanya. Ketika James sedang membacanya ternya Marsya keluar dari kamar utama menggunakan baju tidur sambil menghampiri James dan memeluknya.


“Sayang...” Marsya tidak tahu yang datang itu adalah kakaknya.


Vino dan Dea kaget melihat Marsya keluar dengan memakai baju tidur yang sangat seksi “Marsya...” kata mereka.


Marsya melihat Vino dan Dea langsung terkejut “bang, kakak...” ucap Marsya sambil melepaskan tangannya dari pelukan James.


“Sayang, kenal sama mereka?” tanya James pura-pura tidak tahu.


Marsya hanya diam “anda kenal dengan pacar saya?” tanya James pada Vino dan Dea.


“Kenal bangat, dia adalah adik kandung saya” Vino menatap Marsya dengan marahnya.


“Astaygfirullah Marsya” Dea geleng-geleng kepala.


“Marsya, apa yang sudah kamu lakukan ha?” bentak Vino.


Marsya menatap Vino “bukan urusan abang, abang sudah tahu kan pekerjaan aku dulu. Berarti sama dengan itu, abang jangan menghalangi aku sebab abang tidak pernah memenuhi kehidupan ku”.


Mereka bicara menggunakan bahasa Indonesia tapi James sama Cio paham dengan apa yang mereka bicarakan.


“Apa kata kamu, tidak memebuhi kebutuhan kamu. Setiap minggu aku mengirim uang untuk kamu, kemana saja uang itu?” Vino semakin kesal.


Marsya tersenyum “aku tidak pernah mendapatkan uang itu. Aku hanya mendapatkan uang ketika Galu sekretaris abang Ken yang memberikannya pada ketika aku tinggal di aparteman. Kalau abang dan kakak ingin tahu tanya sama mama, sebab mama yang menyimpan karti kredit aku” kesalnya.


Vino dan Dea terkejut mendengar “dari semenjak di indoneia kakak tidak pernah memebuhi kebutuhan aku. Apalagi semenjak papa meninggal, mama yang mengatur semuanya. Abang Ken sama abang Mike sering mengirim uang untuk aku tapi tidak pernah sampai padaku” teriak Marsya.


“Kamu...” Vino menahan amarahnya.


“Mas, tenang” Dea menenangkannya.

__ADS_1


“Sekarang abang tidak usah melarang aku, mau jadi pelacur aku atau...” belum selesai Marsya bicara, Vino sudah melayangkan tangannya.


Tapi langsung Dea yang menghalanginya. Jadi tamparan tersebut mengenai Dea sebab dia ingin melindungi adik iparnya.


“Sayang.. maafin aku” Vino langsung memegang pipi Dea.


“Abang puas..” Marsya langsung kabur meninggalkan mereka berlari menaiki tangga menuju kamar utama.


“Marsya...” teriak Vino.


“Sebaiknya anda keluar, saya tidak akan membantu anda” James meletakan dokumen dan langsung menyusul Marsya.


“Tapi Mr...” ucap Vino.


“Lebih baik Anda pergi dari sini, sia-sia saja anda disini” usir Cio.


Dea langsung mengambil dokumen dan pergi meninggalkan mansion yang mewah itu.


James sudah masuk kamar dan menampati Marsya menangis tersedu-sedu. James bukan memeluk atau menenangkan Marsya, dia hanya berdiri di hadapannya.


“Sekarang kamu membuktikan apa lagi sama saya, sudah saya larang dari kemarin jangan dekati saya ketika kerja. Tapi kamu tidak juga percaya, sekarang apa lagi yang ingin kamu buktikan ha!” bentak James.


Marsya menatap James, lalu dia langsung mengambil tas dan kunci mobil. Dia langsung keluar kamar berlari dan pergi meninggalkan mansion.


“Sya.. mau kemana? Marsya...” James memanggilnya tapi dia tetap pergi.


“Cio, kenapa tidak kamu hentikan?” teriak James dari lantai dua.


“Sudah, tapi dia mendorong saya, kamu lihat kan?” ucap Cio sambil berdiri.


“Perintahkan anak buah untuk mendapatkan, cepat?” perintah James.


***


Vino dan Dea sudah sampai rumah, mereka bukannya kembali ke perusahaan tapi pulang ke rumah. Dea langsung masuk kamar sedangkan Vino mencari mamanya.


“Ma... mama...” teriak Vino.


Mama keluar dari kamar “ada apa Vin?”.


“Mana kartu kredit Marsya?” minta Vino.


“Sama dia, mana mama tahu” ucap mama.


“Nggak usah bohong, mana?” bentak Vino.


“Kamu ini kenapa sih, sudah berani bentak-bentak mama” mawar juga marah.

__ADS_1


“Mama tahu apa pekerjaan anak kesayangan mama itu, dia bekerja sebagai simpanan orang sudah beristri. Mama kan yang mengambil kartu kredit dia?” teriak Vino.


“Nggak..”


“Jangan bohong ma”.


“Kalau iya kenapa, dia sudah memiliki banyak uang untuk apalagi uang itu oleh dia” mamu emosi.


“Meskipun dia bekerja ataupun tidak, bukan hak mama untuk mengambilnya. Dia bekerja jadi pelacur makanya dia banyak dapat uang, mama paham”.


“Tidak mungkin” mawar tidak percaya.


“Kalau tidak percaya silakan mama cek sendiri, capek aku bicara dengan mama sama adik pembangkang itu” Vino pergi meninggalkan mawar.


Mawar langsung masuk kamar mengganti baju dan pergi ke aparteman Marsya. Sampai disana memang benar aparteman itu tidak ada orang. Disana hanya ada barang-barang Marsya dari pertama dia datang ke Amerika.


Lalu datang teman sebelah kamar aparteman Marsya “cari siapa?”.


“Kamu lihat Marsya kemana?” tanya Mawar.


“Marsya sudah tidak tinggal disini nyonya. Dia hanya tiga minggu tinggal disini setelah itu dia pergi ke aparteman mahal sana” orang itu menunjuk aparteman baru Marsya.


“Kamu tahu alasannya pindah?”


“Katanya dia dapat pekerjaan dan bosnya itu sangat sayang padanya. Dia kadang tinggal disana bersama bosnya itu, kadang pergi keluar negeri liburan. Kadang ikut bosnya keluar kota, dia juga sudah jarang datang ke kampus nyonya. Katanya dia gak akan kuliah sebab mimpinya sudah terwujud” cerita orang itu.


“Oh gitu, terimakasih ya” ucap Mawar.


Lalu teman Marsya itu langsung pergi dan Mawar terbayang ketika Marsya pernah cerita pada temannya di rumah. Mawar mendengar pembicaraan mereka tersebut.


“Suatu saat aku tidak mau tinggal disini. Aku punya impian menikah atau hidup bersama orang kaya melebihi kaya abang Ken atau tidak setara. Akan aku berikan hidup aku padanya dan melahirkan keturunan untuknya. Kemudian aku bisa hidup enak tanpa bekerja lagi”.


“Kalau misalnya orang beristri bagaimana?”


“Tidak masalah, yang penting hidup aku senang. Aku rela jadi simpanannya dan kecantikan sama bodi aku harus melebihi istrinya itu”.


“Duda kaya?”


“Juga tidak masalah, malahan lebih bagus. Tubuh aku akan aku serahkan untuknya”.


Mawar menangis setelah mendengar itu semua. Berarti perkataannya dulu yang dia ikuti. Jadi Mawar masih belum percaya dengan apa yang dia dengar. Dia harus membuktikan semuanya.


Mawar pergi ke aparteman yang diberitahu teman Marsya. Sampai disana tidak mudah untuknya masuk kesana. Berbagai cara dia lakukan untuk masuk, sehingga dia bisa masuk.


Sampai di unit kamar Marsya, disana terdapat dua kamar di satu lantai itu. Satu lantai itu dijaga oleh bodygurth yang sangat banyak. Semakin tidak bisa dia masuk, orang yang menjaganya sangat kekar dan menakutkan.


Lalu dia melihat Marsya kelaur dari unit kamarnya dengan mata sembab tapi tidak terlalu jelas. Semua bodygurth itu menyapanya dengan hormat, semakin membuat Mawar gelisah.

__ADS_1


__ADS_2