
James pulang kerja, dia langsung ke kamar. Sampai di kamar Marsya sedang sibuk dengan ponselnya. Sebab semenjak kejadian berapa hari yang lalu Marsya memang menjauh dari James. Mekipun dia tidak bisa menahan nafsunya kalau melihat James di dekatnya.
James tahu Marsya selalu lari darinya tapi James tidak pedulikan juga. James sedang membuka baju sebab dia kan mandi, lalu Marsya berdiri ingin pergi.
“Mau kemana?” tanya James.
“Keluar” Marsya tidak melihat James.
“Yakin keluar, kamu sudah jadi istri saya. Kenapa kamu lari-lari, gak ingin dekat-dekat saya” James menggoda Marsya.
“Nggak, saya lagi datang bulan” ucap Marsya bohong.
James tersenyum dan mendekatinya “Kamu fikir saya bodoh. Kamu kalau datang bulan pun akan selalu dekat-dekat saya. Meskipun kita tidak bisa melakukannya, kamu pasti membuat aku bisa merasakan juga. Kamu jangan coba-coba menipu saya” James memgang dagu Marsya.
“Lepaskan!” Marsya menatap James.
“Kamu tetap disini, saya tahu kamu sudah mengetahui rahasia saya. Makanya kamu terusan lari dari saya, saya juga tahu kalau kamu susah saat ini mengendalikan nafsu kamu itu” ucap James.
Marsya hanya diam sambil menatap tajam James.
“Jangan menatap saya seperti itu, kalau kamu berlaku baik seperti dulu kamu tidak akan merasakan yang kemarin. Tapi kalau kamu masih bersikap seperti ini, jangan salahkan saya akan lebih parah dari kemarin” ancam James.
“Baiklah, tapi jangan kurung saya terus disini. Saya mau bebas dan kuliah lagi, saya ingin menyelesaikan kuliah saya” Marsya sudah lebih lembut.
“Oke.. tapi layani saya malam ini sampai kamu tidak kuat lagi. Besok akan saya carikan kamu kampus terbaik dari kampus kamu kemarin dan saya akan membebaskan kamu”.
“Oke. Tapi saya belum mau hamil selama kuliah”.
“Oh tidak bisa. Kalau kamu hamil berarti kamu harus cuti kulia, bagaimana? Kalau tidak semua perjanjian tadi tidak ada gunanya”.
“Oke, saya mau” ucap Marsya.
“Lakukan!” perintah James.
Marsya memang tidak bisa menahan nafsunya sebab James sudah menjadi candu baginya begitu juga dengan James. Tapi James masih bisa menahannya sampai kapanpun.
Masrsya langsung membuka baju James dan membawa ke kamar mandi. Mereka melakukan dari kamar mandi, ke ruang ganti baju, sampai di kamar. Mereka melakukan sampai mereka sama-sama tidak berdaya. Sebab James juga menyiapkan anggur merah yang sudah diisinya dengan obat perangsang.
Sebenarnya James juga ingin menghukum Marsya karena selalu mencuekannya berapa hari ini. Mereka juga sama-sama tidak ada menggunakan pengaman.
***
Kita sedang duduk di ruang keluarga membahas mengenai resepsi kedua kita. Cici pun sudah tenang, tapi dia masih dalam kamar sebab tidak mau keluar. Ketika kita ngobrol datang Beni dengan pasukannya.
“Assalamulaikum” Beni masuk.
“Waalaikumsalam” jawab semua orang dan melihat padanya.
“Pada ngapain disini?” Beni duduk.
“Kita sedang membicarakan mengenai resepsi Ken dan Laili sabtu besok” jawab Dave.
“Mana dokter yang lo bawa itu?” tanya Ken.
“Ada di ruang tamu, ayo” ucap Beni.
Mereka semua langsung ke ruang tamu dan bicara dengan dokter. Setelah itu kita ke kamar Cici dan melihat keadaannya.
__ADS_1
“Ini dok, pasiennya” ucap Ken.
Dokter dan perawat langsung mendekati Cici. Mereka langsung memperiksa Cici. Setelah itu dokter menghampiri kita.
“Bagaimana dok?” tanya aku.
“Sepertinya nona ini tidak hanya ketakutan yang besar tapi dia juga stress. Sebab stress itu otaknya tidak bisa mengendalikan ketakutannya lagi. Dia juga tertekan dan kelihatannya dia sudah menderita lama. Makanya orang mudah memperdayanya” jawab dokter.
“Apa masih bisa disembuhkan, dok?” tanya Ken.
“Bisa. Kita harus buat dia cerita apa yangmembuatnya tertekan sama stress. Lalu mengobatinya dengan perlahan, sepertinya mas Eka yang selalu dia sebut akan bisa lebih mudah mendekatinya” lanjut penjelasan dokter.
“Terimakasih dok” ucap aku.
“Dokter siap kan untuk selalu datang kesini mengobatinya?” tanya Ken.
“Bisa tuan, apapun perintah tuan akan saya lakukan” jawab dokter.
“Apa ada obat yang harus dia minum dok?” tanya Jihan.
“Mana” dokter minta buku sama perawat dan menuliskan resepnya. “Silakan beli obat ini dan berikan pada nona, jika nona tidak bisa di kendalikan. Nona juga harus meminumnya dua kali sehari” dokter memberikan.
“Ambil Mike” ucap Ken pada Mike.
Mike mengambilnya “kalau gitu saya permisi” Mike langsung pergi membeli obat.
“Apakah butuh waktu lama untuk Cici sembuh dok?” tanya aku.
“Iya, sebab setelah sembuh kita juga harus mempertemukan nona dengan orang yang membuat dia tertekan dan stress. Nona harus bisa mengontrol emosinya disana sampai dia bisa. Baru dia sembuh, nyonya tidak bisa khawatir. Kita usahakan dan kita obati secara bertahap-tahap” ucap dokter.
“Iya dok” jawab ku.
***
“Terserah kamu saja, Bi” jawab ku.
“Kemana ya bagusnya?”.
Aku teringat dengan keluarga Vino “Bi, mbak Dea dan mas Vino gak Bi kasih tahu kalau kita sudah maried?”.
“Sudah, aku juga tidak tahu kenapa mereka tidak datang. Kita lihat pas resepsi nanti, datang atau tidak?”.
“Mungkin mereka sibuk Bi”.
“Mungkin saja”.
“Bi, kalau kita pergi honeymoon bagaimana dengan Cici?” aku teringat Cici.
“Iya ya, tidak mungkin kita titip sama Eka. Apalagi dia juga sibuk kerja, sudah dua hari Eka belum datang kesini” ucap Ken.
“Begini saja Bi, nanti kita tanya Resi apa dia libur. Katanya dia minggu ini sedang ujian, kalau libur kita suruh dia
menjaganya” saran aku.
“Nanti aku juga minta Galu untuk nginap disini selama kita pergi. Jadi Resi tidak sendirian menjaga Cici, lagian Mike juga disini. Biar mereka gantian menjaga Cici, disini juga banyak pembantu dan bodygurth yang ikut membantu. Kamu jangan khawatir ya?”.
“Iya Bi” jawab aku.
__ADS_1
Kemudian kita langsung tidur, esokan paginya seperti biasa Ken pergi kerja dengan Mike. Sedangkan aku mengurus Cici sambil meriksa kerjaan dari rumah.
Sampai di kantor Mike dan Ken masuk ke ruangan mereka. Sebelum masuk Ken minta Galu untuk masuk ke ruangannya.
Galu masuk dan mengetuk pintu “masuk” ucap Ken.
“Ada apa bos menyuruh saya masuk?” tanya Galu.
“Apa jadwal saya hari ini?”
“Hari ini bos meeting jam 10 bersama dewan direksi perusahaan. Sorenya bos ada meeting di restoran seperti biasa” Galu membaca jadwal Ken.
“Siangnya?”
“Bos fitting baju resepsi bersama buk bos”.
“Oke. Galu kamu masih tinggal di aparteman kan?” tanya Ken.
“Iya bos, kenapa?” Galu tanya balik.
“Selama kita pergi honeymoon nanti kamu tidur di mansion ya, menjaga Cici” perintah Ken.
“Harus saya bos, kan Mike di mansion juga. Nanti apa kata orang-orang bos” ucap Galu.
“Kamu gak usah khawatir, dimansion banyak kamar. Lagian kamar kalian juga berbeda, kamu tahukan di mansion banyak orang. Ada oma lagi yang akan mengawasi kalian, lagian sepupu Laili Resi akan datang juga. Kamu hanya membantu Resi menjaga Cici, lagian perawat juga sudah ada” penjelasan Ken.
“Baik bos” jawab Galu.
“Baiklah, kamu boleh kembali” perintah Ken.
Aku sedang di kamar dan teringat dengan perkataan aku sama Ken tadi malam. Aku langsung menghubungi Resi yang langsung dijawab olehnya.
“Assalamualaikum Si” ucap aku.
”Waalaikumsalam mbak, ada apa mbak?”.
“Kamu sibuk?”
“Nggak mbak, ini baru saja keluar. Ada apa mbak?”.
“Kamu datangkan resepsi mbak nanti?”.
“Datang mbak, lagian keluarga di kampung juga gak datang kan mbak”.
“Ujian sudah siap?”
“Belum, hari jumat terakhir. Kenapa mbak?”.
“Berarti minggu besok libur kan?”.
“Iya..”
“Kamu mau gak temani Cici disini, menjaganya selama mbak pergi honeymoon. Sebab setelah resepsi mbak harus berangkat pergi honeymoon sama Ken. Jadi Cici gak ada orang yang jaga disini”.
“Iya, tidak masalah mbak. Nanti aku telvon papa dan mama, bilang sama mereka kalau aku gak jadi pulang kampung”.
“Terimakasih ya. Selesai ujian langsung saja kesini, biar bisa mbak jelaskan apa yang mau kamu kerjakan. Kamu gak sendiri kok, mbak Galu sekretasis Ken akan menemani kamu disini. Lagian disini banyak orang dan ada perawat juga yang membantu kamu”.
__ADS_1
“Oke mbak” jawab Resi.